Kehampaan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi blunder atau kesalahan. Steve Buissinne dari Pixabay.com

Indra Kurniawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Jumat, 26 November 2021 08:27 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kehampaan

    cerita aku seorang lelaki yang sudah muak akan hidup di dunia dan berjuang untuk menemukan arti hidup

    Dibaca : 235 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saat ini aku memulai hariku yang dapat aku utarakan kurang menyenangkan. Disamping aku sibuk membantu ekonomi keluargaku, aku mencoba untuk menjadi apa yang telah ku impikan sejak kecil. Apakah aku salah untuk mengikuti impian kecil ku untuk menjadi seorang yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat di dunia ini? Apakah nanti aku akan bisa melepaskan masa – masa tua ku dengan hanya duduk dan mendengarkan cerita – cerita teman sebayaku yang selalu saja menceritakan masa lalu sewaktu sekolah dahulu secara berulang – ulang. Inilah ceritaku yang setiap harinya mendengarkan orang – orang disekitarku yang selalu berusaha kucoba untuk ku senangi.

    Aku seorang yang hanya bisa mengeluh tanpa memperjuangkan hak-hak yang seharusnya kumiliki. Aku pessimistic dan memiliki ego yang tinggi. Sangat egois dan juga sangat-sangat idelis dalam menentukan jalur hidupku. Aku tidak memiliki banyak kelebihan hanya menjadi seorang yang merasa terbebani oleh banyaknya liku kehidupan yang membuatku sangat frustasi dan tidak dapat mengembangkan diriku. Akhir-akhir ini aku selalu berpikir bahwa hidupku tidaklah seindah seperti dongeng-dongeng kerajaan. Dimana aku ingin memiliki tahta yang tinggi sehingga aku mampu memberikan apapun yang ingin kuberikan kepada orang – orang sekitarku. Keluargaku ingin aku sadar bahwa di dunia ini butuh perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan harus selalu mencari jalan bagaimana kita dapat menggapai itu semua hanya dalam hitungan waktu berdetak yang tidak diketahui kapan akan berhenti begitu saja dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Aku bingung apa yang harus kulakukan untuk bisa lepas dari masalah – masalah yang menghantuiku ini. Kuceritakan secara perlahan mengapa aku bisa menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.

    Aku hidup dipenuhi dengan penderitaan dan jeritan yang tidak dapat tertahankan. Dimulai dari kecil, aku belajar mengenai kehidupan yang kurang menyenangkan ini. Kedua orang tua yang kumiliki tidak mempunyai uang yang sangat banyak untuk dapat memberiku Pendidikan terbaik. Kedua orang tua yang telah membesarkanku hanya berusaha bagaimana aku dapat tumbuh dan berkembang layaknya anak – anak seusiaku tumbuh. Hanya saja sejak kecil aku mengerti bahwa aku tidak dapat berbuat seperti anak – anak yang bermain bersamaku. Dimana mereka selalu dijemput pada saat pulang sekolah dengan salah satu orang tua yang selalu menunggu mereka di luar pagar bermain sekolah yang menjadi pembatas dimana seseorang akan diajarkan menjadi “manusia berbudi pekerti” yang mengerti akan semua sifat dan perilaku manusia dalam menentukan jalan hidup masing – masing. Aku selalu melihat teman – temanku setelah bermain meninggalkanku seorang diri di sekolah. Ya, itu sudah pasti terjadi dikarenakan kedua orang tuaku tidak punya waktu untuk dapat menjemputku di sekolah dan sibuk dengan urusan kerja masing – masing. Aku selalu merasa kesepian setiap melewati jalan pulang dari sekolah. Aku selalu melihat jam tangan yang kugunakan dimulai dari aku menginjakkan kaki ke dalam sekolah hingga aku melewati batas pagar sekolah untuk Kembali kerumahku yang tenang dan menjadi tempatku bersembunyi dari kehidupan dunia.

    Setiap harinya kumenatap langit yang biru, awan yang berjalan dengan pelan, kicauan burung seakan ingin menyanyikan lagu dan menunjukkan bahwa ini bukanlah akhir hidup yang datang menimpaku. Ku berjalan setiap harinya hingga pada waktunya dimana aku selesai sekolah. Romance? Cerita cinta yang indah semasa sekolah? Cinta monyet? Aku tidak memiliki waktu untuk mengurus hal – hal rumit tersebut yang tidak perlu kuperdulikan semasa ku sekolah. Teman – teman ku mengenalku sebagai orang yang tidak akan berhenti hingga mencapai tujuan yang ingin kucapai. Beberapa diantara teman – temanku menyarankanku untuk setidaknya memberikan diriku kesempatan untuk mencoba dalam romansa romansa kemesraan anak muda yang setidaknya memberikanku kebahagiaan dan arti hidup. Kubertanya kepada dirinya mengapa aku perlu berhadapan dengan yang namanya romansa tersebut dan tidak memperdulikan hidupku akan jadi apa aku kedepannya nanti. Hah, sungguh bodohnya diriku yang tidak mendengarkan perkataan kawanku hingga aku menjadi lebih buruk dibandingan teman – teman ku lainnya. Setelah aku menyelesaikan nuansa sekolah dengan hiruk pikuk keadaan dunia yang boleh kubilang sangat menyenangkan dan sangat membanggakan untuk diriku akhirnya selesai sudah, memasuki tahap baru yaitu perkuliahan yang sangat menghambat perkembangan diriku dimana awal mula aku berpikiran seperti itu.

    Mulailah aku di dunia perkuliahan yang sangat membuatku tidak tenang dan tidak memiliki kainginan apapun dalam mengejar jalan yang kutempuh. Kupikir dengan aku kuliah aku sudah dapat memberikan apa yang orang tuaku inginkan, ternyata kenyataan sangatlah pahit dan menusuk dadaku hingga aku susah sekali ingin mencoba bernapas. Apa yang sebenarnya terjadi dengan keadaan di luar sana yang kupikir akan sangat membantu bila terjadi hal – hal yang tidak diinginkan akan terjadi. Akhirnya mulailah diriku mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa semua yang kuinginkan tidak dapat terlaksana sesuai denga napa yang telah kulakukan selama ku sekolah, mengapa keadaan berubah sangat cepat dan pergi begitu saja meninggalkan diriku yang baru memulai hidup ini. Aku tidak menyangka akan bertemu seseorang yang akan menjadi “musuh” yang dapat menghancurkan diriku berkeping – keping seperti seseorang yang tidak memiliki wadah pada saat air jatuh dengan sangat cepat. Inikah dosa – dosa yang ku lakukan akhirnya terbalaskan dengan keringat yang seharusnya tidak perlu kukeluarkan dari tubuhku ini. Andai saja orang itu tidak masuk dalam kehidupanku mungkin aku tidak akan seperti sekarang ini. Kejadian dimulai pada saat semester 4 dimana sesuatu yang belum kurasakan akhirnya muncul juga di jenjang perkuliahan yaitu cinta. Ya, cinta yang dulunya kutinggalkan pada akhirnya kumiliki dimana pada akhirnya ku jatuh cinta dengan seseorang yang sudah kukenal semenjak aku memulai perkuliahan ini. Pada dasarnya dialah yang mengubah cara pandangku terhadap dunia. Dimana dunia tidak terlihat indah, semakin lama Bersama dirinya seperti ada yang membukakan pintu bahwa dunia ini tidaklah seburuk dan sejahat yang selama ini kupikirkan dan kulihat. Ternyata masih ada bunga yang tumbuh diantara kehampaan tanah. Selama Bersama dia aku mungkin bisa bertahan lebih lama dengan dunia yang fana ini. Hingga pada suatu saat munculah seseorang ini yang berhasil membuatku Kembali terpendam dalam diriku yang sebelumnya. Dia menginginkan bahwa aku tidak pantas untuk menerima kebaikan seseorang yang kukasihi tersebut. Sehingga pada akhirnya aku melepaskan dirinya untuk tujuanku tersebut dan mengubur semua yang telah kulihat saat Bersama dirinya.

    Setelah menyelesaikan perkuliahanku akhirnya sampai juga pada realita kehidupan yang sebenarnya. Setelah aku graduate, aku datang untuk memeriksa apa yang harusnya kulakukan. Dimulai dari mencari pekerjaan hingga pada akhirnya orang tuaku menyuruhku untuk Kembali pulang bila tidak mendapatkan sumber pencaharian di ibukota. Hari demi hari, bulan demi bulan, waktu berasa bergerak sangat lambat. Disamping ku hanya duduk menonton berita acara dan menjalankan usaha online yang kubuka sendiri bilamana aku tidak ingin untuk Kembali pulang sehingga bagaimana caranya aku harus tetap bertahan dan melanjutkan hidupku di ibukota ini. Ku merasa seperti sesak sekali, dimana mana orang mulai berjalan seperti mesin kendaraan yang setiap harinya harus bergerak cepat mengejar ketertinggalan kehidupan seakan akan bahwa hidup hanya seperti lingkaran yang akan selalu berputar pada porosnya hingga pada waktunya habis dan berhenti seketika. Melihat kenyataan tersebut aku mulai tidak dapat menerima kenyataan pahit ini. Disela – sela aku mencari tempat untuk aku dapat bertahan tapi semua mulai kuragukan. Apakah ini yang kuinginkan? Apakah hal ini yang seharusnya ku raih? Apakah ini yang akan terjadi kepada diriku diwaktu nanti aku mulai tua dan tidak dapat menikmati apapun yang seharusnya kunikmati sebelum pada akhirnya aku tertidur dan tidak dapat bangkit Kembali. Pikiran – pikiran itu mulai menghantuiku secara perlahan dimana aku mulai tidak dapat focus berjualan dan ingin segera Kembali pulang. Dan benar saja pada akhirnya aku tidak kuat dan Kembali pulang ke kampung halamanku bertemu dengan kedua orang tuaku.

    Kampung halaman yang selama ini kutempati tidak dapat memberik kenyaman dan semakin lama aku menunggu di rumah membuat kepalaku sakit dan tidak tahan akan keadaan seperti ini. Aku mulai bekerja melanjutkan apa yang telah orang tuaku kerjakan, aku menunggu hingga momentum muncul dan tidak berhenti mencari peluang yang ada. Hingga suatu saat “musuh” yang terdahulu melihatku dan berhenti sebentar untuk mengajakku berbicara. Aku berbicara dengannya selama mungkin hingga pada akhirnya dia memanggilku Kembali untuk datang ke ibukota untuk menemuinya. Aku sempat ragu bagaimana jika dia hanya ingin menghancurkan hidupku seperti pada saat perkuliahan terdahulu yang mengubah cara pandangku menjadi Kembali seperti saat aku bersekolah. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana caranya aku bisa lebih meyakinkan diriku bahwa ini adalah yang terbaik bagiku. Selama ini aku hanya berpasrah dan menyerah terhadap keadaan di sekitarku sehingga aku ingin memperbaiki keadaan bagaimanapun caranya. Aku pergi mengikuti dirinya yang sudah lebih dulu Kembali ke ibukota, dan hingga pada saat aku sampai di ibukota aku menemuinya dan dia pun mempersilakan ku masuk kedalam istananya yang sangat indah hingga mengecilkan diriku bahwa ia memang sudah mendapatkan apa yang diinginkannya selama ini. Aku pun menanyakan pertanyaan kepada dirinya apa yang ingin dirinya lakukan terhadapku, ia pun memberitahu bahwa semua ini bisa kudapatkan bila aku mengikutinya, lebih tepatnya aku bekerja kepadanya. Mungkin kepalaku masih sakit memikirkan perihal yang tidak dapat kumengerti hingga pada akhirnya akupun mengiyakan dirinya dan berkerja dengannya. Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku apakah hal ini akan merubah nasib yang selama ini aku tolak akan terjadi, kenapa di saat seperti ini barulah muncul masalah yang sebenarnya sudah tidak ingin terlibat dikarenakan masa lalu yang ingin kuhapuskan dari ingatanku. Apa yang akan terjadi bila aku ikut dengannya? Dan pada akhirnya aku menyerahkan diri dan berpasrah pada kejamnya dunia seperti menyayat seekor sapi yang siap disantap oleh orang – orang yang sedang kelaparan.

    Semua yang kupikirkan benar ternyata salah dan akupun terjatuh di ruang lingkup yang benar – benar menyusahkan diriku sendiri hingga aku ingin lari saja menggunakan jalan pintas dimana aku merasa sangat tertekan dengan kehidupanku ini dan harus ku akui bahwa ia memanglah hanya ingin menyadarkanku kepada diriku yang dulu itu. Dia selalu bercerita bahwa aku mirip dengan seseorang tokoh yang dibaca oleh dirinya. Dimana tokoh tersebut terlihat sangat tidak peduli terhadap dunia dan melihat sisi dunia sebagai sesuatu yang menurutnya menyesakkan dan tidak dapat diubah dengan cara halus. Menurutku yang hanya mendengarkan bagaimana bisa tokoh ini mirip dengan diriku yang kuperdulikan hanya aku mencapai tujuanku dengan apa yang akan kuperbuat. Aku mulai bekerja dengannya hingga waktu terasa sangat cepat, bertahun tahun aku merasa tidak mendapatkan apapun yang kuinginkan, setelah bekerja aku hanya merenung apakah ini memang pilihan yang tepat? Aku tidak ingin menepis diriku yang mengetahui kebenarannya, bahwa orang itu “mengurung” ku di dalam pekerjaan ini sehingga aku bisa menjadi tokoh sesuai dengan yang diinginkan dirinya seperti yang telah dibaca di buku yang ia baca. Pada akhirnya aku berbicara dengannya bahwa aku ingin kembali ke rumah orang tuaku dan melanjutkan hidupku disana. Mendengar hal itu ia sangat tidak menyukai apa yang telah ku utarakan dan berbicara denganku seolah ia sangat mengenalku dan mengetahui apa yang aku inginkan. Aku berbicara sangat lama dengan dirinya hingga pada akhirnya aku kembali mendengarkan rujukannya dan menunggu momentum yang tepat untuk dapat benar – benar berhenti dan kembali pulang. Hingga suatu saat terjadi dimana aku merasakan diriku yang lama secara perlahan kembali menghantuiku, dimana aku mulai muak terhadap dunia ini dan sudah sangat tidak tertahankan. Aku pun menemuinya dan menyatakan bahwa aku sudah cukup bermain dengan dia, ku ingin akhiri permainan ini dan memulai pernjanjian baru dengan diriku yang tidak mendapatkan apapun di dunia ini. Ia pun akhirnya menyerah dan membiarkanku untuk melanjutkan hidupku kembali hanya saja aku tidak bisa melupakan perkataannya pada saat aku menyatakan aku sudah tidak ingin, yaitu dia melihat diriku akan melalui neraka yang Panjang dan tidak berkesudahan, dimanapun aku berlabuh aku tidak dapat melihat dunia yang baik hanya melihat debu – debu berterbangan dan aku tidak akan bisa lepas dari penglihatanku mengenai kejahatan dunia yang sebenarnya. Akupun tidak berpikir panjang dan pada akhirnya keluar dari dunia yang kuimpikan tersebut.

    Setelah kembali, apa yang telah disampaikannya pun menjadi kenyataan yang cukup menyakitkan bagi diriku, sehingga aku berpikir bahwa aku tidak dapat keluar dari siklus yang membendungku ini, aku hanya kembali pada realita dunia fana tidak membawa perubahan sedikitpun untuk melalui tanjakan yang telah menungguku di dunia ini. Pada akhirnya aku tetap melihat kehampaan dimanapun aku berada dan melihat diriku sebagai seseorang yang tidak dapat keluar dari bendungan air tinggi yang siap membuatku tenggelam. Wadah selama ini yang kuisi dengan air akhirnya retak dan hanya menyisahkan sedikit air mengalir. Inikah akhir dari ceritaku? Inilah kehampaan yang telah kunanti? Apakah aku merasa benar atas segala perbuatan yang telah kulakukan di dunia ini? Sampai kapan ini akan terjadi? Pertanyaan – pertanyaan itupun melayang di kepalaku dan akupun kembali ke kehidupanku yang hampa ini.

    Ikuti tulisan menarik Indra Kurniawan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.