Tim UI Bantu Puskesmas Tanara Kendalikan Kemunculan PTM Melalui Pos Binaan Terpadu

Selasa, 21 September 2021 13:20 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melalui Program Pengabdian Pengendalian Penyakit Tidak Menular FK UI membantu pelaksanaan kegiatan luar gedung selama pandemi di Puskesmas Tanara, Kabupaten Serang, Banten.

Pelaksanaan pos binaan terpadu (posbindu) di Kecamatan Tanara dibantu oleh kader-kader kesehatan. (Sumber gambar: Dok Tim Universitas Indonesia)

“Hampir separuh jumlah kasus penyebab kematian ibu di Kecamatan Tanara terjadi karena hipertensi ibu hamil sehingga penting melaksanakan pemantauan dan pencegahan yang optimal melalui kegiatan posbindu,” ujar dr. Siti Kuriah, Kepala Puskesmas Tanara, pada sambutan pelatihan kader posbindu (pos binaan terpadu) yang dilaksanakan pada awal September 2021 lalu. 

Kegiatan ini merupakan upaya meningkatkan kapasitas dan membangun komitmen bersama melawan penyakit tidak menular (PTM) yang sempat turun prioritasnya selama pandemi Covid-19. Didukung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melalui Program Pengabdian Pengendalian Penyakit Tidak Menular FK UI, implementasi kegiatan luar gedung selama pandemi di Puskesmas Tanara, Kabupaten Serang, Banten mulai bergeliat.

Preeklamsia

Preeklamsia atau hipertensi pada ibu hamil adalah salah satu penyakit tidak menular yang memicu banyak kematian ibu di Indonesia. Selain menyumbang angka kematian ibu, PTM juga penyebab kematian tertinggi global sebelum pandemi. World Health Organization (WHO) pada 2019 menyebut 7 dari 10 penyakit yang menyumbang kematian utama adalah PTM. 

Sejak pandemi Covid-19, jumlah angka kematian meningkat. Kementerian Kesehatan (2021) menyebut 50,1% pasien positif Covid-19 memiliki hipertensi, 37,2% memiliki penyerta diabetes melitus, dan 16,6% memiliki penyakit jantung, beberapa jenis PTM yang kerap diidap masyarakat Indonesia.

Lonjakan kasus Covid-19 mengakibatkan berhentinya pelayanan kesehatan primer, termasuk kegiatan luar gedung pengendalian PTM, seperti posbindu PTM. Dilema ini membuat lonjakan angka PTM meningkat, dikarenakan keterlambatan diagnosis, keterlambatan terapi, perburukan kondisi, dan efek psikologis. Di Puskesmas Tanara kegiatan Posbindu PTM tersebut juga sempat terhenti karena penerapan PPKM sejak Juli 2021. 

Peran program PTM

Peran program pengendalian penyakit tidak menular, seperti posbindu PTM sangatlah penting. Sebab, keberadaan PTM akan terpantau melalui pemeriksaan dini di fasilitas kesehatan. Merujuk target Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, Puskesmas Tanara berhasil menapis 13,1% PTM dari Januari hingga Juni 2021 dari target tahun 2021 sebesar 47,3%. 

Puskesmas Tanara berupaya mendeteksi penyakit hipertensi, diabetes melitus, dan kanker serviks masyarakat usia produktif di Kecamatan Tanara. Mereka mengoptimalkan kembali pelaksanaan posbindu PTM, poli PTM, dan penapisan tekanan darah saat vaksinasi. Program posbindu PTM berorientasi pada upaya promotif dan preventif dengan melibatkan masyarakat untuk perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan serta penilaian.

Puskesmas membuka posbindu untuk usia di atas 15 tahun melalui pemeriksaan tekanan darah, pengukuran berat, tinggi, dan lingkar perut, hingga pemeriksaan gula darah dan kolesterol. Melalui Program Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, tim dari Universitas Indonesia melaksanakan adaptasi program PTM melalui optimalisasi pelayanan posbindu. 

Peran kader

Tim melatih kader posbindu dan tenaga kesehatan beragam hal terkait PTM serta penggunaan media sosial untuk menyebarkan informasi perihal pelaksanaan posbindu. Pendampingan ini mendukung adaptasi Puskesmas Tanara menjalankan program posbindu yang aman selama pandemi. Pelatihan kader posbindu selama pandemi telah dilaksanakan sembilan kali dengan total kader mencapai 30 orang dari 9 desa di wilayah kerja Puskesmas Tanara. 

Selain pelatihan dan pendampingan pelaksanaan posbindu, pendampingan daring juga dilakukan untuk pasien PTM. Puskesmas mengumpulkan pasien atau keluarga pasien PTM di satu grup media komunikasi sebagai wadah saling kontrol. 

Keterbatasan tempat dan alat membuat pelaksanaan posbindu masih jauh dari ideal. Karenanya, tetap diperlukan formula ideal yang berisiko rendah dan melibatkan banyak sektor untuk menanggulangi persoalan PTM di Indonesia.

 

Penulis

 

Rima Sumayyah Ahmad

Program Officer untuk Proyek Pengabdian

Puskesmas Tanara

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler