H. Justiar Noer, Datuk Pembangunan dari Habang - Analisis - www.indonesiana.id
x

Rusmin Sopian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 30 Desember 2020 12:43 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • H. Justiar Noer, Datuk Pembangunan dari Habang

    Sebagai manusia biasa, H. Justiar Noer bukanlah manusia yang sempurna. Sebagai putra Toboali, H. Justiar Noer hanya ingin daerah Bangka Selatan sejajar dengan daerah kabupaten lainnya di Indnesia. Sebuah cita-cita biasa saja yang tentunya dimiliki setiap warga Bangka Selatan agar daerahnya terkenal dan dikenal publik daerah lain. Sebuah cita-cita yang sangat biasa.

    Dibaca : 783 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    H. Justiar Noer. Nama yang tak asing lagi bagi warga Kota Toboali dan Kabupaten Bangka Selatan. Putra kelahiran 23 Desember 1950 ini adalah Bupati Kabupaten Bangka Selatan dua periode. Periode pertama tahun 2005-2010. kemudian tahun 2016-2021.

    Di era pertamanya sebagai bupati definitif pertama Bangka Selatan, lelaki lulusan IKIP Bandung ini, menyulap wajah Kota Toboali khususnya dan Bangka Selatan dengan sentuhan pembangunan yang amat fantastik. Bagaimana tidak fantastik, hanya dalam jangka tiga tahun, sebuah perkantoran baru di kawasan daerah baru Parit 3 berubah wajah dengan pembangunan sebuah perkantoran yang megah dan tertata apik.

    Parit 3 yang dulu sebuah tempat yang jauh dari keramaian, kini berubah wajah menjadi sebuah kawasan perkantoran baru yang amat artifisial dan menjadi sebuah kawasan bahkan pusat ekonomi baru bagi warga Bangka selatan. Sebuah kawasan perkantoran terpadu berdiri dengan megahnya. Tak terkecuali fasilitas olah raga yang amat baik, karena gedung olah raga juga berdiri megah di sana. termasuk lapangan sepakbola berstandar nasional.

    Di era pertamanya sebagai Bupati Bangka Selatan, putra asli Kampung Padang, Kelurahan Toboali, Bangka Selatan ini dijuluki sebagai Bapak Pembangunan Bangka Selatan. Berbagai fasilitas pendidikan dan kesehatan dibangun. Mulai dari Taman kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas. Tak ada lagi sekolah yang tak layak untuk generasi penerus di Bangka selatan dalam menimba ilmu.

    Demikian juga dengan sektor kesehatan. berbagai pembangunan pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) hingga Rumah sakit Umum daerah dibangun dan direhabilitasi. Wajah Bangka Selatan berubah total. Ada pesan besar yang hendak disampaikan ke publik bahwa Bangka Selatan itu adalah daerah maju. Bukan daerah otonom baru kaleng-kaleng. Itulah era emasnya Bangka Selatan.

    Ketika terpilih sebagai bupati pada periode kedua, H Justiar Noer fokus untuk memperkenalkan Bangka Selatan ke nusantara dan dunia luar. Berbekal sebagai anak Bangka selatan yang dibesarkan di Toboali, suami Hj. Ekawati Widjarnarko ini tampaknya meyakini, objek pariwisata berupa pantai yang eksotik dan sejarah Toboali akan mampu menghipnotis warga luar daerah untuk datang ke Bangka Selatan. Keeksotikan pantai dan sejarah Toboali menjadi selling point bagi warga Luar Bangka Selatan untuk datang ke Bangka Selatan.

    Toboali City On Fire (TCOF) menjadi pintu masuk bagi warga luar Bangka Selatan untuk memperbincangkan daerah ini dan mengunjungi daerah Junjung Besaoh ini. TCOF menjadi event tahunan Kementerian Pariwisata dan melahirkan daya tarik bagi warga luar daerah Toboali untuk datang ke daerah ini. Pada sisi lain, event ini mampu mendongkrak perekonomian lokal.

    Toboali adalah bagian sejarah yang tak terpisahkan dari perjuangan Negera Indonesia. Banyak peninggalan sejarah yang memfaktakan bahwa Toboali adalah bagian yang tak terpisahkan dari torehan catatan sejarah itu, Benteng Toboali danWisma Samudera adalah fakta penting dari perjalanan sejarah Bangsa ini.

    Kedatangan Presiden Soekarno saat ditawan di Mentok dan kawan-kawan ke Toboali dan sempat beristirahat di Wisma Samudera menjadi bagian penting catatan sejarah daerah ini. Ini menjadi pikiran H Justiar Noer untuk menjadikan Toboali sebagai Kota yang tak terlepas dari sejarah bangsa ini. Ini adalah ikhtiarnya sebagai bupati dan putra Bangka Selatan untuk memperkenalkan daerahnya ke publik Nusantara dan manca negara yang berujung kepada tereskalasinya perekonomian lokal daerah ini dengan banyak warga yang datang ke daerah ini.

    Sebagai manusia biasa, H. Justiar Noer bukanlah manusia yang sempurna. Sebagai putra Toboali, H. Justiar Noer hanya ingin daerah Bangka Selatan sejajar dengan daerah kabupaten lainnya di Indnesia. Sebuah cita-cita biasa saja yang tentunya dimiliki setiap warga Bangka Selatan agar daerahnya terkenal dan dikenal publik daerah lain.

    Tak ada gading yang tak retak. Demikian pula dengan H Justiar Noer sebagai bupati dan manusia biasa. Torehan sejarah jabatan yang diamanatkan rakyat Bangka selatan kepadanya tentu tak mampu dipuaskannya secara komprehensif. Masih ada pekerjaan rumah yang belum terselesaikan dengan baik dan raihan rapor yang masih belum memuaskan dari publik sebagai pemberi amanah.

    Setidaknya ada capaian prestasi gemilang yang bisa menjadi torehan sejarah yang dipersembahkannya saat mengemban amanah sebagai Bupati Bangka Selatan untuk catatan sejarah daerah ini bagi generasi mendatang.

    Hari ini Rabu 23 Desember 2020, H Justiar Noer berusia 70 tahun. Selamat berulang tahun Datuk Pembangunan Bangka Selatan. Teruslah berkarya untuk Bangka Selatan hingga ke cakrawala yang masih membentang luas dari Pulau Pongok hingga Sebagin.

    Ikuti tulisan menarik Rusmin Sopian lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.