Kisah Dokter Shelly, 30 Hari Bertugas di Rumah Sakit Penanganan Covid-19 Wisma Atlet - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Relawan kesehatan dan dokter sangat penting dalam upaya penanganan pandemi

CISDI ID

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 September 2020

Sabtu, 24 Oktober 2020 06:03 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Kisah Dokter Shelly, 30 Hari Bertugas di Rumah Sakit Penanganan Covid-19 Wisma Atlet

    Sejak Maret lalu, Wisma Atlet di DKI Jakarta beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19. Dari 10 tower, empat diantaranya dialihfungsikan sebagai tempat perawatan kasus konfirmasi, tiga tower untuk menginap relawan. Sebagai rumah sakit darurat, Wisma Atlet menyediakan fasilitas medis lengkap, mulai dari IGD, triase, high care unit (HCU), hingga laboratorium. Berikut cerita dr. Shelly Silvia Bintang yang bertugas di HCU Wisma Atlet selama 30 hari.

    Dibaca : 880 kali

    Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet masih terus membutuhkan bantuan relawan tenaga kesehatan. (Sumber gambar: Antara)

     

    Sejak Maret lalu, Wisma Atlet di DKI Jakarta beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 sejak. Dari 10 tower yang ada, empat di antaranya dialihfungsikan sebagai tempat perawatan kasus konfirmasi, sementara tiga tower lainnya digunakan sebagai tempat menginap relawan. Sebagai rumah sakit darurat, Wisma Atlet menyediakan fasilitas medis lengkap, mulai dari IGD, triase, high care unit (HCU), hingga laboratorium.

    Di antara dokter yang bertugas di sana, terselip nama dr. Shelly Silvia Bintang. Shelly, sapaan akrabnya, adalah dokter relawan untuk HCU. Shelly, dalam wawancara dengan CISDI (20/10), menyebut dirinya terpilih sebagai relawan gelombang 24 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Proses seleksi relawan tidak mudah, Shelly perlu mengirim berkas, mengikuti wawancara, melaksanakan medical check-up, dan menjalani pembekalan.

    “Saya ingin berkontribusi terhadap penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia,” ujar Shelly yang juga alumni Pencerah Nusantara Angkatan VI ini. Selama bertugas di HCU, Shelly biasanya bertanggung jawab atas enam sampai tujuh pasien. Walau jumlah pasien yang ia tangani lebih sedikit dari pada dokter di ruang perawatan yang bisa bisa bertanggung jawab atas 60-100 orang pasien, Shelly mengaku ia perlu mengetahui seluruh rekam medis dan penanganan detail setiap pasien.

    Bertugas selama delapan sampai sepuluh jam setiap harinya menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap membuat berat badan Shelly turun enam kilogram. Namun, Shelly tetap ceria karena selama bertugas ia berkenalan dengan relawan dokter dan nakes lainnya. Shelly bercerita ada sejumlah relawan yang sudah berulang kali bertugas di Wisma Atlet. Relawan-relawan ini mendaftarkan diri mereka kembali dan mengikuti rangkaian seleksi setelah menyelesaikan masa tugas dan karantina yang berat.

    Kebahagiaan Shelly juga selalu timbul ketika ia mengabari keluarga pasien bahwa orang yang mereka cintai telah pulih dan bisa pulang. Tetapi Shelly tidak memungkiri, ada perasaan sedih ketika seorang pasien meninggal.

    Mati Listrik

    Suatu hari Wisma Atlet alami mati listrik. “Itu (saat mati listrik) kita semua (tenaga kesehatan) langsung berdiri, terus melihat ke tempat pasien. Itu lumayan sport jantung,” kata Shelly dengan penuh ekspresi. Shelly khawatir meski listrik terputus hanya beberapa detik, alat medis yang menunjang hidup pasien akan terganggu.

    Baru setelah kejadian ini Shelly paham, aliran listrik yang digunakan untuk alat medis seperti ventilator dan monitor berbeda dengan aliran listrik gedung. Mati listrik tidak akan mengganggu pelayanan medis.

    Di Wisma Atlet, pasien tanpa gejala bisa menggunakan gawai untuk mengakses internet melalui wi-fi yang tersedia. Petugas kesehatan juga menyarankan mereka untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga. Setiap pagi, ada sesi khusus berolahraga untuk mereka. Pasien positif juga diperbolehkan memesan makanan melalui sistem delivery restoran ataupun ojek online. Bahkan, apabila mereka membeli barang secara daring, mereka boleh mengirimkannya ke alamat Wisma Atlet.

    Shelly telah tinggal di Wisma Atlet selama kurang lebih 40 hari dan mengakui fasilitas yang tersedia cukup memadai. Baik tempat tinggal ataupun kecukupan makanan tersedia dengan baik. Alat pelindung diri (APD) yang digunakan nakes juga selalu tersedia.

    Meski begitu, Shelly tidak menampik bantuan untuk relawan masih sangat diperlukan. “Kita bukan superman, tapi super team,” kata Shelly dengan nada canda. Kebutuhan tim relawan sangatlah banyak lantaran tim nakes tidak hanya terdiri atas dokter dan perawat, tetapi juga ada psikolog, psikiater, radiogaf, kesehatan masyarakat, gizi, rekam medis, ahli teknologi laboratorium medik, tenaga kesehatan lingkungan, dan lain-lain.

    Meski ada kurang di sana sini, Shelly sangat optimis dan tidak pernah mengeluh. Ia paham situasi ini adalah krisis, dan tenaga kesehatan tidak bisa menuntut banyak. “Kita yang harus menyesuaikan, kita kan relawan, bukan karyawan,” ujarnya tersenyum.

    Sebagai penutup, Shelly mengingatkan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Baginya, perang melawan wabah bisa dimenangkan dengan kerja keras tenaga kesehatan dan partisipasi masyarakat. “Kita sama-sama jadi pahlawan untuk diri kita sendiri, untuk orang yang kita sayangi, untuk bangsa dan negara.”

    Bagi Shelly, ini adalah pekerjaan rumah bersama yang harus segera diselesaikan dan dilaksanakan secara konsisten.

     

    Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

    Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera. Pencerah Nusantara adalah gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi kesehatan yang ditempatkan di puskesmas dengan masalah kesehatan untuk bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung dan menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode enam bulan penempatan. Sejak tahun 2015, model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.

     

    Penulis

     

    Ardiani Hanifa Audwina



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.