x

Mau jadi Presiden

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 27 Agustus 2020 05:57 WIB

Anak Band Mau Jadi Presiden, Dimana Sensasi dan Lucu-Lucuannya?

Sepanjang di NKRI masih bercokol cukong/taipan yang siap menggelontorkan dana bagi mimpi si anak band, menjadi Presiden sudah terbukti bukan hal yang sulit. Jadi, meski dianggap mencari sensasi, gimmick politik, lucu-lucuan dll, bagiamana bila si anak band betulan jadi Presiden? Ilusikah?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bukan Indonesia namanya, kalau tahu-tahu senyap dari pemberitaan politik dan kawan-kawannya. Terbaru, kini lagi ramai di dunia maya, media sosial, dan media massa Indonesia, ada seorang anak band bermimpi jadi Presiden gara-gara dapat jabatan baru di partai yang juga masih baru.

Biasanya, tradisinya, jangankan untuk mencalonkan atau dicalonkan jadi seorang Ketua RT saja, masyarakat di lingkungan RT melihat terlebih dahulu siapa gerangan yang dicalonkan, apa pendidikannya, apa pekerjaannya, apa pengalaman organisasinya, apa kompetensinya dll.

Lha ini, kok tiba-tiba mencalonkan diri jadi Presiden dan pendukung partainya juga itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Maka, pantas saja banyak pihak dan masyarakat yang menganggap si anak band ini dan si partinya sedang mencari senasi demi meningkatkan popularitas-elektabulitas melalui dagelan  menjadi calon Presiden.

Bagaimana tidak, dengan modal yang terukur dan masih sangat-sangat jauh dari harapan, malah sudah berkoar memberanikan diri untuk maju sebagai calon presiden di 2024,  dalam video yang diposting di kanal YouTube sebuah partai.

Video yang dimaksud berjudul #...Presiden 2024 ... dan diunggah oleh partai ... pada Senin (24/8/2020). 

Dalam video itu, yang dicalonkan jadi Presiden tampil memakai kemeja putih dan peci hitam, dan berbicara cukup banyak. Mulai dari alasannya terjun ke politik, hingga harapannya kepada generasi muda agar peduli terhadap politik nasional.

Bahkan sampai bicara:
"Kita boleh aja benci politik, tapi suka nggak suka, banyak keputusan penting yang terkait diri kita diambil melalui sistem politik," kata sang calon.

Dalam kanal tersebut, dengan semangat, sang calon pun bicara panjang lebar mengapa terjun ke dunia politik dan sampai mencalonkan diri jadi Presiden. Sampai memuji-muji apa yang dilakukan Jokowi dari saat memimpin DKI.

Meski, sang calon hanya baru banyak bicara, didukung partai yang terus mencari sensasi pun menjadi pemuja Jokowi, sejatinya, bila partai yang terus mencari sensasi ini didukung dan dibiayai oleh cukong/taipan, seperti partai yang menguasai Indonesia sekarang seperti di ungkap Ketua MPR RI, tidak akan ada yang mustahil.

Dengan uang, semua bisa diatur. Semua bisa dimenangkan, rakyat bisa disutradarai. Sehingga niat sang calon dan partai sensasi ini bisa saja mewujudkan mimpi tersebut asal ada pihak yang menjadi penyandang dana.

Tidak ada yang mustahil, bila uang sudah berbicara, skenario dimainkan, maka semua urusan akan lancar.

Meski menyadari akan hal tersebut bisa saja terjadi, namun tetap saja, secara obyektif, sejumlah pihak tetap menyambut sinis 'mimpi' anak band ini jadi presiden. 

Si anak band dianggap sedang mimpi di siang bolong.
"Ya, boleh aja sih mendeklarasikan mimpi siang bolong, boleh aja dalam politik," kata pendiri lembaga survei KedaiKOPi Hendri Satrio kepada wartawan, Senin (24/8/2020).

Bagaimana mau jadi Presiden? Memang sudah sukses memimpin diri sendiri. Memimpin keluarga, apalagi partai yang baru dapat jabatan Plt. Ketum sebuah partai.

Sementara pihak lain pun juga menilai bahwa niat si anak band jadi calon Presiden hanya mencari sensasi agar publik memperhatikan dan juga sebagai manuver politik partai sensasi yang mengusungnya pula 

Pihak lainnya pun juga ada yang menganggap apa yang kini dimimpikan oleh si anak band, hanyalah sebagai Gimmick politik. Meski demikian, keberanian diri untuk mencalonkan menjadi calon Presiden ini tetap menjadi pendidikan politik yang positif untuk generasi muda Indonesia.

Tapi tetap saja, apa yang terjadi dengan gimmick ini, memang terbaca hanya sebuah sensasi dan elektabilitas yang ingin dicari oleh partai yang ada di balik si  anak band, sejak partai itu berdiri, selalu sangat gemar bikin sensasi dan pamer diri. Ibaratnya, nafsu besar tenaga kurang.

Mengapa si anak band dan partai yang di belakangnya tidak melihat contoh kasus Mas Nadiem yang diangkat jadi Mendikbud? Padahal, Nadiem memiliki modal sebagai milenial yang berhasil dalam dunia transportasi digital. Lalu, pendekatan Jokowi, agar dunia pendidikan Indonesia juga berbasis digital sesuai perkembangan zaman. 

Sekarang kita sama-sama bisa menjadi saksi bagaimana sepak terjang Nadiem dalam mengemban Mendikbud dan sangat diharapkan oleh masyarakat dan berbagai pihak sebagai menteri yang wajib diganti, karena tak cukup memiliki kompetensi untuk mengampu dunia pendidikan Indonesia.

Pertanyaannya, di anak band ini punya kompetensi apa? Lha kok malah loncat sangat tinggi ingin jadi Presiden, seperti mimpi-mimpi anak kecil di Indonesia saat ditanya oleh orang tua dan gurunya. Mau jadi Presiden, nanti.

Sehingga dapat disimpulkan, partai di balik si anak band, dan si anak band itu sendiri hanya sekadar melakukan  sensasi dan gimmick politik. Jauh panggang dari api. Ibarat si cebol ingin nggayuh lintang.

Mungkin baiknya, bila ingin jadi Presiden, latihan dulu dan mencalonkan diri jadi Ketua Rukun Tetangga (RT), sebagai batu ujian dan loncatan. Lalu, jadi RW dan seterusnya. Ini Presiden, lho? Jadi, Lurah atau Camat saja sekarang susah kalau tidak ada "sesuatu". Apalagi jadi Wali Kota, Bupati, Gubernur, hingga Presiden.

Atas sensasi yang dibikin oleh si anak band ini, bahkan Ketua DPP sebuah paryai pun menilai manuver si anak band hanya sebagai hiburan di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

Kemudian mempertanyakan lewat 'kendaraan' apa si anak band akan maju di Pilpres 2024. Sebab untuk bisa maju sebagai capres, harus memenuhi syarat presidential threshold atau ambang batas capres, yaitu dukungan dari parpol atau gabungan parpol.

Akibat kenekatan si anak band ini, malah ada suara dari salah satu Komisi di DPR RI, bahwa si anak band sedang ber-'disco' di masa pandemi yang 'sunyi' ini, disko mengisi kesepian di tengah pandemi COVID, seperti lagunya 'Disco Lazy Time'. Mungkin 'this is disco loneliest time' (ini adalah disko waktu sepi).

Sebagai sebuah catatan, sebenarnya saat menjelang Pilpres 2019, si anak band ini sempat maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari partai yang sekarang mendukungnya pada Pileg 2019.

Ternyata, walau mendapat perolehan suara tinggi di daerah pemilihannya (dapil) di Jawa Barat, namun karena partai yang menaunginya tak lolos parliamentary threshold atau ambang batas masuk parlemen, si anak band ini pun gagal menjadi anggota DPR RI.

Namun demikian, sepanjang di NKRI masih bercokol cukong/taipan yang siap menggelontorkan dana bagi mimpi si anak band, menjadi Presiden sudah terbukti bukan hal yang sulit.

Jadi, meski dianggap mencari sensasi, gimmick politik, lucu-lucuan dll, bagiamana bila si anak band betulan jadi Presiden? Ilusikah?

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB