Putroe Neng - Kehadiran Tentara Tiongkok di Aceh - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Putroe Neng

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 17 Januari 2022 07:46 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Putroe Neng - Kehadiran Tentara Tiongkok di Aceh

    “Putroe Neng” adalah novel yang menggunakan seorang tokoh tionghoa yang pernah hidup di Nusantara. Tepatnya di Aceh. Karya Ayi Jufridar ini menarik karena mengangkat kehidupan seorang tokoh perempuan tionghoa yang pernah mewarnai sejarah Aceh; sekaligus merekonstruksi kehadiran orang-orang China di Aceh di abad 11.

    Dibaca : 2.079 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Putroe Neng

    Penulis: Ayi Jufridar

    Tahun Terbit: 2011

    Penerbit: Grasindo

    Tebal: xvi + 384

    ISBN: 978-979-081-406-6

     

    Salah satu tema yang dipakai oleh para penulis novel berlatar belakang tionghoa di Indonesia adalah tentang tokoh sejarah. Tokoh perempuan tionghoa ibu Raden Patah ditulis menjadi novel oleh Sindunata berjudul “Putri Cina” dan ditulis oleh Hilmi Asa’ad dengan judul “Putri Sio.” Sementara itu kisah Cengho ditulis oleh Remy Silado dalam novel berjudul “Sam Po Kong.”

    Seperti halnya ketiga novel di atas, “Putroe Neng” adalah novel yang menggunakan seorang tokoh tionghoa yang pernah hidup di Nusantara. Tepatnya di Aceh. Karya Ayi Jufridar ini menarik karena mengangkat kehidupan seorang tokoh perempuan tionghoa yang pernah mewarnai sejarah Aceh; sekaligus merekonstruksi kehadiran orang-orang China di Aceh di abad 11. Sebab karya sastra, khususnya novel dan cerpen yang menggunakan latar belakang geografis provinsi terutara ini sangatlah jarang. Biasanya novel-novel bertema tionghoa mengambil latar tempat Jawa atau Kalimantan Barat.

    Ayi Jufridar mengangkat seorang tokoh perempuan tionghoa yang dikenal oleh masyarakat sebagai perempuan yang 100 suaminya meninggal di malam pertama. Seratus lelaki yang mengawininya meninggal pada malam pertama karena kemaluan Putroe Neng mengandung racun. Pertama kali Ayi Jufridar mengetahui tokoh Putroe Neng pada tahun 1991 di Bireuen (hal. ix). Bukan hanya mendengar legenda, tetapi Ayi Jufridar ternyata menemukan sebuah makam yang dianggap sebagai makan Putroe Neng. Makan tersebut berada dekat dengan makam Syiah Hudam, seorang ulama yang diyakini sebagai suami keseratus Putroe Neng yang selamat dari kematian di malam pertama.

    Berdasarkan temuan tersebut dan investigasi lebih lanjut, Ayi kemudian menulis novel ini. Ayi melakukan rekonstruksi imajinatif terhadap kehadiran prajurit perempuan China yang masuk ke wilayah Aceh pada abad 11 (tahun 1024). Ayi melengkapi rekonstruksi imajinatifnya dengan memberikan data-data kronologis sejarah Aceh di bagian epilog. Kisah kematian para suami Putroe Neng digunakan sebagai bumbu penyedap.

     

    Alur Cerita

    Setelah dibuka dengan kematian Sultan Meurah Johan di malam pertama setelah menikah dengan Putroe Neng, Ayi membuat alur balik ke jaman Indra Purba berperang dengan Tentara Raja Cola Mandala dari India. Strategi yang jitu dari Raja Indra Sakti, Kerajaan Indra Purba mampu menghalau tentara Raja Cola yang mengancamnya. Pengalaman mengalahkan tentara dari India ini menjadi bekal bagi Indra Purba dalam mengantisipasi serangan prajurit China yang sepertinya akan menyerang mereka.

    Berbeda dengan Indra Purba yang berhasil menangkal serangan tentara dari Cola Mandala, Kerajaan Indra Jaya menyerah dari serangan pasukan perempuan bermata sipit yang dipimpin oleh Laksamana Liang Khie. Raja Patra Jaya menyerah dengan mudah, sehingga Panton Bie – pusat kerajaan bisa diambil alih oleh tentara dari China. Dalam setahun, Laksamana Liang Khie mampu membawa kesejahteraan bagi rakyat Indra Jaya. Selain membawa kesejahteraan, Laksamana Liang Khie juga membangun tentara yang kuat dan besar. Tentara ini dimaksudkan untuk memperluas kerajaannya dengan mencaplok kerajaan-kerajaan di sekitarnya.

    Sebelum melanjutkan kisah ekspansi Laksamana Liang Khie, Ayi beralih ke kisah Kerajaan Lingga dan hubungannya dengan Kesultanan di Peureulak. Ayi mengisahkan bahwa Kerajaan Lingga - rajanya bernama Adi Geunali, mengirim anak lelakinya yang bernama Johan Syah ke Peureulak. Alasan mengirimkan Johan Syah ke Peureulak adalah karena sesungguhnya raja-raja di Lingga adalah keturunan raja-raja di Peureulak. Saat Peureulak diserang oleh Sriwijaya, sebagian dari elite kerajaan melarikan diri sampai ke Lingga. Selain dari upaya untuk menyambungkan kembali dinasti Lingga dengan Peureulak, Raja Adi Geunali juga mengharap Johan Syah bisa belajar berbagai ilmu di Peureulak. Termasuk ilmu Agama Islam. Johan Syah inilah yang di kemudian hari membantu Indra Purba melawan tentara perempuan China yang dipimpin oleh Putroe Neng alias Nan Nio Liang Khie, anak dari Laksamana Liang Khie.

    Ekspansi pasukan Laksamana Liang Khie terbukti. Setelah mereka membangun kekuatan tentara, Laksamana Liang Khie menyerang Kerajaan Indra Puri dan Indra Patra. Kedua kerajaan yang lemah ini segera takluk kepada Laksamana Liang Khie. Sayang sekali saat ekspansi ke Indra Purba dimulai, Laksamana Liang Khie meninggal karena tua. Laksamana Nian Nio Liang Khie melanjutkan kepemimpinan di Panton Bie dan memimpin sendiri tentara yang menyerang Indra Purba. Serangan ini mula-mula berhasil dengan gemilang. Namun karena sebuah pengkhianatan, akhirnya tentara Nian Nio kalah telak.

    Setelah tentara Nian Nio menyerah, tiga kerajaan yang ada disatukan menjadi Kerajaan Darut Donya Aceh Darusalam, dimana Johan Syah alias Meruah Johan diangkat menjadi rajanya yang pertama. Nian Nio yang sudah menyerah kemudian menikah dengan sang panglima yang menjadi raja, yaitu Meurah Johan alias Johan Syah. Sedangkan Syeh Abdullah Kana’an alias Syeh Hudam diangkat menjadi penasihat Kerajaan Darut Donya Aceh Darusalam.

    Setelah kematian Meurah Johan, Putroe Neng menikah beberapa kali dengan para pangeran dan orang kaya. Semua suaminya mati setelah melakukan persetubuhan pertama. Kematian mereka ternyata disebabkan karena ada racun di vagina Putroe Neng. Racun itu dimasukkan oleh nenek Nian Nio saat Nian Nio mulai dewasa.

    Syeh Hudamlah yang berhasil menikahi Putroe Neng dan selamat. Syeh Hudam adalah guru agama Putroe Neng. Syeh Hudam berhasil mengeluarkan racun dari vagina Putroe Neng sebelum melakukan persetubuhan. Mereka menjadi pasangan hidup yang bahagia.

     

    Tokoh-tokoh Menarik

    Ada tokoh-tokoh menarik yang muncul dalam novel ini. Tokoh-tokoh tersebut adalah Laksamana Liang Khie, Laksamana Nian Nio Liang Khie, Yap Gowan dan Kun Khie yang mewakili etnis China dalam novel ini; tokoh Raja Indra Purba, Raja Indra Patra, Raja Indra Puri dan para panglima yang mewakili elite dan raja-raja lokal; tokoh Meruah Johan yang mewakili generasi muda lokal; Syeh Abdullah Kana’an alias Syeh Hudam yang mewakili tokoh Islam (dan Arab?).

    Tokoh-tokoh berietnis China digambarkan terampil, militan, kejam, mempunyai kepemimpinan yang kuat, ekspansif dan perduli kepada kesejahteraan rakyat yang dikuasainya.

    Tokoh-tokoh elite lokal digambarkan lamban dalam mengambil keputusan dan mementingkan diri sendiri. Raja Indra Purba digambarkan sebagai seorang yang tua dan selalu berprasangka baik. Tanpa dukungan sang panglima (Daman Huri) maka kebijakan negara tak akan berjalan baik. Sementara dua raja lain, yaitu Raja Indra Patra dan Raja Indra Puri digambarkan sebagai orang-orang yang hanya mencari kesenangan pribadi dan sangat lembek.

    Tokoh Syeh Hudam digambarkan sebagai seorang keturunan Arab yang saleh, cerdas dan mempunyai ilmu agama, ilmu kenegaraan dan ilmu perang yang baik. Tokoh ini digambarkan menjadi panutan baik saat perang maupun setelah perang selesai. Tokoh muda Meurah Johan digambarkan sebagai anak muda yang cerdas dan gesit, namun terjebak dengan cinta.

    Bisa disimpulkan bahwa kerajaan-kerajaan lokal tidak cukup kuat dalam berinteraksi dengan kekuatan-kekuatan dari manca, seperti India, China dan Arab. Ayi menutup ceritanya dengan menempatkan Syeh Hudam yang mampu menjadi pemimpin yang disegani oleh para elite lokal, sekaligus bisa mengalahkan dan merangkul kekuatan China. (Syeh Hudam menikahi Putroe Neng dan tidak mati di malam pertama.) 648



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.