Yang Tak Terlihat - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Indra Kurniawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Senin, 17 Januari 2022 15:31 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Yang Tak Terlihat

    Lanjutan cerita Tak Terlihat pertualangan pertama Bandung hingga peneroran oleh tak terlihat ke kampung halaman aku

    Dibaca : 647 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “ Janganlah engkau takut, hadapilah dan tetap tegar “

     

    Kata – kata itu selalu teringat di kepalaku semenjak kejadian yang sangat menakutkan malam di penginapan yang berlokasi di Bandung tersebut. Banyak sekali kejadian mistis yang aku alami setelah pulang kembali ke rumah dengan selamat. Sepanjang jalan Asri pun hanyalah terdiam dan tidak mengucapkan sekatapun di dalam kendaraan yang kami tumpangi untuk pulang. Para laki – laki sepertinya sangat menikmati perjalanan liburan ini dengan melihat senyum dan tawa mereka setelah kembali pulang dari penginapan seram tersebut. Aku tidak habis pikir hal ini akan terjadi secepat itu, walaupun aku takut tetapi aku memahami apa yang dibicarakan wanita tersebut bahwa beliau adalah pelindungku. Setelah sampai pemberhentian di sekolah yang masih tertutup kami pun pada akhirnya bubar dan menunggu untuk masuk sekolah kembali. Karto dan Jihan mengucapkan salam perpisahan dengan kami bertiga, sedangkan aku, Asri, Dena dan Alilah kami mampir di sebuah kafe terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah masing–masing.

    Setiap perjalanan menjadi sangat tidak menyenangkan karena yang seharusnya tidak terlihat tetapi semakin dapat terlihat hanya beberapa saja yang seharusnya ada tidak kelihatan oleh diriku hanya Asri saja yang dapat melihat. Hubunganku dengan Asri menjadi lebih dekat dan Asri mengajarkanku bagaimana mengendalikan “kemampuan” ini untuk dapat aku matikan secara mandiri ataupun terbuka atas dasar keinginanku tidak secara langsung membuka atau menutup secara sendirinya. Saat di kafe, kami seperti perempuan muda seperti biasanya yang suka berkumpul untuk membicarakan gossip – gossip seputar dunia hiburan dan sekolah seperti pacar, rahasia – rahasia, juga membicarakan hal – hal yang terkadang menurutku tidaklah penting. Hanya aku dan Asri yang berbicara empat mata mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku.

    “Sudah terbuka seperti ini, sebaiknya kamu berhati hati. Mereka akan lebih mengincar dirimu karena kemampuanmu yang kurasa sangatlah berkembang dan perempuan yang waktu itu menyelamatkanmu adalah seorang keturunan dari Raja jaman dahulu,” kata Asri yang berusaha untuk menenangkan diriku.

    “Sri bagaimana kamu bisa menghadapi ini semua seperti seakan akan tidak ada masalah? Ini pertama kali bagiku dan aku benar–benar ketakutan Sri…” kataku melemah.

    “Iya aku bukannya takut, melainkan aku hanya tidak ingin menunjukkan kelemahanku terhadap hal seperti ini. Aku sudah lama bisa melihat mereka yang tak terlihat ini hanya saja aku memiliki kemampuan yang dapat merasakan bila ada seseorang yang akan memiliki kemampuan sepertiku juga. Kemampuanmu ini merupakan hasil dari keturunanmu yang seharusnya belum bisa dibuka untuk saat – saat ini hanya saja ada keterkaitan dengan mimpimu sehingga kemampuanmu ini terbuka lebih cepat dari yang aku bayangkan,” jawab Asri

    “Jadi kamu sudah tahu bahwa aku memiliki kemampuan ini sebelumnya? ” Aku bertanya kepada dirinya.

    “Ya aku sudah tahu semenjak aku berteman denganmu, hanya saja aku tidak akan menceritakan mengenai bakat yang kamu miliki dan hal tersebut adalah tabu untukku, sehingga yang bisa kulakukan adalah menunggu untuk kemampuanmu terbuka dengan sendirinya,” jelas Asri

    “ Apakah akan selamanya aku akan seperti ini Sri? ”

    “ Seminggu dari sekarang temuilah aku di rumahku, aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya untuk mengaktifkan dan mematikan kemampuan ini dengan keinginanmu sendiri. Untuk saat ini hingga seminggu kedepan bertahanlah dari godaan mereka dan hiraukanlah apa yang mereka lakukan. Janganlah kau berinteraksi dengan mereka karena mereka akan mengikutimu hingga membuatmu tidak nyaman.”

    “ Baiklah aku akan menunggu seminggu dari sekarang.Kuharap semua akan baik – baik saja tidak ada sesuatu buruk terjadi,” jawabku.

    Setelah kami berbincang dan bergosip cukup lama kami pun kembali ke rumah masing – masing untuk beristirahat. Perjalanan untuk seminggu ini memang sangat memberatkanku. Setiap pagi, siang dan sore aku harus dapat berhadapan dengan mereka yaitu dengan cara tidak memberikan perhatian kepada yang tak terlihat dan terus melangkah tanpa harus memperdulikan mereka. Beberapa dari tak terlihat sekilas memiliki bentuk yang banyak rupa, hanya saja yang paling kutakutkan adalah wanita berpakaian putih, berambut panjang dan tertawa dengan sangat menyeramkan. Di sekitaran rumah sangatlah banyak yang memiliki rupa benar – benar menakutkan dan menurutku berupa aneh juga. Selama pergi dari sekolah hingga kembali pulang aku sangat berusaha untuk tidak menatap mereka dan berpikir seolah olah mereka tidak ada. Beberapa di sekolah ada yang sangat agresif dan mencoba untuk “berbicara” denganku dan mereka tahu bahwa aku bisa melihat mereka. Penantian yang panjang itu akhirnya selesai juga dimana seminggu sudah kulewati dengan keringat yang mengalir di kepalaku untuk setiap detik, menit dan jam yang berlalu begitu lama dan harus bertahan dari yang tak terlihat oleh orang – orang sekitar.

    Tibalah saatnya setelah jam pelajaran selesai pukul empat sore, aku dan Asri menuju rumahnya untuk belajar untuk mengendalikan kemampuanku ini. Pengendalian kemampuan ini tidak selesai hanya dalam satu hari saja tetapi bisa hingga setahun ataupun lebih lama dari yang diperkirakan. Asri saja baru bisa menguasai kemampuan ini secara mandiri selama dua tahun lamanya, bagaimana denganku yang tidak mengerti apa – apa dan berharap bisa mengendalikan lebih cepat.

    “ Ya ini Latihan pertama kita, rileks dan bila sudah lelah engga perlu dipaksakan bisa dilatih di lain hari lagi.” Jelas Asri memberi pengarahan kepadaku.

    “ Ya siap, ayo kita mulai saja.”

    Latihan yang dijalankan sebenarnya tidak begitu susah untuk diikuti hanya Latihan seperti biasa berolahraga. Hanya saja intensitas yang dikeluarkan sangatlah berat hingga aku pun yang cukup atletik di sekolah bisa kewalahan. Ya setiap kita melakukan olahraga seperti ada berat yang ikut menjadi beban sehingga mudah sekali lelah.

    “ Aku biasanya kuat untuk berolahraga pada saat kelas olahraga dan eskul, mengapa latihan biasa seperti ini terasa sangat melelahkan? ” Tanyaku kepada Asri.

    “ Inilah intensitas yang sebenarnya, kamu akan kelelahan bila semua segalanya terbuka diluar kendali. Kita latihan memusatkan fokus dengan alternatif melalui olahraga yang biasa kamu kuasai ini. Kuncinya adalah kita harus selalu belajar untuk fokus memusatkan pikiran dan mata kita untuk menyatu dan merasakan keberadaan alam sekeliling kita dan dengan rileks dapat membantu meningkatkan indera seluruh tubuh. ” Jelas Asri kepadaku.

    “ Berarti latihan yang kita lakukan untuk meningkatkan daya indera dan fokus berpikir kita? ”

    “ Kira – kira seperti itu hanya untuk mengendalikan kemampuan ini memang dibutuhkan waktu yang cukup lama, belum ada yang dapat mengendalikan dalam waktu singkat. Jika kamu sudah pulang nanti, setiap malam luangkan waktumu selama 30 menit hingga 2 jam untuk melatih inderamu ini agar terbiasa dengan sesi latihan kita. Setiap saat latihan ini akan semakin berat untukmu. ” Asri melihatku dengan senyumannya seakan mengatakan bahwa aku tidak boleh kapok hanya karena latihan seperti ini.

    “ Baiklah jika memang harus seperti ini, akan aku jalani.” Jawabku.

    Selang waktu berlalu, sebenarnya sebelum pulang Asri sudah tahu bahwa aku ini “spesial” dan akan dapat mengendalikan kemampuanku ini dengan sangat cepat. Hanya saja Asri tidak ingin memberitahuku dan menyuruhku untuk berlatih terus sehingga aku bisa merasakannya sendiri. Sudah lebih dari 2 minggu aku kerumah Asri untuk berlatih. Dena, Alilah, Karto dan Jihan kebingungan karena setiap sepulang sekolah aku dan Asri pulang kerumahnya. Pada suatu hari mereka semua mengikutiku dan Asri untuk melihat apa yang kami lakukan. Dan mereka heran mengapa kami berdua beraktifitas olahraga di sore hari.

    “ Kalian berdua sedang apa berlatih olahraga seperti ini, tidak jelas sekali. ” Kata Karto.

    “ Aneh ya latihan di jam segini, lagipula kalian berdua juga tidak ada pertandingan kan dalam waktu dekat ini? ” tanya Alilah.

    “ Sudahlah kalian berdua, mereka hanya ingin latihan kebugaran tubuh saja, biarkanlah lagipula mereka juga terlihat lebih sehat belakangan ini. ” Kata Jihan.

    “ Kalau sudah selesai latihan bagaimana kita ke tempat nongkrong baru yang ada di pusat kota, katanya sih tempatnya sangat bagus dan nyaman untuk nongkrong! ” Ajak Dena

    “ Baiklah sebentar lagi kami selesai, kalian tunggu saja di ruang tamu. ” Kata Asri menunjukkan dimana ruang tamu berada.

    Setelah selesai latihan aku dan Asri mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu sebelum berangkat ke kota. Jarak kota dan rumah Asri memang cukup jauh sehingga perlu angkutan umum untuk berpergian ke kota. Selama di perjalanan menggunakan angkutan umum perasaan yang kumiliki sangatlah tidak menyenangkan karena terbanyang akan kejadian di Bandung tersebut dan ternyata ada beberapa yang melihatku dengan tatapan sinis seakan aku sudah melakukan sesuatu yang kulakukan benar – benar tidak dapat dimaafkan. Orang tersebut keluar berbarengan dengan kami dan seketika itu saja aku melihat mereka kembali dan mereka pun menghilang secara tiba – tiba. Asri pun menangkap apa yang sedang terjadi di mobil angkutan umum yang kami gunakan dan melihat sekitar seakan ada yang tidak beres di daerah ini dan itu ada hubungannya denganku.

    Sore yang sangat menyenangkan dan menggembirakan bagi kami semua dikarenakan cuaca yang biru nan indah juga dengan beberapa daerah kota yang memiliki arsitektur bangunan yang menjulang tinggi dan tidak jauh dari pusat kota, terlihat bangunan yang dibicarakan oleh Dena sebelumnya. Sebelum datang ke tempat nongkrong tersebut. Kami berlima berjalan – jalan sekitar kota terlebih dahulu dan membeli beberapa pernak Pernik untuk kami semua gunakan ataupun dibawa pulang. Tak terasa waktu sudah mulai sore hari, dan kami pun mengunjungi tempat nongkrong tersebut. Seperti biasanya kami berbicara santai dan bergosip mengenai apa yang terjadi di sekolah dan kegiatan apa saja yang sedang kami lakukan. Di sela – sela perbincangan, aku pun pergi ke toilet untuk mencuci tangan karena makanan yang kupesan lebih enak menggunakan tangan dibandingkan menggunakan alat makan. Saat aku mencuci tangan, ada seseorang perempuan yang cantik menghampiri diriku dan mengatakan,

    “ Waktu mu sudah tidak banyak, bergegaslah dan cari tahu apa yang perlu kamu ketahui. Mereka semua yang waktu itu datang akan menghampirimu cepat atau lambat.”

    Seketika itu aku menengok ke arah dirinya, dan ketika itu perempuan itu menghilang entah kemana. Badanku terasa berat, seketika aku sesak napas dan aku sepertinya tidak kuat untuk kembali berdiri seketika perempuan itu berkata hal seperti itu. Asri yang sadar akan keberadaanku bergegas membawaku duduk kembali. Mereka semua khawatir karena mukaku terlihat sangat pucat dan rasanya ingin menangis tetapi air mata tidak dapat keluar. Aku benar – benar tidak menyangka bahwa mereka masih menginginkan diriku. Setelah melihat diriku, yang lain bergegas untuk mengajakku kembali ke rumah dan waktu juga sudah larut malam sehingga kami semua kembali ke kediaman masing – masing. Di kendaraan umum yang kami tumpangi, satu orang terlihat sangat menakutkan dan menatap tajam diriku. Asri menutupi mukaku dengan jaket yang ia gunakan sambil memeluk erat diriku yang memang saat itu masih tidak kuat. Ia pun mengantarku kembali ke rumah.

    “ Apa yang kamu lihat dan dengar itu untukmu saja. Setidaknya aku sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Tenanglah, kita akan tetap berlatih seperti biasa dan bersiap jika ada yang akan menghalangi kita. ” Kata Asri kepadaku.

    Ternyata latihan yang selama ini dilakukan tidak hanya untuk melatih cara mengendalikan kemampuan, tetapi juga untuk melatih keadaan seperti di Bandung akan terjadi dan aku dibuat Asri untuk siap menghadapi mereka yang tak terlihat ini yang akan datang memburu diriku. Aku pun merasa lelah dan tidur. Pada saat tertidur aku bermimpi di sebuah daerah yang sebelumnya aku belum pernah mengunjungi dan melihat cerita kilas balik sebuah kerajaan yang sangat megah dan penuh dengan rakyat – rakyat mendengarkan raja tersebut berpidato. Raja tersebut memiliki charisma yang sangat tinggi dan juga memiliki paras yang cukup menawan. Disebelah sang Raja juga ada Ratu yang sangat cantik rupawan. Beliau memiliki paras yang mungkin di jaman modern ini bisa memikat laki – laki mana saja yang siap meminang dirinya untuk dinikahi. Setelah mendengarkan pidato, aku pun mengitari daerah kerajaan tersebut untuk melihat – lihat kehidupan rakyat – rakyat dari Raja tersebut. Setelah melihat, aku pun pergi menuju istana tempat tinggal Raja dan Ratu tersebut. Setelah berputar cukup lama, seperti ada seseorang yang menarik diriku dan memanggilku. Aku menoleh dan ternyata Ratu yang mencoba untuk berkomunikasi denganku. Aku pun dipeluk oleh dirinya dan ia pun melihatku dengan penuh kasih sayang. Ia sepertinya mengetahui siapa kah aku sebenarnya dan aku pun mencoba berkomunikasi dengan dirinya.

    “ Ratu apakah kau mengetahui tentang diriku? ”

    “ Kau adalah keturunanku dan sifatmu benar – benar seperti anak ketiga ku yaitu keturunan dari kakek buyut ibumu. ”

    “ Bagaimana kau tahu bahwa aku adalah keturunanmu? ”

    “ Karena aku selalu melihat perjalanan hidupmu dari kau masih kecil hingga beranjak remaja seperti ini. ”

    “ Bagaimana bisa, kita berbeda zaman dan aku tidak bisa merasakan keberadaanmu.”

    “ Apa yang kau lihat pada saat berlibur itu adalah cerminan dari diriku yang menjaga mu. Wanita itu adalah perwujudan dari diriku. ”

    Aku kaget dan seketika itu terbangun dari tidurku yang lelap dan mencoba untuk menerima mimpi tersebut yang padahal aku tahu itu bukanlah mimpi melainkan sebuah perjalanan astral ku kembali ke masa tersebut. Keesokan harinya Asri bertanya mengenai perjalanan astral yang kulakukan semalam.

    “ Bagaimana kau sudah bertemu dengan keturunanmu? ” Tanya Asri.

    “ Ya, dia memiliki paras yang sangat cantik dan menawan. Ia memberitahuku bahwa yang di Bandung waktu itu adalah cerminan dari dirinya yang berusaha untuk menjagaku, apakah maksud dari perkataan itu? ” Tanyaku kepada Asri.

    “ Yang ada di Bandung itu merupakan dirinya yang membantumu pada saat itu. Setidaknya sudah ada kemajuan bahwa kamu telah bertemu dengan beliau. ” Jelas Asri.

    “ Apa yang akan terjadi? ”

    “ Kemampuanmu akan bertambah dan bersiaplah untuk melawan mereka.”

    Setelah perjalanan astral yang kulakukan, dan setiap saat latihan tetap kujalankan dengan Asri untuk dapat lebih bisa mengendalikan kemampuan itu dan siap akan pada waktunya. Berselang 4 bulan berikutnya, yang tak terlihat dari tempatku menginap datang dan menghantui daerah kota aku dan Asri tinggal. Asri yang sebelumnya menyadari hal ini akan terjadi memberiku saran untukku tinggal bersama dirinya untuk beberapa waktu hingga mereka ini kembali ke daerah yang mereka tempati. Asri merasa bahwa ada sesuatu yang tidak tertangkap oleh dirinya pada saat ada di Bandung, seakan akan mereka ini ada yang memerintahkan untuk menyerang diriku tetapi tidak diketahui sebenarnya siapa dalang dibalik semua ini. Sehari sebelum tak terlihat ini datang, aku sudah pamit dengan kedua orang tuaku dan mempersilakan ku untuk tinggal dengan Asri. Begitu sampai di rumah Asri, seketika keadaan sedikit mencengkam karena aura jahat berkumpul di sekitar rumah Asri sebelum kedatangan tak terlihat. Mereka semua tertarik oleh energi tersebut dan sepertinya siap berkumpul untuk menyerang. Aku dan Asri berangkat sekolah seperti biasa seakan tidak ada yang mengganggu kami. Setelah jam sekolah selesai dan kami pun pulang, teman – teman yang lain ingin sekali berkumpul untuk pergi tetapi aku dan Asri menolak untuk hari ini hingga besok karena keberadaan yang kurang baik. Bila pun mereka ikut akan mempersulit keadaan dan menjadi bahaya bagi Dena, Alilah, Karto dan Jihan. Saat kami kembali ke rumah Asri mereka sudah bersiap untuk menunggu kedatangan mereka keesokan harinya. Aku dan Asri pun tetap berlatih dan berfokus untuk menyelesaikan latihan hari itu juga hingga malam tiba.

    Pada saat malam hari rumah Asri sudah dikerumuni makhluk – makhluk yang tak terlihat yang pada saat ada di Bandung. Mereka mencari diriku dan ingin membalas apa yang telah terjadi terhadap mereka yang pada waktu di Bandung tersebut. Aku dan Asri hanya bisa berdoa berdiam diri di dalam kamar Asri. Mereka tetap tidak meninggalkan rumah Asri dan mencari kami berdua, aku benar – benar takut dan juga sedikit merasa untuk memberanikan diri untuk menghadapi keadaan ini. Seketika itu juga wanita itu datang kembali memandang kami berdua yang sedang ada di dalam kamar. Dan juga tanpa sekata apapun menunjuk kepada sebuah jalan belakang rumah yang terlihat seperti ingin memberikan petunjuk bagaimana situasi ini dapat diatasi.

    " Ada apa dibelakang sana Asri?" Tanyaku kepada Asri.

    " Kemungkinan yang ditunjuk oleh beliau adalah sebuah alat yang disimpan oleh leluhurku untuk kami gunakan pada saat keadaan genting seperti ini. Kakekku pernah berkata bahwa di area perkarangan rumah ini tersimpan sebuah alat yang isinya dapat memerangi mereka yang agresif terhadap kami." Jelas Asri.

    Pada saat itu kami berdua mencoba untuk mengambil alat itu dan seperti yang dikatakan Asri, alat tersebut merupakan sebuah batu yang memang memiliki aura yang sangat berbeda. Pada saat kami memegang batu kecil berbentuk seperti nisan ini, mereka benar - benar tidak berani mendekati kami dan hanya melihat dari kejauhan. Kami membawa batu itu kembali masuk kedalam rumah Asri dan mencoba untuk melihat lebih dekat mengapa batu ini cukup berbahaya bagi mereka. Yang terlihat dari batu ini seperti tulisan aksara yang tentunya tidak dapat kami baca. Kami di dalam rumah cukup lama hingga pada akhirnya si besar datang dan mencoba untuk melihat ke dalam rumah. Aku dan Asri hanya berada di kamar Asri hanya berdoa untuk menguatkan diriku yang masih takut. Secara tiba - tiba, Asri memegangku dan mengajakku untuk berani menghadapi si besar tersebut. Awalnya aku masih tetap tidak berani dan berharap hingga kembali pagi mereka sudah tidak ada, tetapi Asri melihatku seperti mengatakan bahwa aku harus bisa menghadapi ini.

    " Sampai kapan kamu ingin seperti ini, kamu harus merubah dirimu dan keadaanmu! Janganlah takut dan percaya bahwa mereka tidak akan berani bertindak! " kata Asri.

    Setelah itu akhirnya aku pun memberanikan diri untuk keluar. Si besar menatapku dengan tatapan yang sangat marah karena apa yang terjadi di Bandung saat itu sangat mengganggunya. Pada saat itu pun, Asri menunjukkan batu tersebut kepada si besar dan si besar seketika itu mundur dan tidak berani untuk melakukan sesuatu terhadap kami. Asri maju dan mendekatkan batu itu kepada dirinya, si besar seakan merasa kesakitan dan tidak dapat bertahan dari batu itu. Batu tersebut seakan seperti api bagi dirinya dan tidak dapat menahan kesakitan sehingga pada akhirnya ia pun pergi dan seperti bertelepati kepada diriku dengan mengatakan bahwa selanjutnya ia akan selalu mengawasi pergerakanku dan setiap kesempatan yang ada akan kembali menghantuiku, lalu si besar dan yang lainnya pergi tidak terlihat.

    Kelelahan pun akhirnya menjalar di tubuhku hingga aku tidak kuat untuk bangkit berdiri dan duduk di taman rumah Asri untuk waktu yang cukup lama. Asri pun membiarkanku beristirahat, setelah selesai ia mengajakku kembali ke rumah dan menyimpan batu itu kembali ke tempat asalnya. Setelah kami berada di kamar Asri, Ia pun mengatakan bahwa akan mencari asal usul batu tersebut dan mengapa batu tersebut dapat berada di rumahnya juga mengapa wanita itu mengetahui keberadaan batu itu.

    " Pada liburan selanjutnya mari kita berdua kembali ke kampung untuk bertemu dengan kakekku dan aku akan menceritakan ini semua kepadanya. " Ajak Asri.

    " Baiklah, aku akan ikut denganmu dan semua ini cepat atau lambat harus diselesaikan. " Jawabku.

    Waktu seakan berjalan sangat lambat dan pada akhirnya memang aku sangat kelelahan dan tertidur dengan cepat. Keadaan sudah kembali normal untuk sementara waktu dan aku kembali menjalani hidupku seperti biasanya.

    Cerita bersambung di Part 3.....

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: masdiyanto

    Sabtu, 14 Mei 2022 16:30 WIB

    Rindu

    Dibaca : 309 kali

    Puisi : Rindu


    Oleh: masdiyanto

    Kamis, 12 Mei 2022 20:48 WIB

    Perempuanku

    Dibaca : 424 kali

    Puisi : Perempuanku





    Oleh: Harna Silwati

    Minggu, 1 Mei 2022 07:53 WIB

    Puisi : Hari Raya

    Dibaca : 745 kali

    Puisi : Hari Raya