Melukis Langit - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ahlis Qoidah Noor

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Januari 2022

Minggu, 2 Januari 2022 21:57 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Melukis Langit

    Puisi ini tentang mimpi seseorang yang ingin mempunyai bisnis di bidang kuliner yanng hendak diwujudkan namun terkendala stigma dari lingkungan sekitar sehingga ia membangun mimpinya sendiri tanpa orang-orang sekitar mengetahui dan akhirnya dia sukses menuyumbangkan karya terbaiknya untuk keluarga dan lingkungan.

    Dibaca : 787 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Melukis Langit

     

    Kemarin aku datang kepadamu saat mentari mulai redup

    Berbincang ragam cerita kehidupan

    Tentang Matahari yang tak kunjung terang

    Dan air yang sesekali menghampar di jalan

     

    Kusampaikan maksudku , hendak memintamu

    Memahami desain masa depanku

    Ataupun mimpi yang mulai kurangkai

    Dari 1000 meter terhampar tanah

     

    Kau buat dalam rinci hingga global literasi finansial

    Hingga aku tahu, aku belum sanggup tanapa bantuan kawan

    Tapi aku tak pernah benamkan harapan

    Hingga Dia tahu aku tak sedang bercandaan

     

    Kini aku datang lagi padamu saat Matahari masih temaram

    Tak juga jengah menunggunya untuk segera merasakan gerah

    Duduk sendiri melukis langit tanpa mentari

    Atau menunggu bintang datang dan terus mendakinya

     

    Kurangkai lukisanku di langit, bagai mulai cerah menarik garis dan arah

    Tiga gazebo, dua kamar mandi, lima display besar kuliner dan musholla 

    Dua tempat bermain, arena kumpul keluarga tuk bergembira

    Dilingkungi asri bunga dan hijau rerumputan, diantara paving cantik berjajar.

     

    lalu lalang para pengunjung mulai berjejal di semua display 

    Tua muda saling menyapa dalam keramahan dan bahagia

    Harga yang tak menggigit telinga dan rasa yang menancap di lidah

    Membawa cerita gembira ke semua lidah yang menyantap

     

    Kuhamparkan doa untuk sang Pencipta

    Kusyukuri semua karunia tiada henti

    Hingga aku lupa bahwa kamu pun mesti datang, kunanti

    Agar kau tahu, indahnya berbagi bahagai dengan sesama, dengan hati

     

    Masihkah kau ingat? Niat baik, berkata baik dengan cara baik.

    Semesta akan mendukung kita dari arah yang tak  terduga

    Yakinlah Tuhan Maha Melihat dan Maha Kasih Sayang

    Dia juga Maha Kaya dan Maha Memberi

     

    jadi jangan berburuk sangka padaNya , juga pada manusia

    Kelak kau akan tahu , persangkaanmu itulah yang diijabah

    Mari merangkai kuas dengan penuh warna -warni

    Di dunai kita sementara, cepatlah berbagi bahagia

     

    Umur panjang kita lewati dalam kemanfaatan

    jangan lupa ada si Yatim dan si papa

    Butuh kita sisihkan sebagian

    Karena kebahagiaan kita ada senyuman mereka



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.