x

Foto oleh kissearth dari Pixabay.com

Iklan

Neisya Putri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Minggu, 5 Desember 2021 13:00 WIB

Sungai Palsu di Kota Panas

Tiba-tiba, terdengar kabar beredar bahwa ada sungai di Kota Panas yang sangat panas. Semua warga bergembira, namun mereka tidak pernah tahu.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada suatu Dimensi, terdapat suatu planet, di dalamnya terdapat suatu dunia, lalu ada negara, berikutnya yang paling kecil ialah kota.

Ya. Kota. Menurut kamus, kota adalah daerah permukiman yang terdiri atas bangunan rumah yang merupakan kesatuan tempat tinggal dari berbagai lapisan masyarakat; daerah pemusatan penduduk dengan kepadatan tinggi serta fasilitas modern dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar pertanian.

Dan kali ini, saatnya kalian mengetahui tentang Kota Panas. Kota yang letaknya di ujung dunia entah bagian mana, tempatnya dipenuhi dengan gunungan pasir, air di Kota Panas sangat sedikit hilang entah sudah dicuri oleh siapa, laut yang berada di dekat kota itu juga perlahan menghilang seiring berjalannya sebuah mesin besar yang membor masuk ke dalam laut, dan beberapa pohon tajam setajam pisau yang biasa digunakan oleh penjual daging di pasar. Matahari paling senang nongkrong duduk-duduk di sana sambil minum es kopi sembari memandangi para manusia-manusia di Kota Panas mengeluh padanya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"mengapa matahari suka berada di sini?" keluh satu pria sewaktu-waktu melihat matahari minum es kopi dingin dengan takaran 3 sendok gula di siang hari. Dan cahaya matahari sendiri adalah hal paling menyebalkan daripada matahari kuning itu.

Matahari yang setiap hari mendengar keluhan manusia-manusia di Kota Panas hanya melirik dan berkata "oh ya?" lalu tersenyum sombong seakan menghadapi keluhan itu adalah hal biasa-biasa saja.

Pria itu sebalnya bukan main karena matahari seakan akan meremehkannya akhirnya mengambil batu berukuran sedang lalu melemparkannya pada matahari.

Dan berakhir pemuda itu yang dilarikan diri ke rumah sakit karena jidatnya terus mengeluarkan banyak darah.

Pada suatu hari, suatu siang, saat semua orang di Kota Panas sedang berdiam diri di dalam rumah karena mereka sedang bermusuhan dengan matahari. Ada satu kabar yang dibawa oleh burung pelikan, disiarkan juga oleh koran-koran lokal.

Terdapat sungai di Kota Panas.

Kabar itu segera membuat heboh semua manusia di Kota Panas, ibu-ibu menggendong anaknya tinggi-tinggi sambil melompat dan berputar girang, para ayah bersedekap sambil mengangguk dan tersenyum senang, para anak-anak berlarian kesana-kemari dan berteriak nyaring, para jompo ikut tersenyum di atas kursi goyang.

Semuanya senang.

Kecuali matahari yang mengernyit kening kebingungan sendiri.

“Darimana?” Satu pertanyaan keluar dari mulut matahari yang demen nongkrong di tempat itu.

Satu anak kecil perempuan; rambutnya hitam legam sebahu, pipinya bulat, badannya kurus dengan sedikit daging menempel, kulitnya sawo matang, umurnya kira-kira 5 tahun, keluar dari kerumunan manusia-manusia Kota Panas.

Ia sendirian mendongak pada matahari.

“Darimana?” tanya anak kecil perempuan itu sepertinya ditunjukkan pada matahari.

Matahari pun menggeleng. “Mana aku tahu,” jawabnya ketus. Matahari sudah benar-benar marah dan tidak senang pada manusia-manusia di Kota Panas.

“Oh.”

Anak kecil perempuan itu kemudian duduk bersila di atas pasir yang mendidih karena matahari dan memang Kota Panas punya pasir yang sangat panas.

“Kenapa kamu malah duduk disitu? Bukannya ikut merayakan sungai?” singgung matahari, yang, sepertinya tidak terlalu senang dengan keberadaan anak kecil karena sebagian makhluk menganggap anak kecil adalah hal paling menakutkan daripada sosok setan. Mereka bisa merengek membuat bising hingga terdengar kota sebelah, mereka bisa menunjukkan binar yang diam-diam ternyata memiliki maksud jahat.

Anak kecil itu diam saja.

Matahari diam-diam menghela napas dan dalam hati berkata kalau ia adalah anak gila.

“Tidak mungkin ada sungai, kan?” monolog si anak kecil perempuan.

“Nadhira!”

Anak kecil perempuan itu merasa terpanggil, segera ia menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati bahwa ada satu anak kecil perempuan lagi dan satu anak laki-laki sedang melangkah mendekat padanya.

Mereka berdua adalah teman dari Nadhira— anak kecil perempuan yang tadi disangka gila oleh matahari—.

Yang satu, adalah anak perempuan kecil yang sangat manis, badannya lebih kecil daripada Nadhira yang kecil, rambutnya panjang bergelombang dan suka diikat dua dengan pita berwarna merah apel sebagai hiasan. Orang-orang di kota panas memanggilnya dengan nama Nin, yang merupakan singkatan dari Ninda.

Lalu yang kedua adalah anak laki-laki yang tidak keren, tampangnya biasa-biasa saja, sifatnya sangat menyebalkan karena suka memainkan rambut Nin yang diikat dua, dan suka mengambil lalu menyembunyikan pita Nin. Namanya Deno Si Anak Yang Tidak Keren.

Nin mendekat dengan sangat manis. “Sedang apa?” tanyanya berdiri di sebelah Nadhira.

Nadhira menoleh.

“Kebingungan.”

“Karena apa?”

“Sungai.”

“Buat apa dibingungin? Sungai itu bagusnya bukan main,” celetuk Deno si Anak Yang Tidak Keren.

Nin yang sangat manis geleng-geleng kepala, kemudian menoleh malas pada Deno. “Memangnya kamu sudah lihat?”

Kini giliran Deno yang menggeleng.

“Belum, sih. Cuma tadi aku lihat fotonya di koran, sungainya benar-benar bagus, panjang, ada air, lalu ada batu-batu di pinggirnya. Dan saat aku baca, katanya sungai itu punya banyak air, dan tidak akan dibor lagi,” jelas Deno dengan menggebu-gebu, dengan sangat seru, seakan Deno adalah pembicara berita di televisi.

“Memangnya kamu bisa tahu itu air? Kan, warnanya di koran jadi monokrom,” balas Nadhira membuat si pembicara berita jadi terdiam di tempat. Berpikir.

“Tapi itu memang air kok, Nad. Mengapa kamu tidak percaya?” balas pembicara berita membuat Nadhira yang kini terdiam di tempat. Berpikir.

“Aneh saja, mereka dapat air darimana?”

“Mungkin mereka mencangkul sampai bawah.”

“Siapa yang mau melakukan kegiatan capek? Manusia-manusia di Kota Panas, kan, pemalas.”

“Para atasan membayar orang— mungkin,” sahut Nin dengan nada yang sangat manis. Semanis gulali.

Kali ini, ketiganya terdiam di tempat, dan berpikir, ada juga yang melamun saja, namun kembali berpikir. Entah memikirkan apa. Hanya berpikir, layaknya orang-orang dewasa yang selalu berpikir cara hidup ke depannya.

 Tapi karena mereka bukanlah orang-orang dewasa, jadi mereka tidak memikirkan kehidupan. Mereka memikirkan tentang sungai baru, yang tiba-tiba saja hadir, layaknya sihir dari peri di dongeng Cinderella.

“Mereka pasti meminta bantuan setan dan iblis,” simpul Deno menyeletuk tiba-tiba.

Nin dan Nadhira segera menoleh kompak ke arahnya, dengan raut wajah dipenuhi tanda tanya.

Deno terlalu kuno, pikir kedua anak kecil perempuan itu secara bersamaan. Sedang Deno sedang memikirkan hal lain seperti: dirinya akan dipuji karena membuat simpulan yang keren.

Namun kembali lagi, Deno adalah anak yang tidak keren.

 Matahari yang sekiranya sudah muak dengan pembicaraan tidak jelas dari anak-anak kecil di Kota Panas segera menyela pembicaraan.

“Berhentilah, daripada kalian membuat simpulan tidak jelas kenapa tidak mengeceknya sendiri saja?!”

Ucapan matahari ada benarnya juga. Anak-anak juga berpikir seperti itu, jadi, mereka segera beranjak dan berlari menuju sungai yang letaknya di daerah Utara Kota Panas. Mereka berlari dengan lincah di atas hamparan pasir panas yang terbakar matahari dengan alas kaki tipis karena tidak ada uang lagi untuk membeli yang baru di Pasar Gelap; Pasar yang sangat gelap dengan barang jualan yang gelap-gelap.

Sampai di Utara Kota Panas, semua orang berkerumun, membentuk lautan manusia di depan sungai, membuat mereka—para anak-anak— tidak bisa melihat sungai baru itu dengan jelas karena tertutup badan besar dan tinggi-tinggi seperti tiang-tiang listrik.

Tapi karena mereka adalah anak-anak yang sangat kecil, mereka bisa menyelinap masuk di sela-sela layaknya tikus got, namun kadang terjepit, dan terdorong, mereka tetap memaksa masuk melalui sela-sela.

Sampai juga mereka di depan sungai itu.

Nin yang sangat manis menghela napasnya dengan berat, disusul oleh helaan napas Deno dan Nadhira secara bersamaan.

“Capek,” keluh Nadhira menyeka keringat yang keluar dari pori-pori dahinya.

Nin mengangguk setuju.

“Orang dewasa bau,” sambung Deno lalu bergaya ingin muntah.

Nadhira menghela napas— sekali lagi. Ia kemudian menolehkan kepala pada hamparan sungai besar di depan matanya. Airnya berwarna biru bening berkilau indah seperti berlian, lalu memanjang entah sampai mana ujungnya, menggiurkan seperti permen karet.

Memang terlihat seperti sungai sungguhan.

Namun, tidak ada arusnya.

“Tidak ada arus,” komentar Nadhira, ia mengernyit kening, memikirkan sesuatu sambil matanya memicing tajam menganalisis mirip detektif di dalam buku ataupun komik-komik.

Nin ikut-ikutan menoleh. Ia mengangguk setuju kemudian.

“Dari buku ‘Ciri-ciri air’ karya Bunda Nau, disebutkan kalau misalnya air yang baik adalah tidak bau, tidak berwarna, dan saat dilempar ke alam bebas punya arus,” jelas Nin yang memang suka membaca banyak buku dan mengingat-ingat isi buku yang ia baca.

Karena, ada tuntutan tidak terlihat yang berkata bahwa perempuan yang sangat manis, harus juga jadi perempuan yang sangat pintar, tapi jangan terlalu pintar, karena laki-laki bisa minder.

Nin patuh pada tuntutan tidak terlihat itu.

Tapi, Nadhira, tidak patuh pada tuntutan itu. Nadhira memang pintar, sedikit gila, dan selalu membantah, apalagi pada tuntutan tidak terlihat seperti itu. Menurut Nadhira, kalau laki-laki minder adalah urusan laki-laki itu sendiri, dan perempuan bisa menjadi sangat pintar sepintar-pintarnya.

“Betulkan, ini lebih mirip es beku yang tidak cair,” sahut Nadhira. Ia kemudian menolehkan kepala ke kanan dan kiri, seakan sedang mencari sesuatu. “Tidak ada peri kecil di sungai ini, jadi, ini bukan sungai!”

Plak.

Satu tamparan dilayangkan pada Nadhira yang mengeluarkan pendapatnya dengan lantang, tamparan dari orang dewasa yang Nadhira, Nin, dan Deno sendiri tidak kenal.

Orang dewasa itu bentukannya macam pria, rambutnya botak, berkumis tipis, kurus kering, dan bau (kata Deno).

“Apa maksudmu itu bocah?!” sungut pria itu.

Pipi Nadhira merah dan peri, Nadhira tidak mengelusnya, tapi dia malah melayangkan tonjokkan pada pria itu yang tadi menamparnya.

“Apa? Aku bilang ini bukan sungai! Ini sungai palsu!”

“Ini sungai asli, bocah!”

“Ini sungai palsu, bangsat!”

Seluruh manusia di Kota Panas memundurkan jaraknya dari mereka berdua yang sedang bertengkar. Pria itu masih diselimuti amarah, dia ingin menampar Nadhira lagi. Namun, segera ditahan oleh sosok perempuan dewasa yang tiba-tiba datang dari belakang pria itu.

“Bisa tolong jangan sakiti anak kecil?” tanya perempuan itu nadanya seakan diseret-seret, suaranya berat dan dewasa.

Pria itu mati kutu di tempat. Segera bergetar ketakutan lalu lari terbirit-birit seperti kecepirit.

Nadhira merasa merdeka, dia menghela napas lega— untuk sekian kalinya. Kemudian berterima kasih pada perempuan dewasa yang menyelamatkannya itu.

“Kenapa kamu bilang begitu?” tanya perempuan dewasa itu sembari menyamai tingginya dengan Nadhira. Karena saat berbicara dengan anak kecil, sudah sepatutnya orang dewasa yang menurunkan tinggi badannya, bukan malah berdiri begitu saja seperti yang dilakukan pria itu.

Jadi, untuk kalian yang sekiranya ingin berbicara dengan anak kecil, kalianlah yang harus menurunkan dan menyamai tinggi badan dengan anak kecil.

“Tidak ada peri kecil di sekitar sini, dan kata Nin, tidak ada arus,” jelas Nadhira pada perempuan dewasa di depannya.

Nin mengernyit kening. “Bukan kataku, namun kata Bunda Nau,” ralat anak perempuan yang sangat manis, karena anak perempuan yang sangat manis haruslah rendah hati.

Perempuan dewasa itu mengangguk setuju. “Memang benar, ini adalah sungai palsu,” katanya pertama-tama. Lalu, lanjut yang kedua, “Namun kalian jangan bilang pada siapa-siapa, berpura-puralah bahwa kalian tidak tahu kalau ini adalah sungai palsu.”

“Berbohong itu tidak baik,” komentar Deno melirik tajam.

“Itu memang benar. Namun, daripada kalian dihantam warga yang lebih percaya bahwa ini adalah sungai asli bagaimana?”

Nin, Nadhira, dan Deno terdiam di tempat.

“Para atasan sengaja untuk membangun sungai palsu agar warga diam, dan tidak rewel seperti bayi meminta susu, para atasan sengaja membangun sungai palsu agar warga bungkam. Dan, warga percaya. Sesuai skenario,” jelas perempuan dewasa itu.

“Kenapa skenario?” tanya Nadhira penasaran betul. “Mengapa tidak jujur saja?’

“Kebohongan manis lebih indah daripada kejujuran yang pahit, kan?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Neisya Putri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu