Menjadi Manusia Politik Seutuhnya - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Perubahan nilai, dan ekonomi transisi

Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau)

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Agustus 2020

Kamis, 24 Februari 2022 07:13 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Menjadi Manusia Politik Seutuhnya

    Idealitas semestinya dijadikan orientasi hidup bernegara, jika tidak, hidup hanya berlangsung seadanya. Karena seperti pernah diucapkan Buya Hamka, jika, “Hidup hanya sekadar hidup, babi di hutan juga hidup”. Idealisme mungkin memang hanya menawarkan jalan sunyi, meski demikian harus terus dirawat.

    Dibaca : 1.144 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Manusia itu mahluk politik (zoon politicon) yang secara ideal mendasarkan tujuan dan aktivitasnya dengan nilai dan gagasan. Karena hakikat manusia adalah manusia politik maka semua orang berpolitik dan tak lepas dari politik. Namun kini makna politik semakin sempit hanya sebatas memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Membuat politik seakan tidak lagi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap orang, melainkan hanya milik segelintir penguasa. Lebih lagi, praktik politik kotor (korup) yang sering dipertontonkan di hadapan publik membuat sebagian besar orang ‘risih’ dengan kata politik dan enggan terlibat. Semestinya aktivitas politik melekat dengan cara berperilaku dan bertindak sesuai norma politik sehingga keadaban publik terpelihara.

    Hasrat manusia yang tak pernah habis mengharuskannya selalu berjuang atas pilihannya. Seringkali demi mencapai tujuan segala cara ditempuh bahkan dengan tindakan yang merugikan sesama, bahkan menimbulkan kekacauan (chaos) di tengah masyarakat. Dengan enteng ia mengambil hak orang lain; korupsi. Kondisi ini mengingkari filosofi manusia politik sebagaimana disampaikan Joseph Schumpeter, “Ketika politik mengajarkan bahwa tugas politikus sesungguhnya melaksanakan kehendak rakyat, namun, yang terjadi mereka mementingkan dirinya sendiri”. Ketamakan menyebabkan keadaban politik menjadi barang langka. Tanpa keadaban politik kesejahteraan hanyalah fantasi, dibutuhkan kerja kerja mulia membangun keadaban politik.

    Keresahan ini mendorong Lutfi J. Kurniawan menulis buku berjudul Keadaban Politik: Membincang Kekuasaan Merawat Kekuasaan. Tulisan ini didasarkan pada amatan penulis atas realitas politik kekinian, dan pengalaman dalam mencipta perubahan. Selain mengurai fenomena secara gamblang, penulis juga menawarkan gagasan ideal keadaban politik. Idealitas semestinya dijadikan orientasi hidup bernegara, jika tidak, hidup hanya berlangsung seadanya. Istilahnya Buya Hamka “hidup hanya sekadar hidup”. Rupanya Soe Hok Gie juga khawatir, “Makin redup idealisme dan heroism pemuda, makin banyak korupsi”. Idealisme memang hanya menawarkan jalan sunyi, meski demikian harus terus dirawat.

    Buku mungil nan berbobot ini terangkai dari tiga bab. Pertama, pembaca akan dilibatkan menjelajahi “Asa dan Realitas” menampakkan posisi terkini dalam mencapai cita-cita bernegara; kedua, mendiskusikan seputar “Ironi Kehidupan” yang semakin tidak mencerminkan kehidupan bermartabat; ketiga, menggagas sekaligus ajakan ambil bagian dalam perang suci “Menghadang Budaya Korupsi”. Kesemuanya tulisan tersebut dirangkai seperti cerita novel, sehingga membuat walaupun temanya berat namun ringan dipahami.  Penulis menyentuh pembacanya dengan cara yang unik. Tulus, jujur dan sederhana.

    Karya buku terbitan Intrans Publishing Malang ini layak dibaca oleh siapapun sebagai sarana memperluas pengetahuan. Utamanya disarankan dibaca oleh aktivis mahasiswa, pegiat organisasi masyarakat sipil, dan akademisi, serta para politisi dan pejabat pemerintah. Melalui buku ini kita disadarkan akan hakikat manusia sebagai manusia politik yang beradab. Mari, kawan, terus nyalakan api semangat dalam kerja-kerja membangun keadaban politik di negeri “gemah ripah loh jinawi”.  

    Ikuti tulisan menarik Janwan S R Tarigan (Penggembala Kerbau) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.