Benih Lobster pun Punya Capit yang Tajam - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Cover Podcast Apa Kata Tempo 35 Ekspor Lobster

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 26 November 2020 08:11 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Benih Lobster pun Punya Capit yang Tajam

    Pemegang kuasa yang tidak peka pendengarannya, mata hatinya, dan penglihatannya akan mudah teperdaya oleh bisikan palsu yang berpotensi membuatnya terjerembab. Bahkan, perkara seperti benih lobster pun mampu melakukan aksi yang tidak terduga. Dengan satu kali jepitan disertai tarikan, pemegang kuasa itupun terjerembab.

    Dibaca : 1.935 kali

     

    Apakah yang membuat kekuasaan itu demikian memesona bagi banyak orang? Bahkan, begitu terpikatnya pada kekuasaan, sebagian orang sanggup melakukan apapun untuk meraihnya—tak usah diuraikan apa saja cara-caranya; bahkan sekalipun harus dengan menyerahkan dirinya. Nah, daya pesona kekuasaan itu ialah wewenang yang diberikan pada pemegangnya untuk melakukan sesuatu yang orang lain tidak boleh melakukannya, bahkan harus mengikutinya.

    Contohnya ialah wewenang membuat undang-undang atau aturan di bawahnya. Meskipun orang lain tidak suka dengan sebuah peraturan, karena aspirasinya sama sekali dicuek-bebeki oleh penyusunnya, ia tak bisa mengelak dari keberlakuan undang-undang terhadap dirinya. Begitu sebuah aturan disahkan dan dinyatakan berlaku, maka siapapun mesti turut manut. Bayangkan, hebat bukan kekuasaan itu? Bisa memaksa orang lain untuk mengikuti kemauannya.

    Namun, jika tidak berhati-hati dan bijak menggunakan wewenang kekuasaan, orang bisa terjerembab oleh kuasanya sendiri, yang semula ia buru dan ia raih dengan susah payah. Apa yang semula ia kira dan terlihat di banyak mata awam sebagai kuasa yang berkilauan ternyata bisa berubah dalam sekejap menjadi perangkap yang menyengsarakan.

    Tak semua orang sanggup menanggungkan pesona kuasa yang membuat dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang. Ibarat makanan manis di atas meja, kehadirannya mengundang banyak orang untuk memandanginya dengan rasa kagum sehingga membuatnya salah tingkah atau bahkan mendekatinya untuk mencari peluang. Lihatlah bagaimana begitu banyak orang ingin berfoto bersama dengan menteri anu, gubernur anu, atau siapa sajalah yang sedang memanggul kuasa di pundaknya.

    Itulah pesona kuasa yang seringkali membuat pemegangnya kehilangan kepekaan untuk mendengar bisikan baik dari orang lain, karena ia menduga orang itu punya kepentingan tertentu. Kuasa memang mengundang datangnya prasangka ke dalam diri pemegangnya, bukan hanya prasangka orang lain terhadap dirinya. Bisikan baik yang datang dari orang lain dapat didengar sebagai bisikan palsu yang menyesatkan. Sebaliknya, hilangnya kepekaan untuk mendengar akan membuat bisikan palsu jadi terdengarmerdu di telinga. Begitulah pesona kuasa membolak-balikkan keadaan.

    Pemegang kuasa yang tidak peka pendengarannya, mata hatinya, dan penglihatannya akan mudah teperdaya oleh bisikan palsu yang berpotensi membuatnya terjerembab. Bahkan, perkara seperti benih lobster pun mampu melakukan aksi yang tidak terduga. Barangkali benih-benih itu tak mau jauh-jauh dari induknya, sehingga dengan capitnya yang masih mungil itu, benih-benih lobster berusaha menyampaikan kehendaknya. Yang mungkin dilupakan oleh pemegang kuasa itu ialah bahwa capit lobster mungil itu tak kalah tajam dibanding capit induknya yang kerap hadir menyemarakkan acara makan malam mereka. Dengan satu kali jepitan disertai tarikan, pemegang kuasa itupun terjerembab. Andaikan, ia mau mendengarkan... ya andaikan saja... >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.