x

Iklan

Molly Hana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 November 2021

Minggu, 5 Desember 2021 08:54 WIB

Guru Pelosok dari Bengkulu

Masa depan anak-anak dan tekad seorang guru dari pelosok sangatlah kuat, penuh pengorbanan dan rintangan. Bagaimana seoarang guru bisa bertahan ketika keputusan menyerah ada di depan mata?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Aku adalah seorang anak laki-laki yang baru saja ditinggal pergi oleh seorang ayah yang menderita sakit, sekarang aku hanya memiliki seorang ibu yang selalu berusaha untuk menghidupiku setiap hari, keluarga kami miskin, tidak banyak yang bisa kami lakukan, ibuku bekerja sebagai tukang jahit, sedangkan aku kelas lima SD dan empat bulan ini sudah berhenti sekolah karena harus bekerja di pasar menggantikan ibuku yang mulai susah untuk bekerja.
Sekolah adalah salah-satu yang bisa mengubah masa depanku, setidaknya itulah yang kupikirkan, tapi tidak ada yang dapat kulakukan. Keluargaku tidak punya uang yang banyak, kami tidak mempunyai kerabat, dan tidak ada bantuan dari pemerintah.
Namun, suatu hari datang seorang wanita muda ke rumahku. Wanita muda itu bersama dua teman kelasku, wanita tersebut ternyata adalah seseorang yang baru saja menjadi guru, berumur sekitar 23 tahun, memiliki wajah yang lembut dan penuh senyum, namanya Bu Fatimah, beliau berbicara padaku dan ibuku untuk membujukku kembali sekolah, beliau mengatakan bahwa aku bisa bersekolah pada jam berapa saja dan secara gratis, serta beliau juga dengan rendah hati akan memberikan kelas tambahan di luar jam sekolah padaku dan juga anak lainnya, di situ aku terharu dan tepercik sebuah harapan kecil di benakku. Aku sangat bahagia bisa sekolah lagi,

Aku belajar di SD yang biasa saja, anak-anak kelas membayar iuran setiap minggunya, iuran tersebut merupakan salah-satu penyebabku berhenti dari sekolah, tentu dengan kondisi keluargaku yang sekarang ini, iuran sekolah perminggu terasa amat berat, tapi hal itu teratasi oleh Bu Fatimah yang dengan senang hati membayar iuranku. Aku berpikir bahwa beliau adalah anak dari keluarga kaya karena gaji di SD ini terbilang kecil, selain itu beliau juga memberikan kelas tambahan secara gratis.

Hari-hari baruku kulalui dengan mulai bekerja pada jam enam pagi di pasar dan belajar di sekolah pada jam sembilan pagi sampe jam sebelas siang, setelah itu aku dan teman lainnya ikut kelas tambahan yang dibuat oleh Bu Fatimah pada sore harinya. Beliau selalu bilang “Saya beruntung bisa menjadi guru, di masa depan saya ingin melihat kalian semua menjadi orang yang besar”. Aku mencoba mengerti apa yang dimaksud dengan saya beruntung menjadi guru, beliau mengajar dengan begitu semangat dan selalu tersenyum, menjadi guru mungkin adalah impian beliau ketika masih kecil, yang aku lihat bahwa tidak ada kata lelah ataupun menyerah yang terpancar dari Bu Fatimah saat itu.
Beberapa minggu aku merasa sangat senang bisa diajari beliau, hal tersebut membuatku berani bermimpi di masa depan untuk menjadi seseorang yang besar seperti yang beliau katakan, lalu mimpi-mimpiku itu seakan berakhir begitu saja.
Di pagi hari terjadi gempa yang manakala pada saat itu tidak terlalu besar, tapi gempa itu menghancurkan satu-satunya SD yang ada di kampungku, sekolah terhenti. Anak-anak dari keluarga yang mampu dialokasikan untuk bersekolah di SD swasta Kristen yang jauh dari kampungku, sedangkan bantuan dari pemerintah tidaklah cukup untuk membenahi atau membuat gedung sekolah baru pada saat itu. Anak miskin sepertiku dan beberapa temanku yang lainnya terpaksa berhenti sekolah dan melupakan untuk bisa sekolah lagi, beberapa dari kami bahkan sudah mulai bekerja kembali di pasar ataupun pergi melaut. Pada saat itu aku berpikir mungkin sekolah bukanlah hal yang penting lagi, setidaknya masih banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus bersekolah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selama hampir dua bulanan kulalui dengan kerja di pasar tanpa adanya semangat sedikitpun, banyak hal yang sudah dilewati dan pada akhirnya semangat juangku rasanya sudah mati. Beberapa temanku mengalami hal serupa, untuk anak-anak berumur 10 tahunan seperti kami bekerja serabutan di pasar hanya membuat kami kehilangan kepercayaan diri.
Di sisi lain aku belum mendengar kabar dari Bu Fatimah, tapi yang temanku bilang bahwa beliau sedang dalam keadaan “Shock” akibat gempa yang menyebabkan sekolah kami hancur. Aku tau bahwa Bu Fatimah ingin menjadi guru yang baik dan mengajar anak-anak di sekolah, tapi hal itupun tampak mustahil sekarang ini, pada saat itu ibuku berkata “Bu Fatimah orang yang baik, beliau mungkin akan melakukan sesuatu”, benar saja yang dikatakan ibuku. Besok harinya Bu Fatimah datang ke rumah dan mengajakku untuk belajar dengan teman-teman yang lainnya di rumah beliau secara cuma-cuma. Aku sempat kaget dan melihat bahwa beliau sangat bersedih untuk musibah yang sudah terjadi. Ibuku menangis haru dan memeluk Bu Fatimah yang juga ikutan menangis pada saat itu, sedangkan aku hanya bisa diam dan merasa sekali lagi sangat bersyukur karena semangat dan dedikasi yang tinggi dari Bu Fatimah.
Kami berkeliling kampung dan mendatangi rumah teman-teman lainnya untuk mengajak mereka belajar bersama. Pada awalnya banyak orang tua yang tidak setuju karena mereka tidak terlalu percaya dengan inisiatif dari Bu Fatimah, tapi pada akhirnya semua orang tua hanya bisa berterimakasih dan sangat senang dengan tekat dari Bu Fatimah.

Hari demi hari kami lalui belajar bersama di rumah Bu Fatimah, ruangan-ruanagan di rumah beliau sangat sempit dan juga sederhana, memiliki dinding kayu berwarna hijau serta ornamen-ornamen Islam yang sudah tua, beliau hanya memiliki seorang ayah yang berumur sekitar 50 tahunan, serta mereka juga memiliki kebun yang kecil di belakang rumahnya.
Anak-anak yang belajar bersama beliau tampak bisa menikmatinya setelah hampir dua bulan lamanya tidak sekolah akibat gempa, selain itu di sini kami semua terdiri dari kelas yang berbeda-beda, ada yang sudah kelas 6, kelas 5, dan bahkan kelas 2 juga, kami semua dijadikan satu, kadang jika anak-anak yang ikut belajar sudah terlalu ramai, kami akan pindah belajar di halaman luar.
Pada siang hari kami lalui dengan belajar bersama Bu Fatimah, sedangkan pada malam hari beliau sibuk membuat kue yang akan dijual pada pagi harinya di pasar, melihat kehidupan Bu Fatimah secara langsung membuatku sadar bahwa beliau bukanlah orang yang kaya namun selalu berusaha keras. Banyak anak-anak ataupun orangtua yang merasa sedih untuk setiap perjuangan yang dilalui oleh Bu Fatimah, hal tersebut juga membuat banyak anak-anak merasa beruntung dan menjadi sangat akrab dengan beliau seperti membantu jualan di pagi hari ataupun membuat kue pada malam harinya.

Beberapa bulan sudah terlewati, kami masih belajar di rumah Bu Fatimah, belajar dengan riang, kesederhaan dan semangat. Terdapat satu hal yang aku ingat selalu diucapkan oleh Bu Fatimah pada saat itu bahwa “Pendidikan adalah masa depan kita”.
Jumlah anak-anak yang ikut belajar di rumah Bu Fatimah pun kian banyak dan kadang mencapai 35 orang, tidak hanya itu, terdapat dua orang guru tambahan yang ikut membantu Bu Fatimah mengajar secara sukarela dan cuma-cuma.
Melihat dedikasi dan semangat juang dari Bu Fatimah, banyak orang tua dan tetangga sekitar berinisiatif untuk membuat sebuah bangunan sederhana untuk menampung anak-anak belajar. Sungguh Bu Fatimah telah membuka sebuah nilai dan kesadaran arti pentingnya pendidikan di mata banyak orang. Kini 15 tahun sudah berlalu. Aku sendiri sudah menjadi guru SMA dan beberapa kali melihat Bu Fatimah masih mengajar SD di kampung, Bu Fatimah tidak pernah mendapat penghargaan apapun untuk perjuangannya tapi bagiku dan murid-murid lainnya beliau adalah sebuah penghargaan besar, sebuah bentuk perjuangan dan dedikasi yang sesungguhnya dari seorang guru terhadap bangsa dan masa depan, terima kasih ibu guru, terima kasih Ibu Fatimah.

Ikuti tulisan menarik Molly Hana lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu