5 Hal Yang Bisa Ditiru Dari Desain Kamar Mandi Apato Jepang - Urban - www.indonesiana.id
x

NISA MUSTIKASARI

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Selasa, 16 November 2021 17:12 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • 5 Hal Yang Bisa Ditiru Dari Desain Kamar Mandi Apato Jepang

    Desain kamar mandi minmalis untuk hunian yang terinspirasi dari kamar mandi di apato modern Jepang.

    Dibaca : 469 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Meskipun bukan ruangan yang selalu akan dikunjungi tamu, kamar mandi adalah salah satu ruangan yang tidak kalah penting dalam suatu rumah. Di sanalah tempat penghuni rumah membersihkan diri selepas beraktivitas di luar. Jika didesain dengan baik bisa juga berfungsi sebagai area relaksasi. Maka dari itu, kalau kamu ingin meng-upgrade hunianmu, bisa dimulai dari kamar mandi.

    Saat ini sudah sangat banyak pilihan desain kamar mandi beserta berbagai perlengkapan yang ada di dalamnya. Salah satu tipe kamar mandi yang menarik kita tiru desainnya adalah kamar mandi di apartemen-apartemen (apato) Jepang. Sesuai dengan karakter masyarakat Jepang yang efisien dan efektif, kita bisa juga menerapkan prinsip tersebut untuk desain kamar mandi di rumah kita.

    Yuk kita simak 5 hal yang bisa ditiru dalam mendesain kamar mandi ala apato Jepang!

    1. Toilet terpisah dari kamar mandi

    Di apato Jepang pada umumnya area toilet dipisahkan dari ruang kamar mandi. Keuntungannya dengan pengaturan seperti ini adalah toilet dan kamar mandi bisa digunakan oleh orang yang berbeda secara bersamaan. Jadi tidak perlu mengganggu orang yang sedang mandi saat penghuni lain perlu buang air kecil, misalnya.

    Sisi positif lainnya adalah dari segi higienitas. Dengan dipisahnya toilet dari kamar mandi dan wastafel, akan mengurangi risiko infeksi fecal dari toilet. Ada loh penelitannya yang membuktikan bahwa kamar mandi dan toilet yang dipisah itu lebih bersih dan sehat!

    Toilet yang terpisah ini biasanya berukuran mini, hanya berisi kloset duduk yang dilengkapi sink untuk cuci tangan, tissue holder dan gantungan handuk. Jadi meskipun terpisah dari kamar mandi, tidak berarti akan boros ruang. Area di atas kloset biasanya juga bisa dimanfaatkan untuk menyimpan perlengkapan toilet seperti stok tissue dll. 

              

     

    2.    Di sisi sebelum ruang kamar mandi terdapat area kering yang dilengkapi wastafel dan mesin cuci.

    Di Jepang, area kering ini disebut datsuisho. Pengaturan ruang seperti ini sangatlah efisien. Sebelum mandi, pakaian kotor yang akan dicuci bisa langsung dimasukkan ke mesin cuci atau keranjang penampung baju kotor di area kering yang terintegrasi dengan kamar mandi ini. Begitu pula setelah mandi, bisa memakai pakaian bersih di sini. Area ini juga dipergunakan untuk cuci tangan, cuci muka dan menggosok gigi. Hemat waktu dan tenaga kan!

     

    3.    Kamar mandi tidak terlalu luas, tapi dilengkapi dengan bathtub dan shower.

     

    Cara mandi di Jepang biasanya diawali dengan membersihkan diri dengan shower terlebih dahulu. Jika butuh relaksasi, bisa dilanjutkan dengan berendam di dalam bathtub saat keadaan badan sudah bersih. Nah area untuk mandi juga tidak perlu terlalu besar, yang penting bisa cukup untuk berdiri dan menggunakan shower. Perlengkapan di dinding pun tidak macam-macam. Biasanya di dalamnya terdapat cermin memanjang, beberapa ambalan untuk perlengkapan mandi dan gantungan untuk handuk. 

    Memang pada umumnya desain kamar mandi apato Jepang juga dilengkapi dengan panel pengatur suhu air, exhaust van dan fitur canggih lainnya. Namun jika pencahayaan dan ventilasi ruang kamar mandimu sudah baik dan kamu merasa tidak perlu memakai perangkat canggih di ruang kamar mandimu, tidak perlu dipasang pun bisa kok!

     

    4.    Menggunakan warna cerah sebagai dasar interior dan cermin di satu dinding

    Dalam hal pemilihan warna, kamar mandi ala apato Jepang pada umumnya menggunakan warna cerah seperti putih atau beige. Dinding-dinding pada apato Jepang pun biasanya dibuat polos tanpa dihiasi dengan motif-motif yang ramai. Kalaupun menggunakan aksen tertentu, biasanya pola yang diaplikasikan sederhana dan hangat. Tujuannya agar tidak membuat kesan ruang yang sempit menjadi semakin terasa sumpek. Selain itu pemasangan cermin di salah satu dinding juga bertujuan untuk memberi kesan luas pada ruang yang sebenarnya mungil itu.

     

    5.    Menggunakan kabinet-kabinet vertikal untuk tempat penyimpanan stok perlengkapan kamar mandi. 


    Dengan menyusun kotak-kotak secara vertikal akan memaksimalkan fungsi area yang kosong meskipun dengan luas yang tidak terlalu besar. Jika ditata dengan baik, tidak hanya akan mempermudah mengorganisir perlengkapan kamar mandi, tapi juga mempercantik tampilan ruang secara keseluruhan.

    Efektif, efisien dan estetis kan kamar mandi ala apato Jepang? Bisa kita tiru untuk mengupgrade hunian kita dari satu ruangan dulu. Yuk mulai dari kamar mandi!

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.