Dunia Setelah Pageblug Corona (oleh Kemala Atmojo) - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 20 April 2020 08:50 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Dunia Setelah Pageblug Corona (oleh Kemala Atmojo)

    Bagaimana sebuah negara, sebuah bangsa, menata dunia dalam hubungan dengan bangsa atau negara lain pasca pagebluk corona? Akankah kita akan fokus pada diri kita sendiri atau kita justru harus mengembangkan solidaritas global? Saat ini Amerika Serikat dan sekutunya boleh saja kesal terhadap China. Begitu pula sebaliknya. Tetapi, apakah mereka akan saling mengisolasi diri?

    Dibaca : 4.522 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    • Dunia Setelah Corona
      Kemala Atmojo, Alumni STF Driyarkara
       
      Pandemi corona (Covid-19) ini benar-benar telah mengakibatkan bencana kemanusiaan dan krisis ekonomi di beberapa negara. Ia sudah menyerang lebih dari dua juta jiwa, dan paling banyak terjadi mengena rakyat Amerika Serikat. Dari sisi jumlah kasus positif, menurut data Worldometer pada 19 April, terdapat 738.830 lebih kasus positif di Amerika Serikat. Angka itu nyaris setara dengan jumlah total kasus positif yang terjadi di Spanyol, Itali, Perancis, Jerman, dan China sekaligus.
       
      Dari sisi jumlah korban meninggal, sekadar perbandingan saja, serangan teroris 9 September 2001 (9/11) yang menggemparkan dunia waktu itu “hanya” menelan korban jiwa sekitar 3.000 orang. Lalu, Perang Vietnam (1954-1975) yang membunuh 58.220 tentara
      Amerika, terjadi selama kurun waktu sekitar 20 tahun. Sementara Covid-19 (virus corona) yang sekarang menyerang Amerika Serikat (20 Januari hingga 19 April 2020), sudah menghilangkan lebih dari 39.014 (angka absolut) jiwa hanya dalam waktu kurang dari enam bulan.
       
      Bagaimana jika pandemi corona ini terus berlanjut hingga akhir tahun? Bisa-bisa angka kematian akibat pandemi ini melebihi korban Perang Vietnam. Belum lagi korban di negara-negara lain di seluruh dunia,
      termasuk Indonesia.
       
      Intinya, serangan Covid-19 tak hanya melahirkan krisis kemanusiaan dan bersifat global, tetapi juga mengintrodusir pertanyaan global pula. Cepat atau lambat, Covid-19 memang akan selesai, tetapi bagaimana tatanan dunia setelahnya? Apakah hubungan antarnegara akan kembali seperti semula atau berbeda sama sekali?
       
      Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita lihat apa yang terjadi pada masyarakat umum akibat pandemi ini. Pertama, orang semakin percaya atau bergantung pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Serangan virus tidak dicari obatnya di tempat-tempat
      peribadatan, tetapi diharapkan muncul dari laboratorium tempat para ilmuwan bekerja untuk menemukan penangkalnya. Banyak tempat peribadatan di seluruh dunia justru terpaksa ditutup untuk menghindari penambahan jumlah korban.
       
      Kedua, dalam kurun waktu empat bulan terakhir, terlihat bahwa beberapa negara Asia tampak lebih kompeten dalam menghadapi Covid-19 dibanding beberapa negara maju. Angka absolut (bukan mortality rate) kematian di China, Singapore, Malaysia, Vietnam, dan Korea Selatan, misalnya, relatif lebih sedikit dibanding Amerika Serikat, Spanyol, Inggris, Itali, Prancis, dan beberapa lainnya.
       
      Ketiga, ternyata banyak manusia takut mati. Perintah penggunaan masker, physical distancing, pembatasan sosial berskala besar, tinggal di rumah saja, dan lain-lain, pada intinya adalah untuk menghindari korban jiwa. Kematian, sebisa mungkin ditunda. Bagi orang seperti Jean Paul Sartre, kematian memang menyingkirkan semua makna dari
      kehidupan. Hidup pada akhirnya hanyalah kemubaziran belaka. Kematian mematahkan secara radikal eksistensi manusia.
       
      Selanjutnya: Akankah antar negara akan saling mengisolasi?

      Ikuti tulisan menarik Indonesiana lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.