x

Photo by Dids from Pexels: https://www.pexels.com/photo/emotionless-woman-in-water-of-bathtub-5578995/

Iklan

Joan Oktavianie

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Minggu, 5 Desember 2021 12:42 WIB

Tragedi Kamis Pagi

Sejak dalam perjalanan menuju rumah Ningsih, Bi Minah sudah girang membayangkan sejumlah uang yang akan segera diterimanya itu. Namun begitu sampai, bukan bayaran yang ia dapat, malah mayat nonanya yang terbelalak di kamar mandilah yang mesti ia lihat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Non Ningsih mati. Begitulah bunyi berita yang disampaikan Minah—atau yang kerap menyebut dirinya sendiri Bi Minah—pada si Jelita. Jam sembilan lewat pagi tadi, Bi Minah menggedor-gedor pagar rumahnya, setelah sebelumnya menemukan mayat Ningsih di kamar mandi. Jelita yang mengharuskan diri untuk berpakaian tertutup di muka umum, terlebih dulu sibuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, sebelum keluar membukakan pagar untuk Bi Minah. Alhasil, Bi Minah mesti menahan gigil di tubuhnya lebih lama ketika menunggu Jelita. Meskipun ternyata, gigil di tubuhnya itu masih tetap ada bahkan setelah Jelita menemuinya. Sebab ia terlalu terkejut. Ningsih yang minggu lalu masih segar bugar, mendadak ia temukan mati pagi ini.

Tiap Kamis pagi, wanita paruh baya itu memang selalu datang ke rumah Ningsih, sebagai asisten rumah tangga harian di sana. Ia bahkan sudah dipercaya untuk memegang semua kunci serep rumah. Pekerjaan di tempat Ningsih tergolong ringan jika dibandingkan rumah-rumah lainnya. Bayarannya pun paling besar. Semestinya, ia mendapatkan bayarannya pagi ini. Sejak dalam perjalanan menuju rumah Ningsih, Bi Minah sudah girang membayangkan sejumlah uang yang akan segera diterimanya itu. Namun begitu sampai, bukan bayaran yang ia dapat, malah mayat nonanya yang terbelalak di kamar mandilah yang mesti ia lihat. Menelungkup di sebelah lubang saluran air yang menganga lebar. Sesak di dada yang sempat ia rasakan kemarin pun kembali datang mencekik.

Tepatnya kemarin sore, saat hari mulai gerimis, ia mendengar suara burung kedasih. Nyanyian pilu yang diulang-ulang burung itu membuat bulu kuduknya berdiri. Dadanya jadi sesak. Hingga tak bisa tidur ia semalaman. Pagi ini pun, selang beberapa menit sebelum ia menemukan mayat Ningsih, garis-garis keriput di bawah mata kirinya berkedut beberapa kali. Bi Minah makin tidak tenang. Sebab menurut orang-orang, semua itu adalah pertanda buruk. Namun tak sedikit pun ia terpikir, bahwa tanda-tanda tersebut berhubungan dengan Ningsih.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bi Minah sangat menyukai nonanya yang satu itu, sekalipun banyak desas-desus perihal sang Nona. Ada yang usil mengatakan Ningsih sebenarnya janda, ada yang bilang perempuan simpanan, istri kedua, macam-macam. Apa pun sebutannya, sama-sama berujung pada prasangka Ningsih yang sudah tidak perawan. Sebab kata orang, perempuan secantik itu, sudah berumur tiga puluhan, hidup seorang diri, mengendarai mobil sendiri, dan suka berpakaian terbuka, mana mungkin masih perawan. Bi Minah tidak sepenuhnya terima dengan kecurigaan tersebut, tapi juga tak pernah berani balas berkata demi membela nona yang disukainya itu. Perihal Ningsih yang penuh rahasia, memang benar adanya. Tapi, Bi Minah merasa tiap orang punya rahasia. Ia pun tak melihat adanya masalah mengenai itu. Yang terpenting bagi Bi Minah, Non Ningsih tak pernah telat membayarkan upahnya, tak seperti ibu-ibu lain yang gemar bergunjing itu.

Meskipun tahu dirinya sering dijadikan bahan gunjingan ibu-ibu, Bi Minah melihat Ningsih tetap berusaha ramah pada para tetangga. Dia selalu rajin menyapa, tak jarang juga ia sengaja membagi-bagikan makanan dalam porsi yang melimpah. Biasanya semua tetangga terdekat selalu kebagian, kecuali Jelita. Sepengetahuan Bi Minah, nonanya memang sangat benci dengan tetangganya yang satu itu. Suatu kesempatan, Ningsih pernah bertanya padanya, “Perempuan yang gemar menggoda suami para tetangga itu, kapan akan pergi dari rumah sebelah?” Bi Minah langsung mengerti bahwa perempuan penggoda yang dimaksud oleh nonanya tak lain adalah Jelita. Sudah bukan rahasia lagi, kalau Jelita memang punya banyak tipu daya untuk menarik perhatian laki-laki, terutama yang sudah punya istri. Hebatnya lagi, dia tetap bisa bergaul dengan istri dari para lelaki tersebut. Selalu ada saja manis kata-katanya yang membikin ibu-ibu itu luluh dan lengah, termasuk Bi Minah pun demikian.

Bi Minah yang tak mengerti pedalaman Jelita, mengaku tidak tahu apa-apa perihal pertanyaan nonanya tadi. Dia malah balik bertanya, benar atau tidaknya Jelita akan pindah rumah. Mendengar itu, dahi Ningsih berkerut-kerut. “Aku muak melihat perilakunya yang seperti monyet kebelet kawin,” desisnya nyaris tak terdengar.

Sedangkan bagi Jelita, kehadiran Ningsih dianggap seperti pesaing yang bisa merebut popularitasnya sebagai janda kembang. Tiap kali ibu-ibu tetangga merasa kagum sekaligus cemburu terhadap kecantikan Ningsih, Jelita akan berkilah, “You and I lebih cantik dari dia. Badannya saja yang molek.” Maka dari itu, ketika menerima berita kematian Ningsih pagi ini, alih-alih bersedih, Jelita malah tampak kesulitan menutupi rasa girangnya, sebab sudah tak ada lagi yang akan menjadi pesaingnya di perumahan itu. Namun, sejelas apa pun kegirangan yang disunggingkan Jelita, Bi Minah sudah terlalu kalut untuk menyadarinya. Dengan terburu-buru, Bi Minah menggamit tangan Jelita ketika akhirnya dia keluar rumah, kemudian mengajaknya ke rumah Ningsih. Memperlihatkan mayat sang Nona yang tampak begitu menderita.

“Siapa saja yang sudah you kasih tahu?” Jelita berbisik. Matanya menyelidik. Bi Minah mengaku belum beri tahu siapa-siapa, baru mereka berdua saja. Jelita kembali menyembunyikan senyum. Menghilang sejenak ke rumahnya. Mengambil gawai untuk menghubungi seseorang. Namun, tampaknya tak juga berhasil tersambung. Segera saja ia berlagak tegas. Mengatakan akan pergi ke rumah Pak Amin, ketua RT mereka, seorang diri. Namun kemudian, Bi Minah mendesak ingin ikut, sebab ia merasa tak betah. Berada di rumah itu sendirian, dengan adanya mayat di kamar mandi, membuat dirinya merasa tengah diamati oleh arwah Ningsih. Tubuhnya pun kembali menggigil tak karuan.

Jelita mengabulkan keinginan Bi Minah. “Asalkan you janji bisa ikuti kecepatan I,” kata Jelita kemudian. Bi Minah berjanji. Meski ternyata janji itu palsu, sebab ia tak bisa mengikuti. Kakinya terlanjur lemas, hingga tak kuat diajak berjalan barang beberapa blok saja. “Sudah, you tunggu saja di warung sini. Tak ada ghost di mari.” Lalu, dengan kecepatannya yang luar biasa, Jelita pun lanjut ke rumah Pak Amin. Selang beberapa menit, selagi Bi Minah tengah mengguyur penjaga warung itu dengan cerita penuh air matanya, sekilas ia melihat seorang pria berlari-lari. Dia berpeci dengan setelan baju koko dan sandal kulit yang warna dan modelnya tak sama antara kanan dan kiri. Tak lama kemudian, Jelita berjalan tergesa-gesa di belakang pria itu. Bi Minah masih termangu. Jelita langsung menarik tangannya.

“Ayo, segera! Itu Pak Amin! Karena takut pada ghost, jadi tak kenal you dengan Pak Amin?” serunya menggebu. Penjaga warung ikut terpacu. Buru-buru ia menutup warungnya dan ikut pergi bersama rombongan Bi Minah. Warga lain yang mendengar ribut-ribut, mulai ingin tahu. Saling tanya satu sama lain, ternyata sama-sama tidak tahu. Segera saja mereka berbondong-bondong mengejar Pak Amin yang dengan sandal warna-warni sudah lari jauh di depan.

Begitu tiba kembali di depan halaman rumah sang Nona, hati Bi Minah terasa semakin suram. Kakinya makin gemetar, keringat dingin mulai keluar, penglihatannya remang-remang. Tampaknya wanita itu tak akan sanggup jika mesti masuk dan melihat mayat nonanya sekali lagi. Ditambah, telinganya mendengar tanya usil dari mulut seorang ibu yang berbunyi, “Ningsih yang mati? Siapa yang bunuh?” Langsung saja dadanya bergemuruh. Wajahnya kian lusuh. Non Ningsih yang sebaik itu, mana mungkin ada yang tega membunuh. Bi Minah melakukan pembelaan di dalam hati.

Belum selesai gemuruh itu ia tenangkan, terdengar lagi tanya usil yang lain. Kali ini dari mulut seorang bapak. “Jangan-jangan si Jelita itu yang lakukan? Dia benci sekali dengan Ningsih bukan?” Gemuruh kian kencang memorakporandakan keteguhannya. Bi Minah tak kuat lagi. Ada rasa bersalah yang mencuat, juga kemarahan yang tertahan. Gelap mata, dia pun menambah kesemrawutan pagi ini dengan aksi pingsannya.

 

Bandung, Januari 2021

Ikuti tulisan menarik Joan Oktavianie lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan