x

cover buku Kancing yang Terlepas

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 7 Oktober 2020 18:51 WIB

Kancing yang Terlepas

Persoalan Tionghoa Semarang di masa menjelang tumbangnya Orde Lama.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Kancing yang Terlepas

Penulis: Handry TM

Tahun Terbit: 2011

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                    

Tebal: 456

ISBN: 978-602-03-0101-3

 

Kehidupan orang Tionghoa di Indonesia adalah salah satu topik yang masih banyak dibicarakan. Pembicaraan tentang kehidupan orang Tionghoa ini tidak melulu dilakukan oleh para akademisi melalui terbitan hasil penelitian, tetapi juga dituangkan oleh para sastrawan dalam karya sastra, diantaranya dalam bentuk cerita pendek dan novel. Kehidupan orang Tionghoa di Indonesia setidaknya sudah menjadi pilihan tema bagi para penulis cerita bahkan sejak Indonesia belum merdeka. Peristiwa-peristiwa besar yang menimpa kehidupan orang Tionghoa dijadikan tema oleh para sastrawan dalam karya-karyanya.

Meski cukup banyak karya fiksi bertema kehidupan orang Tionghoa, namun sangat sedikit yang memilih tema seputar tragedi G30S 1965. Entah mengapa tema ini masih “dihindari” oleh para penulis fiksi, baik penulis Tionghoa maupun non Tionghoa. Padahal tema kerusuhan 1998 banyak dijadikan bahan dalam penulisan karya fiksi sejak tahun 1999. Didi Kwartanada (2009) dalam tulisannya berjudul “Dari ‘Clara’ hingga ‘Yin Galema’: Tionghoa dalam Karya Fiksi di Masa Reformasi (Juni 1998 – Juli 2009)” mencatat setidaknya ada 41 karya bertema Tionghoa di periode yang cukup singkat tersebut. Dari 41 karya tersebut, 11 karya ditulis oleh penulis Tionghoa. Didi Kwartanada adalah seorang sejarawan mencatat setidaknya. Memang harus diakui bahwa sejak tumbangnya Orde Baru, karya-karya fiksi bertema kehidupan orang Tionghoa mulai marak. Dari sedikit novel bertema Tionghoa di masa sekitar peristiwa G30S 1965 tersebut adalah “Kancing yang Terlepas” karya Handry TM.

“Kancing yang Terlepas” menggunakan Semarang, khususnya Gang Pinggir antara tahun 1961 sampai dengan menjelang tumbangnya Orde Lama sebagai lokasi peristiwa Gang Pinggir adalah kompleks pecinan di Kota Semarang. Handry TM memilih tokoh seorang perempuan Tionghoa yang menjadi biduan orkes cina. Tokoh tersebut bernama Giok Hong. Giok Hong adalah seorang primadona Orkes Cina Tjahaja Timoer yang dipimpin oleh seorang Tionghoa kaya bernama Tek Siang. Orkes Cina Tjahaja Timoer adalah sebentuk hiburan bagi orang-orang di sekitar Gang Pinggir. Baik mereka yang kaya maupun yang miskin selalu menanti-nati orkes ini tampil atau sekadar berlatih.

Marilah kita lihat secara cepat garis besar kisah Giok Hong, sebelum kita lebih dalam mengupas novel ini dari berbagai sisi.

Giok Hong dipelihara oleh Tek Siang dari sejak kecil. Giok Hong adalah anak perempuan yang ditinggal begitu saja di depan rumah Tek Siang. Tek Saing memeliharanya, mengajarinya menjadi seorang penyanyi hebat dan sekaligus menjadikannya sebagai kekasihnya. Gik Hong sangat mencintai Tek Siang.

Untuk menunjukkan keunggulan dalam persaingan antar orang kaya di Gang Pinggir, Tek Siang meminta Giok Hong untuk menggoda Oen Kiat. Oen Kiat adalah sahabat Tek Siang sejak remaja. Namun Oen Kiat lebih kaya karena bisnis gandumnya. Namun yang kemudian terjadi adalah Oen Kiat jatuh cinta kepada Giok Hong dan bermaksud menikahinya. Sayang sekali, pertemuan pertama keduanya membawa petaka. Oen Kiat mendapat serangan jatung akibat dari godaan yang dilakukan oleh Giok Hong. Di masa perkabungan itulah Giok Hong dilarikan oleh istri Oen Kiat. Istri Oen Kiat bermaksud menikahkan Giok Hong dengan anak pertama Oen Kiat.

Namun prahara perebutan harta dari keluara Oen Kiat membuat Giok Hong menghilang. Menghilangnya Giok Hong membuat hidup Tek Siang merana. Ia tak lagi mau ditemui oleh sahabat-sahabatnya. Orke Tjahaja Timoer juga tak diurusnya.

Setahun setelah menghiangnya Giok Hong, muncul penyanyi baru bernama Boenga Lily. Boenga Lily menjadi penyanyi di sebuah restoran di Gang Pinggir. Kehadiran Boenga Lily membuat restoran tersebut menjadi semakin berkembang. Desas-desus mulai muncul, bahwa sesungguhnya Boenga Lily adalah Giok Hong. Desas-desus ini membuat Tek Siang ikut terpancing untuk menyelidikinya. Benar saja. Saat berada di rumah Tek Siang, Boenga Lily mengaku bahwa dirinya adalah Giok Hong. Padahal Tan Kong Gie, sang pemilik rumah makan yang mempekerjakannya, ingin menjadikan Boenga Lily menjadi istri keduanya. Tek Siang berupaya supaya pernikahan antara Kong Gie dengan Boenga Lily gagal.

Di tengah upaya Tek Siang untuk mencegah pernikahan Boenga Lily dengan Kong Gie, Gang Pinggir dilanda prahara. Pertikaian politik di Jakarta merembet sampai ke Semarang. Gang Pinggir yang merupakan wilayah pecinan tak luput dari prahara tersebut. Di saat itulah situasi menjadi tak terkendali. Isu-isu kerusuhan dan pembakaran mewarnai Gang Pinggir. Situasinya serba tak menentu. Siapa melawan siapa, siapa kawan siapa tak bisa dijelaskan dengan baik. Boenga Lily pun terjebak dalam prahara tersebut. Ia bersama dengan Kong Gie ditangkap tentara karena dianggap sebagai agen Tiongkok yang diselundupkan ke Semarang. Boenga Lily pun menggunakan kecantikannya untuk membebaskan orang-orang yang diyakininya tidak tahu menahu tentang peristiwa politik tersebut. Apakah Boenga Lily benar-benar seorang agen Tiongkok? Atau ia hanya bernasib apes saja?

Sekarang marilah kita lihat “Kancing yang Terlepas” dari sisi kisah yang menghibur. Handry TM sangat berhasil membuat novel ini sebagai karya yang menghibur. Handry TM senantiasa memberikan kejutan-kejutan yang membuat pembaca menjadi penasaran.  Beberapa kejutan yang mengagetkan misalnya ada pada pertemuan Oen Kiat dengan Boenga Lily yang ternyata diketahui oleh istrinya. Kematian Oen Kiat yang dinyatakan sebagai terkena serangan jantung, menjadi tidak valid lagi. Apakah Oen Kiat sengaja dibunuh oleh istrinya karena motif cemburu dan keinginan menguasai harta? Kejutan kedua adalah munculnya Boenga Lily yang memberi petunjuk bahwa sesungguhnya ia adalah Giok Hong tetapi pada saat yang sama petunjuk tersebut sangat meragukan. Sebab wajah, suara dan perilaku Boenga Lily sama sekali tidak mirip dengan Gik Hong. Kejutan ketiga – yang menurut saya paling besar adalah bahwa Giok Hong ternyata adalah anak ayah Tek Siang dengan pembantunya! Jadi Tek Siang dan Gik Hong adalah saudara seayah!

Handry TM juga sangat berhasil dalam membawa pembacanya menikmati kehidupan gaya Semarangan, khususnya Gang Pinggir di masa tahun 1960-an. Penggunaan bahasa Semarangan dalam percakapan dan penggambaran tempat-tempat di Gang Pinggir yang masih bisa kita saksikan sekarang ini membuat novel ini memberikan gambaran yang hidup tentang pecinan di Kota Semarang ini. Kita seakan hadir sendiri di komplek pecinan di Kota Semarang tahun 1960-an.

Dari sisi sejarah, saya merasa Handry TM sangat pelit. Ia tak menceritakan sejarah prahara di akhir masa Orde Lama di Semarang. Ia hanya menunjukkan bahwa banyak kelompok yang tidak jelas afiliasi politiknya. Dalam hal orang-orang Tionghoa di Gang Pinggir, Handry TM juga tak menjelaskan siapa di pihak mana. Padahal orang Tionghoa Semarang, khususnya Gang Pinggir sudah dikenal mempunyai afiliasi politik yang cukup jelas. Tokoh Oei Tiong Ham sang raja gula, misalnya sangat pro Belanda. Anak Oei Tiong Ham yang bernama Oei Tjong Hauw memihak Jepang sehingga akhirnya terpilih menjadi salah satu anggota BPUPK. Bahkan jauh sebelum masa Jepang, orang Gang Pinggir telah dicatat pro Indonesia. Tokoh Tan Peng Lian yang ditulis dalam novel Ca Bau Kan adalah seorang Tionghoa asal Gang Pinggir yang mendukung secara finansial para tokoh pergerakan.

Dalam novel ini Handry TM tak menjelaskan secara gamblang aktifitas politik seperti apa yang dilakukan oleh tokoh-tokohnya. Mungkin Handry TM menempatkan para orang Tionghoa sebagai makhluk ekonomi yang tak peduli dengan politik. Tapi ke-takpedui-an orang Tionghoa dalam politik bukankah baru terjadi di masa Orde Baru? Atau Handry TM sengaja menghindari pemihakan kepada kebenaran tertentu terhadap peristiwa 1965 yang masih sangat peka ini?

Bagaimana “Kancing yang Terlepas” dilihat dari misinya membawa persoalan Tionghoa dalam konteks ke-Indonesia-an? Dalam hal ini pun saya tak menemukan ada misi khusus dalam novel ini untuk membincangkan masalah kehidupan orang Tionghoa hubungannya dengan kehidupan bernegara. Handry TM tak menyinggung bagaimana hubungan sosial antara orang Tionghoa dengan masyarakat Jawa. Ia juga tak menyinggung hubungan orang Tionghoa dengan aparat negara.

Tapi harus diakui bahwa Handry TM tak bermaksud menulis novel sejarah atau novel yang membahasn persioalan Tionghoa di Indonesia. Seperti tulisan yang tertera di halaman judul novel ini, Handry TM ingin mengupas perempuan dalam politik dan kekuasaan. Jika kita melihat dari sisi perempuan dalam politik dan kekuasaan, maka novel ini sangatlah berhasil. Tokoh Giok Hong yang tak memiliki modal apapun selain tubuhnya yang seksi dan bakat menyanyinya, berhasil menguasai dirinya untuk menaklukkan kekuasaan para lelaki. Ia berhasil menaklukan Tek Siang, Oen Kiat, Kong Gie dan terakhir Prasetyo, seorang tentara yang ditugasi negara untuk menangkapi para perusuh yang akan membakar Gang Pinggir. Keempat lelaki tersebut takluk oleh kemolekan tubuh Gik Hong si Boenga Lily, sehingga mereka menuruti apa yang menjadi kehendak Sang Boenga Lily. Gik Hong berhasil menentukan sendiri apa yang ingin dilakukannya. Ia tidak menyerah kepada kekuasaan politik atau kekuasaan para lelaki. Boenga Lily berhasil mengontrol bagaimana menggunakan tubuhnya untuk memperjuangkan hidupnya.

 

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler