Transformasi Pendidikan Selama Pandemi dan Era Digitalisasi - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Menjelaskan tentang media pembelajaran interaktif di masa Pandemi Covid-19

Nadia Zahra Ramadhani Sufi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Desember 2021

Rabu, 29 Desember 2021 17:29 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Transformasi Pendidikan Selama Pandemi dan Era Digitalisasi


    Dibaca : 1.147 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nadia Zahra Ramadhani Sufi, Mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta

    Dengan perkembangan teknologi yang terus berjalan di abad ke-21 ini seolah memaksa masyarakat beradaptasi dan mulai menerapkan teknologi pada segala aspek kehidupan dengan tujuan untuk mempermudah segala sesuatunya termasuk dalam dunia pendidikan. 
    Ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 yang membuat kegiatan belajar dilakukan secara daring (online). Pada awal penerapannya dapat dirasakan beberapa dampak yang muncul sepert permasalahan dalam fasilitas dan sarana yang dimiliki oleh para murid seperti tidak semua memiliki gadget atau laptop, internet yang belum tersedia menyeluruh, kebutuhan distribusi kuota belajar, dan sebagainya. Namun disamping hal tersebut, pada akhirnya kita mau tidak mau harus memikirkan solusi bagaimana jalan keluar yang dampak baiknya dapat dirasakan seluruh masyarakat.


    Dirumuskanlah gagasan adanya kurikulum merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim. Tertera dalam website resmi merdekabelajar.teknokrat.ac.id bahwa “dalam rangka menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan sosial, budaya, dunia kerja dan kemajuan teknologi yang pesat, Perguruan Tinggi dituntut untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa dapat meraih capaian pembelajaran mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara optimal dan selalu relevan”.


    Maka dari itu, dibentuklah berbagai macam kegiatan belajar di luar perguruan tinggi, di antaranya seperti program kampus magang/ praktik kerja di Industri atau tempat kerja lainnya, kampus mengajar, pertukaran mahasiswa, membuat studi/ proyek independen, dan mengikuti program kemanusisaan. Semua program dan kegiatan yang tertera dalam kurikulum merdeka belajar juga harus dilaksanakan dengan bimbingan dari dosen. Pada akhirnya dicetuskannya kurikulum kampus merdeka diharapkan dapat memberikan pengalaman kontekstual lapangan yang akan meningkatkan kompetensi mahasiswa secara utuh, siap kerja, atau menciptakan lapangan kerja baru.


    Namun disamping latar belakang tersebut, kita dapat merasakan bahwa kondisi pandemi belum benar-benar menemukan akhir yang baik, sekolah maupun perguruan tinggi pun masih belum sepenuhnya dapat dilakukan secara tatap muka (offline). Tetapi kita sebagai manusia yang sudah hidup dalam era digitalisasi dan modernisasi kemudian melakukan trasnformasi. Transformasi ini menuntut para pendidik dapat cakap digital dalam menyusun rencana pembelajaran yang menarik dan inovatif bagi siswanya. Namun perubahan untuk beradaptasi dan memiliki kecakapan dalam digital membutuhkan waktu yang sangat lama, karena dirasa tidak mudah bagi para guru. 
    Menurut studi yang dilakukan oleh salah satu perusahaan teknologi multinasional di Indonesia, 30% guru merasa kesulitan untuk menyesuaikan dengan platform pembelajaran. Hal ini pun dapat berdampak pada interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses belajar mengajar. Sebagai salah satu upaya untuk mendukung kecakapan digital para guru dan mengatasi kendala tersebut, perusahaan teknologi ini mengadakan webinar “Lenovo Education Webinar with Semua Murid Semua Guru”. Kegiatan ini juga didukung oleh Google for Education. Dengan alasan diadakannya webinar secara online tersebut adalah karena sebagai perusahaan teknologi memiliki misi menghadirkan teknologi yang lebih cerdas untuk semua kalangan. Dan sektor pendidikan pun menjadi salah satu fokus perusahaan tersebut di Indonesia.

    Selain itu, juga terdapat perusahaan gabungan antara perusahaan telekomunikasi dan layanan informasi antara Indonesia dan Australia. ia memberikan solusi layanan gratis selama COVID-19 berlangsung. Solusi yang diberikan oleh perusahaan gabungan telekomunikasi ini seperti memberikan fleksibilitas bagi guru dan pendidik dalam berkomunikasi di satu kelas ataupun lintas kelas, baik di sekolah ataupun universitas, memfasilitasi kegiatan pembelajaran virtual melalui konferensi video serta menyediakan fitur diskusi baik secara grup ataupun satu per satu, terdapat beberapa fitur kolaborasi untuk membagikan materi pendidikan dalam bentuk teks atau video kepada siswa, dan guru juga dapat melihat daftar hadir siswa yang menghadiri sesi pembelajaran melalui pertemuan Teams dan memonitor kemajuan mereka dalam pekerjaan sehari-hari menggunakan fitur Assignment.


    Hal ini merupakan kegiatan dan dorongan positif yang tentu memberikan dampak baik dalam pendidikan di Indonesia dan membatu para guru menjadi cakap digital agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengajar secara daring pada masa pandemi Covid-19. Namun kita akan melihat sisi lain dalam adanya fenomena tersebut.


    Hal ini sesuai dengan konsen salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia pendidikan, Peter McLaren. McLaren memiliki kekhawatiran terhadap perspektif pendidikan mengenai relasi pendidikan dan kapitalisme dan relasi kapitalisme dan ilmu pengetahuan.
    McLaren sendiri mendefinisikan neoliberalisme sebagai kapitalisme gaya baru atau sosialisme untuk orang kaya. McLaren sangat jelas meneropong agenda bisnis di sekolah yang semakin terlihat perkembangannya dalam kemitraan publikswasta dapat kita lihat dari contoh diatas, mereka para perusahaan yang bergerak dalam bidang teknologi kemudian melakukan sponsorisasi bisnis yang berkembang, bahkan mereka pun melakukan riset mengenai permasalahan dalam dunia pendidikan akibat adanya pandemi Covid-19 agar terdapat celah bagi mereka memasuki ranah sekolah, dan melakukan mentoring secara webinar agar bisnisnya secara tidak sadar masuk dalam instansi pendidikan. Pendidikan pun jadi memiliki relasi pada perusahaan-perusahaan mereka yang mana hal tersebut dapat menguntungkan pihak perusahaan. 


    Menurut McLaren juga dapat mengakibatkan korporatisasi kurikulum, standar nasional, bahkan hingga sistem voucher gratis ‘Platform Teams’ selama 6 bulan yang ditawarkan oleh perusahaan telekomunikasi dengan mendapatkan penyimpanan file online, fitur berbagi dokumen, fitur menulis bersama (co-authoring), chat, rapat online, serta integrasi dengan aplikasi pihak ketiga.
    Para siswa dalam sekolah pun tidak dapat menyadari hal tersebut dan hanya menerima apa kebijakan yang terjadi dalam tingkat pedidikan mereka. Jika memang diharuskan menggunakan salah satu fitur yang diwajibkan oleh sekolah mereka akan menerimanya sebagai bentuk kepatuhan tanpa menyadari terdapat unsur kapitalis yang sedang mencari keuntungan dalam kegiatan belajar mengajar tersebut.  


    Maka dari itu, McLarena juga merupakan penggagas mengenai pendidikan kritis revolusioner. Di dalam kata pendahuluan untuk edisi keempat karya McLaren Life in School, Ramin Farahmandpur mengomentari bahwa pendidikan kritis revolusioner McLaren merupakan proyek yang tujuan utamanya adalah untuk membangun masyarakat baru yang lebih humanis. Proyek ini dimulai dengan pengalaman siswa (praktik) yang dengan pengalamannnya itu mereka dapat mengembangkan pemahaman yang lebih kritis dan ilmiah tentang kehidupan sehari-harinya dalam rangka berhubungan dengan kondisi sosial budayanya (teori), yang selanjutnya siswa sendiri yang dapat membangun strategi aksinya berdasarkan pemahaman baru ini (praktik). Dengan ini, McLaren menuntut para guru untuk mengembangkan kesadaran kelas-kerja sesuai posisinya sebagai pekerja intelektual.

    Sumber :
    Farahmandpur, Ramin. (2003). “Foreword to the Fourth Edition” untuk Peter McLaren, Life in School: an Introduction to Critical Pedagogy in the Foundations of Education. Edisi IV; Boston: Pearson Education Inc.

    Hidayat, Rakhmat. 2011. Pengantar Sosiologi Kurikulum. Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA

    Kontan.co.id. (2020). “Dukung Belajar di Rumah, Telkomtelstra Buka Akses Gratis Pembelajaran Digital”. Diakses pada 22 Desember dari https://amp.kontan.co.id/release/dukung-belajar-di-rumah-telkomtelstra-buka-akses-gratis-pembelajaran-digital 

    Merdeka Belajar. (2021). “Latar Belakang Merdeka Belajar”. Diakses pada 22 Desember dari http://merdekabelajar.teknokrat.ac.id/latar-belakang/ 

    SINDOnews.com. (2021). "Perusahaan Teknologi Ikut Poles Pengajar Biar Cakap Digital". Diakses pada 22 Desember dari https://ekbis.sindonews.com/read/633205/34/perusahaan-teknologi-ikut-poles-pengajar-biar-cakap-digital-1639926742 

    Titro.id. (2021). "Menuju Transformasi Pendidikan Indonesia Melalui Kecakapan Digital". Diakases pada 22 Desember dari https://tirto.id/menuju-transformasi-pendidikan-indonesia-melalui-kecakapan-digital-glwz  

     

    Ikuti tulisan menarik Nadia Zahra Ramadhani Sufi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.