x

cover buku Mei Hwa Afifah Arfa

Iklan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 4 Januari 2021 10:24 WIB

Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Dua tokoh perempuan, yaitu Sekar Ayu dan Mei Hwa adalah dua perempuan yang menjadi korban kebiadaban peradaban yang patriaki. Mereka menjadi korban paham ningrat, kekejaman perang (Jepang), politik (geger PKI) dan rasisme (amuk kepada etnis Tionghoa). Paham ningrat, perang, politik dan rasisme adalah bentuk-bentuk kekejaman peradaban patriaki yang selalu membawa petaka bagi perempuan. Namun perempuan adalah bunga. Sekar Ayu berarti bunga. Mei Hwa berarti bunga. Cempaka (nama Indonesia Mei Hwa) adalah bunga. Perempuan adalah bunga yang senantiasa indah meski mendapatkan tekanan yang luar biasa. Mereka teguh, mereka tangguh.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Judul: Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman

Penulis: Afifah Afra

Tahun Terbit: 2014

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penerbit: Penerbit Indiva                                                                                       

Tebal: 368

ISBN: 978-602-1614-11-2

 

Perempuan sebagai obyek kekerasan sudah menjadi kajian dan bahas tulisan dari sejak lama. Dalam dunia yang dibangun dengan pandangan patriakis, perempuan senantiasa dijadikan korban untuk menunjukkan dominasi lelaki terhadap lelaki lainya. Para lelaki itu sering mengidentifikasikan dirinya sebagai wakli dari sebuah klan, etnis bangsa, peradaban atau kebudayaan. Termasuk dalam sengketa ras. Perempuan senantiasa menjadi korban.

Namun perempuan senantiasa tegar dan mampu menghadapi segala pelecehan terhadap tubuhnya. Afifah memilih untuk menunjukkan ketegaran perempuan dalam menghadapi penderitaan daripada mengiba-iba belas kasihan komunitas yang jelas-jelas dikuasai oleh pandangan yang berpusat kepada laki-laki.

Saya mengapresiasi cara bercerita penulis novel ini yang menggunakan latar sejarah. Saya juga suka caranya dalam menggambarkan bagaimana seorang gila bercerita. Cara bercerita yang sangat unik dan menarik.

Novel karya Afifah Afra ini membahas sengketa rasisme dan akibatnya pada perempuan. Mengambil perjumpaan budaya Jawa, Arab dan Tionghoa di Kota Solo, Afifah membangun kisah dua perempuan korban. Kota Solo memang sangat layak dipilih sebagai lokus persengketaan ras dan budaya.Kota ini menyimpan banyak cerita tentang perjumpaan budaya Jawa, Islam, Barat dan Tionghoa dengan segala bentuknya. Ada bentuk-bentuk yang sejuk, namun ada juga bentuk-bentuk perjumpaan yang penuh amuk. Kota ini memang kaya dengan sejarah perjumpaan budaya yang bisa diolah menjadi sebuah cerita tentang kemanusiaan. Munculnya Kampung Laweyan, lahirnya Syarekat Islam, sejarah komunisme, kekerasan terhadap orang Tionghoa, semua menjadi mosaik penyusun sejarah Kota Solo.

Afifah memilih dua tokoh perempuan berbeda etnis untuk membangun ceritanya. Keduanya adalah korban dari prasangka rasial. Kedua perempuan itu adalah Sekar Ayu dan Mei Hwa alias Cempaka.

Sekar Ayu dilahirkan dari rahim seorang perempuan Jawa dari kalangan Keraton dan ayah Arab. Pernikahan yang dianggap tidak lazim pada jamannya itu berakhir dengan terpisahkannya Sekar Ayu dari bapaknya. Seorang putri keraton, tidak layak untuk menikah dengan seseorang yang bukan lelaki yang punya trah kusumo. Apalagi dengan seorang Arab. Sang Bapak meninggal. Sekar Ayu harus hidup dengan bapak angkatnya. Sayang, pada saat kerusuhan Jepang, ayah angkat Sekar Ayu terbunuh. Ibunya diperkosa oleh tentara Jepang. Sekar Ayu yang masih sangat kecil juga menjadi korban keganasan seksual tentara Jepang (seorang paedofilia).

Sempat menjadi pelacur, Sekar Ayu berhasil membenahi hidupnya saat hidup di Jepang. Mula-mula menjadi istri simpanan seorang pejabat Jepang, tetapi kemudian terusir oleh istri sah sang pejabat. Sekar Ayu yang kembali ke Indonesia berupaya untuk menjadi perempuan normal. Ia masuk kuliah. Sayang sekali, ia dikhianati oleh pemuda yang meninggalkannya saat hamil. Purnomo Wardoyo, seorang yang punya darah keraton memilih untuk melupakan Sekar Ayu yang mengandung benihnya.

Petualangan Sekar Ayu tidak berhenti di sana. Ia melarikan diri dari rumah suami yang rela menikahinya serta menganggap bayi yang dilahirkan Sekar Ayu sebagai anaknya sendiri. Ia bergabung dengan teman kuliahnya yang adalah seorang pegiat PKI. Bersama dengan kekasihnya yang PKI itu, Sekar Ayu terlibat pembakaran pesantren. Sekar Ayu ditangkap dan dipenjara. Namun melalui pendekatan kepada tentara yang menjaganya, Sekar Ayu berhasil lolos dari penjara.

Perjalanan mencari ayah dari anaknya – yang sekarang sudah sukses hidupnya, justru membawanya kepada upaya pembunuhan. Alih-alih mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Sekar Ayu justru dibuang ke laut selatan oleh anak buah mantan kekasihnya tersebut. Untunglah dia secara tidak sengaja ditemukan oleh sepasang nelayan tua.

Tokoh perempuan kedua bernama Mei Hwa. Nama yang dijadikan judul novel ini. Mei Hwa adalah seorang gadis keturunan Tionghoa yang cantik dan cerdas. Mei Hwa tinggal di Jakarta. Namun ia kuliah di Fakultas Kedokteran UNS di Solo. Mei Hwa sering mengharumkan nama kampusnya karena aktifitas akademisnya. Mei Hwa memang seorang gadis yang cerdas.

Mei Hwa jatuh cinta kepada seorang pemuda aktifis bernama Firdaus Yusuf. Namun karena perbedaan etnis, percintaan mereka tidaklah terlalu terbuka. Prasangka rasial membuat percintaan mereka tikda bebas.

Saat terjadi situasi politik yang memanas di tahun 1998, Firdaus sudah memperingatkan supaya Mei Hwa tidak pulang ke Jakarta. Tetapi sang gadis nekat, karena merasa situasi masih aman. Kejadian buruk menimpanya. Rumah tinggalnya dijarah masa. Sang ayah gila, sang ibu mati bunuh diri. Abangnya entah dimana. Mei Hwa sendiri diperkosa sampai stres berat. Dalam kondisi pingsan, Mei Hwa dibawa ke rumah sakit jiwa.

Mei Hwa menyimpan dendam kepada mahasiswa yang dianggapnya menjadi biang keladi terjadinya kerusuhan 1998.

Mei Hwa berhasil melarikan diri dari rumah sakit jiwa dan terbawa kereta ke Solo. Ia hidup bersama dengan komunitas pengamen selama beberapa waktu. Melalui komunitas pengamen dan didampingi oleh seorang perempuan tua (yang ternyata adalah Sekar Ayu), Mei Hwa menemukan kesadarannya kembali. Ia menjadi seorang perempuan normal. Akhirnya Mei Hwa bisa bertemu dengan Firdaus Yusuf kembali. Mei Hwa menyadari bahwa bukan mahasiswa yang menjadi penyebab kerusuhan yang membantai etnisnya.

Firdaus melamar Mei Hwa. Mei Hwa menerima lamaran Firdaus dan mereka merencanakan untuk menikah. Ternyata Firdaus adalah cucu Sekar Ayu.

Dua tokoh perempuan, yaitu Sekar Ayu dan Mei Hwa adalah dua perempuan yang menjadi korban kebiadaban peradaban yang patriaki. Mereka menjadi korban paham ningrat, kekejaman perang (Jepang), politik (geger PKI) dan rasisme (amuk kepada etnis Tionghoa). Paham ningrat, perang, politik dan rasisme adalah bentuk-bentuk kekejaman peradaban patriaki yang selalu membawa petaka bagi perempuan. Namun perempuan adalah bunga. Sekar Ayu berarti bunga. Mei Hwa berarti bunga. Cempaka (nama Indonesia Mei Hwa) adalah bunga. Perempuan adalah bunga yang senantiasa indah meski mendapatkan tekanan yang luar biasa. Mereka teguh, mereka tangguh. (560)

Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler