Revolusi Mental Ala Ki Hadjar Dewantara - Analisis - www.indonesiana.id
x

Karakter bangsa

Janwan S R Tarigan (Pegiat Literasi)

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Agustus 2020

Sabtu, 20 November 2021 11:48 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Revolusi Mental Ala Ki Hadjar Dewantara

    Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi krisis orang jujur, kata Kasino Warkop. Apa yang disampaikan Kasino Warkop tersebut benar adanya, karena sekarang ini ada banyak kasus orang pintar bahkan jenius yang justru korupsi. Kepintaran bukannya untuk menolong sesama melainkan merugikan rakyat, bangsa dan negara. Perihal ini, WS Rendra tegas menegur dalam bait sajaknya;Apalah arti berpikir jikalau terlepas dari persoalan kehidupan. Jauh sebelumnya atas persoalan moral ini, Ki Hadjar Dewantara sejak kemerdekaan menyadari pentingnya pendidikan karakter. Guna memperkokoh pondasi kepribadian manusia manusia Indonesia yang merdeka dan berintegritas.

    Dibaca : 354 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tapi krisis orang jujur, kata Kasino Warkop. Apa yang disampaikan Kasino Warkop tersebut benar adanya, bisa direfleksikan ada banyak orang pintar bahkan jenius yang justru korupsi. Kepintaran bukannya untuk menolong sesama melainkan merugikan rakyat, bangsa dan negara. WS Rendra tegas menegur dalam bait sajaknya "Apalah arti berpikir jikalau terlepas dari persoalan kehidupan". Jadi paling utama adalah kemanfaatan ilmu pengetahuan bagi kemajuan adab peradaban, bukan sebatas pintar lalu mengeksploitasi sesama untuk kepentingan pribadi dan golongan.

    Sejak awal kemerdekaan, Soewardi Soerjaningrat yang akrab disapa Ki Hadjar Dewantara –aktivis kemerdekaan sekaligus bapak pendidikan Indonesia—menyadari pentingnya pendidikan karakter. Dimaksudkan guna memperkokoh pondasi kepribadian manusia Indonesia. Berpendirian pada nilai-nilai seperti kesederhanaan, kejujuran, kekeluargaan, jiwa merdeka, jiwa kebangsaan, berjiwa pemimpin, merakyat, tertib, dan damai. Itu cita-cita Ki Hadjar Dewantara. Seiring waktu berjalan pendidikan karakter tergerus dan luntur. Benar saja, kekhawatiran beliau. Terjadi kemerosotan mental. Keresahan itu juga tampak dialami Sita Acetylena, yang kemudian tertarik meneliti dalam disertasinya. Kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku berjudul “Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara”.

    Kemerosotan moral dan kebobrokan mental yang terjadi belakangan ini tidak mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia. Menguatnya isu SARA, maraknya pencemaran lingkungan, semakin menjamurnya seks bebas, penggunaan obat-abatan terlarang, dan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela, ketidakadilan hukum, serta kesenjangan sosial-ekonomi-politik yang semakin besar. Telah merugikan segenap bangsa Indonesia. Dibutuhkan revolusi mental seperti yang digagas Bung Karno di masa lampau. Revolusi mental sehubungan dengan integritas, kerja keras, dan semangat gotong-royong. Gagasan itu kembali digaungkan Presiden Jokowi sebagai suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusi baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Gerakan ini bertujuan agar krisis kepribadian bangsa lekas pulih.

     Pendidikan Karakter Ki Hadjar merupakan intisari dari pendidikan yang menggerakkan perubahan sosial menuju peradaban yang bernilai utama “kemerdekaan lahir batin”. “Pamong” menjadi konsep utama pendidikan karakter. “Pamong” merupakan bahasa Jawa yang tercipta dari kata “among, “momong”, dan “ngemong” artinya mengasuh, mengajar, dan mendidik. Hipotesa penulis, bahwa dalam perjalannya ada kesalahan tafsir para guru Taman Siswa terhadap teks pendidikan Ki Hadjar sehingga memperoleh refleksi dan implementasi yang berbeda. Penerapannya, ada pamong semu dan pamong sejati. Pamong semu lebih berorientasi pada hasil bukan proses, dan mengutamakan hal-hal fisik, baik berupa materi, sanjungan, status, maupun jabatan. Sementara pamong sejati bermakna adanya kebersihan hati dengan menyadari, memperbaiki, dan melaksanakan seluruh bagian pendidikan karakter dengan kerja keras, cerdas, dan tulus. Pamong sejati terangkum dalam “ing ngarso sung tulodo ing madyo mangun karso tut wuri handayani” dalam bahasa Indonesia artinya “di depan, seorang pendidik harus menjadi teladan; di tengah, pendidik harus bisa menciptakan ide; dan di belakang, seorang pendidik harus bisa memberi dorongan”. Pendidikan tidak dapat terlepas dari kebudayaan suatu bangsa. Falsafah tersebut merupakan buah pikir Ki Hadjar yang dijadikan lambang pendidikan Indonesia.

    Tulisan ini memberikan perspektif baru yang sangat relevan dengan keadaan bahwa betapa bernilainya kepribadian atau karakter bagi sebuah bangsa. Penulis buku ini turut menjelaskan secara gamblang mengenai makna pembangunan karakter bangsa baik secara filosofis, ideologis, historis, dan sosiokultural. Berbagai perpektif tersebut cukup kompleks memberikan pemahaman jelas dan luas mengenai pembangunan karakter bangsa. Para pendiri bangsa mencetuskan gagasan besar pembangunan karakter bangsa demi adanya kesamaan pandangan mengenai budaya dan kepribadian yang holistik sebagai bangsa. Hal tersebut penting sebagai pondasi dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia. Sebagaimana tertuang dalam UUD 1945 dan Pancasila.

    Pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan utamanya perihal taman siswa tersebut dituangkan dalam buku yang diterbitkan di Instrans Publishing. Tulisan menyajikan enam bab bahasan yang disusun secara sistematis mulai dari filosofi hingga praksis. Bab pertama mengkaji tentang ‘Pembangunan Karakter Bangsa’. Bab dua menyuguhkan perihal ‘Ki Hadjar Dewantara dan Makna Sebuah Nama’. Bab tiga memaparkan terkait ‘Taman Siswa, Sejarah dan Nilai-nilainya’. Bab empat menelaah tema ‘Penafsiran Guru Taman Siswa’. Bab lima mengulas ‘Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara’. Terkahir, pada bab enam pembaca akan diajak berpikir berkenaan pentingnya ‘Bahasa dan Pendidikan Karakter’. Tulisan ini merupakan hasil penelitian disertasi yang membuatnya kaya akan temuan dan gagasan teraktual.    

    Karya tulis elegan ini layak dan perlu dibaca oleh setiap orang yang mencintai pendidikan dan ingin belajar berkenaan dengan karakter luhur bangsa. Jika pun disematkan kata ‘wajib dan penting’, maka akan tertuju kepada mereka yang bergerak di sektor pendidikan. Guru pada semua tingkatan. Tidak hanya akan menambah wawasan tentang pendidikan karakter, juga sebagai pondasi sekaligus pemicu menyemai karakter luhur bangsa kepada generasi muda sebagaimana digagas oleh Bapak Pendidikan Indonesia. Sekolah adalah Taman Siswa sebagai gagasan taman pengetahuan dan etika ala Ki Hadjar Dewantara.

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.