x

Iklan

Helga Zendrato

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Selasa, 16 November 2021 12:14 WIB

Sudah Tahu

Seorang anak laki-laki ingin didengarkan dan diperhatikan oleh ibunya. Namun, diberbagai situasi segala hal menjadi asupan sehari-hari ibunya sehingga ibunya memutuskan untuk tidak mendengarkan dari sisi Simon. Anak yang beranjak menjadi pemuda ini pun menyadari bahwa segala hal tidak harus disampaikan. Ia berusaha untuk menjadi dewasa dengan tidak mengadukan perasaannya. Baginya, pertanda dewasa menunjukkan semakin sedikit hal yang bisa disampaikan kepada orang lain, tetapi akan banyak serapan berharga didengar dari orang lain. Tiada mengeluh karena semua orang akan tahu dan sudah tahu. Apakah benar demikian?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Terik tegak di atas jarum 12, segelas air meredakan dahaga. Ikan-ikan mengapung di atas akuarium kecil, guppy terlebih dahulu disusul cupang merah. Telah meninggal 7 ekor guppy dan 2 cupang merah di dalam akuarium pada 30 September 2021. Berita yang mendukakan bagi Simon.
Seorang laki-laki yang pernah bermimpi jadi pengacara itu duduk di depan pintu. Ia menunggu seseorang yang akan membelikannya  kindle. Ia menggulirkan layar ponsel di tangan kanannya. Wajahnya merekah, ia memeluk gawai kecil itu. Perihal bahagia di air mukanya masih menjadi misteri. Simon akan menceritakan kabar suka dan duka saat ibunya kembali. 
    Yang ditunggu pun menunjukkan diri di depan pagar. Simon membukakan pagar dan menengadahkan tangan ke arah ibunya. Wanita itu mencium kening anaknya, “Aduh, Ibu lupa”. Simon meragukan perkataan ibunya, kejadian ini bukan yang pertama atau kedua kali dalam bulan ini. Ibunya sering berjanji, tetapi lebih mudah untuk mengingkari daripada menepatinya. 
    Di ruang makan, Simon dan ibunya memandang ponsel masing-masing. Televisi yang berisik itu mengisi sepinya ruang makan. Simon menonaktifkan data ponselnya, lalu memperhatikan berita. Hari ini tepat peringatan G30S PKI, Simon menatap ibunya yang masih sibuk dengan ponselnya.
    “Bagaimana mereka bisa sebejat itu?” Simon berusaha untuk mengalihkan perhatian ibunya. Namun, ia tidak mendapatkan perhatian dari ibunya. Ia mengganti saluran televisi dan mendengarkan kasus virus Corona. Akhirnya, ibunya memberikan perhatian. “Hari ini ada 1.690 kasus positif. Yang sembuh lebih banyak 2000-an” ujar ibunya. Simon mengganti saluran televisi, berita pelengseran presiden kedua Indonesia menjadi topik yang hangat di televisi. 
    “Bu, apakah Ibu sudah lahir pada masa ini?”
    “Belum, mungkin kakek dan nenekmu”
    “Ibu tahu tentang ini?”
    “Iya, G30S PKI itu pemberontakan untuk menggulingkan pemerintahan Soeharto. Seharusnya, kamu mendengarkan lebih banyak saat di sekolah.”
    “Kalau DN Aidit siapa Bu?”
    “Itu yang memimpin gerakan pemberontakannya. Kamu belum tahu ya?”
    “Bu, aku ingin menceritakan sesuatu.”
    “Apa? Ceritakanlah Simon”
    “Ikan peliharaan Simon, mati”
    “Oh, besok lagi. Itu karena kamu tidak rajin membersihkannya.”
    “Bukan itu penyebabnya Bu”
    “Ibu tahu kamu, Simon. Kamu jarang merawat ikan-ikan itu.”


Simon kesal karena Ibunya tidak memberikan kesempatan untuknya bercerita. Namun, ia berusaha untuk membuat ibunya penasaran dengan berita kedua yang akan disampaikannya.
“Bu, Simon ada kabar baik dari Pak Johan.”
“Pak Johan dosen pembimbing kamu kan?”
“Iya Bu.”
“Oh, Ibu tahu. Pasti kamu dapat nilai yang bagus”
“Mungkin, tapi bukan itu Bu.”
“Tugas akhir kamu tidak ada revisinya kan?”
“Bukan begitu Bu”
“Ibu tahu kamu anak yang cerdas. Apa pun beritanya kamu harus  cumlaude ya, Simon.”


Simon melahap makanannya dengan cepat. Ia mudah marah dan tersinggung akhir-akhir ini. Rumahnya yang sepi membuat ia sukar menemukan lawan berbicara. Beberapa bulan lagi ia akan berpisah dengan ibunya. Ia menginginkan banyak waktu untuk berdua dengan ibunya, setidaknya ia ingin menceritakan bahwa hasil karya tulisnya sudah dipublikasikan. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

<--more-->

Malam itu adalah malam yang panjang bagi Simon. Ia butuh bercerita, tetapi enggan di dalam doa. Matanya sulit untuk dipejamkan. Ia memilih mengobrol dengan dirinya sendiri. Dinding kamar yang gelap itu menyaksikan kekecewaannya, sesekali ia memeriksa notifikasi di ponselnya. Namun, tidak ada yang penting dan mendesak untuk dikerjakan. Simon terlelap dalam waktu yang panjang, ia mendengkur sepanjang malam.
“Simon, Ibu belum tahu tentang proyek yang kamu kerjakan?”
“Benarkah Bu?”
“Iya, Simon ceritakanlah Ibu mendengarkan.”
“Bu, itu tidak terlalu penting.”
“Bagaimana tentang karya tulis kamu, Nak?”
“Bu, aku ingin mendengarkan kesibukan Ibu. Ceritakan perjalanan Ibu dan pekerjaan Ibu yang melelahkan itu. Sering kali Simon melihat Ibu mengecek notifikasi di tengah malam dan mengobrol dengan orang di waktu subuh. Apakah Ibu tidak lelah?”
“Simon, Ibu tahu bagaimana menyelesaikan masalah Ibu. Ibu menyayangimu, tetapi Ibu sulit untuk menunjukkan padamu. Ayolah, Ibu mau mendengarkan tentangmu.”
“Ibu mau kemana?”
“Simon, maafkan Ibu.”


Simon tersentak kaget. Ia melihat ponselnya Pukul 03.19 WIB. Sekarang sudah 1 Oktober 2021. Notifikasi yang muncul di ponselnya, “MY MOM IS BIRTHDAY”. Simon dengan perasaan bercampuraduk bingung untuk mengawali paginya saat harus bertemu dengan ibunya. Ia membuat catatan kecil di ponselnya:
Tidak akan selamanya cerita kita adalah milik bersama. Tidak akan selamanya semua orang yang sudah tahu pasti mengerti. Saat kita mengharapkan selalu ada telinga untuk kita, bagaimana rasanya jika kita menjadi telinga buat mereka. Maukah Ibu berbagi cerita? Simon ada di sini mendengarkan.

Ikuti tulisan menarik Helga Zendrato lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu