Membedah Pembahasan Menarik dalam Buku Sastra dan Pendidikan

Sabtu, 23 April 2022 13:31 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sastra dan Pendidikan adalah buku karya Sapardi Djoko Damono yang diterbitkan melalui Penerbit Pabrik Tulisan dengan jumlah xii + 140 halaman. Buku ini tipis, tapi di dalamnya terdapat banyak sekali manfaat. Gaya penulisan di buku ini benar-benar menyenangkan—dalam artian tidak menjenuhkan. Kadang kala, kan, ketika membaca buku non-fiksi itu kita bisa mengalami beberapa gejala; seperti jenuh, pusing, dan lain sebagainya. Namun buku ini menurut saya tidak, saya pribadi hanya membutuhkan waktu kurang dari 24 jam untuk merampungkannya. Atas sebab itulah saya tertarik untuk membedah pembahasan menarik yang ada di dalam buku ini.

Membedah Pembahasan Menarik dalam Buku Sastra dan Pendidikan Karya Sapardi Djoko Damono

Mungkin ada sebagian orang yang belum tahu buku ini, atas sebab itulah saya ingin membedahnya lebih dalam—dari apa yang sudah saya baca. Judulnya boleh saja Sastra dan Pendidikan, tapi isinya tidak hanya mencakup itu. Ada banyak hal yang bermanfaat dalam buku ini—tidak hanya bermanfaat tapi juga menarik. Untuk mengetahui lebih jelasnya, mari kita bahas bersama dalam pembahasan kali ini.

Sastra dan Pendidikan adalah buku karya Sapardi Djoko Damono yang diterbitkan melalui Penerbit Pabrik Tulisan dengan jumlah xii + 140 halaman. Buku ini tipis, tapi di dalamnya terdapat banyak sekali manfaat. Gaya penulisan di buku ini benar-benar menyenangkan—dalam artian tidak menjenuhkan. Kadang kala, kan, ketika membaca buku non-fiksi itu kita bisa mengalami beberapa gejala; seperti jenuh, pusing, dan lain sebagainya. Namun buku ini menurut saya tidak, saya pribadi hanya membutuhkan waktu kurang dari 24 jam untuk merampungkannya. Atas sebab itulah saya tertarik untuk membedah pembahasan menarik yang ada di dalam buku ini. Siapa tahu dengan adanya artikel ini para pembaca sekalian bisa ikut membelinya apabila memang membutuhkannya—harga satuan buku ini lima puluh sembilan ribu rupiah; buku di harga lima puluh ribu masih bisa terbilang murah, apalagi untuk buku bermanfaat seperti ini.

Buku ini secara keseluruhan membahas tentang:

  1. Kegiatan Sastra di Sekolah.
  2. Sastra dalam Kurikulum.
  3. Sastra dan Pendidikan.
  4. Buku Sastra dan Kemerdekaan.
  5. Ke Mana Perkembangan Sastra Kita?
  6. Sastra dalam Masyarakat Kita.
  7. Sastra, Politik, dan Ideologi.
  8. Pengajaran Sastra Menjelang Zaman Industri.

Sebelum membahas lebih lanjut isi dari bukunya, alangkah baiknya kita kenali lebih dulu siapa penulisnya. Sapardi Djoko Damono, teman-teman yang suka dengan dunia sastra pasti tidak asing dengan beliau. Beliau ini lahir di  Surakarta pada tanggal 20 Maret 1940 dan wafat pada tanggal 19 Juli 2020 di usia 80 tahun. Beliau ini seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. Beliau kerap kali dipanggil dengan sebutan SDD yang merupakan singkatan dari nama panjangnya. Beliau ini bukan hanya seorang pujangga yang mana berarti pengarang hasil-hasil sastra, baik puisi ataupun prosa, tapi juga seorang penyair, dosen, pemerhati sastra, kritikus sastra, dan pakar sastra. Banyak karya-karya adiluhung yang beliau hasilkan, yang mana sampai detik ini masih dinikmati para pecinta sastra ataupun orang-orang yang sedang menggeluti dunia sastra lalu membutuhkan sumber referensi.

Setelah membaca profil singkat dari penulis bukunya, marilah kita masuk ke inti pembahasan, yakni Membedah Pembahasan Menarik dalam Buku Sastra dan Pendidikan. Ada beberapa pembahasan menarik dari buku ini, tapi saya tidak menyebutkan keseluruhan, teman-teman pembaca sekalian bisa langsung membaca pada bukunya saja agar artikel kali ini tidak terkesan seperti spoiler.

Pembahasan menarik pertama tentang betapa penting sastra di pendidikan formal; bagaimana guru memosisikan dirinya dalam kegiatan apresiasi sastra. Saya suka sekali dengan jawaban SDD terkait posisi guru dalam kegiatan apresiasi sastra, beliau menjawab:

“Dalam hal apresiasi sastra, guru sebaiknya berfungsi sebagai ‘rekan’ yang lebih tua, yang lebih berpengalaman, yang bersama-sama dengan muridnya berusaha memahami karya sastra. Guru sastra adalah ‘sekadar’ pendamping murid-muridnya dalam usaha penghayatan, tanggapan, dan penilaian pengarang terhadap kehidupan.”

Dari jawaban beliau itu saya dapat memetik perbedaan antara guru agama dengan guru sastra. Guru agama itu lebih terkesan bertanggungjawab penuh atas apa yang sudah ia ajarkan kepada anak didiknya, guru sastra hanya sekadar pendamping murid-muridnya yang berfungsi sebagai rekan yang lebih berpengalaman untuk membantunya.

Pembahasan menarik selanjutnya adalah terkait manusia yang membutuhkan seni dalam hidupnya. SDD menjelaskan bahwa manusia itu membutuhkan seni, manusia tanpa seni itu tidak menarik. Contoh kecilnya, bayangkan bagaimana jika sehari saja kita bicara tanpa seni, lalu tidak ada musik, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan seni. Coba renungkan, banyak sekali hal yang bersangkutan dengan seni dalam hidup kita, kalau tidak percaya sekali saya katakan, coba renungkan. Ada yang mengatakan manusia tanpa seni itu tetap hidup, tapi saya setuju dengan apa yang SDD jelaskan dalam bukunya, bahwa manusia tetap membutuhkan seni. Namun seni pun bukan sekadar seni, ada pilihan seni untuk seni dan seni untuk masyarakat. Kalau saya pribadi lebih setuju dengan pilihan kedua, yakni seni untuk masyarakat.

Pembahasan menarik selanjutnya adalah tentang sastra yang kini sudah ikut berkembang dalam dunia portable. Di zaman sekarang ini—saat teknologi sudah maju—segala hal pun ikut maju. Sastra yang dahulu mungkin hanya berbentuk buku cetak dalam sastra tulis, harus mendengarkan langsung atau melalui radio dan televisi untuk mendengarkan puisi dan menonton drama dalam sastra lisan, dan lain sebagainya, tapi sekarang sastra bisa lebih mudah diakses, contohnya di handphone, kindle, dan lain sebagainya. Tidak perlu heran kalau misal di kereta atau di mana pun kita menemukan orang sedang membaca buku, mendengarkan audio book, dan beberapa hal lain terkait sastra, karena itu ... sastra sudah memasuki dunia portable yang lebih berkembang.

Pembahasan menarik selanjutnya adalah penjelasan tentang kebebasan sastra. Sastra memberikan kita keleluasaan untuk berbuat apa saja, dari mulai sekadar bermain-main dengan kata sampai dengan memberi nasihat. Itulah salah satu alasan saya menyukai sastra—lebih tepatnya sastra tulis. Saya senang karena ketika saya sudah terlibat dalam dunia sastra tulis, saya akan merasa bebas, saya dapat membuat dunia saya sendiri, saya dapat melampiaskan suatu hal yang tidak dapat saya ucapkan melalui kata-kata, saya dapat mengarang sebuah kisah yang tidak dapat saya rasakan di dunia nyata, saya bebas berekspresi sesuka saya. Namun meski begitu, sastra pun tetap harus kenal aturan, jangan sampai karena ada sastrawan yang menyatakan kalau sastra itu bebas lantas kita langsung membuat karya berbau unsur negatif. Seharunya, kita sebagai manusia yang hidup di era modern yang mana apa-apa sudah berkembang dan maju, pola pikir kita pun bisa menyelaraskannya. Jangan sampai dari karya kita orang lain jadi tersesat, melakukan hal jahat, dan hal-hal negatif lainnya. Kita harus ingat selalu bahwa segala hal itu memiliki konsekuensi—entah di dunia ataupun di akhirat nanti.

Pembahasan menarik selanjutnya adalah tentang lika-liku sastra di masa lalu. Dari segala masa, saya lebih tertarik dengan lika-liku sastra di masa Orba atau Orde Baru. Benar-benar penuh haru. Dahulu sastra tak sebebas sekarang, banyak para sastrawan yang menjadikan sastra media untuk protes atas ketidakadilan pemerintah malah dipenjarakan, bahkan karya sastrawan yang sudah di-blacklist akan dilarang untuk dibaca ataupun di sebarluaskan kepada masyarakat. Beruntunglah kita sekarang, bahkan karya Pramoedya Ananta Toer dan beberapa sastrawan lainnya yang dahulu di-blacklist kini sudah dapat kita baca kembali. Hanya saja karena tahun terus berganti, yang menjadi kesulitan justru cara mendapatkan buku-buku lampau tersebut—yang terkadang sudah tidak dicetak ulang lagi oleh penerbitnya.

Pembahasan menarik selanjutnya tentang apa fungsi membaca buku fiksi, mungkin ini tak terlalu dijelaskan panjang lebar dalam buku, tapi karena saya pecinta buku fiksi, saya merasa kalau pembahasan ini menarik dan perlu dibahas lebih lanjut, siapa tahu ada yang satu nasib dan satu pemikiran dengan saya. Tak jarang saya mendapatkan komentar terang-terangan—face to face—atau melalui media sosial yang sering saya jadikan tempat menyalurkan hobi—Twitter dan Instagram—dari beberapa orang bertanya tentang apa manfaat membaca buku fiksi? Tak jarang pula ada yang mengatakan kalau apa yang saya lakukan ini tidak berguna. Menurut mereka uang dan waktu yang sudah saya keluarkan itu akan menjadi sia-sia. Padahal saya tidak pernah menyesal membeli ataupun membaca buku-buku yang sudah memenuhi rak buku saya; buku fiksi tidak seburuk itu.

Ambil contoh dari karya salah satu penulis favorit saya, Habiburrahman El-Shirazy, buku-buku beliau ini tidak hanya memuat hal fiksi yang tak berguna, secara tidak langsung, pembaca akan belajar tentang Fiqh, ilmu keislaman lainnya, dan beberapa pengetahuan tentang negara-negara yang beliau jadikan latar tempat dari bukunya itu. Oleh karena itu jangan aneh kalau menemui seorang pecinta buku fiksi yang mengetahui banyak hal melalui buku fiksi yang ia baca. Orang yang duduk manis di kamarnya pun dapat merasakan sensasi berkunjung ke negara lain hanya melalui ukiran kata pengarang yang mungkin sudah lebih dulu ke sana atau sudah melakukan riset penuh sebelum menyusun kata demi kata hingga menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati bagi pecintanya.

Bahkan buku teenlit yang dikenal hanya untuk penghibur pun tetap memiliki makna. Jadi menurut saya, alangkah baiknya, sebelum berkomentar itu terjun dulu ke dunianya, kita tidak akan pernah tahu bagaimana jika hanya melihat dan membeo tanpa pernah merasakannya secara langsung. Jangan mematok buku fiksi tidak berguna hanya karena sudah membaca satu atau dua buku fiksi yang menurut kita tak berguna, jangan sama ratakan satu hal untuk banyak hal. Terkadang kita butuh introspeksi diri terlebih dulu sebelum mengeluarkan asumsi, bisa jadi kita yang kurang teliti membacanya, kurang pandai memahami maknanya, dan lain sebagainya. Dan menurut saya, yang terpenting adalah cobalah menghargai karya dan apa yang orang lain sukai. Perspektif manusia itu beragam, alangkah baiknya jangan langsung mengatakan ini buruk, ini baik, tanpa mengetahui dengan pasti.

Pembahasan menarik yang terakhir adalah tentang sastra bukan kitab suci yang tidak dapat disunting agar menjadi lebih baik; sastrawan bukan nabi yang menyampaikan sabda. Sastrawan hanyalah manusia biasa yang berusaha menciptakan benda budaya yang, tentu saja, bisa mengandung cacat yang bisa diperbaiki pihak lain. Harus kita akui bahwa sepandai-pandainya pengarang, bisa saja ia melakukan kekeliruan atau kecerobohan dalam cara penyampaian maupun apa yang disampaikan. Ia mempunya kewajiban untuk memeriksa ulang dan memperbaikinya, dan penerbit yang baik juga berkewajiban untuk membantunya. Saya harap penerbit dapat memperbaiki kekurangan dari buku ini agar dapat mengimplementasikan apa yang sudah SDD jelaskan dalam buku ini. Dari amatan saya, ada beberapa halaman yang mana tulisannya itu berbayang, lumayan pusing ketika membacanya, lalu terdapat pengulangan kalimat di bab berbeda, dan ada pula bahasa-bahasa daerah yang tidak ada terjemahannya, karena pembaca itu tidak hanya berasal dari satu daerah yang sama, menurut saya alangkah baiknya diberikan terjemahan saja.

Itulah beberapa pembahasan menarik versi saya dari buku Sastra dan Pendidikan karya Sapardi Djoko Damono, Buku ini worth to read karena di dalamnya terdapat pembahasan menarik yang mana tulisannya pun menarik; apa yang SDD jelaskan dalam bukunya ini mudah dipahami.

Daftar Pustaka:

Damono, Sapardi Djoko. 2021. Sastra dan Pendidikan. Yogyakarta: Pabrik Tulisan.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Aidahlia

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua