Tetap Optimis di Tengah Krisis - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

https://archistudent.net/a-great-achievement-in-itself/

08. Ahmad Fawzy N

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Maret 2021

Senin, 29 Maret 2021 17:57 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Tetap Optimis di Tengah Krisis

    Kita membutuhkan optimisme, dengan optimisme kita akan menggapai kemajuan, mengejar ketertinggalan, menggetarkan yang tak pasti, mewujudkan yang terlihat sulit untuk diatasi. Kalimat-kalimat motivasi seperti di atas kerap kali disampaikan dalam berbagai redaksi, tapi inti pesannya sama. Diucapkan mulai dari pejabat negara, eksekutif perusahaan, pegiat start up, akademisi, motivator, aktivis, dan tentu saja: lewat tulisan di media ini. Kenapa harus membicarakan 'optimisme'? Apakah optimisme itu selalu baik dan kita perlukan? Dan bagaimanakah perannya dalam mengatasi krisis yang kita alami saat ini?

    Dibaca : 422 kali

    Kita membutuhkan optimisme, dengan optimisme kita akan menggapai kemajuan, mengejar ketertinggalan, menggetarkan yang tak pasti, mewujudkan yang terlihat sulit untuk diatasi.

    Kalimat-kalimat motivasi seperti di atas kerap kali disampaikan dalam berbagai redaksi, tapi inti pesannya sama. Diucapkan mulai dari pejabat negara, eksekutif perusahaan, pegiat start up, akademisi, motivator, aktivis, dan tentu saja: lewat tulisan di media ini.

    Kenapa harus membicarakan 'optimisme'? Apakah optimisme itu selalu baik dan kita perlukan? Dan bagaimanakah perannya dalam mengatasi krisis yang kita alami saat ini?

     

    Optimis dalam Kaca Mata Islam

    Dalam sebuah literatur hadits, sahabat Abu Hurairah Rhadiyallahu 'anhu pernah berkata, "Aku telah mendengar Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada ramalan nasib sial. dan yang terbaiknya adalah optimisme." Ada yang bertanya. "Wahai Rasulullah, apa itu optimisme?" Beliau menjawab, "Yaitu kalimat baik yang didengar oleh salah seorang kalian." (Terjemahan HR. Muslim)

    Hadits di atas menegaskan bah Rasulullah saw adalah insan yang selalu optimis. Bahkan, sikap optimis senartz hadir selama fase dakwah selama 13 tahun di kota suci Makkah, sikap itu juga terpelihara dan mewarnai dakwah beliau hingga jelang wafatnya beliau di kota Madinah.

    Sikap optimis inilah yang menjadikan para sahabat Nabi ﷺ menjadi sebaik-ba generasi. Diteruskan oleh para sahata Khulafaur Rasyidin, ajaran Islam bisa membentang dan menyebar dengan sangat luas. Beliau saw bersabda: “Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya. kemudian generasi berikutnya." (Terjemahan Hadits Imam al-Bukhari dan Muslim).

    Tak ada sesuatu yang instan dalam tugas yang beliau jalankan. Dalam mengejar amanah berjuang, beliau 'alaihissholatu wassalam menggapai banyak ujian berat bahkan sampai harus kehilangan orang-orang yang dikasihinya, namun beliau tetap optimis!

    Nah, lalu bagaimana dengan kita? Bisakah kita memiliki sikap optimis terhadap segala tantangan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita belajar dari kisah perang Yarmuk!

    Dalam gejolak kekuatan yang tak seimbang, kaum muslimin ketika itu berhasil menghancurkan pertahanan bangsa Romawi yang terkenal kuat dengan 200.000 lebih pasukannya. Dani arah Yarmuk inilah, Islam bisa menyebar hingga ke daratan China dan sekitarnya. Hingga ke tanah air kita, Indonesia.

    Lalu, bagaimana cara kaum muslimin bisa mengalahkan bangsa Romawi yang sudah berabad-abad memimpin peradaban dunia? Sementara jumlah pasukan tak seimbang? —sesungguhya disitulah peran penting sikap optimisme.

    Para sahabat optimis bisa menang, ba'dallah, atau lewat pertolongan Allah, kemajuan usaha sungguh-sungguh karena adanya harapan dan optimisme, nyatanya bisa membuat yang sulit menjadi mudah, yang tak mungkin di mata manusia, akhirnya menjadi mungkin.

     

    Membangun Optimisme

    Pembaca yang budiman, berikut ini adalah Syarat-syarat membangun sikap optimis yang dikembangkan oleh salah seorang motivator bernama Brian Tracy yang bisa Anda gunakan ketika dihadapkan pada sebuah tantangan dan untuk memastikan bahwa Anda dan juga saya tetap berada pada Jalur optimisme yang tinggi.

    Syarat yang pertama untuk menjaga sikap optimis adalah dengan mengontrol reaksi dan tanggapan Anda ketika dihadapkan pada sebuah tantangan. Sosok optimis dan seorang pesimis cenderung memiliki reaksi yang sangat berbeda saat menghadapi hal ini. Yang optimis akan melihat tantangan di depannya hanya bersifat sementara. Sedangkan yang pesimis menganggap, tantangan itu akan ada untuk selamalamanya (bersifat permanen).

    Sosok optimis melihat peristiwa yang tidak menguntungkan jika dianggap sebagai pesan gagal dan menganggap hal ini sebagai peristiwa sementara, karena memang sifatnya terbatas waktu dan tidak memiliki dampak nyata baginya di masa depan. Lain halnya dengan orang yang pesimis, di sisi lain melihat peristtwa negatif sebagai sesuatu yang permanen, menyandarkannya sebagai buah kesalahan kehidupan bahkan cenderung menyalahkan takdir, Apabila Anda menemukan diri Anda dalam situasi seperti ini, luangkan waktu sejenak untuk benar-benar merenungkan tantangan sebelum Anda bereaksi, cobalah untuk memvisualisasikan langkah selanjutnya menuju perbaikan daripada menanggapi kemunduran di masa lalu yang tidak bisa Anda kendalikan.

    Syarat yang kedua, cobalah untuk mengisolasi setiap peristiwa. Perbedaan lain dari orang-orang optimis dan pesimis adalah si optimis melihat segala kesulitan sebagai peristiwa yang sebenarnya bisa dicari ujung talinya. Sementara, bagi jiwa yang pesimis, nalarnya kerdil. Ia hanya melihat masalah sebagai sebuah hal yang susah. Percuma dicarikan solusi, karena tak akan bisa didapatkan. Artinya hanya fokus kepada kesalahan dibandingkan mencari solusi atas permasalahan.

    Orang yang pesimis ini lupa firman Allah yang artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah: 5-6).

    Syarat yang ketiga agar konsisten bersikap Optimis terhadap tantangan adalah melihat kemunduran dari usaha yang kita lakukan sebagai peristiwa yang memotivasi agar bisa bangkit menuntaskannya. Jika memang benar segala ikhtiar telah dilakukan namun masalah tetap saja terjadi, itu semata-mata bukan karena kita memang gagal. Hanya saja Allah hendak melihat proses panjang kita. Allah hendak menginginkan kita bekerja lebih keras lagi. Allah tak ingin kita jadi hamba-hamba yang gemar berputus asa dari rahmat Allah. Cobalah luangkan waktu sejenak untuk mengingatkan diri sendiri bahwa Anda selalu mampu melakukan perubahan karena tidak ada yang pasti di dunia ini.

     

    Krisis Pasti Berakhir

    Beranjak dari syarat-syarat menumbuhkan Optimisme diatas, maka kita bisa menimbang dan mengambil benang merah dari masalah kita pada hari ini. Bahwasanya, seberat apa pun, menghadapi pandemi corona saat ini, kita perlu tetap menjaga optimisme kita. "Optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence", begitu pernah dikatakan Helen Keller. Kita mesti melihat pandemi ini sebagai tantangan yang mesti diupayakan solusinya. Bukan justru melihat pandemi Ini melulu sebagai masalah dan lalu membuat kita buru buru angkat tangan, melempar handuk, mengibar-ngibarkan bendera putih, menyerah kalah.

    Kita perlu mengapresiasi tinggi kepada mereka yang masih memelihara optimismenya dengan terus berjuang, berikhtiar, sesuai kemampuan bidang masing-masing. Sebut di antaranya saja yaitu para ilmuwan yang kini sedang bekerja keras melakukan serangkaian penelitian serta uji. coba demi menemukan formula jitu vaksin korona. Kita yakin, krisis dan wabah ini akan segera berakhir. Sementara untuk saudara kita yang terkena imbas, jangan patah arang, yakinlah, rezeki kita tak akan pernah tertukar. Sebarat apapun hidup sekarang, masih lebih berat ujian orang-orang terdahulu.

    Al-Hasan al-Basri Rahimahullah mengatakan : “Sesungguhnya tawakal seorang hamba kepada rabbnya adalah ia meyakini bahwa Allah itu sumber kepercayaan dirinya." (Al-Fawa'id, 149).

    Rasulullah ﷺ bersabda: "Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah kepada Allah. Dan jangan kau lemah." (HR. Muslim).



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.