Lobo si Manusia Serigala yang Baik Hati - Fiksi - www.indonesiana.id
x

No Description

Aga Satria

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Kamis, 2 Desember 2021 17:51 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Lobo si Manusia Serigala yang Baik Hati

    Mengisahkan seorang manusia serigala yang sebenarnya baik hati namun dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Hingga suatu malah sebuah tragedi mengubah nasib hidupnya.

    Dibaca : 127 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Semua anak di dunia pasti ingin memiliki kehidupan yang normal, begitu pula dengan Lobo. Hanya saja takdir Lobo berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Sejak kecil ia sudah dikaruniai dengan sesuatu yang spesial, namun sesuatu yang spesial itulah yang membuatnya dijauhi oleh teman-teman sebayanya. Bahkan hingga Lobo dewasa tidak ada seorangpun yang mau mendekatinya. Hal itu terjadi karena Lobo adalah keturunan manusia serigala sehingga darah manusia serigala mengalir di nadinya. Orang banyak juga sangat menyayangkan ibunya yang mau menikah dengan seorang manusia serigala dan melahirkan anak seperti Lobo.

    Seburuk apa pun perilaku orang-orang kepadanya, Lobo selalu berusaha membalas keburukan mereka dengan kebaikan dan meskipun ia sering dihina dan dicaci-maki oleh orang-orang di sekitarnya, Lobo selalu membalas cacian mereka dengan senyuman hangat.

    Lobo juga sangat baik hati terhadap anak-anak penduduk desa. Ia terkadang bermain bersama mereka dan memberi mereka buah-buahan sebagai hadiah. Lobo ingin agar anak-anak itu dapat tumbuh dewasa dengan sehat dan bahagia. Namun saat orang tua mereka tahu bahwa anak-anaknya bermain dengan makhluk yang paling dibenci di desa, mereka langsung memarahi anak-anaknya dan menghukum mereka. Terkadang Lobo merasa sangat bersalah karena hal itu terjadi kepada mereka yang sebenarnya tidak bersalah sama sekali.

    ***

    Pada suatu malam terjadi sebuah insiden yang menggemparkan seluruh penjuru desa. Seorang anak petani ditemukan tewas bersimbah darah dengan bekas luka berupa cakaran besar di perutnya. Seluruh warga desa langsung menuduh Lobo sebagai pelakunya karena di desa itu tidak ada makhluk selain dirinya yang dapat melakukan hal tersebut. Berbondong-bondong warga desa membawa obor dan garpu jerami menuju kediaman Lobo di tepi desa. Mereka berteriak dengan lantang “Bunuh si Manusia Serigala! Bunuh si Manusia Serigala! Bunuh si Manusia Serigala!”

    Mendengar keributan di luar rumahnya, Lobo mencoba mengintip keluar jendela. Dilihatnya warga desa mengacung-acungkan garpu jerami mereka dan meneriakan sumpah serapah kepadanya. Lobo tidak mengetahui hal yang terjadi di luar sana dan mengapa orang-orang banyak berkumpul di depan rumahnya serta berseru bahwa Lobo telah membunuh. Hal jahat seperti itu tidak akan pernah ia lakukan, lagi pula hari ini bukan bulan purnama. Dan jika sudah waktunya bulan purnama, Lobo akan segera mengurung dirinya di ruang bawah tanah agar tidak mencelakai banyak orang.

    Lobo merasa panik dan ketakutan. Ia sebenarnya ingin pergi keluar dan memberitahu warga desa bahwa ia bukanlah pembunuhnya. Di lain sisi ia tahu bahwa warga desa tidak akan percaya kepadanya

    ***

    Keputusannya sudah mutlak. Lobo berusaha berlari sekuat tenaga melalui pintu samping rumahnya. Orang-orang yang menyadari ada seseorang yang keluar dari rumah itu langsung mengetahui bahwa itu adalah Lobo yang mencoba kabur. Seluruh warga desa lalu beramai-ramai mengejarnya. Beruntungnya Lobo berhasil selamat karena ia merupakan pelari yang cepat. Dengan sisa tenaganya, Lobo terus berlari hingga ke tengah hutan. Karena sangat kelelahan ia lalu terbaring di sebuah pohon dedalu raksasa dan tertidur. Tak disangka-sangka, di dalam mimpi Lobo bertemu dengan sosok ibunya yang diselimuti cahaya terang.

    Ibunya berkata kepadanya bahwa ia tidak perlu takut akan masalah yang ia hadapi dan juga tidak perlu takut akan ancaman warga desa yang ingin membunuhnya. Ibunya juga berkata kepadanya bahwa ada ancaman yang lebih berbahaya yang mengancam ketenteraman warga desa dan hanya dirinya yang dapat mengalahkan ancaman tersebut. Kini dengan keberanian yang telah ia dapatkan, Lobo segera kembali ke desa untuk memperingatkan warga akan bahaya yang mengancam keselamatan mereka.

    ***

    Seorang warga melihat seseorang datang dari kejauhan dan tak lama kemudian ia mengetahui bahwa si Manusia Serigala yang mereka buru telah tiba kembali ke desa, orang itu lalu berteriak dan memanggil seluruh warga desa untuk menyergap Lobo. Sebelum warga desa sempat menangkapnya, Lobo berbicara dengan lantang bahwa ada bahaya yang sedang mengancam desa ini dan hanya dirinyalah yang dapat mengatasi bahaya tersebut. Tentu saja warga desa tidak langsung percaya dengan perkataannya, mereka curiga bahwa itu hanyalah akal busuk Lobo untuk memakan lebih banyak korban.

    Demi meyakinkan mereka Lobo lantas bersujud di tanah dan memohon kepada seluruh warga desa agar mereka memberikannya kesempatan untuk membuktikan perkataannya. Tetua desa yang melihat hal tersebut lalu meminta warganya untuk bersabar dan membiarkan Lobo menjelaskan perkataannya. Tetua desa teringat bahwa dulu putri semata wayangnya pernah Lobo selamatkan saat hampir hanyut terbawa arus sungai.

    Akhirnya Lobo dapat menjelaskan perkataan serta rencananya kepada seluruh warga desa. Ia meminta agar mereka menyembelih seekor anak lembu dan meletakannya di depan pintu gerbang desa. Lalu ia meminta agar para warga berjaga sambil membawa senjata hingga malam tiba.

    ***

    Malam akhirnya datang menyelimuti desa, masing-masing warga sudah bersiap di posisi mereka dengan membawa senjata. Daging anak lembu segar sudah diletakkan tepat di depan pintu gerbang desa, mereka hanya tinggal menunggu aba-aba dari Lobo untuk memulai aksinya. Beberapa jam berlalu, namun bahaya yang dibicarakan Lobo tadi pagi tidak kunjung juga muncul. Orang-orang mulai kehilangan kepercayaan terhadap Lobo namun dirinya meminta agar mereka tetap diam di posisi mereka. Karena jengah menunggu mereka semakin menggerutu dan berkata kepada Lobo bahwa ia adalah seorang pembohong besar. Lobo meminta mereka untuk tetap diam namun orang-orang itu malah berteriak semakin keras dan tidak menghiraukan perkataan Lobo.

    Tak lama kemudian terdengar suara auman keras dari luar pintu gerbang. Para warga yang mendengar suara auman itu kaget dan segera berhamburan menjauhi pintu gerbang. Rupanya ancaman besar yang Lobo katakan benar-benar datang malam itu, seekor singa raksasa dengan surai lebat di kepalanya. Lobo meminta agar seluruh warga segera mengungsi sejauh mungkin ke dalam desa dan berlindung di tempat yang aman sementara dirinya akan menghadapi singa raksasa tersebut, satu lawan satu. Salah seorang warga berkata kepadanya apakah ia gila karena berani-beraninya melawan singa raksasa seorang diri. Lobo lalu tersenyum dan berkata, “Sejak dulu kalian selalu menganggapku sebagai monster, jadi tidak apa-apa jika aku melawan makhluk ini sendirian.”

    Setelah memastikan bahwa seluruh warga desa sudah mengungsi ke tempat aman, Lobo menantang si Singa raksasa untuk menyerangnya. Singa raksasa itu lalu melompat dan mencoba menerkamnya namun dengan gesit Lobo dapat menghindari serangan si Singa dan membalasnya dengan pukulan tepat di perut Singa tersebut.

    Pertarungan Lobo dengan Singa raksasa berlangsung sangat sengit. Singa raksasa itu berhasil mencakar lengan kiri Lobo hingga berdarah akan tetapi Lobo berusaha untuk menahan rasa sakit itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan si Singa raksasa demi kedamaian desa. Seluruh pukulan ia arahkan ke tubuh si Singa raksasa dan segala serangan ia terima di tubuhnya. Pertarungan mereka berlangsung hingga fajar dan pada akhirnya Lobo berhasil mengalahkan si Singa raksasa dengan merobek rahangnya menjadi dua. Seluruh warga desa yang melihat pertarungan mereka keluar dari tempat persembunyiannya dan bersorak-sorai memuji Lobo.

    Lobo amat sangat senang tugasnya sudah selesai. Akhirnya ia mendapat pengakuan dari seluruh warga desa dan akhirnya ia dapat beristirahat dengan tenang tanpa gangguan. Lobo yang dulunya dijuluki sebagai seorang monster kini dikenang sebagai seorang pahlawan. Untuk mengenang jasa-jasanya, Tetua desa membangun sebuah patung berwujud dirinya di tengah desa sebagai tanda penghormatan kepadanya.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.