Hilangnya Karakter Berbesar Hati dan Kerendahan Hati Para Pemimpin Negeri - Analisa - www.indonesiana.id
x

Rendah hati

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 11 September 2020 13:17 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Hilangnya Karakter Berbesar Hati dan Kerendahan Hati Para Pemimpin Negeri

    Yakin bila kebesaran hati dan rendah hati menjadi pondasi karakter para pemimpin negeri ini, maka sengkarut di NKRI dan pandemi corona akan mudah diatasi, karena sejatinya yang bermasalah bukan rakyat, tapi "mereka-mereka" sendiri yang terus menjajah dirinya karena hanya menjadi "robot" yang digerakkan oleh cukong dan taipan, rakyat pun terus menjadi korban.

    Dibaca : 505 kali


    Siapa yang kini di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sedang terus dalam kondisi tak berbesar hati, pun tak rendah hati, semakin terbaca tatkala wabah virus corona semakin menggila tak dapat dikendalikan oleh negara dan ujungnya negara lain me-lockdown Indonesia?

    Siapa yang kini terus dalam kondisi tak berbesar hati, pun tak rendah hati, karena terus mengejar target ambisi untuk kepentingan politik dan ekonomi bagi diri sendiri, kelompok, dan golongannya, bukan untuk kepentingan rakyat?

    Siapa kini partai politik dan para elite partainya yang masih terus tak berbesar hati, pun tak rendah hati dengan terus mengejar semua "kemenangan" di seantero negeri, menghalalkan segala cara bahkan sampai tega menyakiti perasaan sesama anak negeri karena sampai mengungkit kedaerahan?

    Siapa yang kini terus mencoba melanggengkan praktik oligarki dan dinasti politik dan merusak tatatan demokrasi sejati?

    Siapa yang kini terus memancing di air keruh dan terus mencari kambing hitam demi menyelamatkan kecurangan-kecurangan dan kebohongan-kebohongan untuk membuat rakyat sejahtera, adil, dan makmur?

    Siapa yang kini terus berlindung di balik hukum yang tumpul ke atas karena para penegak hukumnya juga menjadi paket ambisi?

    Siapa yang kini diuntungkan dari berbagai Undang-Undang yang dilahirkan oleh parlemen dan pemerintah?

    Siapa yang kini terus menikmati segala kekayaan alam dan isinya yang melimpah di negeri ini?

    Siapa yang kini benar-benar peduli pada nasib rakyat atas segala penderitaan meski sudah 75 tahun Indonesia lepas dari penjajahan kolonialisme?

    Siapa yang kini punya "modal" dan terus melibatkan pemengaruh (influencer) dan pendengung (buzzer) yang justru terus memancing perseteruan di media massa?

    Siapa yang terus melanggengkan pratik korupsi di negeri ini dan siapa pula yang mencoba terus melindungi para koruptor?

    Siapa yang kini terus membentengi diri meski telah membuat kesalahan dan kesalahan?

    Siapa yang kini juga tak menghargai dan menghormati amanat Presiden bahwa kesehatan adalah kunci dari penanganan corona di Indonesia dan terus menyalahkan pihak lain karena kebencian dan dendam tak berujung?

    Siapa yang kini memaksakan Pilkada di tengah pandemi corona terus mengancam?

    Selain itu, masih banyak pertanyaan tentang siapa-siapa yang lain, yang kini juga saya dengar semakin nyaring diucap oleh rakyat baik melalui media massa maupun media sosial. Juga dalam percakapan sehari-hari di lingkungan warga Republik ini.

    Pertanyaannya, siapa yang akan menghentikan semua sengkarut di Republik ini, di tengah corona terus mengganas dan Indonesia dikucilkan dunia karena parlemen dan pemerintah yang kini menguasa Indonesia, namun yang diharapkan dapat jadi penyelamat dan pemecah masalah, justru semakin nampak ambisinya dengan politik legislasi yang sembunyi-sembunyi, oligarki yang terus disemai, dan politik dinasti yang transparan.

    Sungguh, kini rakyat bingung dengan kondisi Indonesia yang semakin sengkarut dan dipenuhi manusia berkarakter ambisi dan dendam namun duduk di kursi pembuat kebijakan dan menguasai negeri.

    Kapan mereka akan berbesar hati yaitu ikhlas, rela, tidak keberatan dengan hal baik maupun buruk dan rendah hati yaitu tahu diri, tidak sombong, tidak angkuh di tengah perbedaan kelompok politik, golongan, maupun junjungan?

    Rakyat sudah membaca dan semakin paham siapa yang terus berambisi dan ingin mengusai, bahkan tak peduli meski dengan jalan yang sangat membahayakan disintegrasi bangsa.

    Yakin bila kebesaran hati dan rendah hati menjadi pondasi karakter para pemimpin negeri ini, maka sengkarut di NKRI dan pandemi corona akan mudah diatasi, karena sejatinya yang bermasalah bukan rakyat, tapi "mereka-mereka" sendiri yang terus menjajah dirinya karena hanya menjadi "robot" yang digerakkan oleh cukong dan taipan, rakyat pun terus menjadi korban.

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.