Nasib! Orang Miskin Dilarang Sakit! Simak Kisah Lengkapnya dalam Cerpen Ini. - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilham Pasawa

Penulis
Bergabung Sejak: 8 November 2021

Jumat, 12 November 2021 16:49 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Nasib! Orang Miskin Dilarang Sakit! Simak Kisah Lengkapnya dalam Cerpen Ini.

    Sebuah cerpen yang menggambarkan tentang kesenjangan sosial dan ekonomi di wilayah masyarakat perkotaan.

    Dibaca : 419 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    I Saltimbanchi (Les Saltimbanques)

    NASIB!

     

    "Eaaaa, eaaaa, eaaaaaa" suara tangisan bayi itu menggema ke beberapa rumah. Suara yang muncul dari gubuk sederhana di pojok desa. Rumah itu hampir dikatakan tak layak huni. Sebuah rumah semi permanen yang hanya terbuat dari kayu bekas dan papan kayu. Jendela dan pintu rumahnya hanya terbuat dari baliho bekas kampanye para politisi. Nampaknya fungsi lain yang lebih bermanfaat dari baliho kampanye adalah seperti itu, setelah tak terpakai baliho itu diambil oleh orang-orang yang membutuhkan untuk atap rumah, pintu, jendela, atau sekedar alas pos ronda. Setidaknya itu lebih baik ketimbang berakhir jadi sampah. Pasalnya di baliho itu tercetak foto-foto orang yang mengaku hebat dan memiliki visi besar untuk Indonesia.

    Bayi itu sepertinya sedang kelaparan. Terlihat dari bentuk payudara ibunya yang nampak sudah kendur dan kehabisan asi. Pasalnya ibu yang tidak terlalu muda itu sudah hampir tiga hari tidak makan nasi. Ia hanya memakan rebusan singkong yang dibeli oleh suaminya. Terakhir ia menemukan nasi di hari Senin kemarin, itu pun hanya dengan lauk ikan asin. Rohman, anaknya yang paling tua, yang kini berusia enam tahun, tampak menikmati makanan yang kita anggap tidak layak untuk anak yang sedang di masa pertumbuhan itu. Selebihnya mereka hanya memakan singkong rebus saja. Karena suaminya hanya mampu membeli itu, bisa ia belikan beras, tetapi kalau dibelikan beras paling hanya cukup untuk hari saja. Dan nasi mesti dimakan dengan lauk. Sedangkan singkong, hanya dengan direbus saja sudah bisa dinikmati. Begitu pengakuannya.

    Malam itu tampaknya si bayi sudah tak sanggup menahan lapar. Si ibu pun sudah gelisah menenangkan. Rohman membantu ibunya mengipasi adiknya supaya lebih tenang. Keluarga kecil itu khawatir mengganggu tetangga-tetangganya yang tengah terpulas. Ya, walaupun tetangga-tetangganya itu tak akan pernah mendengar suaranya sedikit pun. Bagaimana bisa mendengar? Jika tetangganya itu tidur dibalik tembok mewah kedap suara, belum lagi pagar-pagar besar yang tinggi menjulang langit. Pagar yang menolak seluruh keluhan yang dirasakan oleh keluarga-keluarga semacam keluarga Rohman cilik yang malang. Mereka tentram tidur dalam selimut mewah dan sejuknya pendingin ruangan. Serta dibumbui dengan wewangian yang menyegarkan. Sangat bertolak belakang dengan tetangga mereka yang hanya dipisahkan pagar pembatas. Jangankan pendingin ruangan, kipas angin kayu saja tidak ada.

    Gazali yang baru pulang langsung menggendong anak bayinya. Ia menimang-nimang anak lakinya yang baru dua bulan lahiran itu. Bayi yang lahir dengan bantuan kartu sakti bernama KIS. Beruntung, masih ada program semacam itu, ya walaupun agak dipersulit sedikit memang dalam prosesnya. Tetapi itu lebih baik ketimbang Gazali harus mengeluarkan uang puluhan juta untuk melakukan operasi sesar istrinya. Di tangan Gazali, anak kecilnya yang lucu itu tampak sedikit tenang dan bisa terkendali.

    "Sudah, nak. Bapak sudah pulang." Ujar Gazali sambil menimang-nimang.

    Putera sulungnya menghampiri.

    "Bapak bawa apa? Rohman lapar, pak." Keluh Rohman.

    "Ini, bapak tadi dikasih ini sama orang." Gazali menunjukan sebungkus nasi Padang pada anaknya.

    "Yeay! Kok cuma satu? Buat bapak mana?" Tanya Rohman.

    "Bapak udah makan tadi di sana. Ini khusu buat kamu." Ujar Gazali sambil menahan lapar.

    "Ibu?" Rohman melirik ibunya.

    "Ibu bisa makan singkong rebus lagi. Tuh masih ada di panci. Itu buat kamu aja." Ujar istrinya Gazali.

    Rohman pun dengan sigap memakan nasi bungkus yang dibawa oleh ayahnya itu. Gazali dan istrinya hanya menahan ludah menyaksikan anaknya menyantap dengan lahap nasi berlauk ayam bakar itu. Bagaimana pun kedua orang tua itu pasti mendahulukan anaknya, ketimbang dirinya sendiri. 

    "Dapet berapa bang hari ini?" Tanya Romenah pada Gazali.

    "Dua puluh ribu. Alhamdulillah lebih banyak dari kemarin. Orang-orang masih takut ke pasar. Takut kena Covid." Ujarnya sambil menyerahkan uang sepuluh ribu yang sudah lecak dan Kumal dan dua lembar uang lima ribuan yang salah satunya sudah robek sedikit.

    "Alhamdulillah, bang." Ujar Romenah.

    "Gas, masih ada kan?" Tanya Gazali.

    Istrinya mengangguk, menandakan gas tiga kilo di rumahnya masih ada. Ya, sekiranya keluarga itu masih memiliki satu set kompor gas subsidi dan beberapa perkakas dapur seperti panci, wajan, dan beberapa piring. Jangan ditanya bagaimana kondisinya, tentunya sudah sangat tidak layak. Penyok di sana dan sini, belum lagi warnanya yang sudah hitam legam di bagian bawah. Karena perkakas itu ia dapat dari tetangganya yang agak senasib dengan mereka. Ya, tetangga yang memiliki ekonomi kelas menengah kebawah atau menengah kejurang lebih tepatnya. Tetapi Konde, tetangganya Gazali itu bernasib agak sedikit lebih layak, mungkin karena ia berprofesi sebagai pedagang. Sedangkan Gazali hanya sekedar kuli panggul di pasar tradisional.

    Rohman pun tertidur pulas setelah menyantap nasi bungkus yang dibawa bapaknya. Sementara Romenah dan Gazali masih terus mengobrol tentang keluarga kecilnya itu. Mereka tak tahu jam berapa saat itu, pasalnya tak ada jam di rumahnya. Ia hanya berangkat sebelum terang, dan pulang selepas malam. Malam itu Romenah tampak gelisah. Tak tahu kenapa, ia seperti merasakan sesuatu yang lain pada malam itu, dalam pikirannya hanya dipenuhi bayang-bayang anaknya yang masih bayi. Rohman yang agak sedikit tak mengerti dengan apa yang sedang dialami isitrinya hanya mencoba menenangkan. Terus menerus berkata bahwa tak akan terjadi apa-apa. Tangisan anaknya hanya sekedar tangisan bayi yang sedang lapar. Romenah pun coba menenangkan diri, dan mereka pun tertidur di atas alas seadanya.

    Namun tiba-tiba suara tangis bayi menggelegar. Oroknya yang baru dua bulan itu menangis sejadi-jadinya. Romenah yang dengan sigap terbangun menggendong anaknya. Sialnya, saat dipegang dahi oroknya, ia merasakan panas yang lumayan tinggi. Bayinya terus saja menangis. Makin lama makin besar tangisnya. Sampai-sampai Konde yang rumahnya cukup dekat dengan Gazali pun ikut terbangun dan mencoba melihat ada apa sebenarnya. 

    Sesampainya Konde ke rumah Gazali, ia melihat wajah Gazali yang tampak kebingungan dan cemas. Istrinya tak kalah cemas. Rohman hanya duduk termangu karena belum mengerti apa-apa.

    "Kenapa anakmu, Zal?" Tanya Konde.

    "Panasnya tinggi, De." Jawab Gazali panik.

    Konde pun menghampiri bayi dari pasangan Gazali dan Romenah. Ia menempelkan tangannya ke dahi si bayi. Setelah itu Konde pun menelan ludah. Panas banget ini, gumamnya dalam hati.

    "Mesti dibawa ke klinik ini." Usul Konde.

    "Aku tidak punya duit, De. Tadi manggul cuma dapat dua puluh ribu." Keluh Gazali.

    "Nggak usah mikirin duit, bawa aja dulu. Urusan duit belakangan." Ujar Konde.

    Romenah tampak semakin cemas, bayi digendongannya makin keras menangis.

    Gazali pun membawa bayinya ke klinik terdekat. Ia membawa bayinya dengan motor rongsok milik Konde yang biasa dipakainya pergi jualan. Dibonceng istri dan anaknya itu. Bayi kecil itu hanya dibalut dengan kain dan baju milik Gazali. Dengan kecepatan seadanya ia berharap-harap cemas.

    Di pertigaan jalan, tak jauh dari rumahnya ada klinik dua puluh empat jam. Tanpa basa-basi kuli panggul itu masuk sambil menggendong anaknya. Receptionis menyambut dengan wajah ngantuk. Meskipun wajahnya tertutup masker tetapi dari matanya sangat terlihat jelas jika ia sedang mengantuk.

    "Silahkan diisi datanya dulu, pak." Ujar receptionis.

    Gazali pun langsung mengisi data-data yang diperlukan. Beruntung malam itu hanya ia seorang yang datang ke klinik itu. Bayinya pun langsung dibawa ke ruang periksa. Sang dokter pun agak sedikit sinis saat melihat Gazali yang masuk tanpa menggunakan masker. Jangankan masker, uang pun ia tidak bawa. Sementara istrinya menunggu sambil terus mengucapkan doa agar tak terjadi apa-apa pada bayinya.

    "Aduh, sejak kapan panasnya, pak?" Tanya dokter.

    "Baru malam ini, pak. Cuma dari tadi siang kata ibunya sudah nangis terus." Jawab Gazali dengan wajah cemas.

    "Anak bapak gejala demam berdarah, Pak. Mesti dirawat."

    Gazali pun menepuk jidat. Bagaimana mungkin ia bisa membawa anaknya ke rumah sakit di saat kondisi seperti ini. Disaat seluruh rumah sakit mengharuskan tes SWAB dan PCR pada calon pasien. 

    "Kalau di rumah sakit harus tes-tes yang buat Covid itu dulu ya, pak?" Tanya Gazali.

    "Kayanya si begitu, Pak. Tapi bapak coba bawa aja. Kasihan anak bapak."

    "Mahal ya, pak?" Tanya Gazali.

    "Pak, semahal-mahalnya tes itu masih lebih mahal mana dibanding anak bapak?" Ucap dokter.

    "Tapi, pak. Saya orang susah. Memang masih lebih mahal anak saya. Anak saya tidak sebanding dengan harta apapun. Tapi kondisinya seperti ini, pak. Apa iya rumah sakit mau menerima pasien miskin seperti keluarga saya ini?" Mata Gazali berkaca-kaca.

    "Bapak punya KIS?" Tanya dokter lagi.

    "Punya, tapi anak saya belum. Belum sempat mengurus, masih belum punya uangnya, Pak." Keluh Gazali.

    Dokter pun terlihat bingung. Ia pun menyarakan agar Gazali tetap membawa anaknya ke rumah sakit terdekat. Pasalnya jika tidak ditangani secepatnya anak Gazali bisa kehilangan nyawanya.

    "Yaudah kalau begitu, saya coba kasih obat aja dulu ya. Mudah-mudahan aja panasnya bisa turun. Tapi kalau bisa tetap dibawa ke rumah sakit ya, pak." 

    Gazali mengangguk. Dokter pun menyuntikan obat ke si bayi. Bayi itu tampak mengerang kesakitan. Romenah yang mendengar tangisan bayinya sudah tidak enak diam, ia mencoba melongok ke ruang periksa. 

    Tak berselang berapa lama, obat yang disuntikan mulai bereaksi. Si bayi mulai tenang dan tertidur.

    Gazali pun keluar dari ruangan. Kini giliran si ibu yang menggendong. Gazali kembali ke receptionis, menanyakan biaya yang harus dia bayar. Receptionis pun memberikan tagihan biaya perawatan. Gazali menepuk jidat, lalu ia bergeas meninggalkan istrinya di klinik. Ia dengan cepat menuju rumahnya. Di rumahnya Konde tengah menunggu dan menjaga Putera sulungnya.

    "De, dua ratus ribu." Ujar Gazali.

    Tak berpikir panjang Konde segera memberikan pinjaman kepada Gazali. Uang modal jualannya ia berikan pada teman senasibnya itu.

    "Gantinya bagaimana?"

    "Bawa aja dulu, yang penting anakmu sehat dulu. Anak itu lebih berharga dari apapun." Ujar Konde.

    Gazali pun kembali melesat ke klinik sambil membawa pinjaman dari Konde. Sesampainya di klinik ia segera membayar tagihannya itu. Lalu ia lekas kembali ke rumah dengan anak dan isterinya.

    Di rumah, Gazali tak bisa tidur. Istrinya pun demikian. Konde ikut menemani Gazali. Mereka berdua duduk sambi berbincang di depan rumah yang sudah tak layak itu.

    "Sulit jadi orang susah. Kalau lagi begini kita nggak bisa ngapa-ngapain." Keluh Gazali.

    "Mau gimana emangnya? Kita mau demo juga nggak bakal didengar. Tuh liat! Jangankan pejabat, orang yang tidur di situ aja nggak tau kalau kamu lagi kesulitan nyari duit." Konde menimpali. Tangannya menunjuk apartemen yang tepat di belakang rumah Gazali.

    "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Apa itu masih berlaku?" Gazali melempar pertanyaan yang tidak mengharapkan jawaban.

    "Masih, masih, Zal. Berlaku bagi orang-orang yang merasakan hal yang sama. Contohnya seperti aku dan kamu. Aku nggak akan mau ngebantu kalau aku nggak ngerasain seperti yang kamu rasain." Konde membakar rokoknya.

    "Kita sekolah bertahun-tahun, kamu masih mending punya usaha. Punya dagagan, aku apa? Cuma jadi kuli panggul. Setiap melamar cuma dijanjikan bakal dipanggil lagi, tapi nggak pernah dipanggil-panggil. Kecuali yang melamar keluarga atau tetangga dari atasan." 

    "Rejeki sudah ada yang ngatur, Zal. Nggak usah ngedumel gitu. Nikmatin aja. Setidaknya anak dan istrimu masih bisa makan."

    "Bisa makan apa? Anakku itu baru kena nasi ya tadi malam. Istriku udah tiga hari nggak makan nasi. Makan singkong doang. Kemaren ramai orang bicara soal bansos, lah aku yang begini nggak pernah dapet. Miris, De."

    "Kalau bansos aku juga nggak dapet. Tapi begini, Zal. Kamu itu kan seenggaknya pernah merasakan bangku kuliahan, ya walaupun nggak lulus. Masa iya teman-temanmu itu nggak ada yang bisa bantu?"

    "Aduh, aku malu, De. Teman-temanku itu sebetulnya adalah yang sukses. Ada juga yang sekarang jadi dewan di parlemen. Tapi aku malu ngemis-ngemis sama mereka. Terus juga, aku tidak megang hp sekarang, mana bisa hubungin mereka." 

    "Yah, dicoba dulu lah. Tapi jujur loh, aku ini penasaran. Masa orang yang cerdas kaya kamu itu malah jadi kuli panggul. Kalau aku si wajar, dari SMA dulu emang udah bego. Jadi mana ada perusahaan yang nerima. Kalau kamu ya masa iya begitu?" Percakapan mereka makin menyentuh ranah yang cukup dirasakan kebanyakan orang.

    "Aku jadi kuli panggul ya belum lama kan, De. Apes aku itu. Kontrak kerjaku itu abis, pas banget sebelu Covid. Aku di sini kan ngontrak ya, awal-awal si masih ada simpenan buat kontrakan, tapi lama-lama ya abis buat makan. Motor, tv, dan barang-barang yang lain ikut kejual. Ya masih untung aku bisa nemu kontrakan ini. Walaupun nggak layak ya nikmatin aja. Malah istri lagi hamil waktu itu." 

    "Aku juga kaget waktu itu, jarang ketemu, sekalinya ketemu ngeluh duit habis."

    "Lagipula, aku waktu itu cuma jadi buruh, De. Dibayar empat puluh ribu sehari. Ya wajar kalau ketemu kamu ngeluh." 

    "Masih banyakan pendapatanku kalau begitu, ya?" Konde tertawa meledek.

    "Ya begitu, De." 

    "Yang penting sekarang anakmu itu bisa sehat. Kamu udah enak, ada anak ada istri. Aku kemana-mana masih sendirian, Zal." 

    "Dicarilah." 

    "Emangnya perempuan sekarang masih ada yang mau dengan orang seperti aku ini, tua, miskin, dan bego lagi?"

    "Nggak boleh ngeluh, semua pasti ketemu jodohnya."

    "Tadi kamu ngeluh begitu banyak aku dengerin, lah aku baru ngeluh segitu aja langsung dipotong." 

    Mereka berdua pun tampak sedikit ceria dengan obrolan yang ringan itu. Malam pun makin lama makin tinggi. Rembulan yang bergeser menandakan hari ingin menyentuh pagi. Kedua pria korban nasib dan kerasnya kota itu masih terus terjaga. Sampai tiba-tiba suara teriakan mengejutkan mereka.

    "Bang Gazali!" Ujar Romenah dari dalam rumah.

    Gazali dan Konde pun masuk ke dalam rumah. Gazali tampak terkejut melihat bayinya yang kejang-kejang. Panas bayinya lebih panas dari semula. Romenah tak kuat menahan air matanya. Konde pun bingung harus berbuat apa. Akhirnya ia pun berinisiatif ke rumah RT setempat untuk meminta bantuan. 

    Konde pun pergi berlari menuju rumah ketua RT setempat. Sesampainya di rumah RT ia mengucap salam dan mengetuk pintu. Tetapi dari kejauhan ia melihat seorang memanggil namanya sambil berisak tangis. Ternyata itu adalah Gazali.

    "Anakku meninggal, De." Gazali memeluk Konde begitu keras.

    Ketua RT yang merasa terganggu membuka pintu. Sambil bertanya keheranan.

    "Ada apa ini?"

     

     

    Sawangan, Depok 11 November 2021

    Ikuti tulisan menarik Ilham Pasawa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: I. Jepris Mitang

    22 jam lalu

    Ruang Makan

    Dibaca : 120 kali


    Oleh: I. Jepris Mitang

    22 jam lalu

    Hotel Mewah

    Dibaca : 113 kali






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Pamit!

    Dibaca : 146 kali