Tarian Terakhir Mary Jane - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Image by Pinterest

Aga Satria

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Jumat, 3 Desember 2021 04:55 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tarian Terakhir Mary Jane

    Mary Jane bermimpi menjadi seorang penari balet profesional hingga suatu hari dirinya memberanikan diri untuk mengikuti kontes menari. Apakah Mary Jane dapat menggapai mimpinya menjadi seorang penari balet atau mimpinya akan sirna begitu saja?

    Dibaca : 136 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mary Jane adalah seorang gadis yang memiliki mimpi menjadi seorang penari balet profesional saat ia dewasa. Di sela-sela rutinitasnya sebagai seorang pelajar, Mary Jane selalu menyempatkan waktu untuk melatih tariannya agar kelak ia menjadi penari balet yang hebat.

    Kedua orang tua Mary Jane sangat mendukung impian anaknya untuk menjadi seorang penari balet profesional, mereka bahkan rela menggelontorkan biaya berjuta-juta agar anaknya dapat berlatih di sanggar tari terbaik. Selain karena bakatnya dalam menari, Mary Jane dikenal sebagai murid yang paling pintar di sekolahnya. Ia selalu menduduki peringkat pertama dan selalu mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran yang ia kerjakan. Selain itu ia dikenal akan kecantikannya, tak heran jika seluruh siswa laki-laki tertarik kepadanya.

    Waktu jam pelajaran di sekolahnya sudah selesai dan ia keluar dari kelas, Mary Jane melihat sebuah selebaran kompetisi menari balet tertempel di papan pengumuman sekolah. Ia sangat tertarik dengan kompetisi menari balet tersebut dan segera memberitahukan hal itu kepada kedua orang tuanya sesampainya ia di rumah. Kedua orang tuanya mengizinkan Mary Jane untuk mengikuti kompetisi itu, sayangnya mereka tidak bisa ikut mendampinginya karena pekerjaan mereka yang menumpuk.

    Kompetisi tari balet itu akan diselenggarakan pada akhir pekan di gedung teater yang letaknya agak jauh dari tempat tinggal Mary Jane. Dan hadiah yang akan diberikan kepada sang pemenang tak tanggung-tanggung, yaitu uang tunai sebesar satu juta dolar. Maka dari itu Mary Jane berlatih sekeras dan sebaik mungkin agar ia dapat memenangkan kompetisi itu dan membuat kedua orang tuanya bangga.

    ***

    Hari ini adalah penampilan perdana Mary Jane di sebuah teater. Mary Jane berangkat dari rumahnya menuju ke teater menggunakan taksi dan tiba di sana 30 menit sebelum acara dimulai. Ia lalu menyeret kopernya menuju ruang ganti dan segera bersiap-siap. Mary Jane yakin bahwa dirinya pasti akan memenangkan kompetisi balet itu dengan mudah karena ia yakin latihannya tidak akan menghianatinya. Tak lama kemudian pembawa acara menyebut nama Mary Jane dan mempersilakannya untuk naik ke atas panggung. Perasan di hatinya campur aduk antara takut, berdebar-debar, dan semangat.

    Musik dimainkan. Mary Jane mulai menari dengan lemah gemulai. Seluruh penonton merasa takjub melihat tarian Mary Jane yang sangat anggun. Ia menari bagaikan seekor angsa putih. Setelah ia selesai menunjukkan tarian baletnya yang sangat memukau, semua penonton memberikan tepuk tangan meriah kepadanya. Mary Jane merasa sangat senang karena penampilannya malam itu dapat menghibur ribuan orang.

    Sesi penjurian pun di mulai, dan alangkah terkejutnya Mary Jane saat namanya disebut sebagai juara pertama dari kompetisi menari balet itu. Akhirnya usahanya selama ini terbayarkan, ia yakin orang tuanya pasti bangga dengan penghargaan yang ia peroleh. Ia tak sabar segera pulang ke rumah dan memberi tahu orang tuanya. Malam itu seusai acara di teater selesai, Mary Jane menunggu taksi pesanannya. Lama menunggu ternyata taksi pesanannya tak kunjung datang. Ia mulai bosan dan mengantuk.

    Tiba-tiba sebuah mobil van besar berhenti tepat di depannya. Mary Jane bertanya-tanya apakah kedua orang tuanya mengirim seseorang untuk menjemputnya. Ternyata tebakannya salah, pintu mobil van besar itu terbuka dan di dalamnya ada seorang pria besar dengan topeng di mukanya yang langsung menyergap Mary Jane bersama dengan koper bawaannya yang berisi uang hadiah kompetisi menari balet.

    Mata Mary Jane lalu ditutup dengan kain hitam, kaki dan tangannya juga diikat dengan tali yang sangat erat. Ia sangat ketakutan dan ingin berteriak sekeras mungkin namun mulutnya disumpal dengan kain. Mary Jane tidak tahu mau di bawa ke mana dirinya oleh orang-orang yang menculiknya, ia hanya bisa menangis dan berdoa di dalam hati agar dirinya selamat.

    Kain hitam yang menutupi pandangan Mary Jane dilepaskan namun kini tubuhnya diikat di sebuah kursi kayu di sebuah ruangan putih berisi peralatan-peralatan aneh. Ternyata ia tidak sendirian di ruangan itu, ada dua orang pria yang berdiri di depannya. Pria yang satu bertubuh kekar sedangkan pria yang satunya lagi bertubuh jangkung dan mengenakan kemeja putih polos. Alangkah terkejutnya Mary Jane, ia mengenali wajah sang pria dengan kemeja putih. Pria itu adalah salah satu juri kompetisi menari balet. Ia lalu bertanya kenapa dirinya mereka culik. Kedua pria itu hanya tertawa tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun.

    Si pria berkemeja putih membisikan sesuatu kepada si pria kekar yang berada di sebelahnya. Pria kekar itu lalu berjalan menuju meja yang di atasnya terdapat alat-alat aneh seperti alat penyiksaan. Ia kemudian mengambil sebuah gergaji kayu dan menatap ke arah Mary Jane sembari tersenyum lebar. Mary Jane merasa sangat ketakutan, air mata mengalir deras dari kedua matanya. Ia mencoba melepaskan diri dari tali yang mengikatnya namun semua usahanya gagal.

    Perlahan si pria kekar berjalan menuju ke arah Mary Jane. Pria itu menunduk dan menggapai kaki kanannya. Dirinya ingin memberontak namun cengkeraman pria itu terlalu kuat. Dengan sebuah gergaji kayu di tangan kirinya, pria kekar itu mulai menggorok kaki kanan Mary Jane.

    Darah menyembur keluar dari kaki kanannya. Mary Jane berteriak kesakitan, ia meminta agar pria kekar itu berhenti menyiksanya. Namun pria itu tampaknya tidak peduli dengan jeritan dan tangisan yang keluar dari mulutnya dan terus menggergaji kaki kanan Mary Jane hingga benar-benar terputus. Sementara itu pria berkemeja putih yang sedari tadi memperhatikan Mary Jane tersiksa malah tertawa terbahak-bahak.

    Isak tangis dan suara tawa bergema di seluruh penjuru ruangan. Kaki kanan Mary Jane kini benar-benar buntung, impiannya menjadi seorang penari balet profesional musnah di tangan kedua pria itu. Si pria berkemeja putih kemudian melepaskan ikatan tali yang mengikat Mary Jane dan memaksanya untuk berdiri. Sekali lagi Mary Jane meminta kepada kedua pria itu untuk benar-benar membebaskannya akan tetapi mereka masih tidak peduli dengan permohonannya. Kemudian si pria berkemeja putih memerintahkan si pria kekar untuk mengambilkannya sebuah cambuk. Si pria berkemeja putih mulai mencambuki Mary Jane sambil berteriak kepadanya, “Menarilah Mary Jane! Menarilah!”

    Mary Jane merasa sangat menderita. Beberapa menit yang lalu kaki kananya dipotong, kini ia dicambuki dan dipaksa untuk menari. “Cepatlah menari jika kau ingin dibebaskan!” Si pria berkemeja putih itu kembali membentaknya dengan keras. Dengan rasa sakit yang terus menjalar di sekujur tubuhnya Mary Jane mulai menari meski air matanya masih deras mengalir di pipinya dan darah masih mengucur dari kaki kanannya. Ia menari, menari, dan menari hingga dirinya merasa sangat lemas dan tidak berdaya. Karena sangat kelelahan dan karena ia kekurangan darah, tubuh Mary Jane langsung ambruk ke lantai dan dirinya langsung jatuh pingsan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.