Hadapi Covid-19, Saling Mempengaruhi antara Masyarakat dan Pemerintah - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Kawasan Industri Jababeka (KIJA) bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Universitas Presiden (YPUP) melakukan kegiatan penggalangan dana untuk mencegah penyebaran wabah virus corona di Indonesia.

Nur Hasanah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Mei 2020

Minggu, 17 Mei 2020 20:35 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Hadapi Covid-19, Saling Mempengaruhi antara Masyarakat dan Pemerintah

    Dibaca : 368 kali

    Corona virus merupakan pandemi yang sedang melanda banyak negara yang  memakan banyak nyawa hingga jutaan orang. Negara Indonesia juga termasuk negara yang terserang Corona Virus. Merebaknya virus ini terjadi pada 2019 yang mana penyebarannya begitu cepat dan sampai saat ini belum terselesaikan masalah Covid-19 ini yang setiap harinya terus meningkat penyebarannya. Mirisnya sampai saat ini belum ada vaksin atau obat yang betul-betul bisa menyembuhkan virus ini.

    Awalnya banyak yang mengatakan Indonesia tidak akan terkena virus corona. Pada kenyataannya sekitar bulan Maret lalu Presiden Joko Widodo mengumumkan dua orang Indonesia telah  terjangkit positif  virus Corona. Indonesia mengkonfirmasi bahwa kasus tersebut adalah kasus Covid-19 pertama kali di Indonesia. Namun Tim pakar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menilai memprediksi virus Corona telah masuk ke Indonesia sejak minggu ke-3 Januari 2020.

    Info terkini pada tanggal 15 Mei 2020 pukul 12.00 WIB jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia menjadi 16.496 kasus dengan 3.8003 sembuh dan 1.076 meninggal. Sebagian besar orang yang terkena virus Corona adalah orang yang tinggal di perkotaan dan juga orang yang sering keluar Negeri. Di kota penduduknya lebih padat daripada di desa. Untuk sementara ini hanya ada beberapa orang saja yang positif Covid-19 di desa.

    Jawa Timur menduduki posisi kedua terbanyak di Indonesia. Pada tanggal 15 Mei 2020 tercatat menjadi 1.921 kasus. “Hari ini tambahan yang positif ada 64, sehingga total ada 1.921 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Jawa Timur. Dari jumlah itu, ada sebanyak pasien atau 74,65 persen masih dirawat” ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam konferensi pers live streaming di Gedung Negara Grahadi, Jum’at malam (15/5/2020). Dan wilayah yang paling banyak positif Covid-19 adalah Surabaya.

    Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan di antaranya keringanan biaya listrik, pembatasan sosial ber skala besar, larangan mudik, keringanan kredit, gelontarkan anggaran sebanyak Rp. 405, 1 triliun. Pada tanggal 28 April 2020 Gubernur Jawa Timur Khafifah Indar Parawansa resmi menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. PSBB tersebut akan berlangsung selama 14 hari, mulai selasa (28/4) hingga senin (11/5).

                Terkait kebijakan phisical distancing yang dikeluarkan tidak diperbolehkan berboncengan, untuk mobil yang satu berada di depan dan yang satunya di belakang. Banyak tempat-tempat yang di tutup, kecuali pasar, indomart dan sejenisnya. Tetapi tetap diberlakukan phisical distancing dengan jaga jarak dan wajib memakai masker. Tidak hanya itu, semua lembaga pendidikan pun juga di tutup, sistem pembelajaran dilakukan melalui media online. Hingga lembaga pendidikan Agama juga memulangkan para santriwan/santriwati untuk mencegah penularan Covid-19.

    Meski demikian, masih banyak orang yang tidak menaati peraturan. Seperti di warung kopi masih banyak orang yang bergerombol. Upaya memutus tali rantai penyebaran Covid-19 pemerintah bertindak tegas dengan berlakunya PSBB. Petugas dan aparat kepolisian selalu memantau keadaan agar masyarakat menaati peraturan PSBB. Tentunya ada pihak pro dan kontra terhadap pemberlakuan PSBB ini. Bahkan ada yang protes langsung terhadap petugas.

    Menurut Anthony Giddens dengan teori strukturasinya, agen dan struktur adalah dwi rangkap. Seluruh tindakan sosial memerlukan stuktur dan seluruh struktur memerlukan tindakan sosial. Agen dan struktur saling jalin menjalin tanpa terpisahkan dalam praktik atau aktivitas manusia. Adanya praktik-praktik sosial yang terjadi di sepanjang ruang dan waktu dan dilakukan berulang-ulang atau terus menerus. Memiliki tujuan untuk menjelaskan bagaimana hubungan dialektika dan saling pengaruh mempengaruhi antara agen dan struktur.

    Artinya jika dikaitkan dengan kebijkan pemerintah terhadap penanganan Covid-19, agen yang berarti aktor itu adalah masyarakat dengan tindakannya (agensi). Sedangkan struktur yaitu aturan yang mana pemerintah telah membuat beberapa kebijakan yang harus dilakukan oleh masyarakat. Jika hanya ada kebijakan saja tanpa adanya tindakan dari masyarakat maka tujuan untuk memutus tali rantai penyebaran Covid-19 tidak akan tercapai. Sebaliknya jika hanya masyarakat saja yang bertindak tanpa adanya aturan maka tidak akan terorganisir.

    Dengan menerapkan teori strukturasinya Giddens terhadap penanganan Covid-19 akan memudahkan tercapainya tujuan. Antara struktur (kebijakan) dan agen (masyarakat dengan tindakannya) harus saling mempengaruhi satu sama lain. Untuk melaukan praktik sosial tersebut dibutuhkan ruang ada waktu. Semisal di pasar masyarakat sadar bahwa ia harus memakai masker di mana pun berada dan itu merupakan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Praktik sosial tersebut perlu dilakukan secara berulang agar terbiasa.

    Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga ikut andil dalam rangka menangani Covid-19. MUI menyarankan dan berharap umat muslim untuk ibadah di rumah masing-masing. Beberapa daerah yang red zone tidak melakukan tarawih di Musholla/Masjid agar mencegah penyebaran virus corona. Tetapi, masih banyak juga daerah yang melakukan tarawih di Musholla. Ada sebuah kasus imam tarawih positif Covid-19 dan 28 jama’ah bersatus Orang Dalam Pemantauan ODP di daerah Tambora, Jakarta barat.

    Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu Negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu,”  (H.R Bukhari dan Muslim). Di sisi lain adanya wabah juga termasuk rahmat dari Allah SWT. Dengan bersabar dan mengisi waktu luang ini dengan melakukan hal-hal yang baik. Mungkin dengan adanya wabah ini, kita diberikan kesempatan untuk beribadah sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT.

                WHO menyatakan kemungkinan corona tidak akan pernah hilang. Prediksi WHO setidaknya butuh 4 hingga 5 tahun untuk mengendalikan penyebaran virus corona. Dan cara paling efektif untuk memutus tali rantai penyebaran Covid-19 dengan PSBB.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.