3.500 Orang WNI Terkena Dampak Banjir di Malaysia - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Pemandangan dari udara, Wilayah Puchong, luar Kuala Lumpur, Malaysia yang terendam banjir. Foto - Chan Yoke Poh/Lion Club International 308B1 via AP.

Djohan Chaniago

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Desember 2020

Kamis, 23 Desember 2021 20:19 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • 3.500 Orang WNI Terkena Dampak Banjir di Malaysia

    Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, juga mengatakan. Koordinasi buruk, antar badan pemerintah Malaysia dan pengerahan personel militer yang tertunda, setelah mengubah respons bencana alam menjadi bencana pemerintahan manusia.

    Dibaca : 868 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Malaysia menyatakan, hingga saat ini Rabu pagi, (22/12/2021) sebanyak 3.500 warga negara Indonesia (WNI) terkena dampak banjir yang melanda negeri jiran. Namun, KBRI menyatakan tak ada WNI yang meninggal akibat banjir ini. 

    Hujan deras selama tiga hari, sejak tanggal 19 - 21 Desember 2021, menyebabkan banjir parah di delapan titik lokasi kota dan desa wilayah Malaysia . Banjir yang menggenangi sejumlah otoritas setempat itu juga dipacu oleh rusaknya sejumlah pintu air yang mengendalikan aliran air sungai, hingga air masuk kedaratan.

    Akibat dari hujan deras dan rusaknya tanggul, aliran air sungai jadi meluap, menggenangi sejumlah kota, memutus ruas jalanan utama dan memaksa puluhan ribu orang mengungsi dari rumah masing-masing. Selangor, merupakan salah satu bagian terpadat jumlah penduduknya di Malaysia, menjadi salah satu daerah yang terdampak banjir paling parah.  

    Penduduk yang berdomisili di Kota Shah Alam, merupakan ibu kota negeri bagian Selangor, banyak terjebak tinggal di rumah mereka, dengan persediaan makanan yang terbatas. Akhirnya dievakuasi dengan kapal karet, dalam operasi penyelamatan oleh tim otoritas wilayah setempat dikawasan itu.

    "Kami benar-benar kehilangan segalanya, mobil-mobil kami, rumah kami. Semuanya hilang, terbawa arus. Untuk itu kami berharap pemerintah akan memberikan kami bantuan," ungkap salah seorang warga Shah Alam bernama Chan Yung, yang telah dievakuasi oleh Tim Koordinator Pendidikan Sosial Budaya KBRI Kuala Lumpur, Yoshi Iskandar.

    Berdasarkan laporan dari Badan Bencana Malaysia hingga Rabu (22/12), jam 04.00 waktu setempat, dalam pristiwa banjir tersebut, telah terdampak pada 12.655 Kepala Keluarga yang berada di tujuh negeri. Dengan jumlah 56. 682 jiwa, yang diungsikan pada 382 lokasi tempat pengungsian.  

    Menurut Kepala Polisi Selangor, Arjunaidi Mohamed mengatakan, hingga Rabu (22/12/2021) pagi, dalam bencana banjir itu telah menewaskan sebanyak 27 orang. 20 orang diantara korban yang meninggal, ditemukan di Negeari Bagian Selangor dan tujuh ditemukan di Negeri Bagian Pahang. Kajang, Sungai Buloh dan terbaru di Klang,” Kata Arjunaidi.   

    Menaggapi bencana alam banjir di Selangor. Anggota parlemen dari kubu oposisi, Charles Santiago, mengatakan. Daerah yang paling parah dilanda banjir di Klang, untuk itu ia (Charles) menilai, “ Pemerintah federal sangat tidak memadai, dan lemah".  Sementara itu, Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, juga mengatakan. Koordinasi buruk, antar badan pemerintah Malaysia dan pengerahan personel militer yang tertunda, setelah mengubah respons bencana alam menjadi bencana pemerintahan manusia.

    Anwar Ibrahim dan Charles Santiago, mengatakan. Tim bencana pemerintahan manusia dinilainya hanya berkumpul bersama, membantu operasi penyelamatan dengan membeli terlebih dahulu peralatan, seperti perahu karet dan jaket pelampung. Sementara yang lain menawarkan rumah mereka sebagai tempat perlindungan bagi korban yang telah mengungsi.

    "Saya mengetahui hal itu, dari beberapa orang yang membeli persediaan untuk bantuan darurat itu sini, dan hal itu sangat mengejutkan bagi saya, bahwa mereka tidak memiliki peralatan yang cukup," kata relawan penyelamat Mohamad Adib Hariz Fadzilah kepada AFP. Sebagian wilayah Malaysia rentan terhadap banjir, terutama selama musim hujan November hingga Februari. Sementara itu, Duta Besar RI untuk Malaysia, Hermono, mengatakan. Bahwa pihaknya belum menerima laporan adanya warga negara Indonesia yang menjadi korban. "Sejauh ini belum ada laporan WNI meninggal,” kata Hermono.  

    Terkait dengan kritikan Anwar Ibrahim dan Charles Santiago, serta ungkapan dari relawan penyelamat, Mohamad Adib Hariz Fadzilah. Perdana Menteri (PM) Ismail Sabri Yaakob dalam pernyataannya mengakui adanya “ kelemahan “ pihaknya itu, namun demikian ia (Ismail Sabri Yaakob) menjanjikan, untuk melakukan perbaikan di masa mendatang. “ Malaysia diketahui dilanda banjir setiap tahun saat musim penghujan tiba, yang biasanya antara bulan November hingga Februari. Namun banjir terbaru yang melanda sejak akhir pekan lalu tercatat sebagai yang terburuk di Malaysia sejak tahun 2014,” Ismail Sabri Yaakob (Djohan Chaniago). 

    Ikuti tulisan menarik Djohan Chaniago lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.