Mamboya-Boyang Membentuk jati Diri Anak Usia Dini

Sabtu, 4 Desember 2021 19:57 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam pemilihan media pembelajaran disesuaikan dengan jati diri dan budaya bangsa. Kegiatan pembelajaran di TK Negeri Pembina Desa Padang Timur Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar menggunakan kurikulum berbasis local wisdom sebagai kekhasan lembaga sebagai unsur-unsur budaya lokal melalui permainan tradisional mamboya-boyang yang terdapat pada lingkungan sekolah. Pendidik memilih kegiatan bermain dengan mengenalkan anak pada khazanah budaya di tanah Mandar agar anak mencintai budaya sendiri.

Pendidikan adalah proses belajar yang berlangsung secara terus menerus dan sepanjang hayat. Proses edukasi bagi anak usia dini diselenggarakan semata-mata untuk pengembangan aspek kognitif saja tanpa melibatkan konteks budaya di lingkungannya. Hampir 90% lembaga pendidikan anak usia dini mendoktrin anak pada kepintaran akademik semata dengan merealisasikan belajar menulis, mambaca, serta berhitung sebagai kegiatan inti pembelajaran tanpa memikirkan kodrat anak untuk tumbuh dan berkembang secara alamiah.

Ki Hadjar Dewantara memiliki konsep pendidikan berlandaskan asas kemerdekaan berinterpretasi pada kebebasan dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menata kehidupan berdasarkan aturan di lingkungan sosial. Dalam diri anak tumbuh jiwa merdeka baik secara lahiriah maupun batiniah. Merdeka sangat dibutuhkan sepanjang masa agar generasi bangsa Indonesia tidak didikte oleh budaya asing. Merujuk pemikiran Mentossori membebaskan anak-anak tanpa keterbatasan, lain halnya dengan bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara merumuskan sebuah semboyan “tutwuri handayani” yaitu memberikan kebebasan seluas-luasnya tanpa adanya deksriminasi, dan bahaya yang mengancam anak-anak. Dengan mengindahkan istilah sistem among, yaitu melarang hukuman dan paksaan pada anak didik sebab mampu memadamkan jiwa merdeka dan kreativitasnya.

Merdeka pada anak adalah dirinya mampu memilih dan memiliki kebebasan dalam belajar seraya bermain tanpa melakukan penghambaan terhadap siapapun melakukan segala kegiatan pembelajaran dengan bahagia, gembira, tanpa adanya paksaan dari orangtua bahkan pendidik. Mengadopsi pada filosofi Ki Hadjar Dewantara yakni berhamba kepada anak melalui implementasi pembelajaran berdeferensiasi, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) yang memberi pilihan bagi anak, dan lingkungan belajar.

Keberhasilan suatu pendidikan tidak terlepas dari kurikulum yang memandu pendidik dan tenaga kependidikan dalam memfasilitasi program pendidikan berkualitas mendukung tercapainya tujuan pendidikan. Kurikulum PAUD memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak sehingga memiliki kemampuan yang berharga untuk mencapai keberhasilan di jenjang pendidikan berikutnya. Kurikulum menjadi roda penggerak menyiapkan sumber daya manusia berkualitas di masa mendatang.

Memasuki abad 21 dibutuhkan sebuah kerja sama antara pendidik, peserta didik,  dan orang tua  untuk menjawab tantangan tersebut di dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan mencakup 4 C, yakni: critical thinking, communication, collaboration, creativity, dan keterampilan menguasai teknologi, informasi, dan media. Hal penting yang harus dipahami bersama bahwa memiliki pengetahuan semata tidak atau kurang mampu membantu eksistensi seseorang bila tidak ditunjang dengan kemampuan kreatif, berpikir kritis, dan berkarakter.

Tuntutan kurikulum mendorong perlu adanya peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh dan tersistematis dengan melibatkan unsur-unsur budaya lokal dengan kekhasan program dan karakteristik lembaga masing-masing. Seperti halnya permainan tradisional yang bisa menjadi pilihan sebagai wadah untuk membangun fondasi dalam diri anak agar karakter cinta tanah air dan nasionalisme semakin melekat pada identitas peserta didik.

Tuntutan kurikulum mendorong perlu adanya peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh dan tersistematis dengan melibatkan unsur-unsur budaya lokal dengan kekhasan program dan karakteristik lembaga masing-masing. Seperti halnya permainan tradisional yang bisa menjadi pilihan sebagai wadah untuk membangun fondasi dalam diri anak agar karakter cinta tanah air dan nasionalisme semakin melekat pada identitas peserta didik.

Implementasi kegiatan bermain untuk memerdekakan hak-hak anak di lembaga TK Negeri Pembina Padang Timur pada masa transisi program merdeka belajar setelah pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) adalah menggunakan kurikulum berbasis lokal wisdom mengajak anak menyatu dengan kodrat kealamiahan melalui PERTAMA (Permainan Tradisional Mamboya-boyang) yang merupakan kearifan lokal masyarakat Mandar. Dari permainan ini anak mengeksplor lingkungannya, belajar bersosialisasi setelah hampir 2 tahun bertemu dengan teman sebaya melalui tatap maya yang mengakibatkan komunikasi anak terbatas, membuat anak terasingkan, setelah rasa merdeka anak terenggut akibat pademi Covid-19 ini anak jarang bermain atau bahkan bertemu dengan temannya yang menyebabkan kejenuhan pada proses belajar mengajar dan berdampak kepada perkembangan sosial anak didik.

Permainan tradisional mamboya-boyang (main rumah-rumahan) merupakan kegiatan bermain peran. Peserta didik memerankan tokoh sebagai bapak, ibu, kakak, adik bahkan tokoh lain yang diciptakan sendiri oleh mereka dengan lakon yang berbeda-beda. Salah satu metode pembelajaran yang di pilih pada masa transisi yakni bermain peran. Bermain dengan tokoh-tokoh dan benda sekitar sehingga dapat mengembangkan kreativitas, imajinatif, dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. Anak juga menjadikan dirinya sebagai sosok yang diperankan seolah-olah dirinya menjadi pemeran tersebut, ada juga berperan sebagai virus Covid-19. Di dalam permainan ini anak bercerita bagaimana aktivitasnya selama belajar dari rumah, bagaimana virus Covid-19 datang dan merengguk waktu bermainnya bersama teman-temannya menggunakan bahasanya sendiri.

Kegiatan main ini melatih anak memiliki interaksi sosial secara teratur, mendorong kerja sama, pembagian tugas dan peran dalam permainan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu. Tipe permainan ini mendorong timbulnya kompetisi kegotong royongan antar anak. Sebagaimana diketahui bahwa dunia anak sering dikatakan sebagai zona fantasi, artinya pada fase itu selalu diwarnai dengan kegiatan bermain. Anak-anak menyukai kegiatan tersebut sebab sangat menghibur dan menyenangkan bagi mereka. Begitu juga dengan permainan tradisonal yang merupakan sarana rekreasi dan hiburan untuk mendapatkan rasa bahagia anak dengan nilai-nilai kebermanfaatan dari aktivitas itu sendiri. PERTAMA mempunyai arti penting pada pendidikan budaya terutama untuk menanamkan kearifan lokal, norma sosial, serta pandangan hidup.

Dalam pemilihan media pembelajaran ini disesuaikan dengan jati diri dan budaya bangsa. Kegiatan pembelajaran di TK Negeri Pembina Desa Padang Timur Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar menggunakan kurikulum berbasis local wisdom sebagai kekhasan lembaga sebagai unsur-unsur budaya lokal melalui permainan tradisional mamboya-boyang yang terdapat pada lingkungan sekolah. Pendidik memilih kegiatan bermain dengan mengenalkan anak pada khazanah budaya di tanah Mandar agar anak mencintai budaya sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Siti Hardianti, S.Pd

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua