Anak Bayi 3 - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Christian Abella dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Selasa, 28 Desember 2021 06:03 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Anak Bayi 3

    Seorang detektif yang menyelidiki kasus penculikan aneh. Dia akhirnya memutuskan untuk menyelam ke dunia yang selama ini tidak dipercayainya. Dunia lain yang berada di luar jangkauan manusia biasa.

    Dibaca : 688 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

               “Apa yang sedang terjadi pak di Kecamatan Kolak Pisang? Semua orang telah melihat wanita misterius itu di rumah sakit dan sekarang kebakaran? Bagaimana peran pihak keamanan sekarang?” Suasanan semakin memanas di konferensi pers di kantor pihak keamanan. Masyarakat yang semakin khawatir terkait peristiwa-peristiwa aneh yang sedang menyelimuti Kecamatan Kolak Pisang. Aku tiba-tiba terbangun di rumah sakit yang sama. “Langit-langit yang sama.”, ujarku. Tiba-tiba Lita terbangun dari tidurnya. Dia melihat aku yang sudah siuman dan melemparkan tasnya ke arahku. “Mengapa kau selalu ceroboh?” Lita terlihat sedih sambil memukuliku. Aku berusaha menenangkannya. "Apa yang terjadi kepadaku?” Dia mengusap air matanya dan menjelaskan bahwa mereka menemukanku tidak sadarkan diri di sebuah rumah yang baru saja kemalingan. Mereka tidak menemukan siapa pun di rumah itu kecuali aku yang sudah terkapar tak sadarkan diri. “Pak Broni, selain itu ada kabar buruk.”, ujar Lita.

                Aku bergegas ke kantor pak Dudi. “Pak! Mengapa aku menjadi orang yang dicurigai terkait kasus penculikan itu?! Aku hanya mendengar suara dari rumah itu dan masuk ke dalam. Aku bahkan melihat tersangkanya. Dia menggunakan jubah hitam yang sama dengan deskripsi.”, ujarku. Pak Dudi menyuruhku untuk duduk terlebih dahulu. Dia menjelaskan bahwa ketika mereka memasuki TKP, mereka tidak melihat bukti yang jelas bahwa telah terjadi penculikan di rumah itu. Mereka hanya menemukan barang-barang rumah yang berserakan. Aku juga diberikan skorsing selama satu minggu karena telah bertindak tanpa izin dari kantor. Aku bahkan melaporkannya ke radioku. “Bagaimana pak Broni?” Wajah Lita terlihat khawatir. Aku hanya mengusap kepalanya dan pergi keluar kantor.

                Aku kembali mengingat deskripsi wanita berjubah hitam yang aku lihat di malam itu sebelum tidak sadarkan diri. Aku mengingat melihat sebuah bayi yang mengerikan dan dia menggendongnya saat melarikan diri. Apakah itu memang bayi sungguhan? Aku melihat brosur yang aneh di tiang listrik. “Mbah Sarif, master terkait dunia lain. Paranormal hebat yang bisa menyelesaikan masalah terkait mereka di alam sana.”, bacaku. Terdengar sangat mencurigakan. Jika aku bertugas, aku akan menginterogasinya terkait penipuan. Aku mengurung niatku dan pergi ke lokasi yang ditujukan pada peta kecil dibalik brosur itu.

                Aku sampai di gubuk tua di pinggiran kota. Aku disambut oleh boneka-boneka aneh yang tergantung di pintu masuknya. Aku bersumpah bahwa tempat ini sangat mencurigakan. Aku melihat bermacam boneka dan kantung-kantung kain yang aneh. “Silahkan duduk! Ada apa pak keamanan?” Aku menuruti perintahnya dan akan menanyakan sesuatu yang aneh menurutku. “Mengapa kau tahu aku dari pihak keamanan?” Dia tersenyum sambil mengambil sebuah boneka dari bawah mejanya. “Lusi mengatakannya kepadaku.”, ujarnya. Perkiraanku betul, dia memang orang gila. Aku beranjak dan pergi meninggalkannya. “Anda datang ke sini ingin bertanya terkait wanita dan bayi kecil itu bukan?” Aku berbalik arah dan memegang kerah bajunya. “Apakah kau pelakunya?” Dia mengangkat tangannya dan terlihat ketakutan. “Saya hanya seorang paranormal biasa pak!” Dia terlihat meyakinkan. Aku melepaskan genggamanku dan menurunkannya. “Maaf telah berbuat kasar. Aku hanya terkejut terkait pernyataanmu tadi.”, ujarku. Dia kembali menunjuk ke arah bonekanya itu. Aku tidak peduli lagi. Aku kembali duduk. “Apakah kau tahu apa mereka itu? Aku bahkan tidak pernah melihat seorang bayi yang memiliki mata yang hitam.”, ujarku. Dia membuka hp miliknya dan menunjukkanku sebuah video. “Apakah kau tidak pernah melihat video ini pak?” Aku melihat video seorang bayi yang sedang tidur dan tiba-tiba dikejutkan dengan matanya yang hitam dengan teriakannya yang keras. “Video bayi ngomong kiamat? Tidak pernah pak?” Aku menyingkirkan hp miliknya dari wajahku. “Apa hubungannya dengan yang aku lihat?” Dia meletakkan hp miliknya dan menunjukkan sebuah botol bayi. “Apakah anda pernah melihat ini?” Aku teringat saat aku mengejar pria berjubah hitam di hari yang lalu dan dia menjatuhkan botol bayi itu. Dia terlihat yakin dan menaruh botol bayinya ke meja. “Sebenarnya video yang aku tunjukkan barusan adalah video seorang bayi sungguhan yang memiliki mata hitam.”, ujarnya. Dia kembali menunjukkan semua foto-foto bayi bermata hitam itu. “Mungkin kalian di zaman sekarang tidak pernah melihat itu tetapi kami telah lama mengetahui tentang keberadaan makhluk ini.”, ujarnya. Dia berbicara seolah-olah dia hidup di zaman dahulu juga. Dia memang orang yang aneh. “Apakah kau tahu cara menangkap makhluk itu?” Dia kembali tersenyum dan mengambil botol bayi itu. Dia menaruhnya di atas meja dan botol tersebut bergerak dengan sendirinya. “Lihat pak, lihat! Mereka semua berada di sekeliling kita! Hahahaha!” Aku kemudian memukul botol bayi itu. Kemudian, suara tangisan pun terdengar. “Apakah kau sudah menegerti pak?” Aku menggelengkan kepalaku. Aku bahkan tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. “Aduhhh! Kuncinya adalah botol bayi itu pak! Mereka akan datang jika kau menaruhnya. Dan kau tahu jika kau meminum susu dari botol itu, kau akan bisa melihat mereka!” Aku masih bingung dengan apa yang semua sedang terjadi. Namun, hasratku akan jawaban atas semua ini membuatku terdorong untuk melakukannya. “Apakah kau punya susu untuk bayi?” Dia terlihat bingung dan menunjuk ke arah sebuah swalayan. “Maaf pak, aku hanya seorang paranormal biasa.”, ujarnya. Aku meletakkan uangku di atas mejanya dan pergi keluar dari gubuk aneh ini. “Jika kau tidak menangkapnya, aku akan mengembalikan uangmu sebesar 20%!” Sudah aneh pelit pula. Aku menggelengkan kepalaku dan pergi membeli susu untuk bayi. Apakah karena aku tidak memakai lencanaku hari ini? Aku tidak terasa seperti pihak keamanan. Aku seperti berada di dunia yang aneh. “Tentu saja pak Broni. Dunia ini memang aneh. Kalau tidak, pasti tidak akan menarik. Bukannya begitu, Lusi?” Boneka itu menggelengkan kepalanya. Paranormal dan bonekanya melihat diriku yang pergi, namun terlihat seperti sedang mendorong gerbang ke dunia lain.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.