Hanya Sebuah Bayang-bayang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Kau adalah bayangan yang hanya bisa terbayang

Hans SteigerWp

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 November 2021

Jumat, 15 April 2022 13:13 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Hanya Sebuah Bayang-bayang

    Sebuah cerita mengenai seseorang yang sedang mengalami kesepian dan kesunyian.

    Dibaca : 959 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cahaya lampu berwarna putih menyinari ruangan yang sangat terang oleh cahaya. Cahaya itu menyinari semua benda di ruangan, seperti Televisi, kursi, meja, dan diriku yang tengah terduduk sambil melihat TV yang tengah memutar serial animasi favoritku. Aku terduduk dan dengan agak melamun membayangkan sesuatu, aku tidak menikmati acara serial animasi yang telah kuputar. Serial animasi berbentuk 2 dimensi yang menurutku sangatlah unik dan juga menghibur, setiap hari aku bisa duduk berjam-jam hanya untuk menonton dan tidak beranjak dari tempat duduk walaupun aku mempunyai pekerjaan yang menumpuk. Tetapi, kali ini terasa berbeda

    Memang benar bila pekerjaan yang menumpuk bagi orang dewasa adalah hal biasa tapi aku merindukan masa kecilku yang sangat bebas dan tidak memikirkan pekerjaan. Aku termenung memikirkan memori-memori yang dulu, mencoba untuk meromantisi itu memori itu di dalam benak yang telah memikirkan 1001 ide yang luar biasa di masa lalu. Aku bergumam bahwa masa lalu itu indah dan menyesalkan masa kini, aku memegang rambut dan kepalaku dan merasa putus asa akan takdir yang kuterima saat ini. Aku hanya mengharapkan kehidupan yang indah bersama orang lain.

    “Sayang, apakah obatnya sudah diminum?” ucap seseorang dari arah dapur.

    Aku terbangun dari lamunanku, melihat ke belakang tapi sayangnya tidak ada apa-apa. Suara yang kudengar mungkin itu hanyalah perasaanku saja. Aku lalu kembali termenung memikirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Tetapi, aku mendengar suara dari depan, tidak ini bukan dari televisi. Suara ini terdengar sangat nyata di telinga, suara dari orang yang sangat kucintai dan kusukai. Aku lalu secara perlahan mengangkat kepalaku secara perlahan hingga terlihatlah seorang gadis dengan perawakan yang elok dihadapanku, ia tersenyum kepadaku dengan mata tertutup kepadaku. Gadis itu sorot matanya sangat indah, dia berambut panjang dengan rambut yang berwarna jingga. Demi apapun dia adalah gadis yang ideal menurutku.

    Gadis itu sangatlah nyata, aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat seolah-olah tidak percaya dia kembali. Yuka, dia adalah gadis yang aku sukai. Oh, Tuhan kenapa dia bisa di sini. Wajahku langsung ceria, hatiku sangat senang melihat dia kembali. Sudah lama dia tidak kembali pada hari ini dia kembali dihadapanku yang tengah diterpa badai yang sangat besar. Apakah ini adalah sebuah pertanda bagiku? Pertanda bahwa aku hidup akan selamanya bersama dengan dia?

    Darling, kenapa kau tidak segera meminum obatnya?” tanya Yuka sambil berjalan secara perlahan-lahan ke arahku kemudian dia duduk di samping kanan. Kami lalu saling bertatapan, kedua mata kami saling bertukar kegembiraan dan di dalam benak dan mataku dia adalah orang yang sangat kucintai dan kusayangi seumur hidupku. Senyumanku membuatku merasa untuk hidup di dunia ini lebih lama, selama dia ada di sisiku aku akan menjauhi pemikiran yang membuat diriku mati. Aku ingin hidup lebih lama dan kalau bisa aku ingin hidup kekal akan tetapi pada akhirnya manusia akan tetap mati.

    Darling? Apakah kau mendengarku? Kenapa kamu hanya terus menatap diriku seperti itu terus? Huft…”

    “I-iya, maafkan aku. Aku tidak fokus saat melihatmu lagi. Omong-omong kenapa kau terus pergi?”

    “Ada saja. Aku bisa pergi kemana saja.”

    “Kamu ini, aku bertanya seharusnya kamu menjawab pertanyaanku.”

    “Haha, maafkan aku. Tapi, aku harap kita bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganmu.”

    Aku lalu segera mengambil dua buah pil obat yang akan segera aku minum, aku lalu melihat sebuah dua buah pil berwarna putih dan merah di tangan kananku sementara itu tangan kiriku tengah menenteng sebuah gelas yang berisi air. Tapi, sebelum aku meminum obat, aku menghela nafas lalu melirik ke arah Yuka yang tengah tersenyum lebar sambil menempel di sampingku. Aku lalu meminum dua buah pil lalu dengan segera meminum segelas air di tanganku, satu teguk, dua teguk, tiga teguk aku minum dari gelas itu. Setelah itu, aku dengan mata tertutup meletakan gelas itu di meja akan tetapi gelas itu jatuh dan pecah.

    Lalu secara perlahan, aku membuka mataku sedikit demi sedikit. Secara tiba-tiba seisi rumah menjadi gelap hanya ada cahaya dari televisi yang sedang memutar sebuah film. Hanya ada kesunyian serta kegelapan di rumah tetapi setidaknya aku memiliki Yuka. Aku lalu menengok ke sebelah kanan, tunggu dimana Yuka? Bukankah sebelumnya dia berada di sisi kananku, kenapa sekarang dia tidak ada? Yuka dimana Yuka, orang yang kucintai serta kusayangi tapi dengan terkejut aku melihat sebuah karakter dari serial anime yang mirip dengan Yuka. Aku memandangi layar itu lalu menyentuhnya, ini tidak nyata. Yuka ternyata hanya seorang karakter dari serial animasi 2D.

     

    Aku lalu melihat ke bawah, gelas itu telah pecah dan aku harus membersihkannya. Tapi, sebelum itu aku lalu melihat sebuah kertas di meja lalu membacanya, di kertas yang berwarna putih itu tertulis “Kiyaro Mizamana, umur 21 Tahun. Vonis Skizofrenia akut. Obat diminum 3 kali sehari.”



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Harna Silwati

    Minggu, 1 Mei 2022 07:53 WIB

    Puisi : Hari Raya

    Dibaca : 610 kali

    Puisi : Hari Raya



    Oleh: Romi Assidiq

    Jumat, 29 April 2022 12:43 WIB

    Aku Adalah Bahu

    Dibaca : 534 kali


    Oleh: Romi Assidiq

    Jumat, 29 April 2022 12:43 WIB

    Inilah Cinta

    Dibaca : 511 kali