Anak Bayi - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Christian Abella dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Senin, 27 Desember 2021 06:28 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Anak Bayi

    Seorang detektif yang menyelidiki kasus penculikan yang aneh. Dia juga harus menghadapi masa lalunya untuk memecahkan kasus ini.

    Dibaca : 780 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                “Penculikan bayi di kecamatan Kolak Pisang telah mencapai angka sepuluh kasus yang semakin meresahkan warga sekitar.”, ujar seorang reporter. Aku mematikan televisi dan membuang rimutnya. “Sudah kubilang, kita terlalu cepat untuk memiliki anak!” Aku dengan marah pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk bekerja. “Hah! Aku tidak peduli lagi. Dia suatu saat akan menyesal.”, ujarku. Aku memakai jasku dan berangkat ke kantorku. Aku seorang detektif di Kecamatan Kolak Pisang. Aku sekarang sedang mengurus kasus penculikan bayi tersebut seorang diri. Pendampingku di setiap kasus, Cika sudah lama meninggal. Aku masih belum bisa melupakannya. “Hukum pihak berwenang yang tidak bekerja dengan baik! Ganti pihak hukum yang baru!” Seenaknya saja mereka berbicara. Aku kemudian sampai di kantor setelah melewati pendemo tersebut. “Pagi yang parah hari ini kan bro.”, ujar Pak Ali. Aku hanya mengangguk menjawab pernyataan pria paruh baya tersebut. Dia Pak Ali, salah satu petugas keamanan di kantor ini. “Mereka boleh murung tetapi kita sebagai wajah hukum tidak boleh.”, ujarnya. Pria yang sangat terlihat sebagai prajurit keadilan. Aku tidak bisa menandinginya. “Wajah hukum namun tidak bisa memecahkan satu kasus.”, ujar Pak Cecep. Celotehan tersebut datang dari salah satu petugas keamanan juga. Dia adalah Pak Cecep. Mereka berdua memang selalu tidak pernah akur. Mungkin jiwa keadilan Pak Ali membuat dia risih. Bukan urusanku. “Bagaimana menurutmu pak Broni?” Aku hanya menatap wajahnya yang ingin pendapatnya didukung. “Aku tidak tahu pak, tetapi kita wajib secepatnya memecahkan kasus ini.”, ujarku. Dia hanya mengangguk dan kembali ke meja kerjanya. Aku rasa dia tidak menemukan teman sepemikirannya di sini. Hanya beliau yang baru saja mendapatkan jejak penting untuk kasus penculikan bayi tersebut. Kasus penculikan hanya terjadi pada malam hari dan selalu di hari jumat. Pak Cecep berhasil mencegah penculikan tersebut sekali dengan berpatroli semalaman di Kecamatan Kolak Pisang. Beliau sempat melihat orang asing yang ingin membuka pintu rumah warga dan berhasil membuatnya kabur. Beliau memang seorang petugas keamanan yang hebat, tapi sikapnya memang perlu diubah.

                “Semuanya berkumpul!” Beliau adalah Pak Dudi, komandan di markas cabang Kolak Pisang. Dia adalah orang paling ditakuti di kantor ini, bahkan Pak Cecep juga tidak berani melanggar perintah dari beliau. Kegiatan patrolinya tanpa seizin Pak Dudi menyebabkan Pak Cecep diskorsing selama satu minggu tanpa gaji, tetapi dengan buktinya terkait penculikan tersebut skorsingnya dibatalkan. Beliau bukan orang yang ingin diajak untuk bercanda. “Untuk penyelidikan selanjutnya, saya pindah tugaskan dari saudara Broni ke saudara Cecep.”, ujar Pak Dudi. Sial. Aku bahkan belum menemukan jejak untuk kasus penculikan tersebut. “Kepada saudara Cecep, saya harap hasil bagus dari anda.”, ujar Pak Dudi. Pak Cecep tersenyum. Mungkin dengan kasus ini, beliau bisa saja naik pangkat. Pak Ali juga tidak kelihatan bahagia dari pemindahan tugas tersebut. “Tidak apa-apa bro. Kasus ini memang sangat sulit, aku bahkan tidak bisa menemukan apa pun terkait kasus ini. Aku jadi sedikit curiga terhadap si Cecep.”, ujar Pak Ali. Tahan sebentar pak, hati keadilanmu ternodai oleh buruk sangkamu. “Iya pak. Aku akan kembali ke mejaku.”, ujarku. Beliau tersenyum dan pergi berbicara kepada pak Dudi.

                Aku menerima panggilan dari telepon. “Kantor keamanan Kolak Pisang, ada masalah apa?” Aku hanya mendengar suara gaduh dan piring pecah dari panggilan tersebut. “Maaf pak, saya butuh bantuan terhadap bapak saya!” Suara wanita tersebut terdengar panik. Suara kegaduhan masih saja terdengar dari panggilan tersebut. “Baiklah, bisa berikan nama dan alamat saudari.”, ujarku. Dia berusaha menjawab namun suara pria paruh baya juga terdengar sedang berteriak. “Nama saya Prista, saya tinggal di gang Pisang Barangan, rumah nomor 20.”, ujarnya. Dia langsung menutup panggilan. Aku lanjutkan dengan melihat alamat tersebut di database. Aku tidak menyangka akan reuni dengannya. Syukurlah aku yang menerima panggilan ini. “Lita, aku akan berangkat. Panggilan yang kuterima ada di panggilan 8.”, ujarku. Aku bergegas ke tempat perkara kejadian. “Tentu saja bro. Hati-hati di jalan.”, ujar Lita. Wanita muda yang baik, mengapa dia tidak bisa seperti itu?

                “Saudari Prista, ini pihak keamanan!” Dia membuka pintu dan menarikku ke pintu gudangnya. “Bapak ada di sini! Tolong pak! Dia membawa senjata tajam!” Aku menggedor pintunya namun hanya teriakan Pak Prista yang terdengar. “Linus! Buka pintunya!” Prista kebingungan terhadap ucapanku barusan. Suara teriakan semakin kencang dan aku mendobrak pintunya. “Linus!” Aku dan Prista terdiam melihat pemandangan di depan kami. Linus tergeletak di hadapan perempuan tinggi putih yang menggendong seorang bayi. Tiba-tiba kami terjatuh dan tidak sadarkan diri. Tim medis dikerahkan karena aku tidak membalas panggilan kantor berkali-kali. Semua yang kulalui barusan terasa seperti mimpi.

                “Pak Broni! Pak Broni!” Lita, mengapa dia ada di sini? “Pak dokter!” Dia berlari keluar dari kamar. Mengapa aku berada di sini? “Broni, syukurlah kau sudah siuman.”, ujar si Dokter. Dokter dan Pak Cecep? “Bagaimana keadaanmu? Syukurlah kami tepat waktu menemukanmu.”, ujar Pak Cecep. Mengapa pak Cecep ada di sini? “Kau tidak sadarkan diri bersama dua orang lagi di gudang Bapak Linus.”, ujar Pak Cecep. Aku tidak bisa mengingat kejadian itu. Aku tidak mengingat apa yang baru saja aku saksikan di tempat itu. “Beristirahatlah dulu. Pak Dudi juga sudah mengerahkan petugas lain ke tempat TKP.”, ujar Pak Cecep. Apa yang baru saja terjadi? Mengapa aku terus bertanya kepada diriku sendiri? “Ada apa pak Broni?” Aku hanya menggelengkan kepalaku kepada Lita.

                Setelah mereka pergi, pak Cecep kembali masuk ke kamar. “Bagaimana rasanya mencampuri kasus orang? Mengapa kau yang mendapatkan jejaknya?” Apa yang dibicarakannya? Kasus dia? Bukannya terkait penculikan bayi itu? Bayi?! “Iya pak Cecep, aku melihat wanita tinggi putih yang menggendong seorang bayi di gudang itu, aku rasa dia ada hubungannya dengan kasus penculikan tersebut!” Dia menolakku dan berdiri dengan kesal. “Apa yang kau bicarakan? Pelakunya adalah pria yang tidak sadarkan diri bersamamu, pak Linus. Dialah tersangka penculikan bayi selama ini! Kasus selesai! Terima kasih!” Dia pergi meninggalkan kamarku. Mengapa pak Linus? Aku bersumpah melihat seorang wanita tinggi di depannya. Aku melihat hp dan menyadari bahwa aku telah tidur selama enam hari. Aku bahkan melewati kunjungan ke rumah ibuku tiap hari Kamis. Ini sudah jam delapan malam. Aku tidak ingin mengganggunya lagi. Malam Jumat? Aku tiba-tiba mendengar suara bayi dari rumah sakit ini. Apakah hari ini ada lahiran? Aku bergegas keluar kamar dan melihat semua orang terpaku dan tidak bisa bergerak. Aku berbalik arah dan melihat seorang perempuan tinggi berpakaian serba putih menggendong bayi yang berlumuran darah. Lututku juga menyerah dan aku terjatuh. Dia terus melewati semua orang dengan mudahnya. “Darurat! Darurat! Linus tahanan sel 3 tidak sadarkan diri! Para petugas keamanan segera datang ke TKP!” Aku tetap tidak dapat bergerak. Nafasku terasa sesak. Kemudian, wanita itu berhenti di depanku. “Memiliki seorang bayi itu adalah sebuah berkah.”, ujarnya. Dia berbisik ke telingaku. Aku mengingat suara itu. Aku juga mengingat dia telah meninggal bersama bayinya di kecelakaan mobil. Mengapa? “Mengapa Cika?!” Dia hanya tersenyum dan pergi berjalan pelan ke pintu keluar. Aku dapat kembali bergerak dan mengejar Cika. Aku tidak melihat dia di mana-mana. “Mengapa Cika kembali hidup?” Pak Ali tiba dan keluar dari mobilnya. “Bro, ada apa ini? Apa yang sedang terjadi di dalam?” Aku hanya terpaku dan bertekuk lutut. Pak Ali meninggalkanku dan masuk ke dalam. Aku masih melihat jejaknya yang berlumuran darah yang berhenti tepat di depan pintu masuk. Aku bersujud dan berteriak sekeras mungkin.

                “Bagaimana menurutmu? Apakah spesies A bekerja dengan baik?” Seseorang bicara di depan komputer. “Tentu saja. Ini merupakan debut yang bagus.”, ujarnya. Seseorang menjawab menggunakan walkie talkie di pundak bajunya. “Aku tidak sabar menunggu debut spesies B selanjutnya!” Pria tersebut tersenyum di hadapan sebuah kurungan. Suara bayi dapat didengar dari dalamnya.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.