Pendampingan Belajar Anak Era Pembelajaran Daring

Kamis, 16 Desember 2021 12:24 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dan pendidik serta sumber belajar dalam lingkungan belajar. pembelajaran seperti ini sudah berjalan baik hampir di semua lembaga pendidikan. namun tanpa rencana terjadi perubahan karena sebab yang tidak pernah terbayangkan oleh dunia pendidikan bahkan termasuk orang tua. perubahan ini disebabkan oleh pandemi covid-19 yang kemunculannya telah merubah hampir di semua lini kehidupan saat ini. peserta didik yang biasanya mendapatkan materi ajar dari guru di lingkungan sekolah pun harus bergeser. yang biasanya didik oleh guru bergeser menjadi dididik oleh orang tua, yang biasanya di lingkungan sekolah bergeser belajar di rumah. maka orang tua sebagai guru di rumah selama pandemi harus bisa memahami bagaimana pendekatan pembelajaran yang dapat dan harus dilakukan kepada anak-anaknya sehingga selama proses belajar yang dilakukan di rumah dapat berjalan baik...

PENDAMPINGAN BELAJAR  ANAK ERA PEMBELAJARAN DARING

“Janganlah kalian mendidik anak-anak kalian sebagaimana bapak-bapak kalian mendidik kalian, karena mereka (anak kalian) diciptakan bukan di zaman kalian”

 

Pada umumnya pola pendidikan anak selalu dipengaruhi salah satu dari 2 cara. Pertama, orang tua yang mendidik anaknya dengan cara tradisi, yaitu mengikuti apa kata orang tua, jika orang tua mengatakan didik anakmu seperti ini karena begitulah dulu mbahmu mendidik, atau juga dapat diartikan mendidik dengan pola seperti ini adalah pola pendidikan yang disaring orang tua dari orang tua mereka saat mendidik dan membesarkannya dahulu sewaktu kecil bahkan orang tua tipe seperti ini terkadang tidak peduli bahwa dahulu saat mereka dididik dengan pola seperti itu sebenarnya mereka pun tidak suka. Kedua, orang tua yang mendidik anaknya dengan cara insting atau coba-coba, yaitu orang tua yang selalu ingin tahu sehingga terdorong untuk terus belajar dan berusaha menemukan pola mendidik yang sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anaknya.

Tipe kedua ini sepertinya banyak dilakukan terutama oleh ibu-ibu muda. Hal ini tentu disebabkan bukan hanya karena dorongan keingintahuan orang tua untuk memberikan pendidikan dan pendampingan yang terbaik kepada buah hatinya. Namun, lebih dari itu fenomena ini juga dipengaruhi oleh perkembangan tehnologi yang sangat cepat dan memberikan budaya baru dalam perjalanan kehidupan manusia saat ini.

Lebih jauh perkembangan teknologi ini semakin terasa manfaatnya dengan mewabahnya pandemi covid-19. Pandemi yang di luar prediksi akan mampu membawa efek atau pengaruh yang luar biasa untuk kehidupan. Hampir semua lini kehidupan saat ini mengalami perubahan, mulai dari perekonomian yang semakin merosot, perilaku sosial yang berubah, bahkan sistem yang sudah berjalan baik pun harus mengalami penyesuain dengan kondisi yang diakibatkan covid-19.

Salah satu sistem yang mengalami perubahan tersebut adalah pendidikan. Pendidikan menjadi pusat perhatian serius tidak hanya oleh mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan atau praktisi pendidikan, guru dan siswa tetapi juga menjadi perhatian oleh orang tua, dimana mereka seakan “dipaksa” harus mengikuti arus perubahan pola pendidikan yang mungkin tidak pernah terbayangkan akan mereka alami.

Orang tua menyekolahkan anak mereka adalah agar anak-anak mereka dapat dididik dengan baik oleh guru-guru profesional dengan satu harapan anak-anak mereka akan tumbuh menjadi generasi-generasi unggul dengan kemampuannya masing-masing. Orang tua menyerahkan anak-anak mereka dididik di sekolah bukan berarti orang tua tidak sanggup mendidik anak mereka sendiri, tetapi mereka ingin anak-anak mereka mendapat pendidikan dan pengalaman yang mampu mengembangkan psikologinya dan itu hanya bisa dilakukan di sekolah bersama guru, teman dan lingkungan yang memang sudah di desain untuk pendidikan.  

Harapan itu kemudian digeser sementara[1] oleh pandemi bernama covid-19. Pandemi ini memaksa[2] orang tua untuk menjadi guru sementara bagi anak-anak mereka sendiri. Sampai kapan? Sampai pandemi ini berlalu dan pemerintah kembali membuka sekolah.

Pendidikan masa pandemi ini sudah berjalan kurang lebih dua tahun atau dalam semester sudah berjalan 4 semester. Namun demikian di lapangan ternyata masih ditemukan banyak permasalahan.

Tahun pertama anak belajar di rumah permasalahan yang muncul adalah orang tua yang masih gaptek, alat belajar yang tidak memadai, kebutuhan kuota internet besar yang tidak terjangkau, orang tua yang tidak menguasai materi, orang tua yang bekerja, dan beragam permasalahan lain.

Permasalahan seperti disebutkan di atas seharusnya sudah bukan menjadi alasan lagi bagi orang tua untuk lepas tangan atau menyerah dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Mengapa demikian, karena sekolah pandemi ini sudah berjalan 2 tahun tentu telah memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya pembelajaran di semester ini diberikan kepada anak-anak.

Lalu apa yang harus dilakukan? Pertama pilihan ada pada orang tua, maksudnya bagaimana? Orang tua harus memilih dia ingin menjadi sosok seperti apa di mata anak-anaknya, apakah menjadi sosok yang ingin ditakuti, menjadi sosok yang ingin dihormati, menjadi sosok yang ingin disegani, atau menjadi sosok yang mencintai.

Jika orang tua dalam mendampingi anak-anaknya masih berpikir agar menjadi sosok yang ditakuti maka pola pendidikan yang muncul adalah paksaan, anak-anak akan belajar dalam tekanan karena terus dipaksa oleh orang tua dan rasa takut jika tidak mengikutinya. Belajar dalam tekanan justru akan menjadikan anak tidak percaya diri bahkan dapat berpengaruh besar terhadap perkembangan mentalnya.

Begitu pula pilihan kedua dan ketiga jangan pernah menjadi orang tua yang ingin dihormati ataupun disegani oleh anak. Karena jika anak dididik dengan baik maka anak akan menghormati orang tuanya tanpa diminta sekalipun. Oleh karena itu dalam mendidik anak jadilah orang tua yang mendidik dengan cinta kasih. Jika orang tua mampu mendidik anaknya dengan rasa peduli dan penuh kasih sayang maka interaksi pendidikan yang muncul antara kedunya adalah pendidikan yang menyenangkan.

            Bagaimana caranya. Pertama, jangan berpikir menang terus, beri kesempatan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya. Kedua, tanganilah situasi dengan kepala dingin, belajar daring bukan hanya pengalaman pertama bagi anak tetapi juga orang tua jadi pasti akan menemukan banyak permasalahan khususnya pada anak maka jika anak mendapatkan masalah saat belajar dampingi dengan tenang jangan membuat hati anak semakin tertekan dengan amarah apalagi dengan kata-kata yang tidak pantas disampaikan oleh orang tua, Ketiga, gunakan kata-kata semangat saat mendapingi anak, dampingilah anak-anak belajar dengan motivasi bahwa pandemi ini pasti berlalu dan bahwa mereka mampu mengikuti pembelajaran ini dengan sangat baik.

Setelah memilih ingin menjadi orang tua seperti apa anda dalam mendidik anak, selanjutnya adalah jalin komunikasi yang baik dengan pihak sekolah. Komunikasi yang kurang baik antara orang tua dengan sekolah juga terkadang menjadi pemicu tidak berhasilnya pola pendidikan yang dilakukan orang tua di rumah. Permasalahan yang dihadapi orang tua selama mendampingi anaknya harus disampaikan ke sekolah untuk kemudian dicari solusi bersama.

Sekolah pandemi ini menuntut siswa untuk belajar yang tinggi dengan tugas-tugas yang menumpuk. Oleh karena itu orang tua tetap harus melibatkan sekolah khususnya guru. Guru akan sangat senang jika mereka dilibatkan dalam pendidikan anak di rumah sehingga guru tidak hanya berposisi sebagai pemberi tugas dan menunggu hasil dari siswanya melainkan bisa berperan aktif sehingga hasil yang diinginkan pun bisa maksimal.

Sadar atau tidak kondisi belajar seperti saat ini telah memberi efek jenuh tidak hanya oleh siswa tetapi juga orang tua. Hal ini harus kembali digairahkan karena tidak hanya berdampak pada menurunya nilai akademik tetapi juga akan berpengaruh pada kontrol emosi yang tidak stabil. Hal ini dapat terlihat dari kebiasaan baru yang muncul seperti cepat marah jika tidak bisa mengerjakan tugas atau malas mengerjakan tugas yang dirasa berat.

Kesimpulannya orang tua yang bijak adalah mereka yang mendampingi belajar anaknya dengan kasih sayang dan terus belajar bagaimana memberikan dan menumbuhkan motivasi belajar pada anaknya. Mereka adalah orang tua yang bisa memosisikan diri tidak hanya sebagai orang tua tetapi juga sebagai teman yang baik, teman yang dapat dijadikan tempat curhat bagi anaknya dan teman yang dapat memberi semangat saat semangat anaknya sedang down.    

Terakhir ajaklah anak agar bijak dalam menggunakan media. Saat mengerjakan tugas yang berhubungan dengan penggunaan internet sebagai sumber belajar, dampingi anak dengan pemahaman yang baik agar menggunakan internet benar-benar hanya sebagai sumber belajar. Bukan untuk mencari informasi yang tidak bermanfaat apalagi dapat merusak pola pikirnya.

 

Jangan mendidik anak kita untuk terobsesi menjadi kaya, tapi didiklah mereka menjadi bahagia sehingga saat tumbuh dewasa mereka menilai segala sesuatu bukan dari harganya”

 

“Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah maka kamu pasti bisa” Anonim

 

[1] Maksud digeser semantara adalah kondisi pendidikan seperti ini hanya berlaku sementara sampai pandemi ini berlalu. Oleh karena itu peran semua pihak untuk bersama-sama memutus mata rantai penyebaran covid-19 dan varian barunya ini sangat dibutuhkan. Kita tidak boleh hanya berharap sama pemerintah tetapi juga butuh kesadaran bersama sehingga kehidupan normal kita bisa kembali dirasakan.

[2] Memaksa orang tua menjadi guru artinya bahwa selama ini orang tua tidak terlibat aktif mengajar semua pelajaran. Berbeda dengan kondisi saat ini mau tidak mau orang tua harus mampu mendampingi belajar anaknya pada semua bidang studi yang dipelajari di sekolah.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sahran

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler