x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Kamis, 9 Juli 2020 14:17 WIB

ILUNI 30 Itu Pengabdian Bukan Obrolan, Sinergi Atau Seremoni?

Ikatan alumni di manapun, banyak yang seakan mati suri. Maka penting ikatan alumni jadikan misi sebagai eksekusi. Ikatan alumni itu pengabdian, bukan obrolan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Besar atau kecil sumbangsih sekolah SMA sebagai tempat belajar, suka tidak suka, telah memberi andil terhadap suksesnya seorang alumni. Sebaliknya, sekolah SMA yang mampu memfasilitasi dan menghargai alumninya suatu saat pamornya akan dipromosikan sebagai “tempat belajar” yang direkomendasi dan berkualitas. Maka sekali lagi, sangat disayangkan bila banyak alumni yang sukses dan memiliki potensi. Tapi tidak mampu “bersinergi” di antara sesama alumni dan sekolahnya. Semua sepakat. Ikatan alumni pasti penting. Cuma mau bagaimana?

Alumni SMAN 30 Jakarta sebentar lagi akan membentuk Ikatan Alumni SMAN 30 (ILUNI 30). Konon kabarnya, ada 4 (empat) calonnya. Sebagai salah satu warga alumni SMAN 30 Jakarta dari Angkatan 89, saya doakan prosesnya berjalan lancar. Tapi satu hal yang saya ingin katakan, siapapun yang terpilih, harusnya mampu jadikan misi untuk eksekusi.

 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Membentuk organisasi apapun, nyatanya memang lebih mudah daripada mempertahankan eksistensi organisasi itu sendiri. Maka sangat diperlukan kesamaan gerak langkah dan  sinergi. Karena di era sekarang, segala sesuatu itu akan lebih mudah bila dikerjakan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri. Kolaborasi dna sinergi jadi kata kuncinya.

Dari zaman dulu, siapapun bilang ikatan alumni dimana pun sangat penting. Katanya, bukan hanya sekadar eksistensi. Tapi untuk menjaga silaturahim dan spirit kebersamaan di antara anggotanya. Jebolan suatu lembaga pendidikan, seperti SMAN 30 Jakarta. Tapi sayang, tidak semua mau mengupayakan dan mengoptimalkan “keberadaan” ikatan alumni. Masih banyak dari kita yang “tidak peduli” terhadap eksistensi ikatan alumni.

Banyak orang lupa. ikatan alumni itu tidak hanya penting dalam mewujudkan visi dan misi suatu lembaga pendidikan. Tapi lebih dari itu, ikatan alumni pun dapat meningkatkan citra dan reputasi sekolah, sebagai tempat belajar di masa lalu. Bahkan lebih luas lagi, ikatan laumni pun dapat “membuka jalan” bagi alumni yang lain (alumni yang baru lulus) untuk masuk ke dunia kerja atau menjadi professional. Patut dingat, hampir semua Lembaga pendidikan yang “berkualitas” selalu ditopang oleh ikatan alumni yang mumpuni pula. Sehingga akhirnya, ikatan alumni pun dapat meningkatkan mutu lulusan sekolah tersebut di waktu mendatang. Jadi, alumni adalah aset penting yang harus dirangkul dan dikembangkan oleh setiap lembaga pendidikan. Termasuk oleh pengurus ikatan alumninya.

 

Apalagi untuk ILUNI 30. Sudah saatnya merapatkan barisan. Karena SMAN 30 Jakarta adalah salah satu SMA negeri bersejarah dan berada di pusat kota Jakarta. Siapa yang tidak kenal SMAN 30 Jakarta? Apalagi yang pernah hidup di kawanan Rawasari, Johar, Cempaka Putih, Pulomas, Rawamangun dan sekitarnya. Sejak 1 April 1974, SMAN 30 ada dari yang sebelumnya  bernama SMA VILIAL.

Dan esok saat ILUNI 30 terbentuk. Tidak ada kata yang pas selain “jadikan misi untuk eksekusi”. Agar ILUNI 30 dapat berperan nyata dalam mengangkat citra dan reputasi SMAN 30 Jakarta, di samping berkontribusi terhadap almamater. Agar terjalin sinergi yang kokoh di antara alumni sebagai bagian pengabdian kepada masyarakat dan almamater.

Maka sebagai ikatan alumni, ILUNI 30 harus tetap fokus pada ikhtiar menjadikan misi sebagai eksekusi. Setidaknya ada 3 (tiga) orientasi yang harus diciptakan sebuah ikatan alumni:

  1. Ikatan Alumni yang tak usang oleh waktu, yang tidak mengenal fanatisme kelompok, angkatan atau usia sekalipun. Memang sulit, tapi kegagalan banyak ikatan alumni karena terlalu banyak dikotomi di antara anggotanya. Inilah PR besar yang perlu kita cari “jalan tengah”.
  2. Ikatan Alumni harus mencerahkan, komit membangun tradisi untuk “bersinergi nyata” bukan sekedar kangen-kangenan dan nostalgia. Mencerahkan bagi para alumninya, bagi sekolahnya, dan jika perlu untuk adik-adik di SMA-nya yang sedang belajar.
  3. Ikatan Alumni pun harus realistis, tidak berlebihan dalam “bermimpi”. Jangan terlalu banyak yang dimau, di samping jangan ada kepentingan orang per orang yang dominan. Semuanya harus didasari pada realitas. Apa adanya bukan ada apanya. Realistis dalam melihat dinamika zaman, realistis dalam organisasi, dan realistis dalam mengatur waktu.

Ketiga dasar itu yang menurut saya dapat membuat ikatan alumni di manapun akan memiliki “daya guna” yang lebih tinggi. Mungkin, tulisan ini bisa jadi “bahan renungan” bersama para alumni, khususnya ILUNI 30. Agar tetap mampu wujudkan misi menjadi eksekusi. Dan menjadikan ikatan alumni bukan obrolan tapi pengabdian. Jangan belum apa-apa sudah mempertontonkan ego. 

Maka ikatan alumni jangan terjebak pada seremoni semata. Tapi tetap fokus pada substansi. Maka “bersinergilah dan lakukan yang terbaik atas apa yang bisa dilakukan”. Karena di dalamnya ada pengabdian yang tidak ternilai harganya. Dan ketahuilah, sebaik-baik visi-misi itu baru sebatas mimpi; tanpa aksi tetap hanya ilusi. Maka jadikan misi sebagai eksekusi karena ikatan alumni itu pengabdian bukan obrolan … tabik #ILUNI30 #IkatanAlumni

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu