Generasi Kami Tiktok; Pelajar SMK - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

GilangSunu AdityaPutra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Desember 2021

Senin, 6 Desember 2021 12:30 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Generasi Kami Tiktok; Pelajar SMK

    Artikel yang mengupas tuntas mengenai arti dari Merdeka Belajar dan metode yang digunakan agar pembelajaran tetap bejalan dengan baik, mengatasi Learning Loss dan menciptakan ketertarikan serta keterikatan belajar para peserta didik

    Dibaca : 656 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    GENERASI “KAMI TIKTOK” PELAJAR SMK

    Gilang Sunu Aditya Putra, S.Pd.

    Sekolah Menengah Kejuruan (SMK/MAK) memiliki peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan serta mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Sekolah Menengah Kejuruan merupakan salah satu jenjang pendidikan menengah dengan ciri khusus yang mempersiapkan lulusannya untuk siap terjun pada dunia kerja. Peserta didik pada Sekolah Menengah Kejuruan tidak hanya dibekali dengan pengetahuan dalam aspek kognitif, namun lebih mengedepankan kemampuan dalam bidang keterampilan tertentu sesuai dengan bidang keahlian yang menjadi pilihan peserta didik. Para peserta didik disiapkan untuk terjun pada dunia kerja, mudah beradaptasi dengan lingkungan kerja yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri dan juga senantiasa mengikuti perkembangan zaman. Salah satu upaya dari Sekolah Menengah Kejuruan untuk mengedepankan prinsip pembelajaran 70% praktik dan 30% teori adalah dengan menjalin kerja sama dengan bebagai macam Dunia Usaha/ Dunia Industri (DU/DI) yang sesuai. Bentuk kerja sama tersebut diantaranya adalah pelaksanaan program Praktik Kerja Lapangan (PKL). Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2020, Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan pembelajaran bagi peserta didik SMK/MAK, SMALB, dan LKP yang dilaksanakan melalui praktik kerja di dunia kerja dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kuikulum dan kebutuhan dunia kerja.

     

    Adaptasi proses pembelajaran dimasa Pandemi Covid-19

    Peserta didik SMK diarahkan untuk memiliki karakter KAMI (Kolaboratif, Adaptif, Mandiri dan Inovatif). Hal tersebut dapat terlihat dari proses dan konsep pembelajaran yang ada di SMK, dimana proses pembelajaran lebih ditekankan pada proses pembelajaran praktik dengan komposisi 70%. Namun semua berubah ketika pandemi covd-19 datang. Semua aspek kehidupan termasuk sistem pendidikan di Indonesia mengalami perubahan. Peserta didik dan guru dituntut untuk cepat beradaptasi dengan kondisi tersebut. Sistem pembelajaran tatap muka, praktik pembelajaran langsung di laboratorium atau bengkel kejuruan yang biasanya berjalan dengan baik, semua harus berubah dengan konsep Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Adanya ketidaksiapan dan juga untuk cepat beradaptasi dengan konsep PJJ dan PTMT  tersebut, menyebabkan terjadinya Learning Loss atau ketidak mampuan peserta didik untuk menangkap kompetensi (materi) pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan oleh peserta didik dan guru untuk meminimalisir kondisi Learning Loss tersebut agar karakter KAMI pada peserta didik SMK tetap dapat terpatri di dalam diri mereka?. Kunci dari pertanyaan tersebut adalah ada pada Guru sebagai pilot pada proses pembelajaran. Guru dituntut untuk senantiasa inovatif dan kreatif. Seiring dengan dicanangkannya revolusi industri 4.0 maka dinamika pembelajaran tidak boleh lagi mengimplementasikan cara yang konvensinal, terutama dalam pemilihan media pembelajaran. Media pembelajaran di era digital harus diselaraskan dengan perkembangan teknologi. Media pembelajaran haruslah menarik, dekat dan lekat dengan peserta didik.

    Generasi KAMI TIKTOK : solusi pembelajaran di masa pandemi

    Bicara mengenai media pembelajaran, guru dapat memilih salah satu media pembelajaran yang dinilai berpusat pada peserta didik, dekat dengan kehidupan mereka, dan tentunya media tersebut memberikan kesan yang menyenangkan ketika mereka menggunakannya sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Salah satu media yang dapat dioptimalkan keberadaanya adalah dengan mengoptimalkan aplikasi media sosial, yaitu aplikasi TikTok.

    Aplikasi TikTok hadir dengan predikat minir dari masyarakat, namun ironisnya rerata anak generasi Z sangat menikmati aplikasi ini, Berdasarkan premis tersebut maka dapat ditarik generalisasi bahwa apabila digunkan serta dimediasi secara tepat maka Aplikasi TikTok akan menjadi sebuah media pembelajaran yang menarik serta menyenangkan. Penggunaan Aplikasi TikTok sebagai media pembelajaran interaktif diharapkan membantu peserta didik dalam memahami dan menerima proses pembelajaran yang dilakukan guru. Media pembelajaran interaktif dapat mewakili apa yang belum bisa disampaikan guru dan proses pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Melalui aplikasi TikTok, guru dapat dengan mudah menciptakan pembelajaran interaktif, sehingga dapat disesuaikan dengan lingkungan, situasi, dan kondisi dari peserta didik.

    Kolaborasi penggunaan aplikasi media sosial TikTok dapat membantu untuk menciptakan Generasi KAMI bagi peserta didik SMK dan juga tentunya dapat meminimalisir terjadinya Learning Loss. Generasi KAMI TIKTOK merupakan akronim dari Generasi Kolaboratif, Adaptif, Mandiri, dan Inovatif dalam bingkai penggunaan aplikasi TikTok. Beberapa alasan mengapa Saya, melalui pengalaman mengajar baik pada saat proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) maupun Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) menggunakan aplikasi TikTok sebagai media pembelajaran yang dirasa efektif, yaitu:

    1. Aplikasi TikTok merupakan aplikasi media sosial yang dalam waktu satu tahun terakhir ini merupakan aplikasi yang paling banyak diakses oleh para generasi Z, dimana generasi tersebut merpakan usia yang sudah paham akan keberadaan gawai dan kebermanfaatan akses internet yang mereka jumpai dalam kesehaian mereka.
    2. Bagi sebagian besar masyarakat kita, aplikasi TikTok masih dianggap sebatas untuk media hiburan saja dan cenderung kurang bermanfaat bahkan dianggap negatif. Namun, dalam beberapa kasus, saat ini TikTok dapat digunakan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas.
    3. Adanya menu dan berbagai macam fitur pada aplikasi TikTok yang sebenarnya sangat mendukung pendidikan, namun kurang dapat dioptimalkan dengan baik oleh para peserta didik.
    4. Mengasah kreativitas para peserta didik dan inovasi mereka untuk dapat berkarya menggunakan aplikasi TikTok, sehingga pandangan negatif dari penggunaan aplikasi tersebut dapat terbantahkan

    Alasan di atas didukung oleh adanya pengakuan dan dukungan dari pihak Kemendikbudristek mengenai program atau tema #SamaSamaBelajar yang diusung oleh pihak TikTok untuk dapat menyediakan konten edukasi yang dapat diakses oleh peserta didik pada bulan Mei 2021 yang lalu. Generasi Kolaboratif, Adaptif, Mandiri dan Inovatif dapat tercipta dengan pengoptimalan penggunaan fitur yang ada pada TikTok dan tentunya melalui arahan dan juga pengawasan dari para guru, agar penggunaan aplikasi tersebut tetap pada jalur yang tepat.

    Kolaboratif, dapat tercipta dengan adanya kerja sama dari peserta didik dan guru untuk mengkomunikasikan dan mengkolaborasikan ide-ide menarik mengenai suatu hal yang mengedukasi yang dituangkan melalui penggunaan aplikasi TikTok.

    Adaptif, peserta didik SMK dituntut untuk dapat beradaptasi dengan segala kondisi yang ada di lapangan. Biasanya mereka disiapkan untuk dapat bekerja atau berwirausaha selepas mereka lulus dari SMK. Melalui fitur-fitur yang ada pada TikTok, arahan dan juga pengawasan dari guru, peserta didik dapat beradaptasi dengan penggunaan teknologi yang ada dan mengoptimalkan materi pembelajaran yang telah disasmpaikan oleh guru dengan membuat konten yang menarik, sehingga dapat membantu mereka pada saat proses pembelajaran berlangsung dan mengatasi terjadinya Learning Loss.

    Mandiri, peserta didik SMK setelah menyelesaikan pendidikan di SMK, biasanya mereka akan bekerja atau dituntut untuk dapat mandiri setelah lulus dengan jalan membuka usaha atau menjadi wirausaha. Mereka dapat memanfaatkan media TikTok untuk belajar bagaimana menjadi konten kreator, bagaimana mempromosikan produk yang mereka buat pada khalayak umum, apa keunggulan dari produk yang mereka buat, dan bagaimana proses pembuatan produk tersebut. Produk yang mereka cipta dan pasarkan tersebut dapat dengan mudah tersampaikan pada masyarakat dengan bantuan kekuatan media sosial. Informasi yang mereka sajikan pada aplikasi TikTok dapat disalurkan melalui media sosial lain yang ada seperti Facebook, Instagram, bahkan status Whatsapp, sehingga penyampaian informasinya menjadi lebih luas.

    Inovatif, karakter peserta didik SMK yang Kolaboratif, Adaptif, dan Mandiri tidak dapat dengan sempurna tercipta ketika peserta didik kurang memiliki sikap Inovatif dalam dirinya. Melalui aplikasi TikTok, peserta didik dapat belajar dan mengembangkan inovasi yang mereka miliki melalui konten yang mereka buat, sehingga dengan bantuan aplikasi tersebut dapat merangsang inovasi-inovasi baru para peserta didik dalam membuat konten yang tentunya bermanfaat bagi mereka dan orang-orang yang melihat.

                Generasi KAMI TIKTOK merupakan solusi dari kekhawatiran adanya generasi rebahan yang belakangan ini muncul dan jumlahnya meningkat tajam. Adanya kegiatan PJJ yang mengharuskan peserta didik berjam – jam berdekatan dengan gawai yang mereka miliki, menyebabkan generasi rebahan itu meningkat pesat. Generasi KAMI TIKTOK dapat diaplikasikan dengan tetap mengedepankan pengawasan dan tentunya arahan dari Bapak/ Ibu Guru dan tentunya konsep penerapan generasi KAMI TIKTOK inipun dapat juga diadaptasi oleh semua jenjang pendidikan, tidak hanya SMK. Mari ciptakan generasi Indonesia yang senantiasa memiliki sikap Kolaboratif, Adaptif, Mandiri, dan Inovatif, untuk menyongsong dan mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045

                “Mendidik Pikiran Tanpa Mendidik Hati, Bukanlah Pendidikan Sama Sekali”. Kalimat tersebut bermakna bahwa, sebagai seorang guru, tugas kita bukanlah hanya sekadar membentuk generasi emas dengan segudang prestasi dan kemampuan kognitif semata, namun juga harus selalu menanamkan, dan mempertahankan attitude dan nilai – nilai moral pada dalam diri peserta didik. Karena, nilai ulangan yang belum tuntas dan mencapai Kriteria Belajar Minimal dapat diperbaiki dengan kegiatan remidi dan pengayaan pada keesokan harinya. Namun, rusaknya attitude dan nilai moral dari dalam diri peserta didik perlu waktu lama untuk dapat menyempurnakan kembali.

     

    Gilang Sunu Aditya Putra, S.Pd. Penulis atikel merupakan Guru Produktif atau kejuruan Kompetensi Keahlian Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran dari SMKN 1 Cilacap dan mendapatkan kesempatan untuk menerima apresiasi Guru SMK Inspiratif dari Kemendikbudristek, Ditjen Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tahun 2021.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.