x

Iklan

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 24 November 2021 06:06 WIB

Pidato

Bagaimana jika saat Anda harus berpidato dan mendadak timbul ketakutan semacam fobia sosial menghadapi khalayak ramai?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Baiklah, santai saja.

Meskipun tubuhku memang terasa rileks. Hanya berada di depan orang-orang ini, sungguh mengintimidasi.

Menakutkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Seharusnya aku membayangkan mereka telanjang, tetapi itu akan lebih menakutkan. Sebaliknya aku hanya memilih satu orang di barisan depan. Lampu ada di wajahku. Maksudku, langsung menyorot ke mukaku, jadi aku tidak bisa melihat dengan baik karena silau, tapi aku bisa melihat pria di barisan depan itu.

Jadi aku  hanya akan fokus padanya.

Akan lebih mudah lagi kalau dia fokus padaku, tapi dia tidak fokus padaku. Dia bahkan terlihat seperti sedang tidur.

Dia seorang lelaki tua. terlihat umurnya delapan luluhan. Mungkin semblan puluh. Tipe orang yang datang ke acara ini. Manula.

Meski dari sudut mataku aku bisa melihat perempuan dan anak-anak, tapi aku terjebak pada orang tua ini. Cara dia yang hanya duduk membungkuk di sana. Tidak tertarik.

Aku ingin berteriak, "Apakah Anda tahu siapa saya?"

Aku orang penting. Itulah sebabnya semua orang ada di sini, berkumpul, dan aku berada di atas panggung. Tidak ada orang lain di panggung ini, hanya aku. Jadi dengarkan aku!

Tapi dia tidak mendengarkanku. Aku bisa tahu dari postur tubuhnya. Dia hanya duduk di sana. Dan ini membuatku marah. Jika kamu akan datang ke suatu acara, kamu harus duduk tegak, mendengarkan, dengan buku catatan, terutama untuk apa yang akan aku katakan. Setiap kata sangat, sangat, sangat penting, untuk semua orang di ruangan ini. Sangat penting. Dan aku ingin memulai, tetapi dia ada di sana, tidak melihatku. Tidur? Siapa yang akan tertidur sebelum pembicara utama berbicara? Itu adalah ... kurang ajar. Jahat.

Jadi sekarang aku benar-benar fokus padanya dan tiba-tiba saja perutku mulas, seperti mendadak saja aku mengidap fobia berada di depan banyak orang—dan ada banyak orang di sini.

Ini adalah auditorium besar. Maksudku, tidak sebesar yang kuinginkan, tapi cukup, kok. Terutama buatku yang belum melakukan banyak hal dalam hidup mereka, kecuali merencanakan ini.

Aku bekerja keras untuk acara ini. Jauh lebih banyak dari yang kalian kira, jadi ketika satu orang yang bisa kulihat dengan sangat jelas meski mataku silau oleh lampu sorot, tertidur di barisan depan, rahangku bagai ditinju Mike Tyson. Dan sekarang aku tidak bisa fokus sama sekali. Hanya padanya. Dan aku menatapnya. Dan hadirin menunggu. Dan mataku tidak pernah berpindah darinya sekali pun.

Bahkan, sejak detik pertama berdiri di sini, aku langsung melongo menatap ke arahnya, yang mungkin membuat beberapa hadirin khawatir. Tapi apakah mereka harus memperhatikan ini juga? Ada yang tidak beres. Dari cara orang duduk tertidur ada kenyamanan di sana. Tapi dia tidak duduk seperti itu. Dia duduk seperti ... dia duduk seperti dia sudah mati. Tapi itu tidak mungkin.

Kamu tidak mungkin duduk mati di barisan depan tanpa ada yang memperhatikan. Meskipun aku memperhatikan. Tidak ada yang duduk di sekelilingnya. Kursi di kiri dan kanannya kosong, jadi aku kira dia tidak memiliki keluarga, tidak ada teman. Jadi tidak ada orang yang khawatir yang akan mengguncangnya dan berkata, "Kakek, kamu baik-baik saja?"

Dan kemudian aku menyadarinya. Pasti pria di barisan depan auditorium itu sudah mati. Jadi apa yang harus dilakukan? Siapa yang harus kuberi tahu? Dan lebih buruk lagi, apakah mereka akan membatalkan acara?

Aku telah bekerja sangat keras untuk sampai ke sini, untuk sampai ke titik ini. Jadi aku mempertimbangkan untuk memulai saja pidatoku. Tapi bagaimana aku bisa berbicara dengan mayat di barisan depan? Mayat itu hanya duduk di sana, membusuk. Inilah yang menjadi penyebab demam panggungku yang mendadak. Karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi. Bayi akan menangis, jadi aku tak akan memberitahu kepada ... tetapi ini—ini—membingungkan. Aku sungguh beruntung. Sungguh beruntung bisa berdiri di sini.

Kehidupan seperti apa yang harus kamu jalani untuk mendapatkan satu kesempatan ini, untuk berada di depan banyak orang dan hancur karena satu mayat? Dan kini terlalu lama aku menatap seperti ini, dan aku khawatir orang-orang tidak khawatir, karena tidak ada yang bereaksi.

Apakah kalian tidak melihat ada mayat di baris terdepan? Dan kemudian ... kemudian aku sadar. Horor. Seperti terbangun dari tridur panjang untung mengucapkan satu kata itu. Kiamat. Betapa mengerikannya kata "horor".

Aku tak ingin mengalihkan pandangan dari pria tua itu, tetapi perempuan di belakangnya, di barisan tepat di belakangnya, cara dia duduk. Dia pasti sedang tidur? Tapi dia tidak .... Ada perbedaan. Perempuan di belakangnya seperti ... mati.

Apakah itu suara tertawa? Di luar jendela yang terbuka? Tertawa di saat seperti ini? Siapa pun yang berada di luar, di kejauhan, dia tidak melongok ke dalam, tidak tahu apa yang terjadi di dalam gedung. Ada dua orang mati di barisan depan. Atau itu suara tangisan?

Tidak penting. Pertanyaan adalah mengapa. Bertanya-tanya, apakah Tuhan kejam terhadap—ke—hei, ada bayi di gendongan perempuan itu. Dan bayinya. Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihat. Aku tidak ingin Aku tidak akan melihat.

Tapi memang—aku menatap lelaki itu, lelaki tua yang sudah mati. Tapi aku bisa melihat di belakangnya, wanita itu mati, dan bayinya, mati. Dan ... apakah di luar hujan? Kata itu.

Aku berpikir tentang “teror penguasa." Pemerintahan Teror. Revolusi. Kepala-kepala dipenggal, menggelinding. Aku menyukai sejarah.

Dalam Pelajaran Bahasa Indonesia, kita membaca cerita yang paling membosankan. Cerita yang disetujui oleh orang-orang tua yang menganggapnya aman untuk dibaca murid-muris. Tapi dalam pelajaran Sejarah, kamu mencium darah. Penguasa bersenang-senang dalam kubangan darah. Semua momen sejarah penting dibanjiri darah.

Aku akan memberitahu hadirin semua ini, tapi ... Aku akhirnya mengerti bahwa ... aku menyadari ... itu. Seluruh auditorium, seluruh auditorium dipenuhi dengan mayat. Bahwa semua yang ada di sini sudah mati. Setiap orang di auditorium adalah—Apa itu? Siapa di sana? Siapa yang mengerang? Apakah seseorang mengerang? "Apa itu?" membuat aku berpikir "Apa ini?"

"Apa ini? Apa ini?" mirip sebuah mimpi buruk dalam film horor hitam putih. "Siapa di sana?" membuat aku berpikir tentang serial komedi Lenong. Bokir muncul di film Suzanna. Kuntilanak. Film kita, komedi kita, sejarah kita. Darah. Dan aku bisa melihat darahnya sekarang. Lelaki tua di barisan depan. Darahnya bercampur dengan darah perempuan di belakangnya. Bayi. Lantai basah dengan darah. Tapi dari siapa? Dari apa? Dan kenapa aku baik-baik saja?

Karena aku membunuh mereka.

Aku ingat sekarang. "Aku ingat sekarang." Film tentang pembunuh berantai. Kejahatan pikiran. "Aku ingat sekarang. Aku ingat bagaimana itu dimulai. Aku tidak ingat kemarin. Aku hanya ingat melakukan apa yang mereka katakan kepadaku, katakan kepadaku, katakan kepadaku, katakan kepadaku.”

Aku membunuh semua orang di ruangan ini. Aku tidak ingat bagaimana caranya. Bagaimana aku melakukannya? Dengan racun? Tidak, darah. Racun tidak menyebabkan banjir darah. Senjata tajam? Senapan otomatis? Mengapa aku tidak ingat? Amnesia.Aku ingat berjalan masuk, melihat semua orang ini. Dan—dan terburu-buru.

Apakah aku agen dinas rahasia? Alangkah Indahnya jika aku agen rahasia dan membunuh semua orang ini. Keindahan yang murni.

Atau apakah salah seorang anggota sekte agama terlarang? Itu juga merupakan keindahan. Membunuh untuk Tuhan. Aku memikirkan tentang ironi di sini. Menjadi agen dinas rahasia dan membunuh semua orang ini dengan senapan otomatis. Sempurna. Untuk mencintai Tuhan dan kemudian membunuh orang pada saat yang sama. Sangat indah. Kegilaan adalah sesuatu yang kita sempurnakan.

Begitulah dunia. Mungkin memang begitulah manusia. Tapi siapa aku? Untuk apa aku di sini? Ya, aku ingat. Aku masuk dengan niat membunuh semua orang ini dan kemudian naik ke atas panggung. Dan aku telah melakukannya.

Aku telah melakukan semua itu. Begitu sempurna. Tapi ada kejadian yang tak terduga. Di luar perhitungan. Seorang lelaki di antara hadirin mengeluarkan pistol. Dan dia mulai menembak dan pelurunya yang menyasarku luput satu senti saja. Dan dia menembak beberapa orang yang tidak bersalah karena kekeliruannya. Dan kemudian aku menembaknya. Dia balas menembak. Jadi semuanya baik-baik saja. Peluru untuk semua orang.

Aku berharap mereka semua memiliki pistol. Aku berharap mereka semua mempunyai racun. Dunia. Tapi aku melakukannya dengan sangat baik. Aku membunuh setiap orang dari jarak dekat. Tak perlu bersusah payah melewati barisan hadirin. Dan tentu saja kalau kita bisa memiliki senapan otomatis di mengeri ini. Terima kasih, dinas rahasia. Terima kasih untuk itu, Tuhan.

Dan kemudian aku sampai di atas panggung. Seharusnya aku menyampaikan pidato. Tapi aku tidak bisa. Apa itu? Apa perasaan itu? Aku—aku—aku tidak punya rahang. Aku tidak punya mulut. Aku seharusnya menyampaikan pidato, tetapi di luar dugaan, demam panggung.

Aku naik ke atas panggung dan memasukkan laras pistol ke mulutku. Selalu mulut. Mulut. Untuk pembunuh massal, apakah dengan racun atau senjata, selalu masuk ke mulut.

Aku kenal seorang dokter yang mengatakan bahwa penyakit kelamin, kiat selalu berpikir itu adanya di selangkangan. Tetapi kasus yang dia lihat hari demi hari, dia melihatnya ada di mulut. Lidah, bibir, gusi yang terinfeksi oleh penyakit kelamin.

Dulu kita tidak pernah khawatir tidak bisa berhubungan intim. Sekarang, kita bahkan tidak bisa berciuman tanpa tertular. Ini adalah hari-hari pengasingan. Mulut menjadi musuh.

Mulut. Dari situlah begitu banyak kejahatan berasal. Dan masuk ke ... Aku ingat sekarang. Aku memasukkan pistol ke mulutku dan menarik pelatuknya dan—dan—dan aku melakukannya sebelum berpidato.

Aku lupa bahwa aku seharusnya memberikan pidato saat mereka semua sekarat sehingga mereka mendengar pidtoku, tapi aku sudah mati bunuh diri dan sekarang—sekarang aku harus memberikan pidato.

Apa aku juga mati? Sekarat? Tidak ada rasa sakit. Apakah itu kejutan?

Pidato. Bagaimana cara memberikan pidato tanpa rahang? Aku tidak bisa berpikir jernih karena demam panggung. Aku tidak bisa berpikir jernih dengan ... sirene meraung. Orang-orang dengan senapan otomatis menyerbu masuk. Dan kita semua berkumpul di sini untuk menyaksikan pernikahan ... pada saat ini.

Dan aku punya banyak hal untuk dikatakan. Mungkin mereka bisa mendengarku, setelah mereka mati, sekarat. Mungkin pikiranku hampir—sehingga—aku bisa—mungkin akan menjadi kata-kata untuk mereka.

Tapi aku tidak ingat pidatonya. Apa pidatonya? Apakah tentang bagaimana aku ingin memastikan bahwa semua orang akan takut pada massa khalayak yang banyak? Bahwa aku ingin berpartisipasi untuk itu, bahwa aku telah menghabiskan hidupku sendirian dan aku ingin semua orang di sini, di kota ini, di negara ini, mulai sekarang untuk menyadari setiap kali mereka pergi keluar untuk berkumpul dengan orang lain bahwa mereka bisa mati? Apakah itu yang akan aku katakan?

Apa yang akan kukatakan kepada mereka? Bahwa bioskop, sekolah, dan auditorium mereka semuanya dirancang untuk para pembunuh berantai di luar sana, menunggu dengan sabar?

Atau apakah aku sudah memberi tahu mereka tentang ini? Apakah ini kedua kalinya aku mengatakannya? Ketiga? Kesembilan puluh empat? Aku ingat sekarang. Bagaimana itu dimulai. Aku ingat . . . Aku ingat pidatonya. Ini berjalan seperti—

***

Baiklah, santai saja. Meskipun tubuhku memang terasa rileks. Hanya berada di depan orang-orang ini, sungguh mengintimidasi. Menakutkan. Seharusnya aku membayangkan mereka telanjang, tetapi itu akan lebih menakutkan. Sebaliknya aku hanya memilih satu orang di barisan depan. Lampu ada di wajahku. Maksudku, langsung menyorot ke mukaku, jadi aku tidak bisa melihat dengan baik karena silau, tapi aku bisa melihat pria di barisan depan itu....

Bandung, 22 November 2021

Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler