x

Iklan

Aldi AY

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 November 2021

Selasa, 16 November 2021 17:08 WIB

Pagi & Kenangan

Sebuah cerpen tentang seorang lelaki tua, kemajuan zaman, kenangan, dan kerinduan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pagi ini terlihat dan terdengar romantis. Cahaya matahari memeluk mesra perkampungan, persawahan, dan perbukitan. Awan-awan mengapung dan berenang-renang di cerahnya hari. Dua ekor kutilang bernyanyi merdu di atas dahan, seirama dengan lembutnya siliran angin yang menyebabkan daun-daun bergelayut di ujung ranting. 

 

Dengan sarung warna ungu bermotif kotak-kotak, sebuah peci hitam tua yang asal dipasangkan ke kepalanya, Mar’i duduk sendirian. Seperti itulah kebiasaannya setiap pagi sebelum pergi ke ladang di beranda rumahnya yang damai. Secangkir kopi yang baru ia seruput dua kali itu masih panas, bersebelahan dengan asbak dari tempurung kelapa. Di tangan kanannya, sebatang kretek dibiarkannya saja terbakar. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

“I, kau tidak ke ladang? Matahari sebentar lagi tinggi, sudah lewat jam delapan.” Malin bertanya-tanya mendapati Mar’i yang masih bersantai di beranda rumahnya. 

 

Tadi ketika Malin membeli sabun ke kedai, dilihatnya juga Mar’i di sana. Hanya saja tadi tanpa kopi. Tidak biasanya Mar’i seperti itu, biasanya jam segini ia sudah ada di ladang. 

 

“Iya, Lin. Sebentar lagi.” Mar’i menjawab dengan senyuman. 

 

Mar’i lalu  menatap jauh ke depan bersama pikirannya. Sebuah gawai yang sedang memutar lagu Minang seperti menyendiri di ujung meja, berjauhan dengan asbak dari tempurung kelapa berukiran bunga. Gawai itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ke-55 dari anaknya yang sudah lama merantau ke kota. 

 

Terlihat di depan rumah Mar;i, orang-orang berlalu lalang. Rata-rata mereka adalah orang-orang yang pergi ke sawah dengan gaya khas mereka. Menyandang cangkul di bahu, memakai caping, dan mengenakan baju partai. Hanya Mar’i dan beberapa orang lainnya yang masih setia menyadap getah sampai sekarang semenjak harga karet turun beberapa tahun lalu. 

 

Harusnya Mar’i sudah di ladang sekarang, menggoreskan pisau sadapnya dari batang ke batang. Tetapi pagi ini berbeda, ada yang menahannya untuk tetap duduk di beranda lebih lama, yang sebenarnya ia sendiri juga tidak mengerti untuk apa. 

 

Dilihatnya pagi itu. Betapa sudah banyak tahun-tahun yang ia lalui bersama kampungnya dan tumbuh bersama-sama. Jalanan di depan rumahnya yang sudah tiga kali berganti rupa. Mula-mula jalannya jalan setapak, kemudian dicor. Lima tahun lalu jalan itu diaspal, pada saat Pak Sidi yang sekarang berada di penjara gara-gara korupsi dana desa itu menjabat sebagai wali nagari¹. 

 

Terdengar bunyi kretek kretek kretek ketika Mar’i mengisap kreteknya panjang dan dalam. Kemudian diembuskannya dan didapatinya hatinya kosong kembali. “Pak, jangan terlalu banyak merokok.” Masih terngiang di kepalanya kata-kata itu, yang selalu saja didengarnya setiap pagi ketika ia dan istrinya masih bersama. 

 

Dirasakannya pagi itu. Betapa ia merasa sudah banyak yang hilang darinya, tidak hanya cinta. Sepetak demi sepetak sawah di kampung Mar’i lenyap berganti perumahan. Bahkan pemandangan Bukit Barisan yang membiru itu juga dirampas darinya. Sawah-sawah itu terpaksa dijual warga buat ongkos meloloskan anaknya jadi tentara, polisi, dan pegawai negeri. Jadilah sejak saat itu, pemandangan Bukit Barisan di rumah Mar’i tidak ada lagi, tergantikan tumpukan batu bata yang disusun dan dipoles sedemikian rupa. 

 

Kala itu Mar’i bukan main sedihnya. Rumah-rumah itu kosong tak berpenghuni, hanya dibeli orang-orang kaya yang tinggal di kota untuk investasi. Alih-alih punya tetangga baru, hanya didapatinya rumah-rumah kosong tak berpenghuni. Dunia memang berbeda sekarang. Kampungnya tumbuh dan seperti menjadi asing. Bagaimanapun ia hanya dapat melihat semuanya tumbuh, di kampungnya. 

 

Tampak di depan rumah Mar;i mesin bajak lewat, tanpa sedikit pun bunyi mesinnya mengganggu Mar’i yang duduk bermenung sendirian di beranda. Dahulu petani masih membajak sawah dengan kerbau karena menurut mereka hasil membajak dengan kerbau lebih bagus, sebelum pemilik lahan menjual lahannya yang merupakan padang rumput luas itu buat ongkos anaknya masuk polisi. Dahulu, kerbau orang-orang kampung digembalakan dan berkubang di sana. 

 

Setelah itu orang-orang banyak menjual kerbau mereka. Lahan-lahan lain yang dulunya adalah padang rumput juga sudah hilang karena alih fungsi lahan. Maka orang-orang sekarang memilih sebuah kemajuan teknologi di bidang peetanian yang bernama mesin bajak. 

 

Anak-anak gembala kesepian saat itu. Kadang mereka bermain layang-layang, tetapi kemudian bosan. Sebab ketika layangan mereka putus dan mendarat di area perumahan, mereka tidak lagi bisa mengejarnya seperti anak-anak di kampung lain. Satpam-satpam perumahan akan berkacak pinggang sebelum mereka masuk ke dalam perumahan itu. Anak-anak itu kemudian pergi dan mandi ke sungai. Hanya sebulan saja sebelum sungai itu tercemar dan airnya keruh karena tambang emas ilegal. 

 

Begitulah waktu, tapi tidak ada yang tau apa nasib waktu, bukan²? Waktu yang datang dan berlalu begitu saja tanpa menyisakan apa-apa, selain kenangan. Mar’i menyeruput kopinya, membuang abu rokoknya. Dan semuanya masih tetap seperti itu, sama. Waktu datang dan berlalu tanpa bisa dikendalikan orang-orang. 

 

Didengarnya pagi itu. Betapa ia merasa banyak sekali suara-suara yang dirindukannya. Bunyi mbok mbok mbok siamang memanggil hujan, lenguhan kerbau, seruling gembala, suara ramai anak-anak mengejar layangan putus, dan suara-suara lainnya yang masih terngiang dan terasa begitu nyata olehnya. 

 

“Bapak hari ini mau makan apa?” Dahulu Siti selalu bertanya seperti itu setiap pagi. Jawaban Mar’i selalu sama, “Masakan yang sama seperti masakan ibu.” 

 

Siti sudah lama merantau ke kota, sekarang ia sudah jadi istri orang. Hari raya kemarin, ia mengirimkan gawai keluaran terbaru untuk Mar’i pada Ipit yang pulang kampung, dengan seluruh rindunya kepada ayah dan kampung halamannya. 

 

Sudah lima tahun Siti tidak pulang. Tadi malam ia menelepon Mar’i, mengabarkan rindunya. 

 

“Pak, Siti rindu kampung. Rindu bapak. Hari raya tahun ini Siti pulang, sudah pesan tiket.” 

 

“Iya, Ti. Bapak juga rindu. Pulanglah, Nak.” 

 

“Pak.” 

 

“Iya.” 

 

“Di sini gedung-gedung tinggi berjejeran, sama seperti gunung dan perbukitan di kampung halaman.” 

 

Mar’i memperbaiki duduknya. Dikenangnya apa yang dulu pernah ada di depan rumahnya, semua yang pernah ada bersamanya. Sepasang bangku plastik di beranda tempat ia dan istrinya duduk bersama. Siti bermain boneka di pangkuan ibunya. Jalan setapak dengan kerbau dan gembala berlalu lalang di sana. Bunyi mbok mbok mbok siamang dari arah hutan. Pemandangan Bukit Barisan yang membiru itu. Semua masih terasa begitu nyata baginya. 

 

Dilihatnya pagi itu sekali lagi. Sebuah bangku plastik kosong di sampingnya, jalan beraspal sudah banyak berlubang, pagar perumahan yang tinggi dengan rumah-rumah tak berpenghuni di dalamnya. Sungguh, Mar’i merasa sudah begitu banyak yang hilang. 

 

Mar’i mengisap kreteknya panjang dan dalam, lalu diembuskannya. Sambil ia menatap jauh ke depan. Ia bertanya-tanya entah kepada apa, entah kepada siapa, “Apakah tahun demi tahun yang aku lalui hanya untuk belajar tentang penerimaan?” Di depannya hanya ada jalanan, gugur daun, dan kesunyian. 

 

“I, kau tidak ke ladang?” Malin yang kembali dari sawahnya menjemput benih itu membuyarkan lamunannya. 

 

“Iya, Lin. Sebentar lagi.” Mar’i menjawab dengan senyuman. 

 

Mar’i menyeruput kopinya, mematikan kreteknya. Ia lalu menimang-nimang pilihan, antara pergi bekerja atau melanjutkan keinginan untuk mengenang-ngenang. 

 

Bonjol, Agustus 2020 

 

1. Wali nagari : Sebuah jabatan politik untuk memimpin sebuah nagari di provinsi Sumatera Barat. 

2. Dikutip dari puisi Chairil Anwar yang berjudul 'Prajurit Jaga Malam'.

Ikuti tulisan menarik Aldi AY lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu