Membentuk Karakter Siswa Melalui Sastra - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

orang sedang menulis

I Nyoman Agus Sudipta

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Rabu, 1 Desember 2021 21:50 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Membentuk Karakter Siswa Melalui Sastra

    Menjadikan sekolah sebagai tempat siswa untuk mengolah bakat, minat dan potensinya melalui kegiatan bersastra, sehingga siswa mampu berkreatifitas, berinovasi, berimajinasi dan berkarya.

    Dibaca : 235 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Munculnya perilaku menyimpang pada siswa menimbulkan polemik dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan dianggap menjadi kambing hitam dari merosotnya karakter siswa. Begitu juga dunia pendidikan dianggap hanya mampu membentuk kecerdasan intelektual saja melalui materi-materi hafalan yang miskin nilai. Pembelajaran yang membentuk kecerdasan emosional dan spiritual semakin hilang kiprahnya. Belum lagi kurikulum yang diterapkan banyak mengacu pada konsep penguasaan secara kognitif. Hal yang berkaitan dengan pembentukan afektif (sikap) dan psikomotor (ketrampilan) sering terabaikan. Siswa diwajibkan menguasai seluruh materi dari setiap mata pelajaran yang muncul dengan standarisasi ketuntasan. Bila belum tuntas, maka diwajibkan untuk mengulang dan memperbaiki. Dari sinilah terkesan sekolah robot mulai muncul dengan mengesampingkan sifat alamiah manusia. Artinya tuntutan penguasaan seluruh materi yang ada dengan nilai yang sudah ditetapkan ketuntasannya, mengisyaratkan manusia harus serba bisa. Padahal sesungguhnya manusia adalah makhluk lemah secara kodrati. Maka dari itu pastinya tidak semua materi dalam mata pelajaran bisa dikuasai. Dari sinilah seolah-olah sekolah membentuk manusia yang otaknya harus hebat dengan tingkat kemampuan intelektual tinggi. Padahal di dalamnya ada jiwa-jiwa insani yang mesti dibentuk dan dijaga emosinya untuk terus berkembang melahirkan kepribadian yang luhur. Kepribadian yang luhur inilah yang mampu membentuk karakter manusia yang berkualitas.

    Di sekolah sesungguhnya siswa diharapkan memperoleh waktu luang. Karena sesungguhnya makna sekolah adalah waktu luang bagi siswa untuk belajar dan menemukan jati dirinya. Seiring dengan perkembangan yang terjadi tuntutan dan harapan dalam dunia pendidikan (sekolah) semakin tinggi. Sekolah bukan lagi menjadi tempat untuk memperoleh waktu luang. Tetapi sekolah sudah menjadi tempat yang membosankan dan menjemukan bagi siswa, bila di dalamnya tidak dibangun suasana kehidupan yang manusiawi. Artinya sekolah yang hanya mengejar prestise semata telah mengabaikan bahwa manusia sesungguhnya wajib dibentuk kehalusan dan keluhuran budinya. Sekolah yang mengedepankan prestasi akademik dengan nilai yang tinggi, mengesampingkan setiap bakat dan potensi siswa. Padahal bakat dan potensi inilah yang perlu diasah dan dikembangkan. Pengembangan bakat dan potensi inilah yang mampu melahirkan manusia-manusia yang sukses dalam hidupnya. Apalagi sekarang jarang dijumpai konsep pembelajaran yang mengepankan kemampuan imajinasi, kreatifitas dan inovasi siswa, terutama dalam pengembangan bakat dan potensi yang dimiliki. Bahkan kegiatan mengarang bagi siswa sudah mulai jarang dilakukan. Padahal mengarang merupakan salah satu kegiatan yang mampu mengolah akal, rasa, imajinasi, kreatifitas dan inovasi manusia melalui media tulisan. Apabila siswa dibiasakan untuk mengarang dalam berbagai bentuk karya apakah cerpen, puisi, syair, prosa dan tulisan lainnya dalam bentuk karya sastra, maka jiwa-jiwa yang terpenjara akan bebas berekspresi. Dapat diketahui bahwa manfaat karya sastra bagi siswa adalah untuk menumbuhkan imajinasi, agar semakin berkembang dan tata bahasa dalam kehidupan sehari-hari semakin baik. Dengan siswa aktif dalam dunia sastra maka kemampuan kreatifitas dalam wujud imajinasi semakin terasah. Pikiran-pikiran yang negatif mampu dilebur dan dilarutkan dalam imajinasi yang mampu melahirkan sebuah karya sastra. Tumpahan segala rasa jiwa mampu mengalir dalam untaian kata-kata yang dirajut dan disusun dengan penuh perasaan. Begitu juga sastra dapat dijadikan wadah rasa bhakti terhadap Sang Pencipta dalam bentuk pemujaan melalui kata. Melalui karya sastra para siswa memiliki wadah menuangkan imajinasi, kreatifitas dan inovasi dalam wujud seni untaian kata-kata.

    Sastra sebagai wajah manusiawi. Melalui sastra dalam diri siswa terbentuk sifat-sifat kemanusiaan yang saling menyayangi, menghargai dan toleransi. Karena dalam sastra terdapat unsur-unsur keindahan (estetika), keselarasan dan keseimbangan hidup melalui kata-kata. Dengan siswa mampu cinta dan hobi terhadap sastra, maka harmonisasi kehidupan dapat terwujud. Sastra membentuk keluhuran budi, sikap, perilaku yang bermuara pada terbentuknya karakter yang luhur. Sastra adalah vitamin bagi jiwa dan batin manusia yang berasal dari otak kanan dan mampu menumbuhkan sikap halus dalam diri manusia. Begitu juga sastra menciptakan sikap yang santun, beretika berperasaan dengan daya toleransi yang tinggi. Sebagai contoh pengembangan berpuisi sebagai bentuk imajinasi jiwa terhadap alam, fenomena, perasaan dan juga kepekaan terhadap dunia sekitar. Dengan kemampuan dan pengembangan sastra dalam diri siswa, maka terwujud keseimbangan, kepedulian, imajinasi dan hakikat serta nilai-nilai kemanusiaan untuk mengikis sifat-sifat kekerasan, ke-egoan, dan individualistik. Karena dengan siswa mempelajari, memahami dan mampu melahirkan karya sastra, maka sesungguhnya mereka sudah membentuk kepribadian yang peduli dan manusiawi.

    Apresiasi sastra di sekolah sesungguhnya dapat dikembangkan dalam berbagai kegiatan. Bahkan dalam perayaan bulan bahasa apresiasi terhadap karya sastra dapat dilakukan melalui berbagai event penting terutama dalam bentuk lomba. Ditambah lagi dengan adanya kegiatan literasi di sekolah, maka budaya apresiasi karya sastra dapat ditingkatkan. Artinya menumbuhkan minat baca dan tulis dalam kehidupan siswa melalui pembiasaan dan latihan-latihan. Melalui kegiatan ekstra jurnalistik dan drama di sekolah, maka peran dan fungsi karya sastra itu sendiri dapat dirasakan oleh siswa. Disinilah pentingnya guru mampu mengkemas dan mengembangkan semua itu, agar siswa mau dan mampu terlibat di dalamnya. Dengan semakin aktif dan adanya wadah positif bagi siswa untuk menumbuhkan kretifitas, inovasi dan kemampuan imajinasinya, maka segala bentuk tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma dan tatanan nilai dapat dicegah. Sastra adalah wadah untuk membentuk karakter siswa yang luhur, mulia, santun, cerdas, mandiri dan bermartabat.

    Ikuti tulisan menarik I Nyoman Agus Sudipta lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.