x

Iklan

Budi Saputra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Desember 2021

Senin, 6 Desember 2021 20:20 WIB

Tempat Beras Ibu dan Seorang Tamu dari Iringan Rombongan Menteri

Fiksi. Lomba Cerpen Indonesiana

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Bagi ibu, tempat beras adalah suatu  hal yang harus diperhatikan betul di rumah. Pantang bagi ibu bila sampai tempat beras yang berupa dandang besar itu kosong hingga menimbulkan masalah. Terlebih bila aku sebagai anak perempuan tertua melakukan hal itu, maka bersiap-siaplah dibentak ibu, hingga membuatku pernah menangis sesegukan di sudut dapur yang setia memakai tungku dan kayu bakar itu.

“Jangan biarkan tempat beras kosong. Ingat itu, Yati. Kalau tiba-tiba ada malaikat yang datang bagaimana?”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ibu selalu menyampaikan dengan nada serius apabila berkaitan dengan tempas beras yang ada di sudut pintu menjelang ke dapur. Sampai-sampai, ibu menyebut malaikat sebagai petakut agar aku memegang teguh nasehat itu.

Aku yang masih duduk di bangku SD, mencoba mencerna nasehat ibu kala itu. Malaikat yang dikatakan ibu, tentu saja bukan arti yang sebenarnya, melainkan  tamu yang bisa jadi tiba-tiba datang tanpa diduga. Ibu menyampaikan panjang lebar perihal pentingnya menjaga tempat beras agar tak kosong melompong. Jika tempat beras kosong, tentu saja tempat nasi juga akan kosong. Itu artinya, apabila ada tamu yang datang, maka tercorenglah muka ayah dan ibu sebagai tuan rumah yang tak siap dalam menjamu tamu.

Satu prinsip yang disampaikan ibu padaku soal tempat beras yaitu, biarlah bahan masakan dari pasar habis, asalkan tempat beras tak kosong melompong. Sebab jika bahan masakan dari pasar habis, maka masih bisa sayur mayur di kebun belakang rumah dimanfaatkan sebagai masakan.

Agar aku terbiasa melakukan tugas di dapur, maka sedari kecil ibu  menyuruhku membeli beras, dan menyalin sendiri ke dandang besar yang disiapkan ibu. Begitu pula dalam menanak nasi. Dulu, sebelum ada mesin penanak nasi atau rice cooker, ibu mengajariku untuk menggunakan periuk di atas tungku. Tentu saja awalnya aku begitu repot mengatur takaran air, hingga harus berdiang di dapur yang dipenuhi asap dari kayu bakar itu. Namun seiring berjalan waktu, aku pun terbiasa dengan segala tugas membeli beras hingga menanak nasi. Bahkan untuk pekerjaan dapur yang lain, aku juga lumayan cekatan seperti memadukan rempah, membuat penganan, dan tahu dengan nama-nama rempah, atau bahan masakan yang diperlukan di dapur.

Di luar dapur atau tepatnya di pekarangan belakang, aku dengan mudah memetik berbagai rempah atau bahan masakan. Di sana ditanam serai, kunyit  lengkuas, talas, lada, tomat, hingga pohon pisang.  

Tapi begitulah. Aku tak selamanya menjalani tugas dari ibu dengan baik. Terkadang aku lupa, hingga membuat ibu marah besar karena membiarkan tempat nasi kosong dari pagi hingga sore hari.

“Yati, kenapa kau biarkan tempat nasi kosong? Ibu kan sudah bilang, masak nasi dan lebihkan takarannya. Ada tamu yang akan datang sore ini!”

Kala itu, ibu benar-benar kulihat marah besar karena aku lupa menunaikan tugasku. Pada pagi harinya, ibu dan ayah memang pamit untuk  pergi ke rumah kerabat dalam menghadiri acara keluarga. Seperti biasa, jika akan berpergian, ibu selalu mengingatkanku perihal tempat beras maupun tempat nasi di dapur. Jika nasi sudah habis, maka wajib hukumnya aku menanak nasi sebanyak takaran keluarga di rumah. Jika ada kabar tamu yang akan datang, maka takarannya harus dilebihkan lagi agar semua tamu bisa makan dengan lahap dan kenyang.

Aku sungguh kaget dengan bentakan ibu kala itu. Segera kutunaikan tugas itu begitu ibu mengatakan bahwa sebentar lagi akan datang tamu yang berjumlah tiga orang. Aku sendiri tak habis pikir mengapa aku lupa menunaikan  tugas pada hari itu. Sementara dua adik perempuanku juga luput, dan asyik bermain di rumah tetangga sebelah.

Tapi sungguh ada kejadian aneh sebelum ayah dan ibu pulang ke rumah. Buah nangka yang besar dan hampir dipanen di belakang rumah, tiba-tiba dimakan oleh sekawanan kera yang begitu kelaparan.

“Hus, hus, hus, pergi kalian. Kurang ajar.  Hus, huss..”

Aku yang kebetulan hendak mengambil jemuran di sisi kanan rumah, begitu geram melihat sekawanan kera itu. Aku tentu berusaha mengusir mereka dengan cara melemparkan batu ke arah mereka. Tapi walaupun usahaku berhasil, buah nangka yang akan dipanen ayah itu tak bisa terselamatkan seutuhnya. Itulah yang membuat ayah  marah besar terhadap sekawanan kera, dan juga padaku yang sebetulnya lupa menanak nasi dengan rice cooker, lantaran sibuk mengusir dan mencari tahu dari mana asal sekawanan kera itu. Dugaanku kala itu hanyalah, bahwa sekawanan kera itu datang dari semak belukar yang ada di belakang sebuah sekolah dasar terbengkalai, yang tak jauh dari belakang rumahku.

***

Seiring berjalannya waktu, maka tugas menanak nasi masih saja aku yang dijadikan ujung tombak, atau andalan oleh ibu. Meskipun ada dua adik perempuanku, tetap saja aku yang punya tanggung jawab yang lebih, dan sewaktu-waktu juga harus mengajari mereka berbagai macam pekerjaan rumah.

Seiring majunya teknologi di kota, maka kampungku juga bagai disulap sedemikian  rupa untuk senantiasa menggunakan benda-benda teknologi yang memudahkan aktivitas itu. Dari menanak nasi di tungku kayu bakar telah beralih ke rice cooker. Dari mencuci pakaian di lantai, telah beralih ke mesin cuci yang tinggal pencet tombol dan berputar sendiri.

Aku tentu saja cukup terbantu dengan benda-benda yang memudahkan pekerjaanku itu. Kepada dua adik perempuanku yang masih di bangku SD, maka aku ajari betul setiap pekerjaan rumah agar mereka terbiasa, hingga sangat berguna jika kelak mereka berumah tangga. Tak terkecuali untuk ikut serta memperhatikan tempat beras ibu yang amat krusial itu.   

Hingga aku duduk di bangku SMP tingkat akhir, tempat beras ibu tetaplah begitu, dan tak pernah bertukar sejak aku masih kecil.  

“Tempat beras ini tak melulu untuk makan kita sekeluarga. Ada untuk tamu, pengemis, dan orang-orang yang terkena musibah.”

“Jadi jika datang pengemis boleh  aku berikan beras, ya Bu?”

“Tentu saja boleh, Yati. Tak harus kita berikan uang. Untuk tetangga yang ditimpa kematian pun boleh kita berikan beras. Hitunglah butiran beras, berapa banyak  pahala yang akan berikan Tuhan jika kita bersedekah dengan beras?”

Aku tentu saja memegang erat-erat perkataan ibu, soal tempat beras yang ada di belakang pintu menjelang dapur itu.

“Kita akan doa bersama, syukuran. Masak nasi yang banyak, Yati. Kita undang keluarga dekat saja.” 

Sewaktu ayah naik pangkat di kantor, maka aku yang sibuk membagi tugas dengan dua adik perempuanku. Jangan sampai beras untuk keluarga dan tamu berkurang takarannya. Kapan perlu berlebih, hingga bisa dibawa pulang oleh tamu yang datang.  

Di lain waktu, seorang ponakan ayah yang diangkat menjadi PNS pun dirayakan dengan acara kecil-kecilan. Ayah mengundang sang guru muda itu, dan menyuruhku untuk menanak nasi dan memperhatikan takarannya.  

Pula kala sekelompok mahasiswa KKN datang, dan singgah di dekat rumah kala itu. Ibu yang dikenal suka mengobrol dan memperhatikan orang-orang yang baru datang, terlihat akrab saling berkelakar olehku pada pagi itu. Dari sekian lama kelakar itu, ujung-ujungnya, bahwa akulah yang suruh ibu untuk mengambil sekian kilogram beras, dan memberikan beras itu langsung ke tangan seorang mahasiswa yang cukup tampan bagiku.

Aku memberikan beras itu dengan kepala menunduk. Meski aku masih duduk di bangku SMP, tapi aku merasa diperhatikan  betul oleh para lelaki yang hadir kala itu. Aku merasa kecantikan, hidung mancung,  dan kulit putihku mungkin saja membuat para lelaki meleleh melihatku. Maklum saja, di rumah saja ayah memanggil dengan sebutan bidadari kecil penyejuk mata, di samping ibuku yang sungguh cantik menurutku.

Aku jelas saja tersipu malu ketika mereka menyapa dan sedikit menggodaku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Ah, bisa saja aku berpikir tentang cinta-cintaan kala itu. Dasar perempuan gatal. Sempat juga melirik secara diam-diam di balik jendela rumah terhadap seorang lelaki tampan berambut ikal itu.

***

Namun meski telah beranjak dewasa dan semakin cekatan mengerjakan pekerjaan rumah, sekali waktu, aku kembali lupa dengan tugasku. Tempat nasi kosong melompong tepat dua hari setelah hari kelulusanku di bangku akhir SMA.  Kala itu, aku memang asyik bermain di rumah teman dari pagi hingga jam istirahat siang. Sedangkan ayah, ibu dan dua adik perempuanku,  sedang berada di rumah keluarga yang tak jauh kampung.

“Yati, apa sudah menanak nasi untuk tamu? Ingat, ada rombongan menteri datang hari ini.”

Tiba-tiba saja chat Whatsapp  masuk, dan bagai menjelma wajah ibu yang  memelotiku dengan sorot mata yang tajam.

Aku tak menjawab. Sadar dengan kesalahanku, maka aku segera pulang, dan menunaikan tugas dari ibu.

“Apa rombongan menteri  datang ke rumah kita, Bu?” Begitulah aku bertanya pada ibu sehari  sebelum kedatangan rombongan menteri itu.

Ibu kulihat mengulum senyum. “Itu rahasia. Ibu tak akan menjawabnya. Yang jelas, masak saja nasi, dan makanan yang enak untuk tamu. Apa kau mengerti, Yati?”

Aku menganggukkan kepala tanda mengerti. Aku yakin, bahwa itu hanyalah lelucon ibu agar aku menyiapkan segalanya sebelum menyambut tamu.

Tapi begitulah. Kejadian aneh kembali kualami, begitu aku pulang dan sampai di pekarangan rumah. Bau bangkai tiba-tiba menyeruak dan bagai mengcengkram erat tubuhku. Aku tak habis pikir, dan kembali bertanya-tanya dalam hati, bau bangkai apakah, dan dari mana  asalnya bau bangkai itu? Padahal sebelum aku meninggalkan rumah, aku sama sekali tak mencium bau bangkai yang menyengat itu.

Tanpa pikir panjang, aku harus segera menanak nasi terlebih dahulu, sebelum mencari asal bau bangkai yang menyengat itu. Begitu pekerjaanku selesai, maka setelah lelah berkeliling, ternyata aku menemukan bangkai seekor kucing yang telah dikerubungi belatung di bawah rumpun serai  di halaman rumah.

Perutku begitu mual dan hendak muntah kala itu. Bau bangkai yang amat menyengat. Namun begitu melihat bangkai kucing itu, pikiranku segera tertuju pada sebuah pohon mangga yang berusia lebih tua dariku. Pohon mangga yang terletak di samping kiri jemuran itu, memang pohon mangga yang keramat menurutku. Di bawahnya, seingatku telah ada tiga ekor kucing yang  di kuburkan di situ.

Namun begitulah.  semakin banyak kucing yang dikuburkan, maka pohon mangga itu semakin berbuah lebat dan buahnya terasa begitu manis. Terlebih saat dikuburkan kucing keempat pada siang itu. Keahlianku menggali kuburan kucing, kembali dilakoni saat mengayunkan cangkul yang biasanya disimpan ayah di dapur.

Dalam hati aku berkata, mengapa tiba-tiba ada saja masalah jika aku lupa menunaikan pesan ibu? Perihal tempat beras dan menanak nasi, sungguh memberikan cerita yang begitu magis bagiku. Namun di balik peristiwa lupanya aku pada hari itu, nyatanya aku melihat tamu yang datang memang bukanlah rombongan menteri. Melainkan seorang saudara ibu yang kebetulan ke kampung pada hari yang sama, dan beriringan  bersama rombongan  itu.

Meskipun begitu, aku tetap puas dengan lelucon itu, karena bisa bertemu dengan saudara ibu, dan melihatnya begitu lahap makan di ruang tamu.

Namun pada  kali yang lain, atau tepatnya empat tahun kemudian, ibu tiba-tiba kembali mengatakan padaku akan kedatangan rombongan menteri. 

“Ingat, Yati. Akan ada datang rombongan menteri ke kampung kita. Menyambangi tempat wisata. Bersiaplah dengan nasi dan masakan yang enak.”

“Lalu apa hubungan dengan kita, Bu? Bukanlah rombongan itu jelas bukan ke rumah kita?”

Ibu kulihat tersenyum. Begitu juga dengan ayah. Jelas, aku begitu heran dengan gelagat ayah dan ibu yang seperti menyimpan rahasia itu.

“Pokoknya ada kejutan, Yati. Yuk, kita siapkan semua makanan untuk rombongan menteri itu.” Tukas ibu dengan wajah yang tampak berbinar-binar.

Lagi-lagi aku semakin bingung dengan apa yang terjadi pada pagi itu. Aku tahu, di berita yang kubaca, memang rombongan menteri akan datang menyambangi kampungku. Namun, sekali lagi, apa hubungannya dengan ayah dan ibu yang begitu sumringah menyiapkan hidangan untuk tamu?

Tanpa pikir panjang, maka aku siapkan segala yang perlu dihidangkan untuk tamu yang dirahasiakan ayah dan ibu.

“Oya, pakailah pakaian yang bagus, dan berhiaslah secantik mungkin, Yati. Malu kita dilihat rombongan menteri. Adik kembarmu lihatlah, mereka begitu cantik dengan  pakaian yang serasi.” 

Duh, aku jelas  semakin tak mengerti apa yang terjadi kala itu. Aku memilih manut saja dan mulai menerka-nerka. Bisa jadi ada tamu ayah, atau tamu ibu yang bertamu bersama rombongan menteri itu.  

Aku sungguh tak menyangka apa yang akhirnya terjadi pada siang itu. Ternyata, tamu yang datang ke rumah bukanlah rombongan menteri, melainkan seorang lelaki tampan yang serta merta membuatku tersipu malu kala itu. Selidik punya selidik, ternyata lelaki yang berbadan tegap itu, adalah seorang mahasiswa KKN yang pernah kuberikan sekantong beras atas perintah ibu.

“Dia anak teman ayahmu di kantor. Kenalkan dirimu dengan baik, Yati.”

Aku  jelas kaget sekaligus terharu dengan cara ayah dan ibu menjodohkanku dengan lelaki yang kini menjadi suamiku. Kala itu ia sengaja mengambil cuti kerja, di sebuah kementerian yang sama dengan rombongan menteri yang menyambangi kampungku. 

 

 

 

     

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Budi Saputra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler