Komunikasi Antar Pribadi dengan Teman Dekat; Perspektif Teori Pelanggaran Harapan

Kamis, 16 Desember 2021 11:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oleh Tuhfa Keysa Rasikha Budiman, Nina Yuliana

Komunikasi dilihat sebagai proses penyampaian pesan dari individu ke individu lainnya menggunakan pesan verbal atau non-verbal. Jika proses komunikasi efektif maka akan membawa pertumbuhan dalam diri kita lebih maju dan berlaku juga sebaliknya. Proses komunikasi akan selalu ada di dalam setiap hubungan, mulai hubungan dengan pasangan, keluarga, teman dan sebagainya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Berbagai macam lingkup komunikasi yang hadir seperti komunikasi antar pribadi, yang mana komunikasinya terjadi dalam waktu yang sering dengan durasi yang lama sehingga menimbulkan kedekatan dan keterbukaan antara orang-orang yang berkomunikasi. Dalam berkomunikasi antar pribadi kita dapat menggali sebuah informasi yang mengandung nilai, prinsip atau rahasia dari orang yang kita ajak berkomunikasi. Misalnya, suatu pembicaraan yang kita tahu tetapi orang lain tidak tahu. Komunikasi ini biasa terjadi antara lingkungan keluarga inti, sahabat, teman, dan guru spiritual atau hubungan-hubungan yang dekat (intim) dengan kita. Jika kita melakukan komunikasi ini, kita akan tersadar bahwa kita belum tentu dekat dan tahu segala hal tentang orangtua, teman dekat maupun sahabat kita.

Komunikasi sangat penting dalam sebuah jalinan hubungan pertemanan, karena dengan adanya komunikasi, kalian dengan teman akan saling memahami satu sama lainnya secara mendalam. Misalnya, ketika kita memiliki masalah dan kita curhat kepada teman dekat atau sahabat, dari situ mungkin teman atau sahabat merasa bahwa adanya kedekatan dengan kita, karena kita sudah memercayai mereka untuk bercerita tentang masalah yang dialami. Kita pun dapat melihat bagaimana komunikasi antar pribadi dengan teman dekat dilihat dari teori pelanggaran harapan.

Dalam komunikasi antar pribadi terdapat berbagai macam teori salah satunya adalah teori pelanggaran harapan yang dikemukakan oleh Judee Burgoon pada tahun 1978, seorang professor komunikasi dari Universitas Arizona. Teori ini menelusuri tindakan-tindakan manusia berekasi terhadap dugaan mereka yang menyimpang, dimana penyimpangan ini dapat dinilai negatif atau positif oleh kita tergantung persepsi atau sudut pandang penerima terhadap si pelanggar. Jika dugaan kita sesuai, maka kita akan menilai positif perilaku orang tersebut. Sebaliknya ketika dugaan kita tidak sesuai, kita akan menganggap negatif perilaku orang tersebut. Dugaan pun muncul dari karakteristik orang yang meliputi gender, usia, kepribadian, penampilan, reputasi, dan gaya mereka.

Menurut asumsi teori pelanggaran harapan, setiap orang memiliki harapan atau dugaan terhadap seseorang. Misalnya, kita memiliki dugaan kepada sahabat bahwa ia akan datang ke acara ulang tahun kita, tetapi tiba-tiba ia tidak bisa datang karena ada suatu hal penting yang harus ia selesaikan, padahal ia sudah berjanji akan datang. Jika kita mempunyai pengalaman yang sama di posisi sahabat kita, besar kemungkinan kita akan berpikir bahwa tidak masalah karena masing-masing orang pasti mempunyai pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Tetapi bisa saja kita berpikir bahwa sahabat ini hanya bisa berjanji saja tetapi tidak bisa menepati janjinya. Jadi kita dapat menilai suatu pelanggaran didasarkan bagaimana perspektif atau perasaan kita terhadap si pelanggar contohnya sahabat kita.

Bagikan Artikel Ini
img-content
TUHFA KEYSA RASIKHA BUDIMAN

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua