x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Selasa, 15 Juni 2021 15:21 WIB

Benarkah Sosok Ayah Rela Lapar Demi Anak-anaknya?

Ayah sering jadi figur sentral di keluarga. Lalu, benarkah ayah rela lapar demi anak-anaknya? In memoriam Ambo Lotang Yunus

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sosok ayah, sering kali jadi figur sentral dalam keluarga. Ayah juga yang jadi panutan anak-anaknya. Siapa pun saat Bersama ayahnya, pasti punya kenangan. Apalagi di masa kecil. Karena ayah selalu jadi orang pertama yang melindungi anak-anaknya. Biasanya ayah, tidak banyak bicara. Tapi setiap tetes keringatnya dan perjuangan keras hidupnya selalu didedikasikan untuk anak-anaknya.

 

Siapa pun, sejatinya pasti punya cerita dan kenangan tentang figur ayah. Tentang sosok yang berani bertarung dalam hidup untuk anak-anaknya. Kekuatan cinta seorang ayah. Seperti juga Almarhum Ambo Lotang Yunus bin Koto, ayah saya yang meningga dunia pada Selasa, 8 Juni 2021 lalu. Saya pun menyebutnya “sang prajurit teladan”. Ia mengehmbuskan nafas terakhir diusia 76 tahun, dalam keadaan tidur di kursi tamu. Tenang dan tiada merepotkan. Kini, ia dimakamkan satu liang lahat dengan istrinya, almarhumah Ibu Tati Raenawaty binti Raenan di TPU Munjul.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

In Memoriam ke-6, almarhum A. Lotang Yunus ini pun saya tuliskan. Seorang pensiunan tantara berpangkat Peltu dan kelahiran Bengo Maros. Figur ayah yang patutu diteladani. Karena dalam dirinya, ada banyak pelajaran yang bisa diambil hikmahnya. Untuk kehidupan anak-anak dan cucu-cucunya ke depan. Agar menjadi manusia yang lebih baik, lebih bertakwa kepada Allah SWT.

 

Sebagai tantara yang pangkatnya tidak tinggi, Ambo Lotang Yunus boleh disebut sosok ayah yang rela “perutnya lapar” asal anak-anaknya bisa makan. Maka ia “terpaksa” menambah waktu untuk tetap bekerja sepulang jadi tantara. Sebagai tenaga security di perusahaan swasta di daerah Jl. Juanda. Saya masih ingat, bagaimana ia mencarikan makan malam saya saat ikut menemaninya berjaga. Padahal malam itu, bukan hari gajian. Uang di kantong pun hanya seadanya. Ia rela lapar asal anaknya bisa makan.

 

Cerita sedih lainnya pun terjadi. Saat ia tetap berjaga di rumah Jl. Prapatan dalam keadaan tidak punya uang sama sekali. Hingga ibu saya, menjual beras ke warung dan menyuruh adik perempuan saya untuk mengantar uang hasil jual beras itu ke Bapak Ambo Lotang Yunus. Agar beliau bisa makan. Ini hanya bukti, betapa sang prajurit teladan itu rela perutnya kosong asal anak-anaknya bisa makan. Bukti bahwa sosok ayah pasti akan berbuat apa saja demi anak-anaknya.

 

Dulu pada masanya. Bapak Ambo Lotang Yunus, rela bertahun-tahun jadi Danru petugas PRJ saat di Monas dan berjaga setiap malam hanya untuk menghidupi keluarganya. Pulang larut malam pukul 01.00 WIB sambil membawakan se-dus donat. Bahkan ia rela menjadi koordinator keamanan kawasan Jl. Salemba Raya. Mengontrol lingkungan setiap malam, berkelililing dan entah apa yang diperolehnya? Sekali lagi, Bapak Ambo Lotang Yunus rela perutnya kosong demi anak-anaknya.

 

Cukupkah perjuangannya samai di situ?

Ternyata tidak. Sejak pensiun dari tantara tahun 2021. Cobaan pun datang saat istrinya Tati Raenawaty sakit akibat serangan stroke. Ibu saya lumpuh setelah badan. Dan sejak itu, Bapak Ambo Lotang Yunus yang merawatnya walau anak-anaknya ikut membantu silih berganti. Dan patut diacungi jempol, dia pula yang akhirnya merawat sang istri selama 20 tahun hingga menghembuskan nafas terakhir di 1 Juni 2017. Sosok suami yang begitu setia merawat dan menemani istrinya yang sakit selama 20 tahun. Meenyuapi, memandikan, menggantikan pakaian, bahkan mencebokinya. Bapak Ambo Lotang Yunus, rela berkorban apapun untuk istri dan anak-anaknya. Sekalipun di masa pensiunnya.

 

Hingga akhirnya suatu siang, Bapak Ambo Lotang Yunus yang rela perutnya kosong demi anak-anaknya pun mengeluh dadanya sakit. Dan terlihat lemas. Agak sulit berjalan. Tapi saat diajak ke rumah sakit, dia menjawab, “Tidak usah, Nak”. Hanya bisa terduduk di dalam kamarnya. Sesekali berjalan di sekitar rumah dengan lemah. Tidak lagi bisa berkeliling dengan motor kesayangannya walau hanya mencari sarapan. Dan akhirnya di suatu sore Selasa 8 Juni 2021 pukul 15.16 WIB, sang prajurit teladan pun menghembuskan nafas terakhir menyusul sang istri. Innnalilalhi wainna ilaihi rojiun. Insya Allah, beliau husnul khotimah.

 

Lalu, apa artinya tulisan ini?

Sungguh, selama ini banyak anak-anak yang tidak paham betapa besar pengorbanan dan cinta seorang ayah. Kasih sayang pun bukan hanya milik Ibu. Tapi ayah pun punya kekuatan tersendiri untuk menyatakan cinta kepada anak-anaknya. Tanpa kata-kata, hanya dengan perbuatan dan perjuangan dalam hidupnya. Maka kini saatnya, wujudkanlah cinta dan kasih sayang kepada ayah dan ibu, selagi masih ada waktu.

 

Hikmahnya, cintai ayah kita, sayangi orang tua kita. Selagi mereka masih ada di samping kita. Karena mereka sudah buktikan cinta dan kasih sayangnya melalui perbuatan, melalui pengorbanan yang besar untuk anak-anaknya. Tanpa kata-kata, tanpa pamrih.

 

Agar esok, tidak ada lagi anak-anak yang lupa bertanya kepada sosok ayah. Atau skeadar bercengkrama dengan ibu. Karena seberapa hebat anak-anak hari ini, hanya dibutuhkan perhatian kepada orang tuanya. Dan orang tua itu bukan handphone, bukan gawai. #InMemoriamLotangYunus #AmboLotangYunus #PensiunanTentara #SangPrajuritTeladan #SelamatJalanPakLotang

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu