Prasangka Seorang Saksi Bisu - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto oleh: Noelle Otto\xd Sumber: https://www.pexels.com/photo/photography-of-person-peeking-906018/

Joan Oktavianie

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Jumat, 3 Desember 2021 04:50 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Prasangka Seorang Saksi Bisu

    Aku benci dengar suara klakson, apalagi jika itu dibunyikan di dekat rumahku. Tetapi, bunyi yang kubenci itu rupanya berhasil menyelamatkan si penumpang dari kuyubnya hujan. Jadi aku pun diam, urung mengungkap kesal.

    Dibaca : 75 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sofa di ruang tamu tampak murung. Dia membelakangi jendela besar yang redup tanpa sinar Matahari. Sore ini lebih gelap dari biasanya. Aku berjalan-jalan di halaman rumah. Hujan turun lebat disertai bunyi guntur yang menggeram, nyaris tiap satu menit sekali. Udara dingin membuat kulit wajahku terasa kencang. Namun, aku abai. Tetap saja berlama-lama di luar, mengamati hujan. Dari balik tanaman merambat yang tumbuh di pagar rumahku, aku menyimak ketatnya persaingan hujan yang berlomba-lomba turun demi membasahi Bumi. Tetesan air hujan yang tak pernah kukenali itu, mendadak sibuk menyapaku sambil lalu. Kemudian segera bergabung dengan kawanannya yang telah menggenang di tengah jalan.

    Sebuah mobil lewat di depan rumahku. Tampak tergesa-gesa. Gerakan bannya meninggalkan segaris jejak air keruh kecokelatan. Kurang lebih satu meter setelah mobil itu melintasi rumahku, pengemudinya membunyikan klakson. Sekejap. Namun nyaring. Aku benci dengar suara klakson, apalagi jika itu dibunyikan di dekat rumahku. Tetapi, bunyi yang kubenci itu rupanya berhasil menyelamatkan si penumpang dari kuyubnya hujan. Jadi aku pun diam, urung mengungkap kesal. Begitu si penumpang telah dipastikan selamat, mobil pun berjalan mundur meninggalkan blok perumahan kami. Kukira, mobil itu taksi online.

    Tak lama setelah mobil pergi, seorang wanita berkerudung datang. Jujur saja, aku sudah merasa tertarik untuk mengamatinya sejak dia berbelok di ujung jalan, tanpa sepengetahuannya. Sempat aku khawatir dan bertanya-tanya, perlukah kutawari dia pinjaman payung? Sebab hujan sedang cukup rapat untuk diterobos tanpa perlindungan begitu saja. Langkahnya yang tertatih-tatih juga membuat kekhawatiranku kian menggelembung.

    Kaki wanita itu terhenti di depan rumah seberang yang sudah lama kosong. Sampai tiga bulan yang lalu, seorang nenek masih tinggal di sana sendirian. Setiap Jumat, anak laki-lakinya menjemput beliau untuk menjenguk putrinya yang masih dirawat di rumah sakit jiwa. Tetapi, entah karena alasan apa, sejak beberapa hari menjelang perayaan Imlek, nenek itu dibawa pergi oleh anak laki-lakinya, dan belum kembali lagi sampai sekarang. Meninggalkan rumah mungilnya dengan lampu halaman yang terus dibiarkan menyala. Halaman rumahnya pun mulai ditutupi belukar yang menumbuhkan kesan seram. Kekosongan di rumah itu makin tampak nyata saja.

    Namun, rumah kosong tidak melulu seram bagi semua orang. Beberapa pasang mata malah melihatnya sebagai kesempatan. Aku jadi teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Tiga rumah di sebelah timur dari rumahku, juga sempat kosong ditinggal liburan penghuninya. Kami, para tetangganya, tahu kalau Bu Susi, penghuni rumah itu, memang sedang pergi bersama seluruh anggota keluarganya. Kurang lebih sekitar dua minggu. Sebelum berangkat, Bu Susi pamit sekaligus menitipkan rumahnya pada beberapa orang tetangga yang sudah cukup dekat dengannya. Entah pada hari ke berapa sejak rumah itu kosong, terlihat beberapa pemuda mulai sering mondar-mandir di sekitar blok perumahan kami untuk diam-diam mengamati rumah Bu Susi. Tampaknya mereka mulai tertarik ketika melihat lampu halaman rumah tersebut menyala di siang hari. Setelah melakukan pengamatan selama berhari-hari, akhirnya mereka berhasil menangkap kenyataan bahwa rumah itu memang sedang kosong. Segera saja mereka merasa diundang untuk masuk dan berpesta menjarah isinya.

    Kami, para tetangga, tentu jadi waspada. Namun, tak bisa pula jika harus menjaga rumah kosong itu selama 24 jam. Ketika Bulan telah meninabobokan malam, kami pun ikut terlelap. Di saat itulah mereka beraksi. Melolong dalam sunyi bagai serigala yang lapar. Tak seorang pun yang bisa mendengar bunyi lolongan mereka. Sebab tiap-tiap telinga telah tersihir oleh nyanyian Bulan. Atau jika dengar pun, cuma menangkapnya sebagai igauan para nyamuk belaka.

    Bagaimanapun, kami merasa bersalah. Sekaligus, tidak merasa bersalah. Ketika Bu Susi pulang, dan suara yang dulu kami kira igauan nyamuk itu menjelma kabar buruk, kami menyatakan prihatin. Juga mengungkit kecurigaan yang pernah kami pendam. Kami mohon maaf, supaya tidak ada dendam. Bu Susi bilang, namanya juga kecelakaan.

    Di mataku saat ini, wanita berkerudung itu tampak seperti sedang mengintip rumah kosong di seberang dengan takut-takut. Kemudian, dia menengok keadaan sekeliling. Dia melihatku. Dia sadar ada seseorang yang sedang mengamatinya diam-diam. Untuk sepersekian detik, mata kami sempat bertemu. Meski tak mampu membaca arti dari tatapannya, aku sudah mengurungkan niat untuk menawarinya pinjaman payung. Tak lama, wanita itu pun pergi begitu saja. Dia kembali berjalan ke arah kedatangnnya semula. Masih dengan tertatih-tatih, dan kedua mataku pun masih terus mengekori. Kali ini, dengan pandangan waspada dan mulut yang tetap terkunci.  

     

    Bandung, Maret 2021



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.