PDRI - Penyambung Nyawa Republik - Urban - www.indonesiana.id
x

cover buku Penyambung \x27Nyawa\x27 Republik

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 3 November 2020 05:39 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • PDRI - Penyambung Nyawa Republik

    PDRI ternyata adalah hasil sebuah disain brillian dari para pendiri bangsa, khususnya Muhammad Hatta. Menyadari bahwa ada kemungkinan Jogjakarta sebagai Ibukota akan diduduki Belanda dan petinggi Republik ditangkap, maka atas saran dari seorang tentara, Hatta menyiapkan sebuah skenario Pemerintahan Darurat di Sumatra Barat. Namun bagaimana sesungguhnya peristiwa itu terjadi tak banyak diketahui.

    Dibaca : 1.817 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Penyambung ‘Nyawa’ Republik

    Editor: Sjafruddin AL dan Indra Nara Persada

    Tahun Terbit: 2012

    Penerbit: Panitia Pelaksana Pembangunan Monumen dan Tugu Bela Negara                                                                                                                                    

    Tebal: viii + 28

    ISBN:

    Tentang Pemerintahan Darurat di Sumatra Barat saat Belanda berhasil menangkapi para pemimpin Republik Indonesia yang baru lahir itu telah ditulis dalam sejarah. Namun bagaimana sesungguhnya peristiwa itu terjadi tak banyak diketahui. Bahkan dalam buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah pun tidak. Apakah karena tokoh utamanya, yakni Sjafruddin Prawiranegara kemudian terlibat dalam PRRI? Entahlah.

    Buku kecil yang hanya viii + 28 halaman ini memberikan gambaran cukup ringkas tetapi padat tentang bagaimana sampai bisa terbentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra Barat dan bagaimana mereka bertahan dari serangan Belanda yang begitu gencar. Buku kecil ini juga mengisahkan bagaimana hubungan PDRI dengan para pemimpin yang ada di Jawa serta penyerahan kembali PDRI ke Pemerintah Republik Indonesia.

    PDRI jelas bukan lahir secara tiba-tiba, atau hasil sebuah keputusan darurat. Pusat Pemerintahan alternatif ini sudah dirancang sebelumnya. Gagasan PDRI lahir dari telaah staf yang disampaikan kepada Muhammad Hatta. Karena Perjanjian Renvile, Letkol Daan Yahya dari Divisi Siliwangi yang pernah bertugas di Bukittinggi dan harus berhijrah ke Jogjakarta bersama pasukannya. Daan Yahya bersama dengan beberapa perwira melakukan telaah tentang bagaimana kalau seandainya Jogjakarta sebagai Ibukota Negara diserang oleh Belanda. harus ada alternatif Ibukota baru untuk menjaga eksistensi NKRI yang baru lahir itu. Maka Bukittinggilah yang dipilih.

    Berdasarkan telaah ini, kemudian Muhammad Hatta yang saat itu menjabat Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan segera menghubungi para pemimpin militer dan sipil yang ada di Bukittinggi. Namun sayang, tim yang dikirim oleh Hatta tidak berhasil meyakinkan  Panglima Teritorium Sumatra, Mayjen Soehardjo Hardjo Wardojo. Akhirnya Hatta bersama rombongan berangkat sendiri ke Sumatra Barat pada Bulan November 1948. Ia membawa rombongan, dimana salah satunya adalah Sjafruddin Prawiranegara. Misi Hatta adalah mengganti Panglima Teritorium Sumatra dan meninggalkan beberapa orang yang dibawanya ke Sumatra Barat supaya tetap tinggal di sana. Hatta sendiri telah memerintahkan kepada Sjafruddin Prawiranegara dan kawan-kawan untuk tinggal untuk mengantisipasi jika Jogja diserang.

    Rencana ini bukannya tidak diketahui oleh Belanda. Belanda sudah mengirim pesawat terbang ke Bukittinggi pada tanggal 18 Desember malam dan menyebarkan pamflet. Pagi-pagi Belanda sudah menuju ke Bukittinggi dari Padang. Melihat gelagat kurang baik, Hatta segera kembali ke Jogja dan Sjafruddin segera menggelar rapat di Istana Wakil presiden di Bukittinggi. Dalam rapat itu Sjafruddin menyatakan bahwa negara sedang dalam keadaan darurat. Setelah rapat, Bukittinggi diserang oleh Belanda. Kolonen Hidayat meminta supaya segera diadakan rapat lagi untuk membentuk Pemerintah Darurat , sebab mereka menduga bahwa Presiden dan Wapres telah ditawan oleh Belanda. PDRI sendiri baru secara resmi dibentuk di Halaban (di luar Bukittinggi) pada tanggal 21 Desember 1948. Dalam rapat di Halaban itulah Sjafruddin Prawiranegara ditunjuk sebagai Pemimpin PDRI. Pada tanggal 22 Desember PDRI membentuk Kabinet yang terdiri atas enam orang. Kabinet ini membuktikan bahwa pemerintahan RI masih eksis. Pada tanggal 23 Desember 1948, Sjafruddin Prawiranegara berpidato yang menyatakan bahwa Indonesia masih ada. PDRI adalah Pemerintah yang melaksanakan NKRI.

    Pidato Sjafruddin ini tentu saja membuat Belanda mengejar mereka. Pada tanggal 24 Desember, Sjafruddin membawa rombongannya meninggalkan Halaban menuju Riau, dan terus berpindah-pindah untuk menghindari kejaran Belanda. Akhirnya mereka memilih Koto Tinggi sebagai Pusat PDRI. Untuk berkomunikasi dengan Jawa, mereka menggunakan dua stasiun radio milik AURI dan satu stasiun milik PT Pos, Telepon dan Telegrap).

    Buku kecil ini juga membahas bagaimana PDRI melakukan komunikasi dengan Jawa. Pada tanggal 31 Maret 1949, PDRI menyempurnakan kabinetnya dengan melibatkan beberapa tokoh yang ada di Jawa dan di luar negeri. Bahkan pada tanggal 16 Mei 1949, PDRI membentuk Komisariat di Jawa.

    Setelah perjanjian Roem-Royen, PDRI menyerahkan kembali mandatnya kepada Sukarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden sah Republik Indonesia. Sehingga ketika pada tanggal 14 Juli, Muhammad Hatta yang posisinya sebagai Perdana Menteri secara sah bisa mewakili Indonesia dalam persetujuan hasil pembicaraan Roem-Royen.

    Peristiwa penting ini seakan terkubur dalam sejarah semasa Orde Baru. Baru pada era Reformasi, tepatnya pada tahun 2006, Presiden SBY menetapkan hari lahir PDRI sebagai Hari Bela Negara. Ketetapan ini kemudian ditindak-lanjuti dengan pembangunan tugu PDRI pada tahun 2012.

    Buku kecil ini semakin menarik karena dilengkapi dengan tulisan para pelaku yang terlibat langsung dalam PDRI. Para tokoh tersebut diantaranya adalah Prof. Dr. Awaloedin Djamin, Brigjen (Purn) Dr. Saafroedin Bahar, Drs. H. Hasan Basri Durin dan Kol (Purn) Jamaris Yunus. (539)

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 466 kali