Ketika Sahabatnya Hilang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Photo dari online PPT\xd Melambangkan kasih dan persahabatan

Regina Nikijuluw

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Selasa, 23 November 2021 05:41 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Ketika Sahabatnya Hilang

    Apa yang terjadi ketika sahabat yang sangat dikasihinya meninggalkan dia? Bisakah dia bertahan?

    Dibaca : 559 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kehadiran Monza di dunia cukup ramai bersama dengan ke enam saudaranya. Dia adalah lelaki ke lima dari empat perempuan dan dua lelaki. Ibunya sudah berusia senja saat membawa mereka semua ke dunia. Sehingga dia cukup lemah membesarkan mereka dan lebih sering merebahkan dirinya. Uban hampir memenuhi seluruh rambutnya.

    Kondisi ibu sangat berbeda dengan ayah Monza yang gagah perkasa. Usia mereka memang bertaut cukup jauh. Monza dan saudaranya jarang melihat kehadiran ayah di samping mereka. Ayah sering pergi dengan pemilik rumah dan biasa akan menetap selama beberapa bulan sebelum kembali. Saat kembalipun ayah jarang tinggal bersama mereka karena ayah memiliki tempat sendiri di rumah itu.

    Siang itu, udara cerah menyelimuti kota Malang, pemilik rumah tempat Monza tinggal kedatangan adik dari ibu pemilik rumah. Adiknya bernama Santi, sedangkan Ibu pemilik rumah bernama Tyas. Anita datang bersama dua anaknya, Aji, empat belas tahun, dan Ambar, dua belas tahun. Monza baru berumur hampir tiga bulan dan masih berjalan merangkak dengan mata setengah tertutup.

    Tawa dan canda anak pemilik rumah dan sepupu mereka terdengar renyah di telinga. Mereka memang sangat dekat satu sama lain. “Aji, Ambar, yuk kita main petak umpet,” suara Jayanti, anak sulung pemilik rumah, mengajak sepupu-sepupunya. Tidak lama dari itu terdengar suara menghitung dari Gita, adik Jayanti. Monza hanya bisa mendengar dari kejauhan.

    Tak lama Monza mendengar langkah kaki Tyas, pemilik rumah dan dia bercerita pada Santi, “Ini Santi yang aku bilang. Silakan kamu bawa, kasihan ibunya sudah tua.”

    Tyas membawa Santi melihat Monza yang berbaring di sisi ibunya. Monza menempelkan badannya semakin erat ke ibunya karena merasa ada yang asing di sekitarnya. Sesuatu yang baru dan tidak dia kenal.

    “Aji, Ambar, kalian mau teman baru?” teriakan Santi mengundang mereka berdua melihat Monza. Terdengar langkah lari kecil dari Ambar dan Aji mendekati tempat Monza. Ambar jongkok di muka Monza serta langsung menggendongnya dan membawanya ke teras depan.

    “Lucu sekali, Bunda. Aku mau dia untuk teman,” serunya dengan gembira sambil tetap menggendong dan membelai Monza dengan lembut. Belaian Ambar yang membuat Monza akhirnya terlelap di atas pangkuannya.

    ***

    Sore itu, Monza terbangun dalam suasana yang sangat berbeda. Dia tidak mencium bau ibunya, tidak mendengar suara saudara-saudaranya, Dia berada di tempat yang sangat asing. Monza meringkuk ketakutan, “Dimana aku? Mengapa semua berbeda?

    “Jangan takut Monza. Kamu sekarang tinggal bersama kami,” Monza mendengar suara Aji yang beberapa saat lalu dia dengar di tempat yang berbeda. Monza merangkak berusaha melarikan diri tetapi dia masih terlalu lambat untuk berlari. Ambar menangkapnya dan menenangkan Monza.

    Monza mencium aroma susu di tangan Ambar. Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Ambar menggendongnya dan memberikan susu itu. Kosongnya perut dan lapar yang sudah mendera membuat Monza lupa akan ketakutan yang dialaminya. Dia menikmati susu yang disiapkan Ambar. Susu yang berbeda rasa dengan susu ibunya tetapi tidak dia pikirkan karena lapar sudah mendera. Monza terlelap kekenyangan.

    Ternyata Aji dan Ambar adalah teman-teman yang sangat menyenangkan. Mereka benar-benar menganggap Monza sahabat mereka. Dia tidak pernah mengalami siksaan. Ambar selalu rajin memberi dia makan. Sementara Aji sering mengajak dia berlari-lari bersama dengan riang. Suasana yang membuat Monza lupa akan keluarganya. Kondisi yang mereka ciptakan membuat dia cepat merasa nyaman dan tidak merasa asing.

    “Monza,” jerit Aji yang membuat Monza langsung bangun dan mencari suaranya. Dia melihat Aji berlari dan tentu saja mengundangnya untuk mengejar Aji. Tetapi Aji terlalu gesit dan cepat berbelok saat lemari buku berada di depan badannya. Semenara Monza, kakinya terlalu licin sehingga badannya menabrak lemari dan suaranya terdengar menggelegar. Aji dan Ambar tertawa terpingkal-pingkal melihatnya menabrak lemari.

    “Makanya jangan terlalu bersemangat,” suara Ambar di sela-sela tawanya. Monza berhenti sejenak menghilangkan rasa sakit di badannya lalu berjalan pelan menuju mereka untuk menerima pelukan mereka.

    Di saat berbeda, Monza mendengar Aji dan Ambar memanggil dia tetapi dia tidak menemukan mereka. Monza berputar-putar keliling rumah mencarinya. Berulang-ulang dia mendengar mereka menyerukan namanya. Berakhir dia menemukan Aji menyembunyikan badannya di belakang pintu kamarnya dan Ambar merebahkan diri di kolong tempat tidurnya.

    Ooh, ternyata ini yang namanya main petak umpet,” pikir Monza sambil memeluk mereka berdua karena dia takut kehilangan mereka lagi.

    Suasana rumah menjadi sepi di saat Aji dan Ambar harus pergi ke sekolah. Monza tidak menikmati suasana itu karena tidak ada yang mengajak dia bermain. Namun, kupingnya akan terangkat tinggi ketika dia mendengar mobil yang dikendarai Pak Yitno, supir keluarga, berhenti di depan rumah. Dia langsung berlari ke depan pintu menanti mereka.

    “Hallo Monza! Kamu apa kabar? Kangen sama kami?” suara Ambar, yang memang ceriwis, memeluknya. Aji biasa hanya mengelus kepalanya dan langsung menuju meja makan menikmati menu siangnya. Monza sangat gembira dalam pelukan Ambar. Meliukkan badan, dia menikmati lingkaran tangan Ambar.

    Kedekatan Monza dengan Ambar pada akhirnya lebih dibandingkan dengan Aji. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Ambar. Sebagai anak lelaki, Aji lebih sering bermain di luar dengan temannya. Aji sangat menyukai olah raga. Semua bisa melihat itu dari badannya yang kekar dan tinggi, serta kulitnya yang legam terbakar sinar matahari. Aji dan Monza biasa bercanda di malam hari, sesudah makan malam, sebelum Aji masuk ke kamarnya untuk belajar.

    Semantara Ambar, lebih suka mengurung diri di kamarnya. Dia sangat suka baca buku, terutama buku detektif karya Agatha Christie. Monza selalu bersama dengan Ambar saat dia menghabiskan waktu rebahan di tempat tidur dan melahap buku-buku Agatha Christie. Tidak jarang Ambar terlelap dan Monza ikut menikmati tidur siang di belakang punggung Ambar.

    Saat Ambar sudah menyelesaikan semua bukunya, dia menghabis waktu bercerita mengenai kegiatannya dengan Monza. “Aku sebel dengan Maya. Dia tuh mentang-mentang anak orang kaya, selalu melecehkan orang yang kekurangan,” salah satu cerita Ambar. Monza biasa duduk disampingnya, mengangkat telinganya, memandang mukanya dan berusaha ikut merasakan apa yang ada dalam hidupnya.

    Atau di saat berbeda, Ambar bercerita tentang kecintaannya pada salah satu pemain basket di sekolahnya. “Sagala itu ganteng bangeeet… Aku suka kalau lihat dia main basket. Tidak ada yang mengalahkan. Sekolah kita selalu jadi juara,” kicaunya di sore hari setelah menyaksikan lomba antar Sekolah Menengah Pertama se-Jawa Timur.

    Sejalan dengan bertambahnya umur Aji dan Ambar, kesibukan mereka berdua semakin banyak. Bahkan Aji sekarang melanjutkan kuliahnya di Jerman karena beasiswa yang didapatkanya. Monza kekurangan satu sahabat di rumah. Ambar memang masih bersama dengan dia tetapi kesibukannya di sekolah membuat kadang dia pulang sampai larut malam. Monza sering merasa kesepian tetapi semua itu akan hilang kalau dia melihat Ambar bangun pagi dan menyapanya, “Hallo, selamat pagi Monza.”

    Satu saat, Aji kembali ke Malang setelah dua tahun mengejar ilmu di Jerman. Monza sedang merebahkan diri di ruang keluarga. Dia melihat kehadiran Aji di ruang depan dan memandang senyum serta mendengarkan dengan seksama suara yang keluar dari mulut Aji.

    “Monza lupa ya sama aku,” dia memeluk Monza dan Monza mencium bau yang sangat dia kenal. Bau yang sudah lama menghilang dari sekitarnya.

    Monza terpana dan berpikir, “Siapa ya dia, sepertinya aku kenal muka dan suara itu.

    Oh, ternyata Aji!” wajah Monza berubah dan dia meloncat ke pelukan Aji. Dua tahun bukanlah waktu yang pendek sehingga melihat kehadirannya di rumah membuatnya melayang tinggi. Aji tertawa keras saat Monza akhirnya menyadari siapa dia. Aji memeluk dan mengelus-elus kepalanya dan Monza melihat dia dengan bahagia.

    Hari-hari berikutnya Monza menghabiskan waktu bersama Aji. Dia sedang liburan semester sehingga lebih banyak di rumah atau kalaupun keluar hanya sebentar menemui teman lamanya. Kembali mereka menghabiskan waktu berlari keliling rumah. Tetapi kali ini Monza tidak lagi menabrak lemari karena dia sudah tahu taktik Aji. Ambar seperti biasa sibuk dengan urusan sekolah dan tiba di rumah menjelang matahari masuk ke dalam peraduan.

    Satu bulan berlalu dan Aji harus kembali ke Jerman untuk melanjutkan kuliahnya. Monza kembali di rumah sendiri menunggu Ambar kembali. Dia tidak menyukai suasana sepi seperti itu. Dia sangat merindukan berlarian atau bermain petak umpet dengan mereka berdua. Kadang Monza berpikir, “Seandainya mereka tidak bertambah besar.

    ***

    Lewat dari sepuluh tahun Monza sudah menghabiskan waktu bersama Aji dan Ambar. Empat tahun terakhir, saat Aji penuh dengan sibuk dengan urusan kantor dan tugas lapangan, Monza kehilangan satu sahabat di dalam rumah. Tetapi itu membangun kedekatan yang lebih erat lagi dengan Ambar. Walaupun Ambar sibuk dengan segala kegiatan kampus, dia tetap menghabiskan waktu dengan Monza di saat dia bisa. Bercerita dan tidur siang bersama, bila memungkinkan, tetap menjadi kebiasaan mereka berdua.

    Pagi itu, Monza melihat Ambar mengangkat kopernya dan menyimpannya di dalam mobil. Bayangan kepergian Aji muncul di kepala Monza. Dia berpikir, “Kalau dulu Aji, sekarang Ambar akan meninggalkan aku.

    Ambar memeluk Monza sambil berkata dengan lirih, “Aku harus pindah sebentar ya Monza. Kegiatan akhir kuliah aku padat dan aku tidak bisa bolak-balik dari rumah. Terlalu lelah.” Ambar menyampaikan salam pamitnya kepada Monza.

    “Kamu jaga diri ya, sehat-sehat dan tunggu aku pulang” lanjutnya dengan muka sedih memandang kesenduan wajah Monza.

    Saat mobil Ambar meluncur, Monza memandang dengan sedih. Dia sudah tidak sekuat dulu lagi. Memang ada kepercayaan bahwa umur anjing berbeda tujuh tahun dengan manusia yang mengartikan umur Monza sekarang sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Dia adalah type anjing German Shepperd yang dikenal tidak berumur panjang.

    Sore itu, di kala Ambar baru saja menyelesaikan tugas akhir di Surabaya, telpon genggamnya berbunyi, “Mbar, Monza sudah tidak ada… Dia sedih terus sejak kamu pergi. Tadi malam dokter datang dan menyuntiknya” suara Ibu dari seberang. Ambar menangis membayangkan kesedihan yang dialami Monza karena kepergian Aji dan dia.

    ***

    Ikuti tulisan menarik Regina Nikijuluw lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.



    Oleh: Merta Merdeka

    13 jam lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 83 kali