Perspektif Bowles dan Gintis: Program Magang Kampus Merdeka Ala Nadiem Makarim - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Ergonomis kerja

Aya Shofia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Desember 2021

Kamis, 30 Desember 2021 12:55 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Perspektif Bowles dan Gintis: Program Magang Kampus Merdeka Ala Nadiem Makarim

    Program magang merdeka belajar kampus merdeka yang digagas Mendikbud Nadiem Anwar Makarim merupakan bagian dari logika kapitalisme. Program ini seolah hanya mencetak mahasiswa sebagai tenaga siap pakai untuk kebutuhan pasar atau industri. Dan bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan.

    Dibaca : 860 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kampus merdeka adalah sebuah program lanjutan dari konsep merdeka belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) pada Januari 2020. Dengan adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) diharapkan mahasiswa menjadi sarjana tangguh. Mereka digadang-gadang relevan dengan kebutuhan zaman sebagai sumber daya manusia yang unggul bagi tuntutan dunia kerja. Program ini mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berpikir mengejar gelar dan ijazah saja. Tetapi mereka juga diharap memiliki kemampuan yang bisa digunakan setelah menjadi sarjana melalui fasilitas kebijakan Kampus Merdeka.
     
    Program-program yang ada di Kampus Merdeka, antara lain, magang, studi independen, pertukaran pelajar, asistensi mengajar di satuan pendidikan, penelitian atau riset, proyek kemanusian, kegiatan wirausaha, dan membangun desa (kuliah kerja nyata tematik).
    Salah satu program yang akan difokuskan dalam tulisan ini adalah magang. Ini merupakan kegiatan pembelajaran di lapangan yang bertujuan memperkenalkan dunia kerja sesungguhnya. Mahasiswa dapat terlibat langsung dalam aktivitas internal di tempat magang.
     
    Kemendikbud Ristek bekerjasama dengan kementerian BUMN untuk Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) yang dapat dilakukan oleh mahasiswa sekitar 1 hingga 2 semester. Jika mengambil dua semester, nilai akan setara dengan 40 sks. Perubahan definisi SKS menjadi jam kegiatan dan bukan lagi jam belajar, membeir makna yang lebih luas. Dengan demikian mahasiswa  tidak hanya belajar di dalam ruang kelas, tetapi juga di luar kelas. Salah satunya melalui magang. Kebijakan MBKM ini ditujukan bahwa untuk lebih mudah bergerak dengan melepas dari belenggu kampus.
     
    Dilansir dari situs Kampus Merdeka, manfaat yang ditawarkan dari kegiatan magang dalam program kampus merdeka adalah peluang lebih besar untuk diterima sebagai karyawan di tempat magang untuk keberlanjutan karir. Mahasiswa mendapatkan pengalaman kerja yang berharga untuk digunakan setelah lulus. Mereka mendapat gambaran nyata dunia kerja, dan membangun serta memperluas koneksi.
     
    Selain itu mahasiswa yang mengikuti program magang bersertifikat mendapatkan uang saku, uang transportasi, dan dana keperluan program magang. Dengan manfaat yang ditawarkan tersebut membuat para mahasiswa tertarik untuk ikut program magang kampus merdeka. Untuk dapat menjalankannya pun tidak terpisahkan oleh peran dari pemerintah dan pihak lainnya.
     
    Dalam Buku Rakhmat Hidayat yang berjudul Pengantar Sosiologi Kurikulum, pemikiran Bowles dan Gintis terkait pendidikan dan kurikulum dalam buku Schooling in Capitalist America: Educational Reform and the Contradictions of Economic Life (1976), bahwa sistem pendidikan dan kurikulum di Amerika Serikat mereproduksi ketidakadilan kelas dan sosial. Dengan adanya relasi antara sekolah dengan kapitalis dalam hal nilai, norma, dan struktur sehingga sekolah membentuk sistem yang melegalkan struktur ketenagakerjaan kapitalis.
     
    Sama halnya dengan kebijakan magang kampus merdeka yang membuka peluang bagi kampus untuk menjadi agen kapitalis. Dalam konteks situasi saat ini mengenai pemikiran Bowles dan Gintis, kebijakan MBKM dengan program magang adalah untuk menciptakan tenaga siap pakai di sektor industri. Sistem magang sebagai suatu upaya perusahaan untuk menekan biaya, karena dapat menyiapkan tenaga kerja atau buruh yang lebih murah dengan beban kerja yang sama dengan pekerja penuh waktu. Serta perusahaan mendapat sumber daya manusia yang siap dan unggul. Walaupun Indonesia memiliki payung hukum mengenai penyelenggaraan pemagangan, akan tetapi dalam realitanya kebijakan tersebut justru melegitimasi perusahaan untuk mempekerjakan pemagang di bawah upah minimum.
     
    Selain mempersiapkan untuk terjun ke dalam lapangan pekerjaan, dalam pemikiran Bowles dan Gintis pula, pendidikan dan kurikulum memberi sarana bagi kaum borjuis untuk mengontrol tenaga kerja dan melestarikan dominasi. Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai bentuk dari logika industri atau kapitalis, terlebih lagi dengan latar belakang menteri Nadiem Makarim yang seorang pebisnis dan kampus pun seolah dibuat dengan sistem seperti perusahaan.
     
    Dengan ditopangnya struktur kurikulum yang berorientasi pada pasar yang instan dan fleksibel yang rigid, hal tersebut membuat sistem pendidikan menjadi bagian dari kapitalisme pendidikan. Serta terlihat mempertegas bahwa magang dalam kebijakan kampus merdeka adalah untuk mencetak tenaga kerja upahan. Di mana hal ini bertolak belakang dengan fungsi pendidikan tinggi yang seharusnya lebih mengedepankan pengembangan dan kebutuhan ilmu pengetahuan. Kampus sebagai sarana meritokrasi akan tetapi yang terjadi tidak demikian. Arah pendidikan pun ditentukan menjadi apa yang dibutuhkan oleh pasar dan industri.
     
    Dari program magang ini memang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat mengembangkan kemampuannya sebagai persiapan karir dengan terjun langsung ke dunia kerja. Dapat dilihat bahwa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka ini bukan hanya untuk kepentingan pendidikan, tetapi juga adanya suatu kepentingan badan tertentu, yakni adanya pengaruh ekonomi yang merupakan bagian dari kapital.
     
    Dengan demikian, kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka adalah sebagai suatu program yang diharapkan menjadi wadah para mahasiswa untuk saling bertukar ide. Mereka belajar apa saja sesuai keinginannya dan memberikan kesempatan yang sama tanpa adanya dominasi tertentu atau terpaku terhadap kepentingan industri kapitalis.
     
    Referensi
    Hidayat, R. (2011). Pengantar Sosiologi Kurikulum. Jakarta: Rajawali Pers.
     
    Kampus Merdeka. Diambil dari: https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/program/magang/detail
     
    Perjalanan Kampus Merdeka sejak Diluncurkan. Diambil dari Kompas.com: https://edukasi.kompas.com/read/2021/11/30/070400271/perjalanan-kampus-merdeka-sejak-diluncurkan-januari-2020?page=all
     
    Pro dan Kontra atas Kebijakan 'Kampus Merdeka' Nadiem. Diambil dari tirto.id: https://tirto.id/pro-dan-kontra-atas-kebijakan-kampus-merdeka-nadiem-evs2
     
    Aya Shofia Irawan, mahasiswi jurusan Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta.
     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.