Karakter Seseorang Mudah Dikenali di Grup WA di Tengah Corona, - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

grup wa

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 9 November 2020 10:48 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Karakter Seseorang Mudah Dikenali di Grup WA di Tengah Corona,

    Hadirnya corona, ternyata semakin membuka mata dan dapat menunjukkan karakter orang-orang yang cerdas intelegensi, emosi, berpendidikan, berbudi, rendah hati.

    Dibaca : 537 kali

    Menjadi anggota grup wa, orang lain dapat menilai dan mengukur kita hanya dari tutur bicara saat komunikasi di grup. Hadirnya corona, ternyata semakin membuka mata dan dapat menunjukkan karakter orang-orang yang cerdas intelegensi, emosi, berpendidikan, berbudi, rendah hati.

    Salut kepada masyarakat di berbagai lapisan dan golongan. Dari rakyat biasa hingga rakyat "tak biasa", ternyata tetap mampu menjunjung silaturahmi meski pandemi corona masih merajalela bukan hanya di Indonesia, namun di seluruh belahan dunia. Sebab sejak Covid-19 berpandemi, hingga kini setiap negera masih berkutat menangani virus mematikan ini.

    Silaturahmi adalah tali persahabatan, persaudaraan. Kendati ada corona, dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan dengan menjaga jarak atau self distancing dan self isolate di rumah, maka persahabatan dan tali persaudaraan tetap terjalin, kendati kebutuhan formal  masyarakat berbagai lapisan seperti belajar, bekerja, dan beribadah masih di rumah sesuai kebjiakan PSBB masing-masing daerah di Nusantara.

    Namun, kegiatan olah raga di berbagai bidang, khususnya.yang menggunakan lapangan terbuka seperti bersepeda, sepak bola, dll bahkan sudah dilakukan secara normal, karena justru menambah imun para pelakunya.

    Sehingga, dapat disimpulkan bahwa masyarakat pada umumnya tetap tak kehilangan cara agar tetap dapat bersilaturahmi dengan yang lain meski masih berada di tengah pandemi corona, terlebih zaman sudah era digital, sudah zaman media sosial, yang tetap dapat menghubungkan sesama meski via dunia maya, internet.

    Meski di tengah corona, masyarakat tetap dapat bersilaturahmi melalui telepon dan video call. Silaturahmi bisa secara daring (online) dengan keluarga, teman, sahabat, saudara, rekan kantor, rekan perkumpulan, rekan klub olah raga dll.

    Selain bersilaturahmi melalui telepon atau video call, juga dapat melalui media sosial seperti whastapp (wa) dan lainnya.  Dan, wa bisa dijadikan media silaturahmi yang paling efektif dengan banyaknya grup-grup wa berbagai jenis kepentingan dan tujuan.

    Grup wa andalan komunikasi dan silaturahmi

    Grup wa harus diakui menjadi media paling efektif sejak sebelum dan sesudah hadirnya corono. Bahkan, sejak corona hadir, grup wa sangat diandalkan menjadi grup keluarga, grup RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan seterusnya. Sangat diandalkan oleh instansi, institusi, perkumpulan, klub dan lain sebagainya sebagai sarana komunikasi sekaligus silaturahmi.

    Namun, meski ada grup wa, banyak orang-orang yang di masa pandemi ini ternyata jadi terlihat karakter aslinya. Karakter yang mementingkan diri sendiri. Bahkan meski ada dalam grup yang sama dan menjadi angggota grup, orang-orang yang berkarakter mementingkan diri sendiri biasanya akan tetap tak berempati, tak peduli, dan tak tergerak hati pada apa yang terjadi. Padahal bila di dalam grup tak mau bertegur sapa alias bersilaturahmi secara terbuka, masih ada cara silaturahmi melalui jaringan pribadi (japri).

    Lebih menyesakkan, sudah kedua cara baik komunikasi di grup maupun japri tak dilakukan, saat grup melakukan pertemuan langsung tatap muka dengan protokol kesehatan pun, tetap tak bergeming. Tak hadir, tak ada info di grup, apalagi japri sekadar memberi info dan kepastian kepada admin atau penanggungjawab grup.

    Inilah fenomena dalam grup di media sosial seperti wa yang sudah terjadi sebelum corona datang. Maka, begitu corona datang, sikap dan karakter anggota grup yang biasa tak berempati dan tak bersimpati jadi tambah subur.

    Contoh nyata yang sering  terjadi atas sikap-sikap orang-orang yang tak berempati dan bersimpati dalam sebuah grup wa adalah hanya menjadi penonton dari apa yang terjadi dalam komunitas grup wa tersebut tanpa merespon segala kejadian dan kebutuhan yang sedang dipikirkan, diperbuat, dikerjakan oleh komunitas grup. Membaca segala informasi dari komunitas, namun tetap tak peduli dengan apa yang terjadi.

    Lebih dari itu, bagi anggota grup yang aktif dan terus menjaga komunikasi dan silaturahmi menjadi semakin terlihat karakternya dari setiap responnya baik dalam berkomunikasi, menanggapi, merespon, menyikapi, dan memberikan masukan, saran, solusi, berbagi infomasi dll.

    Akan sangat nampak dan dapat diukur tingkat intelegensi dan emosinya, serta dapat terukur tingkat pendidikan dan pengetahuannya dari apa yang dilakukan dalam grup terutama dalam penyampaian maupun isi komunikasinya.
    Untuk itu, menjadi anggota grup wa, orang lain dapat menilai dan mengukur kita hanya dari tutur bicara saat komunikasi di grup.

    Jadi, hadirnya corona, ternyata semakin membuka mata dan dapat menunjukkan karakter orang-orang yang cerdas intelegensi, emosi, berpendidikan, berbudi, rendah hati.

    Parahnya, juga dapat menunjukkan orang yang hanya mementingkan diri sendiri, sebab mata hatinya seperti telah mati, karena tak dapat menjaga silaturahmi dan komunikasi, meski sekadar bertegur-sapa dalam grup wa atau japri. Ironisnya, orang-orang samacam ini, tak malu diri dan masih tetap menjadi anggota grup. Bukannya keluar dari grup.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.