x

Iklan

Eki Saputra

Aktivis lingkungan dan penulis lepas. Seorang penikmat karya sastra dan film pendek.
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Sabtu, 13 November 2021 12:38 WIB

Kisah Kepolosan Jumai

Akan tetapi, pada hari pemilu setahun yang lalu, Jumai tanpa sadar telah melakukan kesalahan fatal akibat kepatuhannya pada perintah gambar di kaos merahnya itu. Maka ketika namanya disebut di TPS, ia seperti sapi gila terengah-engah berlari ke bilik pemungutan suara. Lelaki itu mencoblos dengan begitu bersemangat kertas suara hingga nyaris robek. Ia menusuk sebanyak delapan belas kali tepat ke kening pejabat itu, setelah itu ia sekonyong-konyongnya pergi, bahkan tak melipat lagi surat suara sehingga menjengkelkan panitia dan saksi yang hadir.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Matahari belum naik, ketika Jumai menemukan bangkai babi di kebun karetnya. Suatu pagi ia bangun dan langsung melepas sarung; ia menggosok-gosokan kedua telapak tangannya dan terus saja mengigil kala melipat selimutnya yang kumal. Ia beranjak ke dapur untuk sekadar menghirup bau kopi di gubuk buruknya. Angin dari celah papan menembus masuk, membawa hawa dingin yang meruap-ruap ke segala penjuru petak kecil itu, menusuk-nusuk pori-pori Jumai, tetapi lelaki itu dengan santai mengganti celana kain panjangnya yang penuh tambalan dengan celana pendek bertotol-totol bekas percikan getah para, serta tak lupa ia kenakan kaus partai sisa serangan fajar yang disodor-sodorkan padanya setahun yang lalu. Kaos merah itu ternyata masih muat di badan, dan ia sekali pun tak tahu sekiranya muka orang yang terpasang di sana kalah tipis suaranya lantaran kurang satu angka saja. Andai si dewan gagal tahu, Jumai datang ke bilik pemilihan hari itu, tetapi ia sendiri mengacaukan nasib baik calon dewan itu akibat kesukarannya berhadapan dengan huruf dan angka maka orang itu sudah pasti murka.

Tapi, salah siapa?

Lagi pula, siapa peduli tentang Jumai selama bertahun-tahun sebelumnya? Ia tak pernah mengenal bangku sekolah—yang sebetulnya bukanlah perihal mengagetkan lagi bagi mereka, para bakal calon koruptor berperut selebar beduk dan bertelinga setebal beton. Di era teknologi berkembang pesat seperti sekarang; fisika kian maju semenjak dikenalnya mekanika kuantum, para ilmuwan berpikir hendak memindahkan bumi ke planet asing, serta tahi babi mampu disulap jadi energi. Sialnya, di pelosok kampung, di tengah-tengah peradaban masih di kerak bumi, atau di negara yang kerap dibangga-banggakan pasal kesuburannya terdapat penyakit yang obatnya tidak dijual dan dibuat oleh siapa pun. Penyakit itu bernama buta huruf.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mereka tidak memikirkan hal-hal semacam itu karena problema tololnya Jumai bukanlah urusan mereka. Yang terpenting perut kenyang dan harta dapat ditumpuk-tumpuk. Maka jalan ringkas yang bisa si calon pejabat ambil, yakni memasang baliho lebar-lebar di pinggir jalan dan membagikan kaos bergambar muka apa adanya, berpakaian perlente, berpeci supaya tampak alim, dan tersenyum jelek seraya mengacungkan jari jempol, seakan-akan meledek bakal pemilihnya itu: "Bagus sekali! Mari coblos saya rakyat dungu." Ada pula gambar paku besar mencocok kopiah hitam orang itu seperti ia memang pantas untuk diburu.

Akan tetapi, pada hari pemilu setahun yang lalu, Jumai tanpa sadar telah melakukan kesalahan fatal akibat kepatuhannya pada perintah gambar di kaos merahnya itu. Maka ketika namanya disebut di TPS, ia seperti sapi gila terengah-engah berlari ke bilik pemungutan suara. Lelaki itu mencoblos dengan begitu bersemangat kertas suara hingga nyaris robek. Ia menusuk sebanyak delapan belas kali tepat ke kening pejabat itu, setelah itu ia sekonyong-konyongnya pergi, bahkan tak melipat lagi surat suara sehingga menjengkelkan panitia dan saksi yang hadir. Sebelum tergesa-gesa mencelupkan jari ke tinta biru di dekat pintu keluar, ia berkata dengan tazkim kepada panitia yang menatap mukanya penuh dongkol, "Maaf Pak, Buk, sekalian! Saya sudah tercirit. Saya tidak tahan lagi mau berak."

Meskipun Jumai menderita buta huruf kronis, setidaknya dia masih bisa memaknai gambar dan simbol tertentu yang sering ia temui. Memang benar bahwa ia tak paham mengeja kata emak, abah, dan namanya sendiri serta Sumi, adik satu-satunya yang paling ia benci tabiatnya. Satu-satunya kemampuan otak bangai Jumai ialah cuma bisa membedakan sesuatu dari apa yang biasa dilihatnya sehari-hari, lalu memadukannya dengan pengetahuannya yang sempit. Emak adalah perempuan gemuk, tetapi berkepala kecil mirip jeriken; bertahi lalat sebesar tahi kambing di atas bibir. Perempuan kolot itu senang merecoki tentang kapan Jumai membawa betina alap yang siap memproduksi bayi-bayi mungil untuk dia timang-timang dan dongengi masa kecil bapaknya yang kumuh. Abah, seorang pria beruban segala macam bulu yang tumbuh di tubuhnya, dari rambut kepala, kumis, jenggot,  sampai bulu ketiaknya pun putih seolah habis diplamir. Lelaki kerempeng itu sehari-harinya hanya bolak-balik dari rumah ke masjid lalu mengeluhkan takdirnya yang akan mati miskin. Dan yang terakhir, Sumi, adik bungsunya yang gempal, bermuka jebab, dan bermoncong macam kerbau. Walaupun Sumi sukses menamatkan SD-nya, malangnya ia terpaksa menikahi pemuda setengah sedeng, anak pemilik warung tempat emaknya sering berutang.

"Andai aku tak berabang buta huruf, sudah pasti ia sukses dan aku disekolahkannya tinggi-tinggi. Tak mungkin aku dikawinkan dengan jantan kurang akal ini!" Sumi merutuk tiap kali sedang kesal pada suaminya, ia kerap menyalahkan pula nasib buruknya karena memiliki saudara tak berguna seperti Jumai.

Sumi tidak salah. Perkara penyakit buta huruf Jumai itu sungguh tak dapat dianggap enteng. Acap kali mengacaukan banyak urusan sehari-hari yang seharusnya bisa saja dia kerjakan dengan benar. Pak Kades misalnya, baru dua hari yang lalu memerintahkan Jumai agar mengumumkan acara dadakan yang diadakan di balai dusun.

"Mai, katakan kalau besok pagi ada penyuluhan dari dinas kesehatan, tentang bahaya flu babi," perintah Pak Kades.

"Flu itu apa, Pak?" tanya Jumai bingung.

"Flu itu ... sesuatu yang membuat babi mati. Babi jadi mati karena terkena flu. Ya, intinya babi sakit kalau kena virus itu." Pria itu kesulitan menjelaskan. Ia mengulang-ulang membaca surat di tangannya.

"Tapi kalau babi mati, apa urusannya dengan manusia, Pak?"

"Ya, masalah, Mai. Virus ini berbahaya sebab bisa menular. Pokoknya virusnya bahaya! Warga dusun kita harus tahu sebelum virus ini sampai ke tempat kita."

"Jadi saya umumkan ke mereka kalau ada babi mati, Pak Kades?"

"Lah, bukan begitu, Mai. Bilang saja ke mereka ada penyuluhan virus flu babi di balai dusun."

Jumai mengangguk-angguk tolol, tampak jelas dari raut mukanya ia masih belum memahami perintah itu.

"Baiklah, saya mengerti, Pak."

"Coba ulang!"

"Akan aku umumkan ada penyakit babi di balai dusun."

"Sembarangan! Kau ini bagaimana, Lai? Cobalah kau dengarkan ucapanku baik-baik: A-da pe-nyu-lu-han vi-rus flu ba-bi. Vi-rus ba-bi. Nah, sekarang kau paham?" tanya Pak Kades terburu-buru. Ia menoleh ke jam dinding. "Ini sudah jam lima petang. Aku mau menjemput anakku di masjid. Ia pasti sudah selesai mengaji."

"Anu, Pak Kades," ucap Jumai sekali lagi. Dia makin bingung, virus itu apa.

"Apalagi? Kau masih lupa?" Pria tambun itu cepat-cepat mengambil pena dan kertas, lalu grasah-grusuh mencoret-coret di atas meja kerjanya. "Bacakan saja ini. Nah, sekarang pergilah."

Jumai yang tak bisa membaca sama sekali melihat tulisan itu seperti pola kerupuk atau bekas cakar ayam di tanah basah. Ia pun gelagapan. Namun, Jumai yang lugu tidak pernah melewatkan kesempatannya barang sehari saja untuk terlibat aktif urusan di dusun. Ia kerap merasa bangga setiap kali ia mendapatkan mandat dari sang Kades meskipun tak pernah diupah. Lebih-lebih bila ia dipuji-puji Pak Kades sebagai hansip paling teladan maka besarlah kepalanya dan hilanglah segenap akalnya.

Maka ia menerka sobekan itu menggunakan ilmu tebak gambar. Dipikirnya huruf sambung itu adalah gambar sehingga ia berusaha mengingat-ingat benda apa kira-kira yang serupa dengan itu. Secarik kertas itu ia coba terawang di bawah lampu kuning dengan telaten, lalu serta-merta ia bergidik ngeri karena terkejut dengan kilasan yang muncul di kepalanya. Otak lemahnya membayangkan sekumpulan cacing sedang memamah daging babi. Rupanya flu itu cacing ganas pemakan daging hidup-hidup, ia membatin.

"Pengumuman! Pengumuman! Kepada warga Talang Kelapa. Besok pagi silakan kumpul ke balai. Kata Pak Kades ada penyuluhan cacing pembunuh babi," Jumai berteriak-teriak percaya diri menggunakan toa di jalanan dusun. Ia merasa perkataannya sudah lurus benar.

Pastilah mereka terkaget-kaget nian, Jumai berkata dalam hati. Sesudah mengumumkan kabar mengerikan itu, ia sendiri justru tidak menghadiri acara pengenalan wabah seram di balai desa. Ia pikir, dirinya sudah tahu betul yang hendak disampaikan dinas kesehatan kepada warga dusun. Beruntunglah ia menjadi orang pertama yang diberitahu Pak Kades, dan sebentar lagi semua orang akan tahu juga sama sepertinya.

Namun, dua hari semenjak penyuluhan itu, pagi-pagi benar, ia lari pontang-panting pulang ke rumahnya seraya melolong-lolong dari kebun sampai ke tengah dusun. Ketika Sumi dan emaknya berusaha mencegatnya di pintu dan menanyakan pasal apa yang membikin Jumai menjadi pucat kesi. Jumai dengan sorot mata penuh kengerian seketika berteriak kepada keluarganya itu, "Gawat! Serangan cacing ganas sudah tiba! Cacing gila babi! Aku melihatnya!"

Ikuti tulisan menarik Eki Saputra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan