Menggugat Pendidikan Gaya Bank: Sebuah Pendidikan Alternatif Paulo Freire - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Sebuah ruang sekolah di sebuah sekolah dasar di Sragen Jawa Tengah. Antara Foto/Muhammad Ayudha

Nur Muhamad Lutpy

Guru Honorer
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Selasa, 30 November 2021 08:50 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Menggugat Pendidikan Gaya Bank: Sebuah Pendidikan Alternatif Paulo Freire

    Pendidikan dengan gaya tersebut amatlah hegemonik, dimana kreatifitas peserta didik diberangus lewat otoritas guru. Guru menindas sang murid dengan tidak memberikan kebebasan berekspresi. Ausmsinya, hal ini mungkin mengganggu dalam pandangan guru. Dalam gaya iin, murid akan menjadi tumpul daya kreasinya. Pendidikan menjadi alat penindasan dan bukan penyadaran kritis serta pembebasan manusia mencapai harkat kehidupan yang manusiawi. jadi, bagaimana sebaiknya?

    Dibaca : 363 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Bagiku mendidik anak-anak Indonesia adalah pekerjaan mulia dan terpenting – Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara 

    Masalah pendidikan di Indonesia yang sering muncul adalah proses pembelajaran di kelas. Masalah itu terutama dalam strategi dan model pembelajaran yang kaku dan tidak bermakna. Di mana guru lebih dominan dalam proses pembelajaran sehingga kurang memberikan peran yang aktif kepada peserta didik.

    Menurut seorang aktivis pendidikan asal Brazil Paulo Freire, budaya pembelajaran seperti itu adalah pendidikan gaya bank. Analogi tersebut berangkat dari realitas pendidikan di Brazil, di mana guru diibaratkan seperti seorang yang menabungkan uangnya ke sebuah mesin penyimpan uang. Murid diibaratkan sebuah mesin tersebut yang hanya menerima uang secara pasif dari nasabah tanpa menanyakan kembali apakah uang itu bersih atau tidak.

    Pendidikan dengan gaya tersebut di atas amatlah hegemonik, dimana kreatifitas peserta didik bisa diberangus lewat praksis otoritas guru. Pada akhirnya guru pun bertindak menindas sang murid dengan tidak memberikan kebebasan berekspresi/ beraspirasi akan segala asumi-asumsi yang mungkin sangat mengganggu dalam pandangan guru. Murid akan menjadi tumpul daya kreasinya jika pendekatan monolog gaya bank tersebut diterapkan dalam pendidikan. Pendidikan justru menjadi alat penindasan dan bukan penyadaran kritis serta pembebasan manusia untuk mencapai harkat kehidupan yang manusiawi.

    Dalam mengajukan metode pendidikan Freire menggunakan istilah ‘pendidikan hadap masalah’ (Problem posing education), Metode ini digunakan sebagai ilmu antagonistis dari konsep pendidikan gaya bank dan berorientasi pada pembebasan manusia (Murtiningsih, 2004, hal. 81-82). Pendidikan hadap masalah sebagai alat pembebasan, menegaskan manusia sebagai makhluk yang berada dalam proses menjadi dan sebagai sesuatu yang tidak pernah selesai dan terus menerus mencari.

    Model pembelajaran Paulo Freire basisnya adalah kontekstual, di mana ia menstimulasi peserta didik dengan konsep penyadaran atau yang disebut konsientitasi untuk memperjuangkan peran pendidikan sebagai wahana bagi praksis pembebasan (Tim Redaksi Indopublika, 2017, hal. 7). Pendidikan menurut Freire harus menjadi suatu proses yang melibatkan tiga momentum dialektis, di antaranya investigasi pemikiran tematisasi atau menggunakan diksi generatif, kodifikasi dan problematisasi realitas sosial (Collins, 2011, hal. 29). Problematisasi realitas sosial akan memancing momentum baru dalam proses dialektis. Ini akan menstimulus peserta didik berpikir kritis terhadap proses pembelajaran. Freire mengandaikannya sebagai situasi-situasi limit.  Secara sederhana ini diartikan upaya menemukan pemahaman baru atas realitas yang menuntut protes. Terhadap apa? Terhadap sesuatu yang ditransendenkan dan ditransformasikan untuk mencapai pembebasan.

    Tematisasi merupakan metode Freire yang dielaborasi ke dalam materi ajar untuk didiskusikan kepada peserta didik,. Ini  merupakan agenda sosial yang dapat dijadikan bahan ajar dan menuntut peserta didik mengkaji dan menyelesaikannya. Seperti isu-isu sosial kontemporer, terorisme, kesenjangan sosial, perang, pelanggaran hak-hak asasi manusia dan lain-lain.

    Konsep yang ditawarkan Paulo Freire tidak hanya mencakup ruang kelas saja, tetapi ia menggagas pentingnya modal sosial untuk reproduksi dan transformasi. Mendidik bukan hanya memberi informasi tapi juga memberikan peserta didik dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Dalam relasi guru dan murid, Freire menekankan pada pentingnya dialog dalam proses pembelajaran, karena esensi dari dialog itu peserta didik akan saling menghargai, saling belajar dan saling menghindarkan tekanan dari penguasa.

    Dialog secara kritis perlu diadakan, sehingga masing-masing dihargai sebagai manusia. Dialog mengembangkan kedua belah pihak, baik guru maupun murid. Dalam dialog itu masing-masing bukan hanya mempertahankan identitas mereka, tetapi juga berkembang bersama. Dalam dialog juga hak asasi manusia dihargai dan tidak dimatikan demi kemenangan satu pihak. Tugas utama dari pendidikan adalah mengantarkan peserta didik menjadi subjek, untuk mencapai tujuan itu proses yang ditempuh harus mengandaikan dua gerakan ganda. Pertama meningkatkan kesadaran kritis peserta didik dan sekaligus mengupayakan mentransformasikan struktur sosial yang menjadikan penindasan itu berlangsung.

    Kegiatan belajar versi Freire adalah kegiatan yang bersifat aktif di mana peserta didik membangun sendiri pengetahuannya (Murtiningsih, 2004, hal. 102). Peserta didik mengeksplorasi sendiri dari pengalaman dan dari apa yang ia pelajari, sehingga dalam hal ini mereka didorong tanpa henti mempertanyakan realitas diri maupun lingkungannya. Untuk selanjutnya guru hadir membimbing dalam berdialog dan berdiskusi sampai pada titik kesadaran di mana peserta didik dapat berpikir secara kritis terhadap suatu masalah. Dari situ Freire menegaskan bahwa yang bertanggung jawab atas hasil belajar itu adalah peserta didik sendiri. Karena mereka sendiri yang membawa pemahamannya yang lama dalam situasi belajar yang baru. Peserta didik sendiri yang membuat penalaran atas realitas yang dihadapinya melalui pencarian makna, mengkomparasikan dengan apa yang telah diketahuinya, secara prinsipil belajar ala Freire dilakukan melalui refleksi atas realitas dan memecahkan konflik definisi.

    Freire mengembangkan pendidikan yang lebih erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, yang dimengerti secara sederhana namun memiliki nilai praksis yang luas. Secara historis ia dan timnya pernah melakukan penyadaran pada para petani yang mayoritas buta huruf. Petani yang selalu menjadi korban politik oleh pemerintah menurut Freire akan terus tertindas dan termarjinalkan jika mereka tidak mendapat pendidikan yang progresif. Metode pembelajaran Freire dengan kaum tani yang mayoritas buta huruf, buta realitas bahkan bermental fatalistik dan dogmatis, ia berusaha keras agar kelompok tertindas ini bisa mengembalikan fitrahnya sebagai manusia yang dapat mengubah duniannya.

    Sebagai langkah awal Freire menggunakan diksi-diksi generatif agar mudah diterima dan dipahami secara maksimal, seperti contoh dalam lingkungan petani ia menggunakan kata: gubuk, sumur, pekerjaan, bajak, kumuh, dan sekolah. Alasan menggunakan kata generatif ini Denis Collins (2011, hal. 21-22) menambahkan:
    “Pertama kata-kata itu dapat mendorong diskusi masalah-masalah yang akrab tentang kepentingan sehari-hari dari orang-orang buta huruf tadi, dan kedua karena dalam bahasa Romawi kata-kata yang bersuku kata banyak dapat dengan mudah dipisah-pisahkan ke dalam komponen-komponen suku kata mereka dan kemudian digunakan untuk membentuk kata-kata baru.”

    Melalui kata generatif ini petani dapat cepat belajar membaca dan mengeja. Dalam konteks ini, guru dapat menggunakan contoh-contoh yang kongkret bagi peserta didik untuk mudah menangkap maksud dari setiap materi ajar. Seperti contoh dalam pembelajaran sejarah, ketika revolusi Prancis bergejolak tahun 1789-1799 adalah sebuah kondisi di mana negara tidak becus mendistribuskan ekonomi secara merata, adanya privilese kelas tertentu dan pemberlakukan pajak yang tidak rasional dan tidak adil pada kelas ketiga yang di dalamnya adalah rakyat biasa. Kondisi sosial seperti demikian yang menyebabkan Prancis mengalami sebuah revolusi sosial dan politik (Perry, 2014, hal. 4-12).  Hal tersebut juga disampaikan oleh Muh. Idris dalam jurnalnya seperti berikut:
    “Mereka sendiri perlu menciptakan bahasa lewat kehidupan dan peristiwa yang mereka alami sehari-hari. Cara yang digunakan adalah dengan dialog dan kerjasama antara guru dengan murid. Lewat bahasa mereka itulah mereka akan mengenal dunia lebih luas dan berkembang dan bahkan eksistensi kemanusiaan mereka dihargai. Perlu dimengeri bahwa bahasa di sini bukan hanya semata bahasa linguistik saja, tetapi juga mencakup budaya dan konteks hidup yang mereka hadapi. Dengan demikian mereka bukan hanya belajar berbahasa, tetapi sungguh mengenal dunia tempat mereka hidup dan berjuang. Dalam pengertian ini seorang pendidik harus masuk dan mengerti bahasa murid dan bukan memaksakan bahasanya kepada semua murid (Idris M. , 2015).”

    Proses pembelajaran seperti di atas guru dapat merefleksikan dengan kehidupan sehari-hari atau pengalaman sejarah Indonesia, seperti contoh bagaimana ketika pajak sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan untuk membiaya kelas-kelas tertentu, guru memposisikan peserta didik sebagai si pembayar pajak yang hasilnya di alokasikan untuk kepentingan orang lain. Di situlah mulai muncul sikap kritis peserta didik di mana ia sebagai pembayar pajak harus benar-benar teliti pajak yang ia keluarkan benar-benar untuk kepentingan berbangsa dan bernegara bukan untuk kepentingan kelompok tertentu. Pendidikan harus berisi materi ajar yang terkait dengan fenomena aktual dari realitas sosial masyarakat, sehingga melalui pendidikan peserta didik menjadi sadar akan realitas sosial sekitarnya bahkan sadar akan realitas dunia. Dalam hal ini Siti Murtiningsih (2004, hal. 104) juga menambahkan:
    “Freire meluruskan bahwa pendidikan seharusnya bertolak dari pengalaman konkret keseharian hidup para peserta didik, sehingga penjelasan pendidik akan lebih menarik perhatian mereka. Begitulah apa yang dimaksud dengan fungsi pendidik sebagai fasilitator atau mediator, yaitu membantu peserta didik memahami realitas hidup keseharian.”

    Paulo Freire memformulasikan landasan filosofi pendidikannya agar mudah dimengerti dan dilaksanakan, ia menyebut dengan metode pembelajaran fungsional, yang terdiri dari tiga tahapan utama: Pertama, tahap kodifikasi dan dekodifikasi, yaitu tahap pendidikan elementer dalam konteks teoretis dan konteks kongkrit. Maksud dari tahapan ini adalah bagaimana peserta didik mampu memberi suatu konklusi dan analogi bagi setiap materi ajar. Metode kodifikasi dan dekodifikasi adalah tahapan dalam proses pembelajaran yang mengarahkan kemampuan peserta didik agar mampu melakukan pengambilan kesimpulan secara teoretis, serta dapat mewujudkannya dengan melakukan perbandingan antara kesimpulan dari teori-teori yang didapatkan, untuk selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam kerangka ilmu pengetahuan.

    Tahapan ini diharapkan melatih kemandirian para peserta didik untuk mandiri dalam mengembangkan pengetahuan yang didapat dari gurunya. Sehingga dalam masyarakat dan lingkungan, peserta didik mampu mengintegrasikan dirinya lalu mampu mengambil sikap disetiap persoalan-persoalan yang dihadapi. Kedua, tahap diskusi kultural yang merupakan tahapan lanjutan dalam satuan kelompok-kelompok kerja kecil yang sifatnya problematis.

    Menjadi guru juga harus mau menjadi murid. Salam merdeka belajar



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.