Momen-Momen Mengerikan pada Zaman SD Awal Tahun 2000-an - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh stokpic dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Senin, 14 Maret 2022 12:21 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Momen-Momen Mengerikan pada Zaman SD Awal Tahun 2000-an

    Anak SD memiliki banyak emosi, baik dari kejahilan saat berada di kelas, kesukaan saat berada di kantin, dan ketakutan saat berada di tanah SD. Hal-hal yang ditakuti tersebut tidak hanya dikaitkan dengan hal-hal mistis. Kegiatan yang terlihat biasa saja dapat membuat bulu kuduk kita berdiri saat di zaman itu.

    Dibaca : 797 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Masa SD menurut saya adalah masa yang paling indah, bukan SMP, SMA, atau pun kuliah. Masa SD lah yang terbaik, namun di masa-masa emas tersebut ada beberapa kejadian-kejadian mengerikan yang bahkan membuat kita sampai keringat dingin. Apa sajakah itu? Kuy mari baca.

     

    1. Pemeriksaan Kuku

              Pemeriksaan kuku mungkin terdengar sepele dan bahkan tidak menyeramkan sedikit pun, kecuali anda lupa mengguntingnya dan ibu guru yang melakukan pemeriksaan sambil memegang penggaris panjang. Penggaris legend ini merupakan penggaris multifungsi, bisa jadi pemukul papan tulis saat disuruh membaca ke depan kelas, sebagai penggaris biasa, atau sebagai alat langganan guru menghadapi murid-muridnya.

              Sampailah pemeriksaan ke giliran anda, anda mencoba menatap bu guru dengan muka kasihan, namun gagal, dan datanglah penggaris yang menghantam kuku anda. Sebelum itu, kita akan mendengar kata-kata legendaris ini. “Tunjukkan kukunya.” Setelah itu, terdengarlah suara pukulan bersamaan dengan air mata.

     

    2. Pembagian Bangku Kelas

              Hal ini tidak berlaku jika bangku kelas anda ditentukan oleh kecepatan siswa-siswi datang ke sekolah dan memilihnya sendiri. Hal ini berlaku jika pembagian bangku ditentukan oleh guru kita. Bagi kita yang fokus bermain di sekolah, contohnya saya, sangat tidak menginginkan duduk di depan apalagi tatap-tatapan langsung dengan meja guru. Mengupil pun kita akan takut.

              Target utama kaum seperti ini adalah bangku kelima sampai belakang atau keempat sampai belakang. Pokoknya terdapat banyak halangan untuk guru melihat kita. Tapi, terkadang guru telah melakukan survei siapa murid-murid yang tergolong kaum ini dan akan menunjuk mereka untuk duduk di paling depan dan biasanya golongan kaum ini kebanyakan lelaki. Perempuan biasanya zaman SD sangat rajin belajar, rajin menabung, berani menjawab pertanyaan guru, dan pintar.

     

    3. Pengumpulan PR, Berlaku Persyaratan

              Siapa yang tidak tahu momen paling menakutkan ini? Dengan syarat, kita lupa mengerjakannya. Namun, bisa terjadi mukjizat di mana PR tersebut ditunda pengumpulannya, gurunya tidak datang, atau guru kita lupa untuk mengumpulkannya (bagi teman kalian yang rajin, duduklah di dekatnya, siap-siaplah menutup mulutnya jika dia berbuat macam-macam).

              Melupakan PR, apalagi gurunya pemarah, sangatlah menakutkan. Kita tidak akan tenang seharian di sekolah. Gorengan bu kantin tidak akan terasa enak, bermain dengan teman-teman akan setengah hati dan tidak terlalu menikmatinya, pokoknya hari sekolah kita akan selalu tegang. Hal yang saya sarankan adalah kerjakanlah. Semudah itu, salah atau benarnya, tanya aja nanti teman di keesokan harinya di kelas.

              Mungkin bagi anak SD zaman sekarang, hal ini tidak akan sama lagi seperti yang dialami anak SD zaman sebelumnya. Pemeriksaan kuku, dilaporkan ke orang tua, malah didukung anaknya dan melapor ke sekolah. Zaman sebelumnya, jika kita mengadu, akan ditambah pukulannya. Mengapa? Karena kita yang salah, kenapa tidak gunting kuku apalagi golongan yang makan tanpa sendok. Pengumpulan PR, sama seperti kasus pertama, kalau gurunya macam-macam, lapor ke sekolah. Padahal didikan seperti itu dibutuhkan pada masa krisis moral seperti ini. Itu merupakan pendapat saya.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.475 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi