x

Uko

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 28 April 2020 09:04 WIB

Tetuko Mandas Kreari, Mengingatkan akan Pentingnya Arti Sebuah Nama

Nama adalah doa dan harapan, jadi begitu pentingnya arti sebuah nama

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tetuko Mandas Kreari (Uko), anak kedua saya, tepat berusia 17 tahun (28/4/2003-28/4/2020). 

Mengingat nama Uko, saya jadi teringat peristiwa saat masih aktif berbagi ilmu di depan siswa. Sebab, ternyata banyak siswa yang tak tahu arti namanya, padahal di benua Eropa saja, beberapa negara membuat aturan menyoal pemberian nama kepada anak. 

Sementara di negara kita, jangankan masyarakat memperhatikan, pemerintah saja  belum pernah ada pemikiran untuk membuat aturan pemberian nama anak. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sementara dalam agama Islam, pemberian nama sangat penting, seperti dalam hadist berikut: "Sesungguhnya, pada hari kiamat nanti, kalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu dan nama ayah-ayah kamu; maka buatlah nama yang baik bagi diri kamu.” (H.R. Abu Dawud). 

Banyak anak tak tahu arti namanya 

Mengingat bagaimana saya memikirkan dan akhirnya memberi pilihan nama untuk Uko, saya cukup prihatin, sebab siswa-siswa saya yang memiliki nama begitu bagus dan indah, mustahil saat orang tuanya memilih nama tersebut, asal-asalan. Pasti ada maksudnya, sayangnya hingga anaknya beranjak dewasa, masih belum pernah tahu apa arti namanya. 

Hal ini saya ketahui, setiap awal tahun pelajaran baru, pasti saya dihadapkan pada siswa baru. Tentu, demi menjalin keakraban dan lebih cepat mengenal siswa, saya selalu mengawali kegiatan belajar mulai dengan mengabsen siswa, memanggil nama. Saat memanggil nama tersebut, sering dengan teknik tidak urut nomor absen, pun bila nama yang saya sebut terdiri dari dua kata atau lebih, maka saya sengaja menyebut nama di kata kedua/ketiga/keempat dst. Misal, nama siswa Diah Ayuning Laras Kusuma. 

Saat mengabsen, saya panggil nama Kusuma. Lucunya, nama Kusuma yang saya panggil tidak ada yang menyahut/menjawab. Beberapa kali kata tersebut saya panggil, ternyata, siswa bersangkutan tidak ada yang bereaksi. Baru kemudian, ketika saya bilang, "Masa tidak ada yang punya nama itu?" Dan saya sebut nama secara lengkap dari kata pertama sampai kata akhir, baru ada yang tunjuk jari. "Saya pak."

Siswa tersebut saya tanya, mengapa saat saya panggil Kusuma tadi tidak tunjuk jari/mengaku? Siswa tersebut menyatakan bahwa, panggilannya bukan itu, orangtua, saudara, dan temannya biasa memanggil "Diah" atau "Ayu" jadi tidak "ngeh". 

Berikutnya, saat saya tanya, apa arti nama kamu yang panjang ini? Meski siswa tersebut sudah kelas menengah atas, ternyata, yang bersangkutan tidak pernah tahu apa arti namanya. Orang tuanya pun tidak pernah memberi tahu asal-usul pemberian nama dan apa arti nama untuk dia. Ringkasnya, kisah nyata yang saya alami ini dari kurun waktu tahun 1990 hingga tahun 2017, bila dikalkulasi, di setiap kelas, ternyata lebih banyak siswa yang tidak tahu arti namanya. 

Ironisnya, hal ini terjadi di setiap tahun pelajaran baru, saat kelas berganti, siswa pun berganti. Meski demikian, saya tidak dapat menyimpulkan bahwa tidak semua orang tua di Indonesia, khususnya, tidak memikirkan nama anak lengkap dengan arti dan maknanya. Sebab, saya belum pernah melakukan penelitian. Juga belum  pernah mengungkap kisah ini sebelumnya. 

Padahal untuk mencari arti sebuah nama, bila kita membuka aplikasi di google, lalu ketik alamat: id.vovon.me, maka kita dapat lekas tahu arti sebuah nama. Misal ketik nama Tetuko Mandas Kreari, maka akan muncul: Tetuko Mandas Kreari memiliki banyak arti yang mendalam dan terutama menunjukkan "ISTIMEWA" dan "BUNGA"! Entah apakah aplikasi tersebut valid atau tidak, atau hanya sekadar mainan, saya belum menelusurinya. 

Nama adalah harapan, doa 

Melihat pengalaman yang saya dapati saat beberapa tahun berbagi ilmu, dan banyak siswa yang tidak tahu menahu apa arti dan makna dari namanya, maka kali ini saya berbagi lewat artikel ini, tepatnya di saat anak saya berulang tahun ke-17, 28 April 2020. 

Hal ini pun mengingatkan akan kelahiran pujangga besar Inggris, William Shakespeare  yang lahir juga di bulan April, tepatnya 26 April 1564 dan wafat 23 April 1616, yang mengatakan 'Apalah arti sebuah nama’. 

Apa maksud Shakespeare tersebut? “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet,” Menurut Shakespeare "bila kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan beraroma wangi.” Maksudnya, ‘andaikan kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan beraroma wangi’. Nama lain yang dimaksud, belum tentu sebuah nama yang buruk. Nama lain yang dimaksud, adalah nama yang semua orang sepakat untuk diberikan kepada bunga mawar. 

Karenanya "Apalah arti sebuah nama.” Shakespeare, sangat dikenal dalam khazanah sastra Inggris, yang diungkap dalam Kitab yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan sastra Inggris, yaitu Alkitab versi Raja James atau King James Version (KJV). 

Selain menyoal nama dari Shakespeare, ada hadist yang menyebut bahwa, “Sesungguhnya, pada hari kiamat nanti, kalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu dan nama ayah-ayah kamu; maka buatlah nama yang baik bagi diri kamu.” (H.R. Abu Dawud). 

Sesuai hadist tersebut, bagi seorang Muslim, nama adalah doa sekaligus harapan. Untuk itu, saat memberikan nama pada anak, berarti kita memberikan citra awal tentang diri anak, yang suatu ketika diharapkan ia akan mewujud menjadi pribadi yang sesuai dengan makna yang terkandung di dalam namanya. 

Selain itu, nama juga bisa menjadi sarana bagi anak untuk memahami bagaimana orang lain atau lingkungan memandang sosok dirinya. Harapannya, nama anak akan senantiasa terasosiasi dengan makna-makna kebenaran dan kebaikan yang akan menjadi dasar identifikasi dirinya. 

Atas rujukan Shakespeare dan hadist (Islam) menyoal arti sebuah nama,  maka Shakespeare mewakili paradigma barat, yang menganggap nama tak ada artinya, sementara paradigma Islam  menganggap nama itu sangat bermakna, bahkan merupakan doa sekaligus harapan. 

Raperda nama anak pertama di Indonesia

Begitu pentingnya arti sebuah nama, bukan pemerintah Indonesia yang tergerak, namun di lansir dari TribunSolo (2/1/2018) ada Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pelestarian Budaya Lokal di Kabupaten Karanganyar, sempat menghebohkan media sosial (medsos). 

Pasalnya, di Raperda itu terdapat aturan yang melarang warga Karanganyar memberikan nama anak dengan nuansa kebarat-baratan. Melalui perda ini, setiap orangtua di Bumi Intanpari diimbau tidak memberikan nama kepada anaknya secara asal-asalan. Nama anak juga diimbau tidak terkontaminasi budaya Barat alias kebarat-baratan. 

Bahkan berdasarkan Solopos.com (29/12/2017) Ketua DPRD Kabupaten Karanganyar, Sumanta mengungkapkan, “Fenomena yang ada saat ini, banyak orangtua yang memberikan nama ke anaknya mengandung budaya Barat. Cari saja, nama Sumanto di era modern ini sudah sangat jarang. Padahal, di dalam budaya Jawa itu banyak sekali nama yang layak, seperti di tokoh pewayangan. 

"Jadi tak harus memberikan nama ke anaknya dengan pengaruh budaya Barat. Ini bagian melestarikan budaya Jawa,” ujarnya. Bahkan Sumanto pun, saat itu tidak mempersoalkan pemberian nama yang ke-Islam-Islaman, meski nama yang ke-Islam-Islaman tersebut jelas berbeda dengan “nama lokal” semacam Paijo, Pariyem, Uriyah, Soimah, Sutanti Anggraeni dan sebagainya. Mungkin karena Islam merupakan agama mayoritas di Karanganyar bahkan Indonesia, dan nama-nama ke-Islam-Islaman pun sudah familiar di telinga masyarakat Karanganyar, sehingga hal tersebut tidak dipersoalkan. 

Ketua DPRD ini pun lantas menganjurkan para orangtua menamai anaknya dengan nama-nama tokoh pewayangan. Kendati, dunia pewayangan induknya Ramayana dan Mahabarata berasal dari budaya India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, karena pewayangan sudah lama sekali masuk ke Karanganyar, atau Jawa dan Bali pada umumnya, bahkan jauh sebelum Islam datang ke Nusantara, sehingga hal tersebut pun tidak dipersoalkan, bahkan menjadi anjuran. 

Menyoal Perda anak di Karanganyar ini, apakah saat ini sudah berlaku atau belum, masih saya telusuri. 

Nama anak di Benua Eropa

Begitu pentingnya arti sebuah nama, meski Shakeseare mengungkap "Apalah artinya sebuah naam," ternyata negara-negara di Benua Eropa justru telah menenetapkan aturan menyoal pemberian nama anak, seperti saya kutip dari tirto.id (10/1/2019), ada beberapa negara yang memiliki aturan soal pemberian nama anak. 

Pertama, di Jerman, tidak memiliki aturan penamaan. Tetapi, nama yang akan disematkan kepada anak wajib disetor ke Kantor Pencatatan Sipil. Kantor itu akan menelaah potensi bahaya yang timbul jika nama itu dipakai. Batasannya: nama sebisa mungkin tidak absurd, jelas kategori gendernya, tidak boleh menggunakan nama produk atau tempat. "Ada panduan, tapi bukan hukum," ujar Frauke Rüdebusch, anggota Asosiasi Bahasa Jerman (GfdS), seperti dilansir The Local Deutsch. 

Kedua, New Zealand. Memberikan nama "Lucifer" kepada anak juga dilarang di New Zealand. Jawatan Pencatatan Kelahiran, Kematian, dan Pernikahan negara itu melarang penggunaan nama "Christ" atau "Messiah". Menurut CNN, kantor itu tidak menerima nama yang menyinggung orang, terlalu panjang, menyerupai gelar atau pangkat resmi. Sejak 2001 hingga 2013, jawatan tersebut telah menerima pengajuan nama "Justice" (62 kali) dan "King" (31 kali). "Mafia No Fear", "4Real" dan "Anal" juga ditolak. Namun, pada 2008, kantor tersebut secara ironis membolehkan bayi kembar dinamai merek rokok "Benson" dan "Hedges". Nama "Violence" dan "Number 16 Bus Shelter" juga diloloskan. 

Ketiga, Denmark. Di Denmark, orangtua diperbolehkan memilih hanya dari daftar 7.000 nama yang disetujui pemerintah. 

Keempat, Islandia.  Di Islandia, orangtua harus memilih dari 1.800 nama perempuan dan 1.700 nama laki-laki yang dilegalkan pemerintah. 

Kelima, Swedia. Swedia memiliki aturan nama bayi. Ditetapkan pada 1982, Hukum Penamaan Swedia dibuat untuk mencegah orangtua memberikan nama bangsawan kepada anak. 

Keenam, Norwegia. Di Norwegia orangtua tidak boleh menyematkan nama pertama yang secara tradisional merupakan nama akhir atau nama tengah. 

Bila ditelusuri lebih jauh, aturan pemberian nama anak di negara Eropa atau Benua Eropa lain, tentu juga akan bervariasi, dan bisa jadi juga di negara-negara Benua Amerika. 

Prihatin Indonesia 

Pertanyaannya, mengapa hingga saat ini pemerintah Indonesia tidak pernah melahirkan peraturan pemberian nama anak seperti negara lain? Malah Kabupaten Karanganyar yang lebih dahulu memiliki inisiatif aturan tersebut. 

Sungguh selama kurang lebih 27 tahun saya bergelut di dunia pendidikan, langsung berhadapan dengan siswa, saya prihatin, sebab para siswa lebih banyak tidak tahu makna namanya, orangtua pun tidak menjelaskan kepada anak menyoal makna nama yang diberikan. 

Nama adalah doa. Nama adalah harapan. Dalam ajaran Islam, pada hari kiamat nanti, setiap orang akan dipanggil dengan nama-nama-nya dan nama ayah-ayah kamu; maka buatlah nama yang baik bagi diri kamu. Di negara lain, negara juga mengatur pemberian nama anak. 

Uko dan Firi 

Mengingat kembali nama anak saya, saya jadi merasa perlu menulis artikel ini, siapa tahu, negara akan memikirkannya. Yang pasti, saat anak saya sudah dalam usia yang "cukup", saya sampaikan bahwa nama Tetuko Mandas Kreari itu dipilih dari berbagai sudut. 

Pertama, Tetuko, sebenarnya akronim dari Tetap Tabah Kukuh dan Konsisten. Lalu, Andas akronim dari Iman dan Cerdas. Berikutnya, Kreari akronim dari Kreatif dan Mandiri.

Tetuko juga melambangkan Gatot Kaca dalam dunia pewayangan. Dengan demikian sangat jelas, bahwa saya sangat berharap dan berdoa agar anak saya kedua ini seperti namanya. 

Nama anak kedua saya ini, tentu juga sama dengan harapan saya pada anak pertama saya, Arshintarocha Andas Tifiri (Firi) yang maknanya Art=seni, shinta=dewi, rocha=roh dan cahaya/rochim-chalimah. Andas= iman dan cerdas, lalu Tifiri=kreatif dan mandiri. 

Semoga harapan saya atas doa yang saya sematkan kepada kedua anak saya yang sudah menggunakan paradigma Islam dan pewayangan, terkabul. Aamiin. Selamat ulang tahun, Uko, semoga senantiasa menjalani kehidupan seperti namamu. Aamiin. 

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Senin, 10 Juni 2024 12:33 WIB